MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 PENOLAKAN


__ADS_3

Keheningan terjadi Windy menggenggam tangan Bima, mengikuti keputusan Papinya untuk mengakhiri hubungan. Air mata Windy memeluk erat Papinya.


"Maafkan Papi Windy, mungkin ini menyakiti kamu dan Steven. Bukan Papi tidak menyukai Steven, tapi Papi terlalu berat kehilangan kamu. Berikan Papi sedikit waktu untuk berpikir."


"Tidak apa Papi, Papi cinta pertama Windy. Jika Papi tidak merestui, lebih baik kami kembali seperti dulu, hanya sebatas mengenal nama." Windy tersenyum menghapus air matanya.


Steven menundukkan kepalanya, mengusap wajahnya. Reva menggelengkan kepalanya melihat Bima, ada rasa kecewa dalam hatinya, sedih juga melihat air mata Windy.


"Stev, permisi kak Bim, Va."


"Mulai besok, Windy keluar dari rumah kamu. Papi sudah membelikan satu apartemen, jangan terlalu sering bertemu." Bima memalingkan wajahnya.


Steven menatap Bima, masih terlihat senyuman di bibir Steven. Langsung melangkah pergi, meninggalkan ruangan Windy.


Pintu tertutup, Steven menyentuh dadanya, ada rasa sesak yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Wilona menatap Steven yang duduk di lantai, menundukkan kepalanya, mengusap wajah berkali-kali. Wilo tahu Stev menangis, tangisan yang tidak berair.


Langkah kaki Steven pergi meninggalkan butik, keputusan Bima untuk meminta Steven meninggalkan Windy disetujui. Stev memukul dadanya, padahal mereka sudah berjanji untuk selalu bersama, saling mensupport, tapi akhirnya Windy sudah memutuskan untuk mundur dari awal.


"Ya Allah sakit, ini sakit sekali." Steven mengusap matanya yang merah.


Jalanan yang macet, dijadikan tempat melamun. Kisah cinta Stev tidak pernah menemukan titik terang.


Windy yang mengajari Steven untuk berjuang, mencintai dengan tulus, merasakan yang namanya patah hati, memimpikan sebuah rumah tangga, membayang seorang anak.


Steven pernah ingin menghindar kehidupan yang penuh bahaya, agar keluarga kecilnya selalu aman.


Mobil Steven berhenti di pinggir danau, melihat air yang memantulkan cahaya bulan, kenyataan yang pahit harus Stev terima.


Tubuh Steven berbaring di pasir, menatap bulan. Ponsel Steven matikan, memejamkan matanya untuk tenang.


Lama Steven tertidur, suara teriak terdengar. Seseorang yang mabuk membangunkan Steven, memintanya untuk bangkit, masih banyak waktu dan kesempatan.

__ADS_1


Steven tersenyum, orang gila saja meminta berjuang, mengatakan adanya kesempatan. Jangan terburu-buru, dibalik kegagalan ada kemenangan yang tersembunyi.


***


Windy mengemasi barang-barangnya, memasukan ke dalam koper, memasukan ke dalam kardus. Terlihat fotonya bersama Steven, langsung menutupnya memasukkan ke dalam kardus, meninggalkan semuanya.


Malam ini akan menjadi hari terakhir Windy tinggal bersama Stev, melihatnya saat ingin tidur dan bangun tidur sarapan bersama, belajar, bercerita, tertawa bersama, kenangan yang sangat indah.


"Maafkan Windy Om, dulu kita sudah berjanji untuk saling mencintai, menjaga dan bertahan, tapi kenyataannya Windy menyerah sebelum berperang Om, Windy sangat menyayangi Om Stev." Windy menghapus air matanya.


Tubuh Windy langsung jatuh di atas ranjang, memejamkan matanya memohon yang terbaik untuk dirinya.


Di dalam kamar Reva menarik lengan Bima tidak mengerti dengan pikiran Bima, tatapan mata untuk pertama kalinya menunjukkan kekecewaan.


"Bertahun-tahun kita menikah, aku selalu menganggap keputusan kamu benar, tapi kali ini Reva kecewa. Ay tega mematahkan hati Windy, memisahkannya dari lelaki yang dicintainya." Reva meneteskan air matanya.


"Aku sudah mengambil keputusan, sebaiknya jangan kita bahas lagi."


"Bagaimana Reva tidak membahas, ini menyangkut hati putriku. Berikan Reva alasannya Ay, kenapa kali ini mengecewakan?" Reva menangis memukul dada Bima.


