MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
OM POSESIF


__ADS_3

Reva dengan langkah malas memoles wajahnya, dia yakin pergi kali ini tidak bisa liburan. Bima sudah lama menunggu Reva untuk berangkat ke bandara, Reva melangkah membawa tas mewahnya dan masuk ke dalam mobil.


"Kenapa tidak semangat? kamu tidak membawa baju ganti." Bima menatap Reva tidak biasanya hanya membawa satu tas.


"Besok juga balik lagi, perasaan Reva tidak akan ada liburan. Bisma di sana pasti lagi bersama pacarnya."


Bima menjalankan mobilnya ke bandara, mata Reva melihat ke arah luar jendela. Reva masih memikirkan ancaman Reno soal Windy, dia harus segera bertindak sebelum orang yang tidak punya malu tidak bisa menggangu Keluarganya.


"Mikirin apa Va?"


"Menghayal kita menikah, terus malam pertama." Reva cengengesan, Bima hanya menggeleng.


"Ayy, setelah cerai pernah pacaran?" Reva menatap Bima sambil tersenyum.


"Kamu bertanya nanti ngambek, jangan kasih pertanyaan yang bisa membuat kamu kesal apalagi sakit hati."


"Cuman pengen tahu Ayy!"


"Aku tidak pernah pacaran, selain kamu."


"Emhhh Om seandainya Reva ini es, pasti sudah banjir mobil Om karena Reva meleleh."


Bima hanya tersenyum, bersama Reva membuatnya terasa 10tahun lebih muda, setiap hari senyum dan tertawa.


Mobil tiba di bandara, Reva dan Bima melihat Rama dan Viana di ruang tunggu.


Reva teriak memanggil Viana, membuat Viana berlari dan bukan memeluknya tapi menjewer telinganya karena lama sekali.


"Aww sakit kak Vi," Reva memanyunkan bibirnya sambil mengelus kupingnya yang terasa perih.


"Lama kayak siput!" Viana kesal belum lagi nungguin Jum.


"Sabar kak Viana pesawat juga masih belum berangkat,"


"Tadi Jum yang lama, terus Ravi, sekarang kamu. Setidaknya sambil menunggu bisa cerita."


"Dasar ratu ngibah!" Reva mengejek Viana dan langsung memeluk Jum juga Septi.


Di dalam pesawat Reva duduk bersama Bima, banyak mata yang menatap Reva dengan wajah kagum. Bima menatap Reva, pakaian Reva tertutup tapi masih saja mata lelaki melirik.


"Reva kamu duduk sebelah sini? lihat banyak mata memandangi kamu." Bima kesal ingin sekali dia menegur.

__ADS_1


"Posesif banget Ayy, Reva tidak akan diculik." Reva mengangkat rambutnya untuk di kuncir tapi langsung ditahan Bima.


"Jangan diikat, nanti leher kamu terlihat."


"Astaghfirullah Al azim Ayy, kamu lucu sekali."


***


Mereka semua sampai di rumah Bisma dan melihat Bima bersama wanita saksi, mata Reva dan Bisma saling pandang. Tangan Reva menunjuk dan melotot, matanya lalu meyimpit seakan memperingati Bima.


Reva juga mendengar ucapan Viana dan Jum, Reva tahu semua detail soal Bisma secara langsung dari Bisma, termasuk soal Sisil. Hubungan Sisil dengan Viana, Reva berharap urusan keluarga Viana cepat kelar, dan menunjukkan titik terangnya. Sehingga Reva dan Bima bisa menikah dengan tenang.


"Jum! kak Vi minta maaf ya, lupakan Bisma!" Viana memberikan foto yang dia temukan.


"Apa dia Sisil kak Vi," Jum tersenyum melihat foto bule yang sangat cantik jauh jika dibandingkan dengan dirinya.


"Kamu mengenalinya Jum?" Viana langsung duduk di samping Jum yang tersenyum.


"Dia cantik sekali, jika kak Vi wajahnya blesteran tapi Sisil bule asli. Beda sama Jum yang hanya gadis kampung, sebanyak apapun perawatan tidak akan secantik dia."


