MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENGEJAR CINTA OM BULE


__ADS_3

Suara teriakan Reva marah-marah menggema di kamar Steven, Reva terus mengumpat Steven beraninya membawa Putri kecilnya ke jalan yang salah.


Reva tidak memberikan kesempatan untuk Steven menjelaskan apapun, Stev juga hanya diam mendengarkan Reva marah-marah.


Bima mendengar kemarahan Reva langsung mengambil ponselnya, meminta Reva diam dan lebih tenang.


Steven menyapa Bima, nada bicara Bima sangat tenang, tidak ada sedikitpun suara kasar yang diucapkan. Bima langsung bertanya keberadaan Windy, Steven menjawab jujur jika Windy tidak bersamanya, dia sedang di rumah beristirahat.


Windy sudah pulang, handphonenya tertinggal karena Windy datang bersama kedua temannya, selesai pulang dari persidangan. Tidak ada yang Steven tutupin, hanya saja keberadaan di mana ponsel ditemukan yang tidak Steven perjelas.


Bima meminta maaf karena Reva berbicara kasar, Steven sangat memaklumi karena Reva mengkhawatirkan Windy, Steven berjalan keluar untuk menyerahkan ponsel Windy.


Reva melakukan panggilan video, Steven yang wajah masih mengantuk terlihat, mengetuk apartemen Windy, lama Steven menunggu. Windy membuka pintu dengan mata terpejam, rambutnya berantakan, bajunya juga sangat minim.


Bima menatap Reva, mata Reva langsung melotot melihat baju tidur Windy yang terbuka.


"Windy berapa kali Om Steven memperingati kamu soal pakaian? cepat ganti baju kamu sekarang." Steven menutup kembali pintu.


Windy membuka lagi langsung mengomeli Steven jika baju yang dia gunakan baju tidur. Bima sampai kaget mendengar suara Windy, Reva hanya nyegir mengelus lengan Bima.


"Baju Mami lebih seksi Daddy, biasanya juga jarang menggunakan baju." Reva mencium lengan Bima.


Steven bisa mendengar suara Reva, hanya bisa menghela nafas, tidak heran Windy terkadang kekanakan, ternyata mengikuti Maminya.


Setelah mengganti bajunya baru Windy membuka pintu, Steven menyerahkan ponsel Windy langsung kembali ke apartemennya untuk lanjut tidur.


Windy berjalan ke sofa, meletakkan ponsel di telinganya. Bima menahan tawa melihat layar gelap.


"Windy, Mami tidak ingin melihat tahi telinga kamu, cepat tunjukkan wajah kamu." Reva langsung cemberut, Windy mengucek matanya melihat wajah Maminya.


Reva mulai lagi menggomeli Windy, menegurnya soal pakaian yang sangat minim. Meminta Windy belajar banyak hal, Bima hanya menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang tidak mempunyai rem untuk berhenti sejenak.


Windy hanya tersenyum melihat mendengarkan ocehan Maminya yang sangat Windy rindukan, Bima juga menasehati Windy selembut mungkin, meminta putrinya menjaga diri dengan baik, belum selesai Bima berbicara ocehan Reva terdengar lagi.

__ADS_1


[Wildan, tolong ambilkan Mami minum.] Reva sampai hampir habis suara, Windy hanya tersenyum melihat Maminya.


[Makanya Mam, bicara harus menggunakan jeda.] Wildan menatap aneh.


Windy berbicara sebentar dengan Wildan, adik lelakinya yang sangat dingin seperti batu es, berbicara juga jarang, jika suaranya keluar pasti menyindir.


Ratu rempong juga muncul, Winda mengadu kepada kakaknya jika dia kesepian, karena Billa, Bella pulang kampung, sedangkan Vira sedang ke Luar Negeri menemui Halmeoni dan Harabeoji.


Windy tersenyum mendengarkan keluh kesah adik kecilnya yang sangat pintar, Winda mengomeli banyak hal sangat mirip dengan Maminya.


Hampir satu jam panggilan video baru mati, Windy keluar kamarnya mengetuk pintu apartemen Steven, lama tidak di buka, akhirnya Windy langsung masuk dengan kode yang sudah Steven katakan.


Windy berkeliling mencari Stev, tapi tidak terlihat batang hidungnya. Windy membuka pintu kamar melihat Steven sedang tidur pulas. Sikap jahil Windy muncul.


