
Steven hanya tersenyum melihat wajah Windy yang langsung tidak selera makan, Windy meminta Steven melarikan diri dia tidak ingin Steven mati.
"Windy, kamu tahu arti dari sebuah hukum?" Steven meletakan ayam ke piring Windy.
"Tidak ingin tahu!" Windy membuang pandangannya.
"Hukum tempat kita meminta bantuan juga menghukum kesalahan, tapi bagaimana jika tempat kita meminta pembelaan menjadi tempat kita dihakimi?" Steven menatap tiga mahasiswa yang diam menatap makanan masing-masing.
"Kecewa, marah, tidak akan memaafkan." Lukas menatap Steven.
"Wilo akan balas dendam, tidak rela harus disalahkan."
"Kalian sama seperti mereka, hanya satu yang membedakan yang salah tidak ingin mengaku salah, sedangkan yang benar tidak terima disalahkan. Semuanya tetap artinya sama, kami para pembela hukum tetap salah di salah satu pihak." Steven bicara tegas, Windy menatap om bulenya tajam.
"Bagaimana jika kekuasaan mereka bisa menyakiti Om?"
"Kenapa harus takut Win? sebelum Om hadir dalam ruangan pengadilan sudah mempersiapkan diri, sudah mempertimbangkan resikonya. Jika semua pengacara takut yang lemah selalu disalahkan, sedangkan yang berkuasa tidak ada tempat takutnya, bagi mereka uang bisa menutupi dosa."
"Om Stev benar, Lukas ingin menjadi seperti Om, Pengacara yang membela kebenaran." Lukas tersenyum, Steven mengerutkan keningnya.
"Jadi diri kamu sendiri, jangan pernah menjadi orang lain. Seseorang cukup menjadi motivasi."
"Benar juga, tapi Lukas bukan orang kaya seperti Om Stev, Apartemennya juga mewah, pasti uang bisa mengalahkan aku." Senyuman Lukas terlihat terpaksa.
"Kamu memiliki keluarga yang mendukung kamu, memiliki keluarga yang bangga dengan kesuksesan kamu, ada orang-orang tercinta yang berdiri menyemangati. Sedangkan Om tinggal di sini sendiri, pulang dan pergi tidak menentu, tidak ada yang membangunkan juga menunggu pulang." Steven tersenyum langsung berdiri meletakkan piringnya di tempat cuci piring.
Lukas menatap punggung Steven, ucapan Steven semuanya benar, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan.
"Lukas jaga Windy selama di kampus, aku tidak bisa full menjaganya."
"Siap Om, saya akan menjaga Windy."
"Kalian jika sudah selesai makan letakan piringnya di sini, cepatlah pulang." Steven tersenyum langsung menuju ruang tamu, mengambil buku yang di lantai, meletakan kembali pada tempatnya.
"Om, boleh Wilona bertanya?"
"Silahkan."
"Bagaimana jika mereka membunuh keluarga kecil tadi?"
"Mereka tidak mungkin melakukannya, karena bagi mereka menjaga kehormatan penting. Jika sampai terbongkar oleh publik, mereka bisa terseret kembali."
__ADS_1
"Berarti hidup mereka aman, seharunya Om juga aman, karena jika Om terluka, mereka bisa saja terlibat." Wilo menatap Steven.
"Kamu salah Wilo, mereka aman karena aku masih menyimpan bukti, jadi orang yang harus disingkirkan terlebih dahulu aku, baru mereka." Steven duduk, Wilo juga duduk masih penasaran.
"Seharusnya Om mengikuti saran Windy bersembunyi sebentar?"
"Kenapa kamu penasaran sekali? kamu bisa saja keluarga orang yang kalah dalam persidangan." Steven tertawa.
"Windy, lihat om Stev. Dia menuduh aku menjadi bagian dari orang yang ingin balas dendam." Wilo cemberut, Windy tersenyum langsung duduk di samping Steven.
"Benarkah Om?" Windy menatap tajam.
"Windy, hati aku sakit sekali kamu tidak mempercayai aku." Wilo ingin menangis.
"Dia mencurigakan Windy, seseorang yang banyak tanya tanpa bertindak sama saja dengan orang yang sedang memantau."
"Om benar, astaga Windy merasa bersalah membawa ke sini." Windy langsung sedih.
"Jahat." Wilo langsung tertunduk menangis.
