MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 KEGUGURAN


__ADS_3

Di rumah sakit Steven mondar-mandir menunggu dokter keluar dari ruang perawatan, Windy sudah ditangani beberapa Dokter yang menyambut kedatangan Steven.


"Ya Allah lindungilah istriku." Steven menatap pintu yang tertutup.


Vero muncul bersama Can, langsung menatap Steven yang masih terlihat panik.


Saka dan Ghina juga muncul, tatapan mata Ghina sedih melihat ke dalam ruangan.


Steven masih belum bisa duduk tenang, Ghina mendekati Steven yang perasaannya tidak stabil.


"Apa yang terjadi Stev?"


"Aku tidak tahu, di atas ranjang darah semua." Steven mengacak rambutnya.


"Windy jatuh pingsan?"


"Tidak, Windy hanya mengatakan perutnya sakit. Kamar mandi juga penuh darah." Steven langsung duduk, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Saka mendekati Steven menepuk pundak Stev, memintanya bersabar dan berpikir positif agar Windy baik-baik saja.


Dokter membuka pintu, Steven langsung berdiri mendekati dokter yang juga menatapnya.


"Dok, istri saya kenapa? dia baik-baik saja." Steven tidak bisa menahan diri, karena sangat khawatir.


"Pasien baik-baik saja, dia mengalami perdarahan di trimester pertama. Istri kamu keguguran Stev, nanti kita akan jelaskan detailnya setelah Windy sadar." Dokter menepuk pundak Steven langsung melangkah pergi.


Steven masih terdiam menjadi patung, bagaikan disambar petir Steven mendengar kabar Windy hamil.


Dia tidak mengetahui jika istrinya sedang mengandung, saat tahu anaknya sudah tiada.


Can dan Ghina langsung meneteskan air matanya, Vero menatap Steven yang terdiam langsung terduduk melemah menundukkan kepalanya.


"Stev."


Steven menggenggam erat tangannya, menutup wajahnya yang tidak ingin terlihat menangis.


"Aku baik-baik saja." Steven langsung melangkah masuk ke dalam ruangan Windy menatap wajah istrinya yang sedang beristirahat.


"Maafkan aku Windy, maafkan Daddy nak." Steven mengusap perut Windy yang rata.


Stev menggenggam tangan Windy, menciumnya lama.


Can dan Ghina hanya bisa melihat kesedihan Steven dari luar, Windy belum tahu jika dirinya keguguran. Tidak bisa dibayangkan perasaan Windy, dia sangat bersemangat untuk segera hamil, apalagi saat melihat Mei langsung ingin segera mengandung Sinta untuk menemani Mei.


Steven mengambil ponselnya langsung menghubungi Reva, Steven tidak ingin menyembunyikan apapun, Stev ingin Reva dan Bima tahu soal keadaan Windy.


[Halo assalamualaikum Stev, di mana putriku.] Reva menjawab panggilan.


Steven mengatur nafasnya, berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu.

__ADS_1


[Steven, ingin bicara apa tidak kamu?]


[Mami, Stev meminta tolong Mami dan Papi datang ke sini ada sesuatu yang tidak enak terjadi, Steven akan ceritakan setelah kalian datang.] Steven mengusap matanya, menahan nafasnya agar tidak menangis.


[Baiklah, sekarang juga kami pergi. Jangan terlalu khawatir, semuanya akan baik-baik saja.] Reva mematikan panggilan.


Steven langsung meletakkan kepalanya di pinggir ranjang, tetesan air bening jatuh ke lantai.


Cukup lama Steven berdiam diri menunggu Windy sadar, tidak ada yang dia lakukan kecuali menatap wajah istrinya.


Steven mencengkram kuat kursi, membayangkan wajah Lukas rasanya Steven ingin sekali membunuhnya.


Lukas menghacurkan kebahagiaan mereka, merenggut anak mereka yang bahkan belum lahir.


Steven tidak tahu cara memberitahu Windy soal anak mereka, ucapan aku hamil menjadi hari yang paling Windy tunggu.


Windy sangat ingin cepat hamil, melahirkan putri cantik yang mirip dirinya. Mimpi indah Windy dihancurkan karena pengaruh obat yang mengugurkan kandungan yang masih lemah.


"Ay, kenapa belum mandi?" Windy mengusap wajah suaminya.


