
Kesibukan terlihat di tiga rumah mewah yang sedang mengurus proses pernikahan, kedua mempelai tidak perlu menyiapkan apapun karena semuanya langsung diurus oleh Reva.
Pesta pernikahan yang sangat mewah, diadakan di hotel berbintang.
Baju pengantin sudah di dipersiapkan, masalah dekorasi juga catering sudah diurus oleh tim wedding.
Kue besar sesuai keinginan Winda juga sudah mendapatkan gambaran, gaun pengantin yang memiliki harga fantastis sudah terlihat di depan mata.
Senyuman Windy terlihat saat mencoba baju pengantinnya, Stev juga tersenyum melihat dirinya dan Windy dibalik kaca.
"Windy suka bajunya."
"Cantik, karena pemiliknya juga sangat cantik."
Windy tersenyum manis, mengantungkan tangannya di leher Stev. Tangan Steven berada di pinggang ramping calon istrinya.
"Sayang, jantung aku berdegup kencang. Pernikahan menjadi moments paling bahagia, sehingga aku tidak bisa mengekspresikan kebahagiaan ini."
"Ay, Windy sudah tidak sabar lagi menanti waktu di mana kita menjadi sepasang suami istri."
Steven menakup wajah Windy menyatukan hidung mereka.
"Windy."
"Hai." Windy tersenyum menyapa temannya semasa sekolah.
"Calon suami kamu Win, tidak pernah pacaran sekali menikah langsung dapat bule."
"Bisa saja kamu Sis." Windy memperkenalkan Steven dengan teman sekolahnya.
"Hai Stev, kamu punya teman bule kenalan dengan kita lumayan mengubah keturunan."
Steven tersenyum mengambil ponselnya langsung menjawab panggilan, Stev meminta pamit dengan teman Windy karena Papi ingin bertemu.
"Maaf semuanya kita permisi duluan."
"Windy undang kita ya."
"Iya."
"Sampai bertemu lagi kak bule."
Steven tidak merespon, menggenggam tangan Windy berjalan ke tempat ganti baju.
"Ay, Papi lagi meeting. Kenapa tiba-tiba telepon?"
"Tidak ada yang telpon Win, aku hanya risih saja dengan pandangan mereka."
Windy langsung tersenyum memeluk lengan Stev yang memang mudah sekali menilai seseorang yang mengaguminya, juga orang yang memang tulus.
"Kita makan dulu Ay, soalnya nanti malam baru ke hotel bersama Mami dan Papi."
"Kita jemput Winda dulu sayang, lihat dia pulang cepat." Steven membukakan pintu mobil setelah menunjukkan foto Winda sedang berfoto di depan gerbang sekolah bersama Vira, Bella dan Billa.
Windy langsung masuk, duduk manis menunggu Steven menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Mobil melaju menuju sekolahnya Winda, dari kejauhan Windy sudah bisa melihat adik bungsunya sedang tawuran dengan ke-tiga saudaranya sekaligus sahabatnya.
"Winda bertengkar lagi." Windy langsung khawatir karena lawan mereka kali ini anak lelaki tingkat atas.
"Astaga Winda, memang perempuan aneh." Steven menekan klakson mobilnya.
Beberapa anak lelaki berlarian meninggalkan Winda, Vira, Bella sedangkan Billa sudah menangis.
"Awas kalian semua, tidak akan pernah Winda lepaskan."
"Winda, kamu bertengkar lagi?" Windy langsung menatap adiknya yang tersenyum.
"Tidak kak, Winda sedang lomba bernyanyi."
Suara tawa Vira dan Bella terdengar, Steven juga tersenyum memeluk Billa agar berhenti menangis.
"Winda, jika Mami tahu kamu bisa pindah sekolah."
"Winda tidak salah kak Win, mereka yang menggoda duluan."
"Benar ka Win, kita sedang menunggu kak Stev menjemput karena ingin beli baju baru." Vira tersenyum manis.
"Kalian bolos sekolah?" Steven menatap Billa.
"Iya kak Stev, soalnya gurunya bilang jika tidak ingin ikut pelajaran saya, silangkan kalian keluar." Vira tertawa karena mereka berempat langsung keluar.
Windy dan Steven hanya bisa saling tatap melihat kenakalan Vira, Winda dan Bella. Mereka tidak pernah mengkhawatirkan nilai mereka.
"Sekarang kalian ingin pergi ke mana?" Steven membukakan pintu.
"Mall, lagi ada diskon baju murah. Kita juga ingin menonton film baru di bioskop, lupa Winda judulnya."