"Om, bangun Om. Om Steven bangun, tolong Windy Om." Windy teriak menangis kuat.


Steven kaget langsung bangun, melihat Windy yang menangis histeris. Steven panik mendudukkan Windy dipinggir ranjang.


"Ada apa Win?" Steven menangkup wajah Windy.


"Kenapa Mami? Mami marah, ingin menjemput Windy pulang. Nanti Om yang akan menjelaskan jika kita tidak melakukan apapun, Om yang akan menerima kemarahan Mommy kamu." Steven menghapus air mata Windy, memeluknya hangat.


Windy langsung diam tidak mengerti ucapan Om bulenya, Maminya tidak marah, jika mengomel sudah menjadi makanan sehari-hari, Windy dan kedua adiknya sudah kebal.


"Om, maafkan Windy ya."


"Jangan meminta maaf Windy, kamu tidak salah Om yang salah."


"Mami tidak marah Om, hanya meminta Windy menikah." Windy menahan tawanya.


Steven mengerutkan keningnya, sudah terlihat jika Windy sedang mengerjainya. Windy langsung tertawa, memberikan ponsel Steven, langsung melangkah pergi.


"Terima kasih ponselnya Om." Windy melangkah keluar.

__ADS_1


"Ini ponsel kamu Windy, tertinggal di kamar, Om tidak sengaja mengangkat panggilan Mami." Steven melangkah mendekati Windy.


"Ohhhh ini ponselnya Windy." Windy tersenyum mengambilnya dari tangan Steven.


Windy langsung melangkah keluar kamar, Steven mengikutinya melangkah keluar juga. Steven menahan lengan Windy untuk melihat ke arahnya.


"Kenapa Windy sering sekali mengatakan ingin menikah?" Steven meminta Windy duduk.


"Karena Windy ingin menikah muda. Jika Windy masih muda punya anak, kita bisa seperti seumuran." Windy tersenyum.


Tangan Steven merapikan rambut Windy, menatapnya tajam. Windy tidak mengerti arti tatapan Steven.


"Win, kamu tidak takut dengan perpisahan. Kamu masih muda, pikiran kamu masih labil, inginnya bersenang-senang. Seharusnya kamu bercita-cita ingin menjadi orang yang memiliki nama, membuktikan prestasi kepada Papi Mami kamu, bukan memikirkan soal pernikahan."


Windy tersenyum lucu mendengar ucapan Steven, ternyata di mata Steven dia anak kecil, masih labil, hanya tahu kesenangan.


"Perpisahan, tentu Windy takut Om dengan perpisahan, seperti kedua orang tua Windy, takut juga menjanda di usia muda."


"Maaf Win bukan maksud Om membahas ke sana?" Steven lupa jika Windy bukan anak kandung Reva, Maminya yang sekarang.


"Boleh Windy jujur Om, jika Om ingin menjauh mungkin lebih baik." Windy tersenyum menahan air matanya.


"Silahkan Windy, sebelumnya maaf bukan maksud Om Stev menyinggung, Om hanya mengkhawatirkan masa depan kamu jika menikah muda. Satu hal lagi, selama kamu di sini tugas Om menjaga kamu dengan baik, jadi Om tidak akan menjauhi kamu."Mata Steven bisa melihat mata Windy yang sedang menahan air mata.


"Windy cinta Om, sayang Om Stev. Windy ingin menikah dengan Om Steven, kedatangan Windy ke negara ini, setengahnya ingin mengejar cinta Om." Windy menatap tajam memberanikan diri menatap mata Steven.


Steven menggelengkan kepalanya, mundur menjauhi Windy, tidak setuju dengan keputusan Windy.


"Ucapan kamu tidak lucu Windy, Om minta maaf jika lancang mencium kamu, mungkin terdengar Om memanfaatkan atau mengambil kesempatan, terserah kamu berpikir bagaimana. Menikah kamu tidak pernah terpikirkan, Om memiliki banyak hutang kepada Papi kamu, tidak mungkin Om berani memiliki putrinya." Steven berbicara tegas, membuang arah pandangannya.


"Windy mengerti Om, sudah Windy katakan hanya ingin jujur. Lupakan apa yang Windy ucapkan, maafkan jika Windy lancang, mungkin lebih baik kita berjauhan Om."


Steven menatap tajam Windy ....

__ADS_1


***


__ADS_2