"Jum! tidak perduli dia secantik apa? kamu jauh lebih cantik." Viana menundukkan kepalanya menyesal memberi harapan ke Jum soal Bisma.


"Kak! Bisma pernah cerita soal dia tapi Jum mengabaikannya, Jum tidak perduli jika memang jodoh tidak akan ke mana, Jum ikut alur saja."


"Kak Jum, kita berdua tahu awal cinta Rama dan kak Vi mereka di satukan dalam ikatan pernikahan yang tidak mereka inginkan, mereka terpisah. Berapa banyak orang yang mendekati Rama, tapi tidak ada yang bisa menggeser posisi Viana perempuan galak dan juga tua." Viana langsung memukul kepala Reva.


"Ya, mereka tetap kembali bersama dengan cinta yang semakin kuat,"


"Lo juga lihat perjuangan seorang desainer menaklukan hati om duren, 6tahun gue di tolak Jum, tapi semuanya permainan takdir, sebenarnya 6 tahun bukanlah sebuah perjuangan tapi awalan perjalanan gue."


"Reva! Lo semakin dewasa semenjak tunangan dengan orang tua." Tawa Vi dan Jum terdengar.


"Kak Vi lihat Rama, sebelum menikahi wanita tua juga sudah dewasa. Dia terkena karma banyak membuat wanita patah hati salah satunya Reva." Cepat Reva berlari ke dalam di kejar Viana sambil menjambak rambutnya. Jum ikut berjalan masuk ke dalam.


***


Mata Reva melotot melihat Viana yang sibuk memasak makanan malam untuk Ravi, rumah Bisma memang tidak memiliki asisten, jadi terpaksa harus masak sendiri.


Reva melihat masakan Viana yang sudah menyembul asap, mereka berdua hanya saling pandang. Jum yang mencium bau gosong cepat berlari ke dapur dan mematikan kompor.


"Gila kalian berdua ya, mau gosong!" teriak Jum marah.

__ADS_1


"Reva, Lo gak pernah masak ya." Viana melotot ke Reva.


"Jangan salahkan Reva, dari kecil Reva tidak bisa masak, Bisanya masak mie."


Viana dan Reva mundur mendengar Jum yang sudah mengomel marah, dan langsung menyiapkan makan malam mereka, Vi dan Reva hanya jadi penonton sambil menjadi tukang cicip.


Masakan siap di meja makan, Ravi yang cemberut menunggu lama akhirnya bisa menikmati ayam goreng kecap, dan banyak lauk lainnya. Vi dan Reva tersenyum ingin ikut makan tapi di larang Jum.


"Kalian berdua bersihkan dulu kotoran di dapur," Viana mengomel dalam hati menarik Reva ke dapur.


Rama, Bima , Ivan hanya menahan tawa melihat ke-tiga wanita yang kadang kompak tapi suka bertengkar.


"Sialan Jum, bikin malu bisa dia marahin gue." Vi mencuci piring sambil ngomel.


"Iya, Reva juga malu, padahal Reva dulu suka masak karena zaman sudah modern langsung delivery saja."


"Kamu suka masak, bukannya hobi kamu cuman cariin cowok ganteng."


"Sambilan kak Vi," mereka berdua tertawa.


Pekerjaan di dapur bukannya beres tapi semakin kacau karena Reva dan Viana cekikikan tertawa, sambil mengejek dan memojokkan.


"Va kamu hidup di kampung seharusnya pintar masak, seperti Jum."


"Reva trauma kak, karena dikerjain adik Reva."


"Astaghfirullah kapan kalian berdua selesai!" Jum datang mendekat.


"Bentar Jum! Reva lagi curhat." Viana duduk diikuti oleh Jum.


"Dulu Reva suka telor ikan, kata adik Reva enaknya digoreng. Langsung Reva goreng tapi telor ikan langsung lompat dan meletus ke mana-mana. Reva kabur! Asap mengepul kuali juga langsung mental karena ikannya meledak."


"Ngeri banget! semakin takut masak Vi."


"Lagian telur ikan masaknya memang harus dengan cara khusus." Jum geleng-geleng.


"Terserah Jum, intinya tidak mau masak. Masih trauma."


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


***


__ADS_2