
Hebohnya pesta berubah khawatir, karena Binar ingin melahirkan. Seluruh keluarga berhamburan pergi ke rumah sakit, hanya tersisa pengantin yang tinggal di hotel.
Winda sudah mengganti bajunya, membersihkan make up-nya ingin segera beristirahat.
Suara ketukan pintu terdengar, Winda langsung membuka pintu melihat Ar datang membawa Wira yang sudah terlelap.
Perlahan Wira diletakkan di atas ranjang pengantin, Winda menarik selimut untuk menutupi tubuh pemuda kecil yang sangat tampan.
Winda langsung naik ke atas ranjang perlahan, memeluk Wira lembut sambil tersenyum. Ar juga tersenyum melihat Wira yang langsung berbalik badan memeluk erat Aunty nya.
Perlahan Ar membersihkan kaki Wira yang semalam tidak diam, membersikan tangannya dengan tisu basah.
Suara kamar diketuk kembali terdengar, Ar langsung membuka pintu melihat Vira menggendong Embun, sedangkan Elang dalam gendongan Wildan.
"Kenapa mereka di sini?" Winda kaget melihat si kembar diantar ke hotel.
"Kalian tidur bersama Embun dan Elang, di kamar kita ada Rasih, Raka, dan Bening." Vira langsung masuk meletakan Embun yang sudah tertidur.
"Ada masalah di rumah sakit Wil?" Ar mempersilahkan masuk.
Wildan menceritakan saat Ravi datang mengantarkan anak-anak, Binar sedang kritis karena mengalami pendarahan hebat, bayi prematur sehingga berbahaya.
"Mami, Mommy dan Bunda bersama Papi Daddy dan Ayah yang menunggu. Billa juga ada di dalam kamar operasi."
"Kak Ravi, Bella, Kasih dan Tian ke mana? kak Windy sama kak Stev juga ngapain di sana?" Winda menatap Wildan tajam, meninggalkan anak-anak bersama pengantin.
"Bella mengalami kram jadinya langsung dirawat, kak Tian posesif sekali. Kak Kasih menemani di sana." Vira mengerutkan keningnya.
Vira dan Winda menghela nafas secara bersamaan, sudah paham dengan tingkah licik Ravi yang sengaja mengembalikan anak-anak untuk menggagalkan malam pertama.
Suara tangisan Bening terdengar, Ar langsung menggendongnya untuk menenangkan. Armand yakin ibu Ning wanita kuat, adiknya Ning juga jagoan pasti akan baik-baik saja.
Rasih dan Raka langsung duduk di atas ranjang, Winda menatap tajam melihat ranjang penuh anak-anak. Raka langsung tidur memeluk Wira yang sudah lupa dunia.
Rasih yang biasanya cerewet hanya diam saja, dia tidak bisa tidur jika tidak memeluk Daddy-nya.
"Rasih sekarang kamu bobok dulu." Wildan meminta Rasih ke pelukannya.
"Ingin bobok di atas dada Daddy." Air mata Rasih menetes menahan kantuk.
Wildan langsung menggendong gadis kecil yang cantik mirip neneknya Viana, tangan Wildan mengusap air mata Asih agar berhenti menangis.
Ar sibuk menidurkan Bening, Wildan menidurkan Asih sedangkan Vira dan Winda menatap anak-anak yang memenuhi ranjang.
__ADS_1
Embun tidur mengecup tangannya, dia masih sering menyusu tapi malam ini tidur sendirian, karena Mama Papanya sedang bekerja.
Winda langsung menggendong Embun, Vira membuatkan botol susu langsung memberikannya.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari, Elang terbangun langsung berjalan mencari susu. Winda langsung menyiapkan susu, sedangkan Embun tidur dalam pelukan Vira.
Mata tajam Elang menatap adiknya, Winda langsung menggendong meminta Elang tidur dalam pelukannya sambil menyusu.
"Aunty, Dede Em dah nen?" Elang menatap tajam Winda yang tidak mengerti bahasa Elang.
"Sudah sayang, Elang tidur sekarang. Em sudah kenyang." Vira mengusap kepala El yang sangat mirip Erik.
