MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
WANITA MANJA MILIK BIMA


__ADS_3

Jam makan siang Bisma berlari mendekati Rama yang sudah lebih dulu datang, mereka berdua bercerita soal keseriusan Bisma kepada Jum. Awalnya Bisma ingin berkunjung saat Bima dan Reva sudah baiklah tapi waktunya tidak tepat, Bisma mendatangi keluarga Jum dengan keberanian. Awalnya Keluarga Jum kaget, karena selama ini Jum menolak untuk menikah tapi siapa menyangka seorang pemuda tampan datang melamar dengan keseriusan. Niat baik Bisma disambut dengan tangan terbuka oleh bapak Jum, kehadiran Bisma disambut dengan bahagia. Bima menerima semua nasehat bapak Jum, juga pesan-pesan yang harus Bisma jalanin. Melihat keluarga Jum Bisma menyadari satu hal indahnya keluarga, Bisma tidak ingin berpisah lagi dengan kakaknya keluarga satu-satunya yang dia miliki.


Pernikahan Bisma sudah ditentukan dan disetujui oleh kedua keluarga, Rama tersenyum melihat Bisma yang berbeda jauh dengan Bima tapi keduanya sama baik.


"Kak Bima dilangkahi?"


"Iyalah! kasus Bima sama Brit masuk meja hijau, sebenarnya Bima bisa mendapatkan Windy dengan mudah tapi tahu sendiri kak Bima."


"Karena kak Bima pria baik, bukannya Reva yang mudah menghancurkan bisnis orang. Selama masih bisa dengan cara baik Kenapa harus dengan cara kasar."


"Kamu sama Bima mirip, pikiran kalian juga sama."


"Kak Bima sosok orang yang menginspirasi, aku sangat takut jika dulu kak Bima meninggalkan aku, hanya dia tempat aku bergantung." Rama dan Bisma tersenyum mengingat sosok kakak yang seperti orang tua bagi mereka.


Tangan Rama menekan sebuah video yang memperlihatkan tingkah Viana yang memegang kumis pria kekar, yang membuat Rama langsung tertawa terbahak-bahak. Tidak seperti biasanya dia yang pendiam dan kalem.


"Pasti Lo nonton video kekonyolan mereka? Bisma tersenyum melihat kepolosan Jum.


"Iya kak! mereka lucu sekali, Jum yang polos Viana Reva yang jahil."


"Kepolosan Jum yang membuat aku jatuh cinta Rama."


Bima dan Ivan baru datang bersama karena mereka ada pekerjaan kerja sama, setelah memesan makanan dan berbincang membahas pekerjaan.


Selesai melakukan panggilan Ivan terdiam dan melepaskan ponselnya kuat, membuat yang lainnya menatapnya penuh tanda tanya.


"Kenapa? Tya hamil!" Bisma tertawa pelan.


"Viana, Reva, Septi, Jum, ada di apartemen gue sekarang!" Ivan langsung bangkit berdiri dan berlari ke parkiran.


Rama dan Bima saling pandang juga ikut berlari meninggalkan Bisma yang masih makan.


"Wooyy, siapa yang bayar?" Bisma teriak membuat pengunjung lainnya memandanginya.


Ammar baru saja datang, dan melihat Bima dan Rama berlari, cepat dia menghampiri Bisma yang masih bicara dengan pelayan.


"Bis, mereka mau kemana?" Ammar menatap binggung.


"Nah ini yang bayar mbak, pak polisi tampan ini!" tanpa menunggu protes Ammar Bisma susah melangkah keluar meninggalkan nota makan mereka.


Ammar menatap aneh, dan kesal melihat total makanan yang dia sendiri belum sempat makan, Ammar terpaksa mengeluarkan dompet dan mengejar Bisma yang menunggu di mobilnya.


"Bro gue belum makan!?" Ammar masuk dengan wajah kesal, Bisma hanya tertawa sambil menjalankan mobilnya.

__ADS_1


"Kita ke apartemen Ivan, pacar Lo Septi bakal membunuh istrinya Ivan." Tawa Bisma mengejek Ammar.


"Tidak mungkin! Septi wanita lembut, berbeda dengan Viana dan Reva."


"Berani bilang Viana dan Reva bisa hancur kita oleh kedua pimpinan VCLO."


"Iya bisa tidur di tanah kita jika keduanya mengamuk." Ammar dan Bisma tertawa.


***


Reva mendekati Tya yang mencari obat urut untuk Jum, Septi sibuk masak di dapur.


"Maaf Reva, bukan aku penyebab kepergian sahabat kamu."


"Kalau bukan kamu siapa lagi?"


"Kekasihnya yang membuat dia bunuh diri, mereka putus karena hamil."


"Jadi gosip saat itu benar."


"Iya! hanya kamu yang tidak percaya, tapi wajar saja aku memang wanita jahat.


