
Sudah satu minggu seluruh keluarga menginap, sudah saatnya mereka kembali. Steven dan Windy akan menikah dalam hitungan bulan. Windy akan mengatur jadwal kuliahnya, Stev akan mengatur pekerjaannya.
Bima tidak mempermasalahkan Windy dan Stev menikah di negara Stev, karena mereka semua akan datang, seluruh keluarga akan hadir.
Windy sangat bahagia, memeluk Papinya mengucapkan terima kasih, memeluk Maminya meminta Mami menyiapkan baju pengganti untuknya.
"Mommy, Mami buatan Windy baju pengantin terindah."
"Kamu mempercayai Mommy, dulu saat Mami kamu menikah juga menggunakan baju jadul buatan Mommy." Viana memeluk Windy, mengusap punggungnya.
"Windy tahu, buatan Mommy terbaik, sedangkan buatan Mami yang terindah, jika yang baik dan indah menjadi satu, Windy akan menjadi Ratu tercantik." Windy tersenyum menatap Mommy Vi.
"Baiklah, demi putri tercantik kami."
"Bunda harus membuatkan apa?"
"Kamu jadi koki saja Jum, Septi hampir melahirkan sulit memasak." Reva tertawa.
"Bunda Jum bisa membelikan Windy ini." Windy menyerahkan foto mahkota.
"Karya siapa Win?"
"karya Windy, ini akan menjadi mahkota termahal."
"Bukan dia yang termahal sayang, tapi kebahagiaan Windy. Kamu bahagia kami bahagia." Jum mengusap kepala Windy.
Windy tertawa, meminta semuanya bersiap untuk masuk ke dalam bandara. Tian memeluk Windy, senyuman Windy terlihat menatap adik lelakinya.
Steven dan Windy melambaikan tangannya, seluruh keluarga pulang, meninggalkan Windy bersama calon suaminya.
Tangan Steven merangkul Windy untuk kembali, Windy memeluk erat pinggang Steven lelaki yang jauh lebih tinggi darinya.
Steven membukanya pintu, Stev ingin membawa Windy ke tempat yang sangat romantis. Windy tidak percaya dia tahu Stev tidak pernah romantis.
Sepanjang perjalanan Steven menggenggam tangan Windy, kepala Windy bersandar di lengan Stev.
"Yang, masih jauh tidak?"
"Masih sayang, kita juga akan menginap di sana."
"Tidur satu kamar berdua, kita belum sah Yang."
__ADS_1
"Pikiran kamu Win, sudah keluar jalur. Ingat jika keluar jalur berbahaya." Steven mengomeli Windy.
Mobil Stev berhenti di restoran, suara Saka dan Ghina terdengar, ada Vero juga membawa makanan.
Windy mengerutkan keningnya, dari mana letak romantisnya jika jalannya ramai-ramai. Windy menatap sinis Saka yang mulutnya penuh makanan.
Kepala Windy menggelengkan melihat tingkah Saka yang kekanakan tidak ingat umur lagi, padahal sudah bau tanah.
"Kita sebenarnya ingin ke mana?" Ghina menatap Stev, langsung membuka laptopnya.
"Kita akan bersenang-senang." Steven ingin merayakan hari sebelum dia dan Windy menikah.
"Sayang, kita ingin liburan berhentilah bekerja sebelum laptop kamu berhamburan di jalan." Saka menatap tajam.
"Sayang." Windy melihat ke arah kursi penumpang, menatap Ghina yang menutup laptopnya.
Suara Windy tertawa melihat Ghina yang menerima cinta Saka, playboy seperti Saka mungkin tidak bisa setia, dia hanya tahu bersenang-senang dengan banyak wanita.
Stev menegur Windy, tidak semua orang yang melakukan kesalahan harus terus menjadi orang yang bersalah, tidak ada salahnya jika Ghina memberikan Saka kesempatan, lebih baik lagi jika Ghina bersedia menerima lamaran Saka.
Windy memonyongkan bibirnya melihat Steven yang membela Saka, tangan Stev mengusap wajah Windy meminta untuk jangan cemberut.
Mobil sampai di tempat tujuan, Vero masih tidur di mobil. Steven keluar bersama Windy, Saka dan Ghina melangkah melihat ke arah matahari terbenam.
Perjalanan yang cukup panjang, Windy terpesona melihat keindahan matahari terbenam. Steven berdiri di belakang Windy memeluk pinggangnya.
