MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
REPOT MENJADI ISTRI


__ADS_3

"Anyong!" Reva masuk ke dalam rumah Viana, asisten Vi langsung menyambut dan mempersilahkan masuk.


Reva langsung berlari masuk ke dalam kamar Vira, Vi sudah menunggunya dengan tatapan kesal. Jum juga ada di sana sedang memberikan susu botol.


"Vira kamu minum apa?"


"Biasalah!" Viana menatap sinis.


"Kata orang anak jangan di kasih susu hewan, nanti dia mirip hewan...." Belum selesai Reva bicara Viana, sudah melemparnya dengan bantal Vira.


"Itu ASI!"


"Kenapa sih marah-marah, kalau tidak boleh datang Reva langsung pulang."


"Jelaskan kenapa kamu memilih Lisa?"


Reva tersenyum menyerahkan handphonenya, berisi beberapa desain yang sangat simpel juga elegan. Vi mengambilnya sambil tersenyum, sungguh cantik dan sederhana tapi tidak mengurangi keistimewaannya.


"Milik Lisa."


"Ya, hasil karya dia yang akan kita masukkan pasaran, jika sampai sukses aku akan menarik Lisa menjadi pemimpin selanjutnya."


"Di mana dia sekarang Va?"


'Masih dipenjara, aku meminta dia membuat karya sebagai jaminan Nenek juga keponakannya. Anggap saja dia menjual karya, jika sampai sukses dia bisa bebas."


"Aku setuju," Viana tersenyum, walaupun Vi tidak mengenal baik Lisa tapi penilaian Reva tidak pernah meleset.


"Kasihan Nenek juga keponakannya mbak Reva, lebih baik secepatnya di bebaskan."


"Kak Jum, seandainya dia mengejar cinta Bisma padahal tahu Bisma mempunyai istri, kak Jum akan melakukan apa?"


"Pertama aku percaya Bisma setia, tapi kalau perempuannya yang menggoda bakal Jum habisin dia."


"Kalau Bisma yang genit."


"Jum sunat sampai habis,"


Tawa Reva langsung pecah, Viana tidak kalah kuat tertawanya. Vira yang sedang menyusu binggung melihat dua wanita tertawa sedangkan satunya hanya diam saja dengan bibir yang cemberut.


Suara teriak anak-anak juga sudah mulai terdengar, Ravi dan Tian sudah pulang sekolah dan asik bermain setelah mencium tangan orangtuanya. Hanya Windy yang pulang terlambat, Reva juga sekalian menunggu putrinya.


Vi keluar kamar menggendong Vira, Windy menatap kagum melihat adik kecilnya Ravi.


"Mami, Windy mau adik seperti Vira ya, lucu, cantik mengemaskan."


"Amin, semoga ya sayang."

__ADS_1


"Ravi juga lucu, mengemaskan tidak kalah dengan Vira."


"Tian juga mau adik seperti Vira, kalau seperti Ravi pasti nakal, adiknya Tian harus mengemaskan."


Bibir Ravi langsung manyun, melempar Tian dengan mainannya. Tian balik membalas sampai lempar-lemparan.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam, Papi." Windy langsung berlari meminta gendong."


"Uncle," Tian berlari meminta digendong juga.


Tatapan Ravi sinis langsung berlari, langsung memanjat Bima dari belakang. Kalau Bima hanya menggunakan celana bokser pasti sudah kedodoran dibuat Ravi.


"Assalamualaikum, ayo turun Ravi. Kasihan Uncle capek, sini gendong Daddy."


"Kak Windy turun, Tian juga turun."


Rama langsung mengambil Windy, Ravi langsung cemburu dan turun mengejar Daddy nya.


"Kak Vi, sejak kehadiran Vira dia sering cemburu ya."


"Parah Va, Ravi terobsesi balas dendam kepada adiknya. Tanya Rama setiap hari dia beradu mulut dengan Vira yang belum bisa menjawab."


"Apa yang dia katakan?"


"Kalau Windy gitu juga kali ya kak Vi?"


"Tidak lah Va, Windy sudah mulai dewasa. dia pasti sangat mengerti. Kalau Tian aku percaya, dia masih haus kasih sayang."


