
Kerajaan ramai dengan orang yang mempersiapkan acara penobatan Raja baru, seluruh persiapan sudah dilakukan.
Orang-orang penting juga sudah berdatangan, media juga sudah bersusun. Windy tersenyum melihat kakaknya Atha terlihat sangat tampan menggunakan baju kerajaan Cana.
"Kak, rencana pertama Raja apa?" Windy menatap dengan tatapan menggoda.
"Menikah, Raja membutuhkan Ratu." Atha tertawa bersama Windy.
Wilona mengetuk pintu, tersenyum membawa sepatu untuk pangeran. Windy tersenyum melihat Atha dan Wilona yang berhadapan.
Athala hanya senyum melihat Wilo yang cuek, merapikan bajunya sampai terlihat sempurna.
"Pangeran sudah bisa keluar sekarang." Wilona menundukkan kepalanya.
"Angkat wajah kamu." Atha tersenyum melihat wajah Wilona yang tegang.
Suara Windy tertawa sangat besar, mengejek Wilona yang wajahnya berubah seperti kepiting rebus.
"Windy."
"Lucu, kalian berdua berciuman di depan keempat bocah pengacau. Kalian membuat otak mereka kotor."
"Otak kamu yang kotor." Wilo menutup mulut Windy yang tidak bisa diam.
Atha memeluk Wilona untuk menjauhi Windy yang sudah main pukul dengan guling.
"Cukup, kalian berdua membuat kamarku berantakan."
"Kamar saja pelit." Wilona menginjak kaki Atha.
Wilo menundukkan kepalanya melihat Raja Hanz dan ibu suri di depan pintu, Windy dan Atha berdiri di belakang Windy.
Raja Hanz menatap Wilona, Atha menarik Wilo untuk berdiri di belakangnya. Athala meminta maaf.
"Dia wanita pilihan kamu? calon Ratu kerajaan Cana."
"Tidak Raja, Wilo tidak mungkin berani."
"Iya, dia calon Ratu Cana." Atha berbicara sangat tegas.
Wilona semakin panik, Windy hanya menahan tawa melihat Wilo ketakutan, sedangkan kakaknya Atha lebih berani menatap Raja.
"Kamu belum menjadi Raja, tapi sudah berani berbicara tinggi."
"Maafkan Atha Ayah, tolong jangan menentang hubungan kami."
"Apa hubungan kalian Wilona?!"
"Saya hanya seorang pelayan, tidak ada hubungan apapun dengan pangeran."
__ADS_1
Windy memukul kepala Wilo menggunakan guling, kesal mendengar ucapan Wilo yang tidak berani berjuang bersama.
"Saya mencintai pangeran Raja Hanz." Wilona memberanikan diri menatap mata Raja Hanz.
Suasana langsung hening, Raja Hanz tersenyum. Seandainya dulu dia berani membawa wanita yang dicintainya, ibunya Atha mungkin mereka hidup bahagia. Seandainya dulu Ratu Sinta berani mengakui hubungannya dengan pamannya pasti tidak ada peperangan kerajaan. Athala dan Anna tidak mungkin kehilangan cinta ibu.
Semuanya sudah berlalu, Raja Hanz hanya ingin melihat putra putrinya bahagia.
"Ayah." Windy memanggil Ayahnya.
"Athala antara cinta dan kedudukan, kamu memilih yang mana?"
"Cinta."
"Pikirkan dulu Atha, cinta bisa berubah, tapi dengan kedudukan kamu bisa mendapatkan segalanya, bahkan banyaknya cinta." Raja Hanz menahan tawa melihat Windy yang cekikikan di belakang sambil guling-guling.
"Athala tidak harus memikirkannya Ayah, pilihan tetap cinta."
"Baiklah, menikahlah bersama Wilona."
Suara sorakan Windy dan Atha mengalahkan ratusan orang di stadion, Windy memeluk Atha mencium pipi kakaknya gemes.
Nenek Arum dan Raja Hanz melihat sekitar, jangan sampai ada yang melihat calon Raja yang kekanakan.
Wilona masih terdiam, melihat Windy dan Atha berteriak. Windy memeluk Wilo, mengucapkan selamat akhirnya menikah.
Semuanya keluar kamar, Windy berlari mencari Steven yang tidak terlihat. Seluruh keluarga sudah duduk di kursi yang sudah disediakan, tapi Stev dan Saka tidak terlihat.
"Yang Stev pilih cinta atau kekuasaan?" Windy menekan hidung mancung Steven kuat, lama tidak berduaan membuatnya rindu.
"Aku pilih kekuasaan."