"Reva, tolong mengertilah. Seharusnya dari awal kamu sudah mengehentikan mereka berdua."


"Sudah, Reva sudah melakukannya. Sudah aku hentikan, tapi aku tidak bisa mengalahkan dua hati yang saling mencintai!" Reva teriak kuat.


Reva langsung diam, menatap Bima yang juga terlihat sedih. Reva menarik kerah baju Bima, menatap tajam matanya, terlihat dari mata Bima yang sudah mengetahui semuanya.


"Ay, tidak mungkin ...."


Bima melepaskan tangan Reva, membaringkan tubuhnya. Sejak awal Bima sudah mengetahuinya, sangat mengerti tujuan Steven dan Windy, memahami perasaan keduanya.


Kecewa juga dengan keputusan Reva yang tidak jujur kepadanya, Bima tidak bodoh melihat kedekatan keduanya, sejak muda Bima yang mengawasi Steven, tapi terlalu banyak perubahan Stev.


Dia selalu pergi pagi, pulang subuh pergi lagi. Saat libur Stev pergi bersama pacarnya pulangnya pasti putus, tapi sekarang Stev mengatur waktunya, lebih hati-hati dan melibatkan banyak orang, tidak bekerja sendiri lagi, membuka hatinya untuk bergaul.

__ADS_1


Terlalu lama Bima menunggu keduanya jujur, setiap malam Bima tidak bisa tidur memikirkan putrinya, antara ragu dan percaya, berkali-kali menahan diri agar tidak berpikir buruk tentang Stev.


Windy yang selalu menceritakan segala hal, kini mulai diam. Perasaan Bima semakin gelisah, mendengar Windy mengucapkan pernikahan, sejujurnya menyakiti hati Bima. Semuanya mengambil keputusan tanpa bertanya.


Bima juga sedih melukai perasaan Stev dan Windy, tapi keduanya harus mengerti cinta yang mereka bayangkan tidak semudah membalik telapak tangan.


"Maafkan Reva Ay, kami tidak bermaksud tidak menganggap Ay sebagai yang tertua, kami takut Ay menolak." Reva menghapus air matanya.


"Aku memang menolak Va, tidak ada alasan aku untuk setuju, jika kalian tahu aku menolak, sebaiknya kalian terus diam, jangan pernah mengatakan apapun sampai akhir."


"Aay, Reva sudah berusaha menghentikan mereka, tapi masih saja."


"Ya sudah, biarkan mereka berpisah." Bima meminta Reva diam, dia ingin beristirahat.


Reva menghela nafasnya langsung melangkah keluar meninggalkan Bima yang ingin beristirahat.


Di luar Vero berdiri melihat foto keluarga Steven, Reva juga berdiri menatap Stevie yang cantik.


"Vero, kamu ingin tahu tidak yang terjadi hari ini?"


"Apa yang terjadi Tante?" Vero masih fokus melihat foto.


"Papi sudah menetapkan keputusan, meminta Steven mundur, besok Windy akan pindah apartemen, mereka juga dilarang bertemu jika tidak penting."


"Keputusan yang bagus, hubungan mereka tidak akan semudah membalikkan telapak tangan Tante. Windy terlalu berbahaya, aku juga tidak ingin kak Stev terluka." Vero menarik nafas buang nafas.


"Setiap orang pasti memiliki masalah, penolakan bukan akhir untuk mundur. Pelindung Windy harus kuat, Stev hanya seujung kuku Bima." Wilona tersenyum.


Wilona memahami satu hal, masalah tidak akan selesai dengan keduanya bersatu, Stev harus menjadi orang kuat agar bisa mengantikan Bima. Jika Stev lemah, Bima memiliki banyak beban yang harus dia lindungi.


"Tante, selama 17 tahun Bima berjuang menyembunyikan Windy seorang diri, menjaganya, melindunginya. Menjadi orang yang kuat untuk melindungi keluarganya, sedangkan Steven dia melindungi dirinya sendiri saja sulit, wajar jika dia ditolak." Wilona menatap Stevie.


Steven dan Stevie dua orang yang berbeda, Stevie wanita yang berkuasa kegagalannya hanya satu, melindungi ibunya, melepaskan ayahnya. Dia seorang pengacara, juga memiliki banyak bisnis, suaminya juga bukan orang sembarang.

__ADS_1


Sedangkan Steven, hanya membela kebaikan, jika kasus selesai dia hanya bersantai dengan banyak wanita, bertahun-tahun dia menghabiskan waktu sia-sia.


***


__ADS_2