"Tian dewasa kak Vi, dia pernah bilang selalu menjadi korban buli karena tidak punya orangtua. Beberapa kali aku bertanya dia mau punya adik tidak, jawabannya iya tapi Bunda harus janji tetap menganggap Tian anak pertama."


"Tian ternyata mengerti posisinya Jum, kamu harus terus menyayangi dia Jum."


"Dia nyawa Jum, nafas Jum, bagian hidup Jum. Dia anakku, putraku."


"Kak Jum, hatinya baik banget. Reva juga belajar banyak dari kak Jum. I love you kak."


"Woy, dapat Bima belum cukup, harus ya suka juga suka Jum. Cinta Jum hanya milik Bisma." Tangan Bisma sudah memeluk dan mencium pipinya.


"Mas!" Jum mencubit perut Bisma, dia sangat malu di depan Reva sama Viana.


"Ayy mau cium juga." Reva melangkah mendekati Bima yang sudah duduk bersama Tian.


Semuanya berkumpul sambil bercerita dan tertawa, jika yang lelaki sibuk cerita soal pekerjaan sedangkan wanita lagi membahas soal liburan. Tapi sebelum liburan Reva harus sudah menyelesaikan soal produk terbaru, karya dari Lisa untuk segera di buat dan dipasarkan.


Muncul juga beberapa produk kecantikan, Reva akan sangat sibuk dalam dua bulan ke depan, setelah semuanya beres barulah mereka liburan.

__ADS_1


Bima pamit pulang, membawa anak dan istrinya. Begitupun dengan Bisma yang rumahnya tidak jauh dari Rama, cukup berjalan kaki sudah sampai.


***


Pagi sekali Reva sibuk menyiapkan pakaian bekerja suaminya, lanjut lagi melihat Windy yang memang sudah mandiri untuk menyiapkan segalanya. Sekarang yang nampak manja juga serba ingin disediakan Bima, bahkan untuk dasi juga harus Reva yang memasangkan.


"Ayy sarapan sudah siap ayo turun."


"Cium dulu,"


Reva langsung melangkah lagi ke dalam mendekati Bima, mencium kedua pipinya, keningnya, hidungnya bahkan bibir serta dagu.


Tangan Bima menahan tekuk leher Reva, ciuman menjadi panas, Reva mengalungkan tangannya di leher.


"Ayy, bisa tidak jadi kerja kalau terus gini."


"Iya lupa," Bima masih belum puas, menarik pinggang Reva, mencium bibirnya sekilas.


Keduanya turun, Windy sudah menunggu di ruang makan. Semuanya sarapan dengan tenang, barulah Bima dan Windy pergi, Reva baru bisa bernafas. Saat di depan cermin, Reva kaget melihat penampilannya.


Rambut di sanggul tinggi, tanpa lipstik, tanpa polesan. Wajah Reva sangat polos mengalahkan kepolosan Jum.


"Sekarang sudah mirip nenek." Reva semakin kaget saat melihat jam, dia harus ke kantor karena ada meeting pagi.


"Sialan, waktu cepat berlalu mandi juga belum. Punya suami ternyata repot, beda banget waktu masih sendiri."


Cepat Reva masuk kamar mandi, setelahnya langsung dandan. Sepatu, baju, tas handphone semuanya berkumpul di atas kasur.


"Di rumah boleh jelek tapi saat di luar harus cantik, tidak kebalik ya. Ahhh bodoh amat yang penting suami setia."


Reva berlari keluar sambil teriak, Lela tertawa melihat Reva yang buru-buru.


"Jaga rumah Lela, Kalau ada apa-apa langsung telpon."


"Nyonya hati-hati, keselamatan jauh lebih penting jangan buru-buru bahaya."


Mendengar teguran Lela, Reva langsung tersenyum. Dia benar perusahaan tidak akan menghilang. Reva hanya belum terbiasa mengatur jadwal kerja dengan mengurus keluarga.


"Mulai sekarang, meeting harus jam 10 pagi baru tidak seperti dikejar gogok. Secepatnya harus ada yang mengontrol VCLO, aku tidak ingin kehilangan moments bersama anak dan suamiku demi pekerjaan."


Dengan terpaksa Reva mengundur jadwal meeting, karena dia tidak ingin buru-buru sampai nanti saat meeting otaknya macet.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2