
Sudah dari subuh Reva sibuk berdandan untuk pesta Pernikahan Septi dan Ammar. Bima hanya menatap istrinya yang memasang softlens, bulu mata, eyliner, dan banyak jenis make-up lainnya, yang membuat Bima binggung pemasangan yang tidak berujung. Hapus pakai lagi, pakai hapus lagi, terus berulang-ulang dan hasilnya masih sama.
"Dasar perempuan, hidup santai dibikin ribet." Batin Bima yang hanya tersenyum.
"Ayy, Reva cantik tidak."
"Pakai banget, coba duduk sini biar melihatnya bisa lebih dekat." Reva menurut dan duduk dipangkuan Bima, tidak sesuai janji, Bima mengigit kecil bibir yang sudah dipoles dengan lipstik berwarna peach. Ciuman lebih dalam, bahkan tangan Bima sudah menggakat baju Reva.
Suara ketukan pintu menghentikan keduanya, Reva langsung berdiri. Bima membantu merapikan baju Reva yang sudah berantakan.
"Mami, Papi!" teriak Windy dari luar.
Bima sedikit lega karena sekarang Windy lebih sering mengetuk pintu, tidak langsung nyelonong masuk. Reva mempersilahkan masuk, sambil menambah lipstik yang sudah celemotan ulah Bima.
"Pagi Mam, cantik sekali dandan Windy juga Mami."
"Ayo duduk sini."
Reva mengajari Windy cara memoles wajahnya yang masih muda, Windy dengan semangat mencoba yang Reva ajarkan. Dandanan simpel tapi mengubah wajah Windy sangat cantik. Bima menatap dua bidadari surga yang sangat dia cintai, tapi sedikit pusing karena tidak bisa bergabung.
"Ya Allah semoga saja nanti baby Boy, jadi aku punya teman saat kedua wanita ini bermain permainan wanita." Batin Bima dalam hati.
"Mami Windy Papi tunggu di bawah ya, jangan lama-lama. Mami hati-hati berjalannya."
"Siap bos."
Bima menunggu dua wanita sambil menyelesaikan pekerjaannya, suara teriak Windy pertanda akan berangkat. Bima langsung menutup tabletnya dan meletakkannya di ruangan khusus.
Tiga keluarga berangkat bersaman menggunakan mobil masing-masing, sepanjang perjalanan ocehan Windy yang terus bercerita aktivitasnya membuat perjalanan tidak terasa.
***
Acara ijab qobul segera dimulai, dada Reva berdegup ikut cemas melihat Septi yang akan menikah. Reva yang berada di kamar bersama Septi menggenggam tangannya.
"Septi, menikah memang indah, tapi ujiannya berat. Ada saja yang ingin diributkan, tapi saat keributan hampir terucap ingatlah awal kalian berjuang."
"Cie yang sekarang pinter puitis, aku bisa melihat kamu sangat bahagia Va. Aku juga akan belajar banyak dari kamu, bahkan hebatnya kamu yang bisa menerima anaknya Bima."
"Ya, dia duda perjaka." Reva tanpa sadar menyebutkan rahasianya, tapi Septi tidak menyimak karena fokus melihat Ammar mengucapkan ijab qobul.
__ADS_1
Ijab qobul selesai, Septi dan Reva mengucapkan Alhamdulillah dan saling berpelukan. Reva mengandeng tangan Septi keluar untuk menemui suaminya.
Suasana haru terasa, keluarga Septi sangat menerima Ammar. Keluarga Viana menjadi keluarga Ammar yang memang hidup sebatang kara.
Reva meneteskan air matanya, berkeliling bersama sahabat lamanya. Tangisan terdengar, Ivan memeluk dua wanita yang sekarang sudah menjadi istri, dan Reva juga akan segera menjadi ibu.
Karena lelah Reva mendekati Bima, melihat istrinya yang mulai pucat Bima meminta pamit istirahat, meminta Bisma menjaga Windy.
Sampai di kamar hotel Reva langsung tidur, Bima juga duduk diranjang sambil memijit tangan dan kaki Reva.
Lama-lama mata Bima ikut mengantuk dan tertidur di samping istrinya, bukan hanya Reva, Jum juga sudah beristirahat di dalam hotel bersama Viana yang harus menjaga Vira.