Windy berusaha untuk duduk, menyentuh perutnya yang masih terasa sakit. Steven langsung membantu Windy untuk membenarkan tidurnya.


"Jangan duduk sayang, kamu masih lemas."


"Windy kenapa Ay?"


"Nanti saja kita bahas, paling penting kamu baik-baik saja." Steven mencium kening Windy.


Steven menakup wajah Windy, menyatukan hidung mereka merasa kesedihan yang sangat dalam karena kehilangan calon anak mereka.


"Maafkan aku Windy tidak bisa menjaga kamu."


"Ay tidak salah, Windy yang minta maaf karena tidak bisa menjaga diri."


Senyuman Steven terlihat dipaksakan, Stev ingin Windy ikhlas jika mendengar penjelasan Stev.


"Ada apa Ay?"


"Windy, kamu mengalaminya pendarahan. Dokter menyatakan kamu keguguran saat kehamilan trimester pertama." Steven menatap mata Windy yang terlihat shock.


"Tidak mungkin, Windy ingin hamil. Windy tidak tahu ada dia diperut Windy, Dokternya salah Ay." Air mata Windy langsung menetes membasahi pipinya.


"Sayang, kamu harus tenang."


"Dokter harus periksa Windy lagi Ay, mungkin anak Windy masih di dalam perut." Tangisan Windy kuat terdengar, Steven memeluk erat meminta Windy tenang dulu.


Ghina dan Can langsung masuk, melihat Windy yang jatuh pingsan. Dokter langsung berlari melihat keadaan Windy.


Steven menatap Windy yang sedang diperiksa, hati Stev semakin hancur mendengar Windy tidak terima kehilangan anaknya.

__ADS_1


Saat sadar Windy menyebut anaknya langsung jatuh pingsan lagi, sadar pingsan lagi. Steven rasanya ingin gila melihat keadaan Windy yang semakin memburuk.


"Windy sayang, jangan seperti ini." Steven menatap Windy yang sadar kembali.


Tatapan mata Windy kosong, tidak memiliki tenaga membuat Steven semakin khawatir.


Dokter juga terus memantau keadaan Windy yang semakin memburuk, Steven juga diminta mundur karena Windy tidak merespon panggilan siapapun.


"Aku sudah kehilangan anakku, sekarang keadaan istriku juga memburuk."


Sudah tengah malam, Steven belum makan, bahkan tidak minum sedikitpun hanya menatap Windy yang diberikan obat penenang, saat sadar Windy hanya akan menangis.


Bima dan Reva tiba di rumah sakit, menatap Vero yang meminta Reva masuk.


"Apa yang terjadi Vero?"


"Windy dirawat Papi, Stev ada di dalam kamar rawat."


Reva langsung melangkah masuk, menatap Windy yang banjir air mata meratapi anaknya, Steven juga sama terpukulnya menangis melihat Windy.


"Apa yang terjadi Stev?" Reva menyentuh wajah putrinya sambil meneteskan air matanya.


"Windy keguguran Mami, kami belum mengetahuinya. Lukas menjebak Windy sampai meminum obat perangsang."


Reva langsung mencengkram rahang Steven, dirinya mati-matian membesarkan Windy beraninya ada orang lain yang menyentuhnya.


"Reva hentikan?" Bima menepuk pundak istrinya.


"Dia tidak menyentuh Windy?" Bima menatap Steven.


"Tidak Pi, hanya saja pengaruh obat bisa menyebabkan keguguran apalagi janin masih sangat kecil."


Bima mendekati Windy, mengusap air mata putrinya meminta Windy sadar.


"Sayang, Windy gadis Papi yang kuat kamu tidak boleh hancur hanya karena masalah kecil, ingat Windy kamu bertahan tiga tahun menunggu Steven, sekarang kamu juga harus bertahan menerima ujian lagi."


"Papi, anak Windy pergi."


"Dia bukan pergi nak, hanya saja Allah sedang menguji keimanan kalian berdua."


"Semua karena Lukas Papi, Windy tidak akan memaafkan dia."


Steven langsung melangkah keluar, membiarkan Windy bersama kedua orangtuanya.


"Steven."


"Di mana ruangan rawat Lukas?" Steven menatap Saka.


Steven langsung melangkah dengan kemarahan yang berada puncak, Saka langsung mengikuti Steven yang mungkin akan membunuh Lukas.

__ADS_1


***


__ADS_2