MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 RESTU MAMI


__ADS_3

Bima dan Steven melangkah masuk, Stev menahan bahu Bima menatap matanya.


"Dia masih hidup tidak kak?" Steven masih penasaran soal bayi.


"Dia meninggal Steven, hanya kamu yang selamat. Si kecil Stevie sekeluarga menutup mata dihari yang sama." Bima menghembuskan nafasnya, langsung melangkah masuk.


Steven langsung terdiam, dengkulnya lemes jika bayi yang terlempar juga meninggal. Kepala Steven langsung berat, duduk di lantai menenangkan dirinya.


Windy juga mendengar pembicaraan Bima dan Steven dari awal, bayi siapa yang dimaksud oleh Stev, Windy merasakan dadanya sesak.


"Ya Allah apa kenyataan ini begitu menyakitkan, Windy yakin Mami Papi sangat mencintai Windy, tapi rahasia besar apa yang bersangkutan dengan Windy." Batin Windy menekan dadanya kuat.


Setetes air mata menetes, Windy langsung menepisnya menyakinkan dirinya sendiri untuk kuat, bertahan sampai akhir.


Steven melangkah masuk, melihat Windy yang duduk di lantai menyembunyikan kepalanya di antara kedua dengkulnya.


Stev menyentuh pundak Windy, kepala Windy langsung terangkat. Melihat wajah Steven yang juga sedang memiliki perasaan tidak nyaman.


"Kamu mendengar semuanya?" mata Stev menatap mata Windy, terlihat ketakutan yang sangat Stev pahami.


"Siapa sebenarnya Windy Om? apa Windy anaknya Mikel? jika Windy bertanya kepada Papi pasti akan menyakiti Papi." Air mata Windy menetes.


Windy tidak mengingat tentang dirinya saat kecil, saat diculik Ibunya, Windy hanya menyadari saat dia terbangun memimpikan sosok Ayah, selalu dia panggil Papi. Dia melihat seorang wanita yang selalu mengabaikannya mengatakan jika dia Bunda yang tidak menginginkan Windy lahir.


Bima harus membayar mahal kehidupan Windy selama hidup bersamanya, demi harta Windy dibesarkan sebagai ganti rugi.


"Om, Windy sayang Papi. Windy selalu mencari tahu soal Papi, bertahun-tahun Windy mencari Papi sampai akhirnya bertemu Mami, sosok Ibu yang mengantarkan Windy bertemu orang yang ternyata juga bukan Ayah kandung Windy, tapi Windy tutup telinga, karena Papi selalu mengatakan jika Windy bukan anak Bunda, tapi anak Papi. Bunda juga pernah mengatakan jika Windy petaka." Windy menutup mulutnya menahan tangisannya.


"Windy tidak mengingat saat Windy berusia 3 tahun, atau pernah mendengar cerita soal Windy kecil."


"Tidak, Papi tidak ingin Windy mengigat apapun, kata Papi jalani kehidupan yang sudah Papi rangkai untuk Windy, jangan pernah mengigat hal buruk apapun."


Steven semakin binggung, niat awalnya untuk berhenti akhirnya bangkit kembali, Stev harus mengetahui siapa bayi yang terlempar bersamanya, kenapa kakaknya memanggil Win, jika bukan Windy tidak mungkin Bima terlibat.

__ADS_1


Steven menghapus air mata Windy, setuju dengan ucapan Bima untuk membiarkan Windy melupakannya semuanya, karena masa kecil Windy yang kelam, tapi dirinya terdidik dengan baik, ditangan Reva dan Bima.


***


Selesai sholat magrib bersama, Stev menjadi imam sholat. Vero mengintip duduk di pinggir pintu sambil berdoa, mengaminkan setiap doa yang dia dengar.


"Papi, Kak Stev dan kak Vero kenapa bisa beda agama?" Winda menatap Bima yang tersenyum membuka mukena putrinya, juga istrinya.


"Setiap pribadi berhak memilih anutan yang dia inginkan, Om Stev sejak remaja sudah islam mengikuti salah satu keluarganya, sedangkan Om Vero mengikuti agama orang tuanya." Bima berbicara pelan.


"Di luar Negeri kebanyakan mayoritas bukan Muslim Winda, jika punya buku di baca, jangan dicoret." Wildan menggelengkan kepalanya melihat kembarannya yang tidak ingin mencari tahu, selalu saja bertanya.


