
Keadaan Lukas mulai membaik, dia sudah bisa bergerak kembali. Perasaan Lukas cukup bersalah mengigat wajah Windy yang menangis banjir air mata.
Rasa cintanya yang sangat dalam, membuat Lukas merasa hancur mendengar kabar Steven kembali dan mereka sudah menikah.
Melihat Steven memenangkan hati Windy membuat Lukas merasa jika dirinya harus merebut Windy kembali, tidak ada wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta seperti saat menatap Windy.
Senyuman, candaan, tatapan Windy membuat kebahagiaan terbesar bagi Lukas, dia sangat ingin melihat senyuman cantik Windy hanya untuk dirinya.
Perbuatan Lukas yang ingin bersama Windy tidak membuatnya bahagia, tetapi banjir air mata.
Pintu kamar Lukas terbuka, Steven melangkah masuk menatapnya tajam. Lukas bisa melihat kesedihan di wajah Steven.
Lukas memang merasa bersalah, tapi rasa tidak sukanya kepada Steve tidak berubah. Steven tidak pantas untuk menjadi pendamping Windy.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Lukas? masih ingin berusaha menyakiti kami, kali ini kamu berhasil membuat Windy depresi karena keguguran." Steven menatap tajam.
Wajah Lukas terkejut, Windy depresi karena dirinya. Lukas langsung berusaha ingin berdiri dari tempat tidurnya untuk menjenguk keadaan Windy.
Pukulan kuat tangan Steven menghantam wajah Lukas, infus sampai terlepas membuat darah keluar dari tangan Lukas.
"Kamu harus membayar nyawa anakku." berkali-kali Steven melayang pukulan mematikan.
Saka ragu ingin menghentikan kemarahan Steven, tapi jika dia biarkan Lukas dipastikan mati di tangan Steven.
Saka langsung berlari ke ruangan rawat Windy, Vero menatap tajam Saka langsung berdiri mendekatinya.
"Ada apa Saka?"
"Steven bisa membunuh Lukas."
Vero langsung membuka pintu menatap Bima dan Reva yang sedang menenangkan Windy, tatapan mata Windy mencari Steven.
"Ay Stev di mana?" dia tidak akan meninggalkan Windy karena membunuh anaknya." Air mata Windy terus mengalir.
"Apa yang kamu katakan sayang, Steven tidak mungkin melakukan hal konyol seperti bayangan kamu." Reva menghapus air mata Windy.
"Kak Bim, di kamar rawat Lukas. Kak Stev memukuli Lukas, bisa saja Stev membunuhnya."
"Apa?" Bima langsung melangkah keluar, berlari bersama Vero dan Saka.
__ADS_1
Reva dan Windy saling pandang, Reva meminta Can menjaga Windy karena ingin melihat keadaan Lukas yang beraninya menyakiti putrinya.
Langkah Reva berlari menuju kamar rawat Lukas bersama Ghina, melihat keributan di sana.
"Steven hentikan! kamu ingin menjadi pembunuh? apa bedanya kamu sama dia?" Bima memeluk Steven meminta berhenti.
Lukas sudah penuh darah, kesadarannya hampir hilang karena pukulan bertubi-tubi, nafas Lukas juga hampir habis.
"Sabar Stev, tidak seperti ini menyelesaikan masalah."
"Dia tidak merasa bersalah sudah membunuh bayi yang bahkan tidak memiliki dosa, Stev wajar membunuh dia karena seorang bajingan tidak akan berubah." Stev menatap Lukas tajam, matanya bahkan merah.
"Siapa kamu Stev yang bisa memutuskan hati seseorang? tidak ada yang tahu akhir dari kehidupan seorang bajingan." Bima menatap Lukas, meminta dokter menyelamatkannya.
"Ayo keluar, kita berbicara berdua." Bima menarik Stev keluar.
"Sebaiknya kamu mati! jika masih hidup aku pastikan hidup yang akan kamu jalani membuat kamu memilih untuk mati." Steven menggenggam erat tangannya ingin sekali mematahkan leher Lukas.
Dokter mengangkat Lukas ke atas ranjang, langsung memasang infus memberikan pertolongan.
Reva melangkah masuk, air matanya mengalir mendekati Lukas, mencekiknya kuat mendekati wajah Lukas.
"Reva, lepaskan dia." Bima langsung menarik Reva dan Steven keluar.
"Apa yang kalian berdua lakukan? hal pertama bukan membalaskan dendam, Windy jauh lebih penting dari kemarahan kita."