Reva tersenyum memeluk Tya, Reva berharap dengan mengikhlaskan dan merelakan bisa membuat hati lebih tenang dan bahagia. Hidup dengan saling memaafkan dan melupakan masalalu lebih baik daripada terus menyimpan dendam yang tidak berujung.


"Ngapain Jum? gue bisa sendiri." Viana menepis tangan Jum yang memijitnya pelan.


Reva melangkah mencium pipi Jum yang membuatnya teriak kuat, dan menepis pipinya. Suara teriakan Jum sampai ke luar apartemen membuat semuanya tetangga kaget.


Suara teriakan karena ulah kejahilan Reva membuat Jum kesal, tapi Viana hanya tertawa melihat keduanya.


"Jum! dicium Bisma Lo jadi patung, dicium Reva teriak histeris."


Semuanya tertawa lagi, Viana membuka kartu Jum yang belum ada yang tahu kecuali Vi dan Rama. Wajah Jum berubah merah menahan malu.


Chintya datang menghampiri mereka memberikan minyak urut ke kaki Viana yang kelelahan berjalan, Vi mengucapkan terimakasih dan tersenyum lembut.


Suara teriakan dari apartemen Ivan membuat banyak tetangga yang keluar, Ivan, Rama, dan Bima baru tiba merasakan kebinggungan melihat banyak orang di dekat pintu apartemennya.


"Permisi! ada apa ya?"


"Dek Ivan, kita pikir tadi kamu bertengkar dengan istri kamu, suara teriakan besar sekali."


Canda dan tawa langsung berubah tegang melihat kemarahan Ivan yang menatap Septi, baru datang dari dapur membuat cemilan.

__ADS_1


"Jahat Lo Sep," Ivan melangkah melempar piring yang Septi pegang, menarik kuat tangannya dan melempar Septi yang di tahan Reva ikut terpental.


"Lo aman Sep!" Reva melihat tubuh Septi yang berada di atasnya.


"Iya! Reva tangan Lo berdarah." Teriak Septi membantu Reva berdiri.


Reva mengumpat kasar ke Ivan dan maju menyerang Ivan yang merasa bersalah, melukai kedua sahabatnya. Reva memukuli Ivan tanpa ampun lupa dengan tangannya yang sakit, Bima menarik Reva dan memeluknya biar tenang.


"Brengsek kamu Van, beraninya kamu menyakiti kita, sini maju, tubuh aku sakit banget kamu lempar seperti sampah.


Ammar dan Bisma masuk melihat kekacauan, Ammar mendekati Septi yang terdiam mematung. Wajahnya pucat dan menahan air matanya.


"Septi mau pulang!" tangisan Septi pecah dalam pelukan Ammar.


Viana coba menjelaskan kedatangan mereka, Ivan salah paham. Mereka hanya numpang makan, bukan mengajak Cakar-cakaran.


Viana mendekati Septi yang masih menangis dalam pelukan Ammar, Viana menghapus air mata Septi dan tersenyum. Mengandeng nya duduk di samping Tya yang air matanya di hapus Jum.


"Reva sini kamu!" Viana melambaikan tangannya memanggil Reva.


"Tidak ada niat mau jemput, gue juga mau kayak Septi dan Tya. Lihat gue terluka!" Reva melangkah mendekati Vi sambil mengomel.


"Bukannya Lo lagi happy baru di peluk om kesayangan Lo." Reva memeluk Viana dari belakang, tadinya marah sekarang sudah cengengesan. Reva sangat mudah marah, mudah juga memaafkan.


Ivan meminta maaf kepada Septi, karena menyakitinya. Rama juga mengelus kepala Septi yang memang cengeng. Septi akhirnya tersenyum, dia tahu Ivan mencintai Tya sejak dulu, beginilah cara Allah mempersatukan cinta.


"Rama, Ivan tidak ada yang mau minta maaf ke gue, lihat terluka! sakit sekali!" Reva memanyunkan bibirnya menunjukkan siku yang berdarah.


"Enggak!" jawab Ivan dan Rama tersenyum.


"Cari mati kalian berdua!" Reva menatap tajam dan membuang pandangannya.


Semuanya tersenyum melihat Reva yang lebay dengan luka kecilnya, yang ingin menjadi wonder woman.


"Sabar Reva, Lo harus tahu diri jika Lo gak penting!" Viana berbisik membuat Reva kesal menghentak kakinya melangkah pergi mendekati Bima, bibirnya manyun. Bima hanya bisa tersenyum sambil mengacak rambut Reva.


"Ayyy sakit!"


"Mau ke rumah sakit?" Bima tersenyum, dan sangat gemas melihat wanitanya yang selalu minta dimanja, Windy juga kalah manja."


"Tiup!" Bima akhirnya mengikuti keinginan Reva, yang lainnya menatap kesal, Reva hanya menjulurkan lidahnya.


***

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


***


__ADS_2