Steven tertawa, Windy sudah memeluk Wilo yang menangis sesenggukan. Lukas juga memeluk dua wanita yang saling berpelukan.
Melihat Ara mengingatkan Steven kepada keponakan kecilnya yang terlempar saat kecelakaan mobil, hanya dirinya yang selamat. Kakak, ipar dan keponakan tersayang pergi meninggalkannya.
Ara mengalami trauma, dia mengalami pemaksaan sampai kehilangan seluruh busananya. Hanya Ayah dan Ibunya yang bisa menyentuh Ara, tapi polisi menahan Ayahnya.
Hampir 3 hari Steven setiap hari datang berkunjung, membawakan bunga, boneka, coklat, permen, tapi Ara mengumpulkan semuanya, dia ingin menukar semuanya dengan Ayahnya.
Steven berjanji akan berjuang membawa Papi tercintanya kembali, Ara juga berjanji akan sembuh, melipatkan tangannya memohon doa.
Maju melawan orang berpengaruh bukan hal yang mudah, Steven harus mengumpulkan bukti yang kuat, mendengarkan satu dua pihak tidak akan menyelesaikan masalahnya.
Steven menemui kepolisian untuk melihat CCTV yang tidak terlihat, Steven tahu sudah ada yang menghapusnya.
Tidak ada orang yang menolak uang, begitupun juga orang yang menyembunyikan rekaman asli, sudah pasti orang dalam dan lebih tepatnya para penjaga CCTV.
Steven menemui satu-persatu, sampai bisa mendapatkan rekaman, berkat bantuan teman perempuannya yang bekerja di klub malam.
Mendapatkan satu bukti yang kuat, belum tentu menyelamatkan Steven, juga bisa membebaskan kliennya. Masih membutuhkan banyak bukti lagi, sampai satu persatu masalah bermunculan.
Senyum Steven terlihat menatap Windy yang tertawa, sedangkan Wilo masih marah. Satu hal yang Steven pahami, bukan hanya niat yang dibutuhkan, bukan hanya semangat, semuanya tergerak karena hati.
__ADS_1
Ara yang membuat Steven melangkah sejauh ini, mendapatkan keadilan, juga mendapatkan aman. Cinta seorang Ayah untuk sang putri yang membuat Steven berani bertahan sampai akhir.
Setiap hari Steven melihat banyak kasus kejahatan, hanya menanggapi yang hatinya inginkan. Membantu orang yang pantas di bantu.
"Om kita pulang, terima kasih makanannya, selamat juga untuk Om berhasil menang dalam persidangan." Lukas melangkah pergi merangkul Wilona.
"Kamu tidak pulang?" Steven melihat Windy yang tersenyum.
"Om, Windy ingin berhenti kuliah. Jurusannya tidak sesuai dengan Windy."
"Kamu bisa daftar ulang, mengikuti jurusan sesuai minat kamu."
"Windy ingin membuka usaha saja, seperti Mami Reva."
"Lanjutkan Windy, kuliah bisa menjadi modal kamu di masa depan. Kamu bisa bekerja sambil kuliah."
"Kuliah sambil bekerja Om." Windy melotot.
Steven meminta Windy pulang, dia ingin beristirahat. Windy menolak, tapi Stev menariknya untuk keluar. Windy cemberut mengomel sambil memukul Steven.
"Mandi dulu Windy, istirahat." Steven membuka pintu apartemen Windy, mendorongnya masuk sambil melambaikan tangannya.
Steven masuk ke dalam kamarnya, langsung berbaring menyentuh sesuatu yang mengganjal tubuhnya. Ponsel Windy tertinggal di kamarnya, Steven meletakan di meja langsung memejamkan matanya.
Suara ponsel berdering terdengar, Steven mengabaikannya. Berpikir jika ponselnya yang berbunyi, masih melanjutkan tidurnya.
Suara panggilan terdengar kembali, Steven menutup kepalanya dengan bantal. Mulai kesal mendengar suara panggilan, Steven langsung duduk dari tidurnya, masih memejamkan matanya.
Suara panggilan mati, baru saja Stev ingin tidur lagi, ponsel bunyi lagi.
[Hallo, ada apa? kalian paham tidak jika mengganggu tidur orang. Jika tidak penting bisa tidak menunggu nanti.] Suara Steven tinggi.
[Steven!] suara teriakan Reva kuat, Steven langsung melihat ponsel kaget, tenyata handphone Windy yang dia jawab.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1