
Pagi-pagi sudah terdengar keributan, Ar langsung berlari melihat Maminya terjatuh di lantai yang sangat licin.
Aisyah berusaha membantu Mami, membawanya ke tempat duduk melihat takutnya ada luka.
"Mami kenapa?" Ar langsung duduk melihat luka di lutut Maminya.
"Lihat kepala Ais kak, Winda sengaja menuangkan minyak di lantai membuat Ais terjatuh dan menghantam meja, sekarang dia mencelakai Mami." Aisyah menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan tindakan Winda yang kekanakan.
"Kita ke rumah sakit saja mi." Ar meminta sopir bersiap.
"Istri kamu tidak menyukai Mami ada di sini, dia sepertinya membenci Mami. Apa kamu ingin Mami pergi dari sini?" Tatapan tajam Mami terlihat, meminta Ar bersikap adil.
Winda hidup dalam keluarga yang memiliki segalanya, merendahkan orang lain sudah menjadi kebiasaan dia. Keluarga bisa menutupi segala kejahatan yang Winda lakukan. Gadis manja yang berlindung di belakang kekayaan keluarga Bramasta.
"Dia ingin membunuh Mami Ar."
"Mi, jangan bicara seperti itu. Winda berada dalam keluarga yang taat, dia tidak pernah dimanja dan dilindungi secara berlebihan. Ar tahu Winda mungkin tidak sengaja." Ar meminta maaf atas nama istrinya.
Winda mendengar percakapan, dia memang meletakan minyak, tapi bukan di depan kamar melainkan di dekat sofa.
Bisa juga Ais menjatuhkan citranya di depan Ar, senyuman Winda terlihat menuruni tangga melihat keributan di pagi hari.
"Perempuan ular, kamu ingin aku mati cepat?" Mami langsung ingin mencengkram Winda, tapi langsung ditahan oleh Ar.
"Tentu aku menginginkan kamu mati, tapi tidak sekarang. Bukannya kita berdua harus melihat akhir dari masalah yang dibuat di masa lalu." Senyuman Winda terlihat, menatap tajam Ummi dan Ais.
"Kamu dengar sendiri Ar, dia mengakui jika ingin membunuh Mami. Dia wanita jahat."
"Jaga ucapan kamu Ais, tidak ada yang berhak menilainya." Ar meminta Winda untuk minta maaf, tapi langsung ditolak.
"Winda tidak salah, kenapa harus minta? pokoknya tidak akan pernah minta maaf." Suara Winda meninggi langsung melangkah pergi.
"Oke jangan minta maaf, mulai sekarang kamu dilarang keluar rumah Win, dengan alasan apapun." Ar langsung meminta Maminya bersiap ke rumah sakit, Ar langsung yang akan mengantar ke rumah sakit.
Winda terdiam menjadi patung, menatap tajam suaminya yang melangkah ke kamar untuk mengganti baju.
__ADS_1
Ais juga langsung melangkah ke kamarnya, untuk bersiap ikut mengantar ke rumah sakit.
Winda langsung menendang kuat meja, menatap kesal Ar yang melarangnya keluar rumah.
"Bukan kamu yang meletakkan minyak? lalu siapa?" Mami menatap tajam Winda yang duduk santai di sofa.
"Aku berencana membunuh kamu, tapi di episode terakhir. Ini baru awal bahkan titik terang juga belum ditemukan, tidak ada untungnya menyentuh nenek peot." Winda berbicara sinis, mengacak rambutnya yang dilarang keluar rumah.
Mami menatap tajam Winda, gadis licik yang memiliki seribu cara untuk menjatuhkan, tapi dia tidak akan memulai jika tidak ada yang memancingnya.
"Kenapa kamu meletakan minyak?"
"Ingin memecahkan kepala Ais, dia mendekati kamar dan mulai menggoda, sedikit demi sedikit aku akan membuatnya cacat. Kenapa bertanya? kamu ingin menghentikan aku, mana bisa." Winda tersenyum sinis, mencari cara agar Ar membiarkannya keluar.
Ar langsung melangkah turun, menggendong Maminya untuk ke rumah sakit. Aisyah sudah berpenampilan cantik, tapi dilarang untuk ikut.