"Kenapa kita menjadi pengasuh malam ini?" Winda memejamkan matanya, menidurkan Elang sambil duduk di sofa.
Ar menatap Winda meminta susu, Bening dari tadi meminta nen.
"Win, bagaimana membuat nen?"
"Kenapa kamu mau nen? sini punya Winda besar." Tatapan Winda tajam.
Vira langsung membuka matanya, tubuhnya bergetar tertawa, satu tangan menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.
Ar mengerutkan keningnya tidak mengerti ucapan Winda, sedangkan Vira sudah sakit perut karena tertawa.
Ar langsung mengambil botol susu, dia baru tahu jika nen itu botol yang ada susunya.
"Winda, kamu tidak punya akhlak. Syukurnya kak Ar tidak mengerti, jika dia pria mesum habis nen kamu." Vira menahan tawanya sangat sulit.
Raka juga terbangun, Vira langsung memberikan botol susu, tapi ditolak. Raka ingin ke kamar mandi.
"Mommy, Mom." Raka berteriak mencari Mommynya.
Wira terbangun langsung menendang Raka sampai jatuh, dia kesal karena Raka berisik sekali.
Raka langsung diam, duduk di lantai meminta maaf. Asih sudah tidur, Wildan langsung menggendong Raka untuk ke toilet.
Malam pengantin baru dihabiskan dengan mengurus anak-anak, sampai selesai subuh belum bisa tidur.
Kepala Winda bersandar di dada Ar sambil menggendong Elang, Ar juga tidur di sofa memeluk pinggang Winda.
Vira juga sama tertidur di sofa, kepalanya ada di paha Wildan. Tangan Wildan memeluk Embun yang tidur terlelap.
Di atas rajang sudah ada Asih, Bening, Raka, dan Wira yang tidur berpelukan.
__ADS_1
Wira terbangun setelah siang, selesai subuh mereka tidur lagi dan kesiangan.
Sikap jahil Wira muncul, dia langsung menggendong pelan Bening meletakkannya di depan pintu masuk, Raka juga digendong dimasukan di kamar mandi, Asih juga dipindahkan ke arah dapur.
Suara Wira menahan tawa terdengar pelan, mengambil Elang dari pelukan Winda, meletakkannya di lantai, Embun juga diletakkan di ruang tengah.
Wira langsung lompat kembali ke atas rajang, memejamkan matanya tidur dengan tenang.
Suara tangisan Bening membangunkan Vira Wildan, Ar dan Winda yang kaget.
"Di mana Elang?" Winda melihat tangannya tidak ada lagi si kecil.
"Em juga di mana?" Wildan menatap ke arah ranjang.
"Ke mana Raka, Asih Ning? kenapa hanya ada Wira?" Vira teriak panik.
Suara tangisan Bening kembali terdengar, Ar langsung berlari melihat Ning menangis sambil duduk, menutup mulutnya.
Ar langsung menggendong dengan tatapan cemas, tangisan Ning menyayat hatinya.
Suara Asih menangis juga terdengar, Wildan kaget melihat Asih, Em dan El di lantai.
Vira langsung menggendong Embun, Winda langsung menggendong Elang. Semuanya sudah ditangan hanya ada satu anak yang menghilang.
"Di mana Raka?" Vira menatap sekeliling yang tidak ada siapapun.
"Wira bangun, di mana adik kamu Raka?" Winda memukul pelan wajah Wira.
"Toilet."
Semuanya kaget langsung berjalan ke arah toilet, Raka sudah bangun duduk santai sambil melamun.
Tatapan tajam Winda melihat Wira yang nakalnya kelewatan, sedangkan pelaku masih asik tidur.
"Bagaimana keadaan yang di rumah sakit?" Winda langsung menghubungi Billa.
Semuanya bernafas lega, bayi Binar selamat sedang dalam perawatan, Binar juga melewati masa kritisnya.
"Alhamdulillah ibu dan bayi selamat." Winda benafas lega.
Wildan dan Ar membawa yang laki-laki ke kamar sebelah untuk mandi, sedangkan yang perempuan bersama Vira dan Winda. Mereka akan sarapan di restoran bawah, baru menyusul ke rumah sakit.
***
__ADS_1