Windy mengerutkan keningnya, Steven hanya tersenyum lucu melihat empat remaja yang nakalnya tiada duanya.
Tatapan mata Windy tajam melihat adiknya, Winda yang hanya tersenyum saja melipatkan tangannya menatap kakaknya yang terlihat kesal kepada.
"Winda, jangan mengecewakan Papi dan Mami, kalian bertengkar dengan pria yang sudah besar. Berbahaya dek."
"Winda tidak memulainya kak, mereka duluan."
"Windy sudahlah." Steven menggenggam tangan Windy memintanya untuk membiarkan Winda.
Sesampainya di mall, Windy marah-marah melihat Winda, Vira, Bella dan Billa berbohong jika sedang ada diskon, mereka memang sengaja menghubungi Steven karena minta dibayarin.
"Kak Windy marah kepada kalian bertiga yang berbohong kepada orang yang lebih tua, tidak ada diskon." Windy menunjukkan harga baju bermerek yang Winda beli.
"Kak Windy pelit." Vira berbisik membuat Winda melotot.
"Kak Windy marah seperti mama Dede yang lagi ceramah." Bella menahan tawa.
Windy menghentakkan kakinya, melangkah keluar. Steven menahan tangan Windy untuk sabar jangan hanya menilai kenakalan mereka saja.
"Ay lihatlah nakalnya mereka."
"Iya sayang, tapi dengarkan dulu alasan mereka melakukannya."
__ADS_1
"Tidak ada alasan Ay Stev, memang kebiasaan mereka menghamburkan uang."
"Ayo kak kita pergi ke bioskop." Winda melangkah bersama setelah mengganti bajunya.
Steven mengandeng tangan Windy mengikuti langkah Winda yang menuju ke ruang ganti anak-anak teater.
"Apa yang kalian lakukan di dalam ruang ganti?"
"Membagikan baju, ayo kita masuk untuk menonton. Winda tidak ingin duduk di belakang."
Windy langsung melangkah ke ruang ganti, melihat beberapa anak-anak yang tersenyum bahagia setelah mendapatkan baju bermerek dengan harga yang sangat fantastis.
"Maaf Bu, kenapa keempat anak tadi membagikan baju?"
"Mereka berempat donatur tetap di teater kita, jarang sekali melihat mereka muncul bahkan kita tidak tahu nama mereka, anak baik semoga Allah membalasnya."
Windy tersenyum langsung melangkah keluar melihat Steven yang tersenyum karena Windy salah paham dengan adiknya.
"Mereka sangat dewasa saat di luar lingkungan keluarga, tapi jika dekat dengan Ayahnya pasti sangat manja." Steven merangkul Windy melangkah masuk ke ruangan bioskop yang menanyakan teater anak-anak.
Windy duduk di samping Winda langsung memeluk, mengusap kepala Vira yang duduk di samping Winda dan Bella.
"Kalian anak baik."
"Billa duduk di samping kak Stev, nanti ada yang menganggu kamu."
"Tidak ada yang berani kak Windy, karena kita memang hampir setiap hari di sini."
"Astaghfirullah Al azim, kalian setiap hari bolos?"
"Jika guru mengatakan keluar, kita langsung keluar." Vira mengedipkan matanya.
Windy menatap Steven mengusap dada, Steven tersenyum membayangkan jika anaknya nakal seperti Winda, Vira dan Bella.
"Windy tidak bisa berkata lagi Ay."
"Sudah biarkan saja sayang, pasti nanti akan ditindaklanjuti oleh Mami, Mommy dan Bunda." Steven menahan tawa.
Ponsel Windy berdering, Reva meminta Windy segera ke hotel untuk mengecek semua persiapan, tapi panggilan tidak didengarkan karena sedang asik menonton anak-anak teater yang aktingnya luar biasanya hebatnya.
Penonton juga sangat ramai, juga terlihat puas sekali melihat drama yang memberikan banyak contoh moral bangsa Indonesia yang baik.
"Hebat, Mami sudah menghubungi aku 111 kali sayang." Steven kaget melihat ponselnya.
"Sama Windy juga sudah ratusan, ada Mommy juga Bunda."
"Sebaiknya kita ke hotel sekarang."
Steven mengandeng tangan empat remaja yang langsung berlari keluar, mereka bukan keluar mall, tapi mencari toilet membuat Windy dan Steven tertawa.
"Sangat menyenangkan memiliki sahabat yang satu server." Stev tersenyum melihat Windy menghubungi Maminya.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE
__ADS_1
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
***