
Tatapan mata Can melihat ke arah Ayah Bisma yang menatap Can. Senyuman Bisma terlihat menghela nafasnya.
"Can, permintaan maaf tidak akan pernah bisa mengubah masa lalu, tidak akan bisa mengembalikan waktu yang terbuang. Kak Bisma juga tahu hari yang kamu lewati sangat berat, perjuangan kamu melawan kehidupan sangatlah sulit. Aku tidak minta kamu memaafkan Vero, tapi izinkan dia memperbaiki diri, bukan demi kalian tapi kedua anak kalian, mereka butuh masa depan, kamu jangan hidup dalam luka sampai mengorbankan kebahagiaan mereka. Hadirnya Mei dalam hidup kalian bukan sebuah kesalahan, karena yang salah bukan dia, tapi masa lalu kalian." Bisma menghela nafas.
Cantika sudah meneteskan air matanya, Vero juga meneteskan air matanya. Mendekati Can menyentuh tangannya memohon diberikan kesempatan.
"Jangan maafkan aku seumur hidupku, tapi aku memohon izinkan aku menjadi Papa untuk Mei dan Mou, izinkan aku menjaga, mencintai, menyayangi, melindungi kalian dengan pengorbanan aku." Vero meneteskan air matanya.
Saat Can memergoki Vero di hotel dia tidak mengingat apapun, saat tahu Steven ada di kamar memukulinya. Stev melihat rekaman Vero mencaci maki kekasihnya yang disiarkan secara langsung.
Baru saja hubungan Stev dan Vero membaik harus hancur kembali karena siaran langsung, hidup Citra juga hancur.
Citra dipecat dari rumah sakit, gelarnya dicabut mendapatkan gelar wanita penghibur. Saat itu Vero sangat panik, dia sedang mabuk tidak menyadari apapun ucapan, Stev tidak akan memaafkan Vero sebelum menemukan Citra.
Kemarahan Steven sampai menangkap beberapa akun yang merusak nama baik Citra, mengutuk anak yang sedang dia kandung. Bahkan Bima juga turun tangan menghentikan pemberitaan seorang dokter menjadi wanita penghibur.
Citra menghilang seakan tertelan bumi, Bima dan Steven tidak bisa menemukan bahkan dalam dan luar negeri, tidak pernah mereka pikirkan Citra ada di tengah hutan.
"Maafkan kami gagal mencari kamu." Bima menundukkan kepalanya.
"Kalian semua mengenal aku?"
"Tentu kami mengenal kamu, kak Bima orang yang mengawasi Steven, saat tahu Stev memiliki adik langsung menjaga Vero juga, bahkan Vero masuk penjara, kak Bima yang berusaha membebaskan." Bisma tersenyum.
"Setiap orang pernah melakukan salah, mereka memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, sedangkan kita yang tersakiti semakin memperbaiki diri, mengikhlaskan, juga mencoba memaafkan kesalahan orang lain demi ketenangan diri sendiri." Jum memeluk Can.
Can terus menangis, saat tahu hamil sudah hancur, ditambah lelaki yang dicintai selingkuh belum lagi dihujat, dicaci, bahkan diasingkan.
"Papa, Mei suka buah ini. Di hutan tidak pernah ada buah seperti ini, namanya apa tadi ya?" Mei menatap buah apel sambil berpikir.
"Apel sayang."
"Iya apel, tadi juga ada buah merah juga, tapi lupa."
"Nanti beli buah sama Papa."
"Kapan? Mei sudah mau pulang."
Vero menatap Can yang masih saja menangis, Windy mendekat menghapus air mata Can menggenggam tangannya.
"Vero yang dulu dan sekarang sudah jauh berbeda, dia juga sudah menjadi lelaki pekerja keras dan bertanggung jawab. Kak Can sebagai sahabat Vero berikan dia kesempatan untuk memperbaiki diri, menjadi Papa yang baik, juga suami idaman." Windy tertawa, membuat Can tersenyum.
"Mama Mei juga ingin tinggal bersama Mama dan Papa dan kakak Mou, Mei ingin mempunyai Papa."
"Siapa yang mengatakannya sayang?"
__ADS_1
"Papa yang mengajari Mei."
"Papa kamu belum berubah, masih suka menghasut orang, bahkan anak kecil."
"Aku ingin kita tinggal bersama, membangun rumah tangga membesarkan anak-anak." Vero memohon.
"Baiklah, aku berikan kesempatan."
"Alhamdulillah." Semua orang bernafas lega.