Tawa Windy terlihat sangat bahagia, bisa melihat indahnya alam bersama lelaki yang sangat dia cintai.
Ghina juga tersenyum melihat indahnya matahari terbenam, dua pasangan asik tertawa melihat matahari.
Vero yang sudah bangun hanya tersenyum melihat Windy bersama Steven berpelukan bahagia. Vero mengambil ponselnya, memotret dua pasangan yang saling tersenyum.
Vero mengambil kertas lukisan yang baru dia beli, mengambil cat air melukis keindahan di depan matanya.
Menjadikan Windy Steven, Ghina Saka sebagai model yang sedang melihat indahnya dunia, tertawa bersama menyambut hari bahagia.
Air mata Vero menetes, saat melihat Windy tersenyum mengusap wajah Stev. Sekuat apapun Vero berusaha melupakan Windy, menganggapnya sebagai sahabat sangat sulit, Vero sudah jatuh cinta saat pandangan pertama.
Cinta yang akan terus Vero simpan di dalam lubuk hatinya paling dalam, cinta yang akan dia bawa sampai mati, cinta yang tidak akan pernah diungkapkan, cinta yang tidak akan pernah bisa dia miliki.
Vero tersenyum mengusap air matanya, melihat Steven menekan hidung Windy. Terlihat sebagai pasangan yang sangat serasi.
__ADS_1
Tanpa Vero sadari Ghina berada di sampingnya membuka pintu mobil, melihat gambar Vero, juga menatap mata Vero yang mencintai Windy.
"Vero, hilangkan rasa cinta kamu. Steven dan Windy sebentar lagi menikah. Stev Kaka kamu, Windy sahabat kamu, jangan pernah kamu menghancurkan kebahagiaan mereka." Ghina menepuk pundak Vero.
"Aku tahu, sejak awal aku sudah berjuang untuk melepaskan, aku juga sudah mengatakan kepada Steven dan Windy. Aku pikir semuanya berakhir, tapi nyatanya cinta ini sulit aku lepaskan."
"Kamu hanya akan tersakiti."
"Aku tahu kak Ghina, Vero tahu. Jangan salahkan Vero, sungguh aku tidak akan menghancurkan hubungan mereka." Vero mengusap air matanya.
Saka menghampiri Ghina, memintanya bergabung. Vero juga diminta turun untuk ke pinggir pantai.
Vero tersenyum meletakan lukisannya, melangkah keluar bergabung bersama Steven dan Windy.
Steven menatap mata Vero, Windy sudah berlari melangkah bersama Ghina dan Saka untuk berfoto.
"Vero, kamu serius mencintai Windy?" Steven menahan pundak Vero.
"Tidak, aku tidak mencintai dia lagi, mata aku merah karena bangun tidur." Vero tertawa merangkul Steven.
"Vero jangan bohong, kak Stev tidak ingin ada yang memanfaatkan perasaan kamu."
"Tenang saja, aku orang pertama yang akan melindungi cinta kalian. Menikahlah kak hiduplah bahagia, berikan aku keponakan yang tampan dan cantik." Vero tertawa, langsung berlari mendekati Windy dan Ghina untuk bergabung berfoto bersama.
Steven tersenyum melangkah menyusul, menyambut tangan Windy, memegang jari jemarinya untuk melangkah bersama.
Senyum Windy terlihat, membuat Steven sangat bahagia. Vero memotret Windy dan Steven dari belakang.
Wajah mereka tidak terlihat karena cahaya, Windy mencium pipi Stev pas di foto Vero.
Windy tertawa melihat Saka mencium bibir Ghina membuat Vero meletakan ponsel di pasir, langsung ditinggal pergi.
Saka marah melihat Vero yang jahil, hanya karena dia tidak memiliki pasangan, jadinya dia menolak memotret.
Suara tawa Vero memaksa Saka memotretnya bersama Steven, Windy memberikan ponselnya menggenggam tangan Vero dan Steven berfoto bersama.
Ghina terdiam melihatnya, Vero melepaskan tangan Windy yang langsung memeluk Steven.
"Memang sakit mencintai, tapi tidak dicintai."
"Aku mencintai kamu Ghi, jangan pernah kamu ragukan." Saka mengusap wajah Ghina.
__ADS_1
"Stev." Seseorang memanggil membuat Steven dan Vero menoleh.
***