
Reva tertawa melihat Wilona mengatakan Stevie unggul dari Steven, jika Stevie unggul dia bisa meyelamatkan Windy, kenyataan Windy meninggal bersama keluarga, sedangkan Steven satu-satunya orang yang bisa mengungkap kejahatan orang yang terlibat dalam kecelakaan.
"Wilo kamu harus mengenali Steven lebih dalam lagi, sedangkan kamu Vero, cinta bisa membunuh kamu jika kamu tidak bisa menjaganya. Jangan mudah menyerah hanya karena kamu pernah patah hati." Reva langsung melangkah pergi.
Sudah larut malam Windy tidak bisa tidur, mobil Stev belum juga kembali, ponselnya tidak aktif. Winda yang tidur bersama Windy binggung.
Winda tidak mengerti apapun yang orang dewasa lakukan, tapi yang pasti Winda yakin kakaknya sedang patah hati.
"Kak Win, butuh bantuan Winda tidak?" Winda masih memejamkan matanya, pusing melihat Windy yang gelisah.
Windy tersenyum memeluk erat adiknya, Windy menceritakan hubungannya dengan Steven yang tidak direstui, Winda hanya tersenyum meminta kakak perempuan untuk kuat, terus bertahan, baru awal anggap ujian, semakin besar ujian, berarti kita semakin kuat pertahanan.
Winda terus mengoceh, tapi matanya sudah terpejam, perlahan sayu berlayar ke alam mimpi.
Bima tidak tidur menatap Reva yang terlelap di sampingnya, perlahan Bima melangkah ke luar duduk di ruang tamu seorang diri memejamkan matanya.
Foto yang tergantung di dinding membuat Bima kembali ke masa lalu, saat pertama dia dan Stevie bertemu kembali. Teman masa kecilnya, Bima, Stevie, Viana dan Britania, Bima menjadi penjaga tiga wanita rempong.
Saat lulus sekolah Stevie pergi tanpa pamitan, Bima baru menyadari kepergian Stevie karena dia menyimpan rasa kepada Bima, saat tahu Bima menyukai Viana, akhirnya Stevie memilih mundur, tidak ada yang menyangka akhirnya Bima menikah dengan Britania.
Pertemuan dengan Stevie saat dia sudah menikah, memiliki anak dan hidup bahagia. Bima diperkenalkan dengan suami Stevie yang ternyata seorang dokter, memiliki banyak bisnis, terkenal dengan sebutan raja bisnis.
Bima belajar banyak hal dari suami Stevie, saat pertama bertemu Steven dia masih seorang remaja yang sangat pendiam, tapi terlihat sangat cerdas.
Stevie memutuskan untuk membantu Bima mengurus perceraian, berjanji akan mendapatkan hak asuh.
Bima menitipkan putrinya, keluar masuk luar negeri, tubuh Bima terbagi-bagi, tapi dia bahagia, merasakan lega putrinya aman.
Pertemuan terakhir Stevie dan Bima saat makan malam, Vie menitipkan Steven pada Bima, adiknya masih menyimpan amarah kepada Daddy mereka sejak kepergian Mommy, Vie takut dia gagal menjaga Stev.
Steven yang ceria berubah menjadi pendiam, Stevie selalu khawatir, takut Steven akan balas dendam.
__ADS_1
Vie akan menjaga Windy, sedangkan Bima berjanji akan menjaga Steven. Bima dan Vie bersalaman janji sahabat untuk saling menjaga, menolong, membela kebenaran.
Baru turun dari pesawat Bima mendapatkan kabar Stevie kecelakaan, bukan hanya Steven yang menggila Bima juga menggila melihat anak Stevie terbakar, Stevie dan suaminya juga tidak bisa diidentifikasi lagi. Ledakan mobil membuat tubuh mereka hancur.
Saat melihat anaknya yang mengalami gegar otak, tidak ada harapan selamat, Windy sudah mati otak sehingga Bima harus merelakan Windy.
Air mata Bima mengalir membasahi pipinya, memegang dadanya yang pernah merasakan hancur.
"Vie selama 18 tahun aku menjaga Steven, mengawasi dirinya dari kejauhan. 17 tahun aku membesarkan Windy, menjaga keduanya dengan segala cara, mungkin orang melihat aku hebat Vie, tapi seandainya dunia tahu, aku menyimpan beban tanggung jawab yang besar." Bima menangis sendirian.