"Stev siap-siap kita makan di luar hari ini, Wildan kabarin Om Vero." Bima mengusap kepala putranya.


"Om Vero juga mendengar pembicaraan kita Papi, Wildan tidak harus mengulanginya lagi."


Vero langsung merangkak masuk menyapa semua orang, Bima tersenyum melihat Wildan yang sangat peka.


"Bayangan Om Vero terlihat di dinding?"


"Papi kak Wildan tidak fokus sholatnya, buktinya dia melihat bayangan."


"Bukan tidak fokus Winda, mata aku melihat bukan seperti kamu mata terpejam, bukan sholat tapi tidur." Wildan menatap tajam.


"Astaghfirullah Al azim, kenapa selesai sholat bertengkar?" Windy yang tidak ikut sholat melihat ke dalam ruangan sholat.


"Windy kenapa tidak sholat?" Vero menatap Windy.


"Aduh Om Beto, perempuan dalam satu bulan pasti ada tidak sholatnya, kecuali Winda. Kapan Winda tidak sholat, setiap hari Winda sholat, dalam satu hari 5 kali." Windy menunjukkan jarinya.


"Winda tidak boleh mengeluh sayang, sholat cara kita bersyukur akan nikmat yang diberikan."


"Iya Papi Winda tidak mengeluh, hanya bertanya Winda kapan tidak sholatnya."

__ADS_1


Bima tersenyum meminta semuanya bersiap untuk pergi, Reva langsung meminta Winda mengganti bajunya.


"Winda kamar kamu di sana, kenapa berlari ke luar rumah?" Reva teriak melihat ulah putrinya.


"Winda harus mengabari Vira, Bella Billa." Winda balik lagi sambil cemberut.


Kepala Reva menggeleng melihat Winda yang sulit diatur, Windy langsung menggandeng Winda untuk ganti baju, Vero sibuk berbicara dengan Bima.


Stev sibuk melihat email-nya, membahas beberapa pekerjaan, Reva berdehem membuat Stev tersenyum melirik sebentar langsung fokus lagi.


"Stev, masih ingin bertahan?" Reva menutup tablet Steven.


"Iya Va, jangan kurang ajar aku lebih tua dari kamu." Stev tersenyum.


Reva memukul Steven dengan bantal sofa, Steven sudah tertawa, mendengar kabar Bima menikahi Reva sudah membuat Steven kaget, karena mereka berdua bertaruh. Jika Reva berhasil menikah, Stev tidak boleh menikah sampai usia 30 tahun.


"Aku lebih tua dari kamu Steven, lihatlah anak aku ada tiga sedangkan kamu masih jomblo." Reva menatap tajam.


"Jangan terlalu bangga Reva, aku sudah melewati waktu perjanjian kita. Kamu juga harus menarik kembali ucapan kata jomblo, kenyataannya putri cantik kamu kekasihku." Steven tertawa kuat, puas melihat wajah Reva merah menahan marah.


"Stev ...."


"Jangan meminta aku meninggalkan dia, terkadang takdir bermain-main. Aku bertemu Bima saat kepergian kak Stevie, kita juga bertemu tanpa sengaja di fakultas yang sama, aku menganggap kamu kakak cerewet, kita bertemu lagi saat kamu mengejar cinta Om Duren, kita menjadi dua orang yang tidak saling mengenal. Kedekatan aku dan Bima juga dengan kamu jangan sampai rusak hanya karena aku mencintai putri kalian." Steven tersenyum, Reva terdiam membenarkan ucapan Steven.


Windy pernah berkata akan menikahi Steven, Reva juga orang yang menyemangati Windy, Reva juga yang membuat Stev gonta-ganti pacar sampai usia 30 tahun tidak boleh menikah, takdir mempersiapkan pertemuan Windy dan Steven, dengan campur tangan Reva. Lalu siapa yang harus Reva salahkan.


"Stev, jaga Windy." Reva menatap Steven, Stev juga mengangkat wajahnya melihat Windy.


"Aku mendapatkan restu, mudah juga kamu luluh Reva. Mami yang terbaik." Steven langsung tertawa kuat memanggil Reva Mami, membuat Steven dan Reva mengerutkan kening.


"Najis dipanggil Mami oleh kamu, ingat umur Stev, sudah tua." Reva teriak kuat, Bima langsung muncul melihat Reva dan Steven bertengkar seperti dulu.


***

__ADS_1


__ADS_2