Bima terbangun karena sudah waktunya sholat ashar, dia melewatkan waktu zhuhur dan langsung menggabungkan dua sholat. Bima ingin membangunkan Reva tapi melihat wajah lelah akhirnya membiarkan Reva tidur lebih lama karena malamnya akan ada pesta pernikahan.
Suara ketukan pintu membuat Bima bangkit dari duduknya yang baru selesai sholat, Viana dan Jum berdiri di depan pintu. Bima mempersilahkan masuk, Reva masih tetap terlelap tidak terusik karena kehadiran dua wanita astral.
"Aku titip Reva ya Vi Jum," Bima melangkah keluar untuk menemui yang lainnya.
"Hidup berumah tangga harus saling melengkapi ya kak Vi."
"Harus Jum, saling menerima kekurangan."
"Jum ucapan kamu memang benar, tapi mengapa rasanya aku dan kak Vi mirip setan yang harus ditegur dulu, kita hanya hobi menunda." Reva bicara tanpa membuka matanya.
"Iya, rasanya kita jelek banget sikapnya."
Jum hanya cekikikan tertawa, padahal Bisma yang sekarang jauh lebih baik. Subuh sudah bangun lebih dulu untuk mengecek Tian, menyiapkan perlengkapan sholat, bahkan jadi imam yang baik.
Reva langsung bangkit dan cepat mandi, langsung sholat dan menunggu waktu untuk pesta sambil bercerita banyak hal.
Reva mengikuti dua wanita yang sedang sibuk berdandan, terkadang Reva suka melihat wajah di make-up tapi terkadang merasa kesal. Ketiganya menggunakan baju yang sama, sambil menunggu pukul 19.00 untuk turun bergabung dengan para tamu undangan.
***
Pesta meriah juga ratusan tamu undangan sudah hadir, para aparat kepolisian juga melakukan atraksi menyambut dua pengantin yang sangat cantik dan tampan. Status Ammar sebagai seorang kepolisian mengundang banyak penjabat negara dari polisi, tentara, TNI AU, AL, AD turut hadir.
Reva sampai pusing melihat ramainya tamu undangan, Tya yang sedang hamil besar juga memutuskan untuk kembali ke kamar karena takut berbahaya, Viana juga kembali bersama Tya karena ada Vira.
Setelah hampir tiga jam sesak dan bunyi musik juga suara orang yang beradu dalam gedung barulah Reva mendekati Septi dan berfoto bersama. Viana sekeluarga juga bergabung, para anak-anak yang tidak diizinkan keluar akhirnya ikut bergabung.
__ADS_1
"Sia-sia Windy dandan, keluar setelah tamu pulang." Wajah Windy murung.
"Iya Ravi juga tidak ada gunanya pakai baju bagus, tidak bisa tebar pesona. Menyebalkan sekali."
"Sudahlah demi keamanan kita juga, lagian tamunya memang membeludak."
"Pernikahan Uncle Bima dan Jum tidak seramai ini."
"Ramai sayang, hanya saja keamanan sangat ketat. Kalau ini karena tamu juga dari aparat keamanan sehingga tidak bisa terkendali." Bima mengusap kepala tiga bocah yang bibirnya hampir jatuh.
"Ayolah kita foto, sudah ganteng gini nanti tidak ada foto di dinding." Ravi berjalan sambil mengandeng tangan Windy dan Tian.
Kening Windy berkerut melihat dia berada di belakang tarik tarikan.
"Stop!" Windy teriak membuat dua bocah didepannya menoleh, para orangtua yang menunggu juga terdiam melihat ketiga bocah yang sedang debat.
"Windy bisa jalan sendiri." Cepat Windy melepaskan tangannya langsung melangkah naik pelaminan.
Tian dan Ravi saling pandang melihat tangan keduanya bergandengan, cepat Ravi melepaskan tangannya yang mirip kereta bergandengan.
Seluruh orang tersenyum di foto, kebahagiaan lagi untuk Reva melihat sahabatnya akhirnya melepaskan masa lajang. Memulai kehidupan baru yang bernama rumah tangga.
****
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
AMMAR
VISUAL@ ROHIT KHANDELWAL
SEPTI
__ADS_1