"Aku tidak ingin Steven terlibat dengan Windy seperti kamu dulu, cukup sekali aku mengorbankan orang penting, aku tidak bisa mengorbankan Steven."
Reva memeluk Bima dari belakang, menghapus air matanya, mencium pipinya. Bima langsung diam berusaha untuk tenang.
"Ay, maafkan Reva tidak memahami perasaan kamu. Reva bukan istri yang pengertian, tubuh suamiku hanya satu, tapi pikiran terbagi, bahkan saat tidur pikiran Ay bekerja." Reva memeluk erat Bima.
"Va, sejujurnya aku trauma jika mengingat Steven, takut dia terluka."
"Boleh sayang."
"Sudah saatnya Ay berhenti melindungi Windy, buka gerbang penjagaan Windy. Biarkan perpecahan keluarga Windy saling menyerang, sehingga kita bisa menentukan siapa kawan dan lawan. Sudah saatnya Windy dijaga lelaki yang dia percaya, juga mempercayainya." Reva memasang wajah memelas.
"Sayang, istriku tercinta berhenti membela Steven." Bima menarik nafas panjang, memeluk Reva menciumnya.
Vero melihat Reva dan Bima, tangan Reva memberikan genggaman mengancam, meminta Vero menyingkir. Senyuman Vero terlihat Reva dan Windy memang sangat mirip.
Bima tertawa melihat Reva yang bisa menghilangkan kesedihannya, istrinya yang bisa membuat beban Bima langsung hilang, membuat awet muda.
"Ay, love you." Reva mencium Bima.
"Va rumah orang." Bima mengelus wajah istri beda usianya.
__ADS_1
"Yasudah ayo Ay ke kamar." Reva tertawa minta digendong.
Bima tertawa masih ingin di luar, menunggu Steven pulang. Reva memeluk erat Bima menunggu bocah tengil pulang.
Vero melangkah pelan menuju kamar, membiarkan Reva membujuk suaminya dengan rayuan maut.
Vero terhenti di depan pintu kamar Steven, melihat pintu sedikit terbuka, perlahan Vero masuk melihat Wildan duduk di atas meja, menonton sesuatu.
Pintu langsung dikunci, Vero kaget melihat tontonan Wildan soal deretan kasus berat yang sedang Stev selidiki, Vero melihat banyaknya kasus kerajaan yang memperebutkan kekuasaan, bisnis ilegal yang bekerja sama dengan perusahaan di luar kerajaan.
"Wil, ini apa?" Vero menatap Wildan.
"Mana Wildan tahu, jika soal perusahan Wildan paham, tapi soal kerajaan terlalu rumit."
Lama Vero dan Wildan menonton, tidak Vero sangka ternyata Windy memang bukan putri Bima, dia anak angkat yang ternyata seorang calon ratu, akan naik tahta saat berusia 17 tahun.
Sebesar ini cinta Steven untuk Windy, memperjuangkan Windy sejauh ini, sampai mencari tahu segala hal soal kerajaan.
Vero mencari nomor kontak Stev, menghubunginya tapi tidak dijawab. Vero menatap Wildan yang sudah terlelap, menggendongnya menidurkan ke atas ranjang.
"Kak, apa yang bisa Vero lakukan untuk menolong hubungan kalian. Berjuanglah kak bukan hanya mendapatkan restu, tapi lanjutkan melindungi wanita yang kak Stev cintai." Vero merekam suara, mengirimkan kepada Steven.
Vero menonton ulang, berkali-kali mengulanginya menatap aneh beberapa gambar yang Stev tandai, salut dengan kecerdasan kakaknya yang sudah bergerak jauh ke depan.
***
Steven menemani seorang pria bercerita kisah cintanya yang tidak mendapatkan restu, kekasihnya memutuskan bunuh diri, sedangkan dirinya terus berjalan mencari ke ujung dunia agar bertemu wanita yang dicintainya.
"Jangan pernah mencintai, karena cinta bisa berubah. Utamakan rasa sayang, dia memiliki banyak arti, tapi sayang abadi di dalam hati, rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Selama masih hidup teruslah berjuang."
Stev tersenyum melihat pria gila yang melanjutkan perjalanan untuk menemui cintanya.
__ADS_1
***