Di lantai atas sudah terdengar suara terompet, para anak-anak sudah joget-joget bahagia. Can tersenyum melihat semua orang menyambut kehadirannya.
"Siapa nama asli kamu Can?" Rama menatap sambil tersenyum.
"Citra Cantika."
"Selamat datang Citra Cantika di keluarga Bramasta dan Prasetya." Tri istri teriak kuat sambil teriak bahagia.
"Welcome di keluarga besar Mouza dan Mei." Vira dan twins teriakan bahagia.
"Kalian bisa tinggal di Mansion kamu Vero."
"Memangnya ada?"
"Ay rumah mewah yang baru dibangun?"
"Kita saja pindah ke sana, Vero tinggal di sini."
"Rumah itu sudah aku niatkan untuk Vero." Steven tersenyum mengusap kepala Windy.
"Bagaimana nasib Maung?" Mou menatap Vero.
"Siapa Maung?"
"Buaya peliharaan Mama, ada harimau burung, ikan, monyet banyak hewan lainnya." Mouza menghela nafas, dia tidak ingin melepaskan hewan peliharaan.
"Mou benar, mereka tidak ada yang merawat jika aku pergi." Can menatap Vero.
"Akan aku buatkan kebun binatang, bawa mereka semua pulang."
"Jangan Vero, biayanya sangat mahal juga harus mengurus surat-menyurat."
"Tenang saja kak Steven bisa mengatasi semuanya, Mansion baru akan ada kebun binatangnya." Vero memohon kepada Steven.
Steven menganggukkan kepalanya, Vero langsung memeluk Stev, mencium pipinya mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Mei juga langsung memeluk Stev menciumnya, Mou juga memeluk Stev mengucapkan terima kasih.
"Mama tidak mencium Daddy, peluk Daddy?" Mei menarik Mamanya.
Windy langsung memeluk Stev, mencium pipi Steven lama tidak memberikan izin Mama Mei menyentuh lelakinya.
"Daddy Stev milik Mommy Windy, jadinya tidak boleh cium." Windy memeluk Stev.
"Mei juga tidak boleh Mommy peluk Daddy?"
"Tidak."
Bima langsung menegur Windy, senyuman Windy terlihat menggaruk kepalanya.
Winda datang menciumi Stev, Vira juga langsung memeluk bersama Bella Billa, Mei juga langsung minta dipeluk.
"Bisa tidak kalian semua menyingkir!" Windy teriak kuat.
Steven mengusap kakinya, meringis melihat anak-anak memeluknya, tapi ada rasa bahagia melihat kebersamaan.
Saka tersenyum melihat Stev, tatapan mata Steven meminta sesuatu membuat Saka menatap tajam.
Steven melangkah menjauh bersama Saka dan Vero, membicarakan soal pembangunan keinginan Mou, bagaimana Mou salah satu anak tertua.
Vero memeluk Steven meneteskan air matanya, meminta maaf dan mengucapkan terima kasih. Steven mengusap kepala Vero meminta Vero menjadi pribadi yang lebih baik.
Memperlakukan Can dan kedua anaknya dengan baik, Steven memiliki banyak hutang kepada Can, tidak bisa dia bayar dengan ucapan terima kasih, juga dengan kehidupan mewah. Kembalinya Steven karena kebaikan Can yang menyelamatkan tanpa pantang menyerah.
Windy datang memeluk Stev, keluarga Bramasta juga memilki hutang yang tidak bisa mereka bayar, selain meyelamatkan anak-anak mereka juga meyelamatkan Stev.
"Windy, cinta Ay kepada kamu sangat besar. Izinkan aku juga menjaga anak-anak Can, dengan menyayangi dan mencintai mereka."
"Jika Ay menyayangi dan mencintai mereka, izinkan Windy juga mencintai dan menyayangi mereka layaknya anak Windy."
"Vero juga meminta sesuatu, kalian harus bahagia. Awasi selalu Vero agar menjadi kepala rumah tangga yang baik."
"Vero aku minta kamu selalu menghormati kak Bima, Reva juga keluarga lainnya. Mereka keluarga tidak sedarah, tapi melebihi keluarga sedarah. Aku ingin kita dua saudara memperluas keluarga hidup rukun dan bahagia."
"Aku masuk keluarga tidak?" Saka tersenyum merangkul Stev.
"Kamu adikku, Paman Sam Ayahku. Kita bersaudara Saka." Steven merangkul Saka dan Vero.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
__ADS_1
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
***