Steven langsung melangkah pergi, Bima hanya bisa menatap punggung Steven yang berjalan tertunduk.
"Steven, Allah tidak pernah menguji melebihi batas kemampuan kita. Kalian jangan berpikir jika yang terjadi akhir dari segalanya nak, Allah mengambil satu akan digantikan sesuatu yang lebih baik lagi." Bima menatap Steven yang menghentikan langkahnya.
Windy keluar dari ruangannya bersama Can, menatap Steven yang meneteskan air matanya.
"Mungkin kali ini kalian gagal memiliki anak, tapi masih ada banyak kesempatan. Kita berdoa saja Allah ganti anak yang Sholeh Sholeha, baik hatinya, karakternya, sikapnya baik, karena dia hadir karena ibadah kepada Allah. Jangan bersedih berlarut-larut." Bima menghapus air mata Reva.
"Steven ingin sendiri Papi." Stev melangkah pergi, tidak menyadari kehadiran Windy.
Bima menghela nafasnya, meminta Vero dan Saka membiarkan Steven sendirian. Dia akan baik-baik saja setelah meluapkan emosinya.
Windy berjalan langsung mendekati Bima, senyuman Bima terlihat langsung memeluk putrinya yang sangat dia cintai.
__ADS_1
"Putri Papi kuat, kamu tidak boleh dendam ya sayang. Papi tidak pernah mengajari Windy untuk menyalahkan keadaan, ambil hikmah dari apa yang terjadi." Bima mengusap rambut Windy untuk duduk di kursi roda.
"Maafkan Windy yang lalai, tidak menyadari jika sedang hamil. Maafkan Windy Mami."
"Kenapa minta maaf sayang? putri Mami tidak salah, usaha lagi ya." Reva mencium kening Windy.
Bima meminta Reva membawa Windy beristirahat, sholat di ruangan Windy saja. Bima akan ke masjid terdekat.
Langkah kaki Bima mencari Steven, Bima sangat mengenali Steven saat kehilangan akan bersembunyi dan menangis.
"Saka kamu melihat Stev melangkah ke mana?"
"Air mancur di depan."
Bima langsung melangkah, dari kejauhan Bima melihat punggung Stev duduk menghadap air membasahi wajahnya.
Tangisan Steven terdengar sesenggukan, terasa sekali kesedihan yang sangat dalam sampai membuatnya menangis lepas.
Stev menyentuh dadanya, terlalu banyak dirinya kehilangan sejak dirinya kecil. Kehilangan ibu tercinta, ditinggal pergi ayahnya yang memilih hidup bersama wanita lain, lalu ditinggalkan oleh kakaknya, kakak ipar juga keponakan sekaligus membuat Stev hanya hidup seorang diri.
Setelah merasakan sedikit kebahagiaan, Allah mengujinya kehilangan waktu selama tiga tahun, sekarang diuji lagi kehilangan anaknya.
"Sekuat apa aku ya Allah, sehebat apa sehingga ujian yang aku terima begitu menghancurkan. Tidak bisa aku meminta sedikit saja keringanan, terlalu banyak aku kehilangan. Apa lagi yang ingin diambil dari hidupku?" Steven menangis sejadinya.
"Allah menguji kamu karena mampu bertahan lagi dan lagi, kejadian ini akan menjadi pelajaran untuk kamu menjadi ayah yang sangat bertanggung jawab, Ayah yang sangat memahami anak-anak kamu, Ayah yang menginginkan yang terbaik untuk mereka. Jangan menyalahkan diri sendiri, kamu anak yang sangat baik Stev, kamu sangat luar biasa." Bima mengusap kepala Steven yang menutup matanya.
Steven meluapkan kehancurannya, menerima ujian dalam hidupnya untuk memperbaiki diri lagi agar bisa lebih dewasa.
"Kamu ingin melihat Winda?" Bima menunjukkan wajah Winda yang langsung membuat Steven tertawa.
"Apa yang dia lakukan Papi sudah kotor seperti anak kerbau?"
"Biasalah, kami pergi tanpa sepengetahuan dia. Menitipkan Winda kepada Jum, saat dia tahu langsung mengamuk lalu terjatuh ke dalam selokan." Bima mengusap punggung Steven.
"Maafkan Stev Papi."
"Maaf untuk apa? Papi mengerti kesedihan kamu, mungkin Papi juga akan melakukan hal yang sama jika ada diposisi kamu. Sekarang tinggalkan sedihnya, semangat lagi untuk menjalani hidup."
Steven menganggukkan kepalanya, langsung berdiri berjalan mengikuti Bima.
__ADS_1
***