Winda menahan tawa, merasa lucu melihat Ais yang menangis memaksa ingin ikut. Keputusan Ar sulit di ubah, sekali tidak tetap jawaban tidak.
"Sudahlah Ais terima nasib saja, air mata busuk kamu tidak bisa membuat Ar luluh." Winda tertawa mengejek.
Ar melangkah pergi bersama Maminya dan sopir untuk ke rumah sakit, meninggalkan Winda dan Ais yang berdua di rumah.
Ais melewati Winda langsung terjatuh, tendangan kuat Winda melayang membuat bibir Ais pecah dan berdarah.
Cepat Ais berdiri ingin membalas Winda, tapi langsung dibanting kuat. Hal yang paling Winda benci, saat dirinya tidak salah, tapi disalahkan.
"Hukuman untuk orang yang suka fitnah, mulutnya harus dipecahkan agar tidak terbiasa." Senyuman Winda terlihat, meminta Ais berdiri.
Aisyah berteriak kuat meminta tolong, dia menunjuk ke arah CCTV bersumpah akan membalas Winda, melaporkan kepada Ar jika Winda menganiayanya.
Winda tidak bodoh, dia sudah mematikan CCTV, Ar tidak akan mengetahui juga tidak akan mempercayai.
Seharusnya Ais paham, jika Ar selalu menghindarinya. Tidak tertarik bahkan hanya sekedar melirik.
Mungkin saat bertemu di jalan, Ar belum tentu mengenal Ais, karena ada tidaknya dia bukan hal yang penting.
__ADS_1
***
Pulang dari rumah sakit, Ar langsung bersiap-siap untuk ke kantor. Winda duduk menatap Ar sambil meminta izin untuk keluar, Ar tetap melarang untuk pergi.
Apapun alasan Winda, tetap ditolak. Ar hanya memberikan pilihan jika Winda ingin keluar harus ikut ke mana Ar pergi.
Hal yang sangat mustahil, Winda ingin menyelidiki soal pelecehan yang sedang dia selidiki.
Jika ada Ar Winda tidak bisa melakukan apapun, juga terlalu bahaya jika Ar mengetahui konflik dirinya dan Mami Ar.
Dengan terpaksa, Winda berdiam diri di rumah. Ar langsung pergi bekerja melewati Ais yang bibirnya bengkak.
Niat Ais mencari perhatian, tapi hanya mendapatkan senyuman tipis, tanpa ada pertanyaan sebabnya bibirnya bengkak.
Winda dari lantai atas hanya tertawa melihat wajah Ais yang memelas, dia ingin menunjukkan kepada Ar betapa jeleknya bibirnya.
Mami Ar menatap tajam Winda, mata Winda jauh lebih tajam menatap tidak suka. Ais langsung melangkah pergi untuk mengobati bibirnya.
Tatapan mata mertua dan menantu sangat tajam, Winda tidak menunjukkan sedikitpun rasa takutnya.
Mami meminta Winda turun, dia ingin bicara empat mata. Winda langsung melangkah ke belakang rumah mengikuti wanita seksi yang sudah tua, tapi tetap cantik.
"Kenapa kamu mencari tahu soal pelecehan itu?" Mami menatap tajam, meminta penjelasan Winda.
Senyuman kekanakan Winda terlihat, dia tidak berniat mengatakan apapun, karena memang tidak ada kewajiban untuk mengatakannya.
"Kamu cukup diam saja, tunggu saja tanggal mainnya. Winda pastikan semuanya mendapatkan keadilan. Soal Lili yang gila, kamu harus bertanggung jawab Liza." Winda mendekati mertuanya, mengambil rambut yang jatuh di baju Liza.
"Bukan salah aku, dia sendiri yang menawarkan diri."
Winda menatap tajam rambut yang jatuh, mentertawakan Liza yang mulai tua. Jika dulu dirinya wanita cantik, seksi dan kuat, sekarang semuanya sudah berubah.
Winda yang dulunya hanya gadis muda yang berusia belasan tahun, tapi sekarang dia gadis dewasa yang memilki kekuasaan.
"Aku tidak pernah berlindung di balik nama keluarga, wanita hebat dia yang bisa menyembunyikan masalahnya, juga bisa menyelesaikannya." Winda langsung melangkah pergi.
__ADS_1
"Winda."
***