Windy langsung melepaskan pelukannya, melihat mata Steven yang memperlihatkan kejujuran.
"Kenapa Om?"
Steven tertawa melihat wajah Windy yang berubah cemberut, Saka pergi meninggalkan keduanya.
"Win, cinta itu apa? aku sudah banyak mendengar kata cinta, banyak mengatakan aku cinta, tapi sampai saat cinta hanya ucapan yang menyisakan kenangan."
"Atha memilih cinta daripada kedudukan."
"Aku dan Atha berbeda. Dia menemukan pujaan hatinya sejak pandangan pertama, Atha juga masih muda sehingga perasaan ingin bersama baginya cinta."
"Om Stev tidak mencintai Windy, lalu apa gunanya kita berjuang selama ini?"
"Perasaan aku kepada kamu melebihi rasa cinta, sayang Om tidak bisa diukur lagi. Kamu sudah seperti bagian hidup aku, kamu terluka aku sakit, kamu tersenyum aku bahagia, kamu bermasalah aku yang gelisah, kamu bersedih aku yang hancur." Steven tersenyum merangkul pundak Windy berjalan menuju tempat duduk seluruh keluarga.
Windy tersenyum memeluk pinggang Stev, Windy baru menyadari selama ini dia tidak sendirian berjuang, Stev tidak hanya bersamanya dalam bahagia, tapi luka.
__ADS_1
Masalah yang Windy hadapi bukan beban bagi dirinya, ada prianya yang menanggung semuanya. Melindungi, menjaga, menyelesaikan, Windy hanya penonton sampai selesai.
"Om katakan cinta."
"I Will you marry me." Steven tersenyum, Windy kaget mendengar ucapan Steven, duduk di samping Papinya.
"Windy mata kamu ke depan jangan menghadap Steven." Bima memutar kepala Windy.
"Papi pilih cinta atau kekuasaan? berikan alasannya."
"Kekuasaan, karena cinta hanya sebuah kata. Membuat kalian bahagia misi Papi, jika kalian bahagia itulah cinta."
"Uncle Rama, pilih cinta atau kekuasaan?"
"Kekuasaan, karena cinta sesaat dia bisa berubah, Uncle memiliki kasih sayang yang melebihi sebuah kata cinta."
"Uncel Bisma pilih apa?"
"Pilih Bunda Jum, dia bukan hanya sekedar ucapan cinta, tapi buktinya. Kekuasaan uncle dapatkan karena adanya Kasih sayang dia."
"Jadi cinta itu apa?" Windy menatap tiga pria dewasa.
"Hanya sebuah ungkapan, cinta memiliki banyak arti, hanya saja tren di zaman sekarang jika mengatakan cinta sudah pasti ingin hidup bersama, tapi saat melihat yang lebih lupa dengan kata cinta." Wildan menatap Windy.
"Wildan kamu masih kecil, memangnya kamu tahu artinya cinta."
"Papi dan Mami bukti cinta, karena ada kita." Wildan melihat ke depan menatap seseorang yang tidak dia kenali.
"Bukti cinta hanya sekedar ucapan seperti Uncle Bisma, memiliki banyak pacar."
"Sudah taubat Ravi, sekarang cinta Om Bisma bukan hanya sekedar ungkapan, tapi sudah dibuktikan. Playboy anak tiga." Bisma tersenyum menatap Jum, menggenggam erat tangannya.
Ravi berbisik ke arah Steven, senyum Stev terlihat melihat ABG tampan yang mulai mengenal cinta.
"Apa yang Ravi katakan?"
"Dia ingin diajarkan menjadi Playboy."
"Erik juga mau Uncle."
"Jika kalian ingin jadi playboy lakukan sesuka kalian, tapi jangan pernah keluar jalur. Seburuk-buruk perbuatan playboy dia memilih wanita baik." Steven tersenyum melihat Ravi, Erik Tian mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Satu lagi, ikuti uncle walaupun playboy tidak sembarang ...." Bisma mengusap kepalanya karena sudah dijambak Jum.
Steven tertawa pelan, Bisma masih belum berubah. Sikap playboy Steven dapat dari Bisma yang mengajarinya agar bisa membedakan banyak jenis wanita.
Melihat Bisma yang sudah insyaf juga sangat mencintai istrinya, Stev semakin yakin setiap orang ada saatnya dia berubah menjadi orang baik, jika sudah menemukan pasangan terbaik.
"Om, tadi mengatakan I Will you marry me, Windy yes." Windy tersenyum, Stev juga tersenyum mengusap pipi Windy.
__ADS_1
***