
Steven berdiri di depan apartemen Windy, mondar-mandir binggung harus bersikap bagaimana, Steven juga tidak mengerti dengan perasaannya.
Windy juga berdiri di depan pintunya, dia bisa melihat Steven dari dalam. Terlihat wajah khawatir, cemas, juga bersalah.
Akhirnya Steven yang memutuskan untuk kembali ke apartemennya, Windy juga kembali ke kamarnya untuk tidur.
Lama Windy berusaha memejamkan matanya, melihat jam dinding sudah subuh. Windy bangun melaksanakan kewajibannya, memohon petunjuk akan keputusan untuk membuka bisnis. Meminta kemudahan juga akan perasaan yang semakin besar rasa cintanya.
Bukan hanya Windy yang tidak bisa tidur, Stev juga kesulitan memejamkan matanya, kegalauan hati Stev bisa dia pindahkan ke pekerjaannya.
Steven mengambil sebuah map biru, membukanya melihat kasus yang akan dia lakukan besok pagi. Kasus seorang Ayah yang menyerahkan diri kepada pihak berwajib, mengakui kesalahannya yang membunuh seorang pria yang menodai putrinya.
Lawan Steven bukan orang sembarangan, pelaku putra utama perusahaan besar, sedangkan korban hanya putri seorang supir.
"Orang kaya hanya bisa menggeluarkan uang, mereka berpikir dengan uang, semuanya selesai. " Steven menghela nafasnya.
***
Pagi-pagi Steven sudah melangkah keluar, ada beberapa hal yang harus dia selesaikan sebelum persidangan.
"Sekalipun kalian membunuhku, aku tidak akan sedikitpun melangkah mundur. Keadilan harus aku tegakan demi membela orang yang tidak bersalah, berhenti memberikan aku uang busuk kalian." Steven menoleh melihat seorang pemuda yang menatapnya tajam.
"Dia membunuh Ayahku, bagaimana kami bisa diam saja?"
"Apa menurut kamu tindakan Ayah kamu benar? jika wanita yang dia sentuh, berusia 18 tahun atau 15 tahun saja, mungkin masih wajar. Kalian harus tahu dia menyentuh gadis kecil berusia 5 tahun, bayangan jika itu putri kecil kamu, membunuhnya belum sepadan dengan tindakannya." Steven menatap tidak kalah tajam.
"Orang sudah mati, siapa yang berhak bertanggung jawab?"
"Keluarga! kalian harus memohon maaf, memberikan kompensasi, melakukan dengan setulus mungkin, jika tidak aku bisa membuat kalian semua kehilangan segalanya." Steven langsung melangkah pergi, ada rasa sakit membayangkan seorang gadis kecil mengalami trauma.
Langkah kaki Steven memasukkan Kantornya, di dalam kantor masih sepi. Duduk tenang menelan banyaknya laporan kejahatan yang Steven dapatkan. Mungkin yang mati tidak bisa hidup lagi, Steven hanya ingin membebaskan seorang Ayah yang divonis penjara puluhan tahun, karena membunuh orang berpengaruh.
Suara ketukan pintu terdengar, sekretaris Steven membawakan minuman menatap wajah Stev yang tidak berekspresi.
"Pagi pak, hari ini keputusan terakhir dari persidangan panjang, saya yakin bapak bisa menang."
__ADS_1
***
Sebelum pergi kuliah, Windy menyempatkan diri menghubungi orang tuanya, Windy mengutarakan keinginannya untuk membuka bisnis. Awalnya Bima menolak, dia ingin Windy memiliki gelar, usia Windy juga masih sangat muda, belum waktunya dia bekerja.
Reva coba memahami Windy, memberikannya izin juga tetap melanjutkan kuliahnya. Windy tersenyum memeluk Maminya dari kejauhan, Win berjanji akan menyelesaikan kuliah, juga melakukan yang terbaik untuk bisnisnya.
Selesai berbicara dengan Papi, Maminya Windy bersiap untuk kuliah. Saat keluar dari rumah Win melihat apartemen Steven, langsung melangkah pergi.
Pagi yang cerah, secerah hati Windy yang akan membangun mimpinya. Langkah kaki Windy terhenti, Lukas berdiri di depannya membawakan sarapan.
"Maafkan ya Win, semalam aku tidak sempat keluar. Sekarang aku membawa sarapan pagi." Lukas memasang wajah memelas.
"tidak masalah Lukas, aku sangat memakluminya. Ayo kita duduk di sana untuk sarapan, waktu masuk kuliah masih satu jam." Windy berjalan menuju bangku kosong.
Suara Wilo memanggil juga terdengar, Windy tersenyum melihat sahabat perempuannya yang paling rempong.
"Hai sahabat, kalian sudah mendengar berita kematian seorang pengusaha, dibunuh oleh supirnya. Kasihan sekali keluarga mereka yang tidak terima kematian Ayah mereka." Wilo duduk di samping Windy, langsung mengunyah makanan yang Windy pegang.
"Kasusnya belum jelas Wilo, supirnya pasti punya alasan yang tidak bisa dia terima."
"Tapi tidak harus membunuh Lukas." Wilona menatap tajam.
"Windy siang ini kita juga akan melihat secara langsung persidangan."
"Iya Win, kamu kuliah hukum, tapi tidak ingin tahu soal hukum."
"Boleh tidak ya aku jadi pengusaha saja, atau menjadi Ibu saja." Windy menahan tawa, sedangkan Wilo sudah tertawa.
"Pertanyaan gue hanya satu bos, Lo punya pacar tidak?" Wilo menepuk keningnya melihat Windy geleng-geleng kepala.
Siang ini Windy akan melihat langsung persidangan, sebenarnya ini bukan pertama kalinya. Kehebohan sudah terlihat, banyak siswa yang bersemangat, hanya Windy yang biasa saja.
Banyak mahasiswa yang membela pengusaha yang dibunuh, Lukas tidak menyukai keputusan mahasiswa lain, Windy sependapat dengan Lukas, pasti ada yang lebih menyakitkan dari sebuah kematian.
Seluruh mahasiswa berkumpul, Windy duduk belakang sekali. Dia mengantuk karena semalaman tidak tidur, belum lagi perutnya kekenyangan.
__ADS_1
"Windy dengarkan ucapan Dosen." Wilo membangunkan Windy.
"Apa? biarkan saja dia ceramah. Bangunkan aku jika kita bersiap untuk berangkat." Windy tersenyum menutup tempat duduknya dengan buku, Windy memejamkan matanya.
Mata Windy terbuka saat mendengar korban pelecehan seorang anak berusia 5 tahun, Windy menutup bukunya melihat ke depan, menyimak ucapan Dosen soal kasus yang akan mereka lihat dipersidangan.
Dada Windy terasa sesak, tidak bisa terbayangkan jika ada diposisi keluarga korban. Belum lagi Ayahnya harus dihukum.
"Palingan korban meminta kompensasi hidup enak, karena pelaku juga sudah mati, tidak ada yang akan bertanggung jawab." Wilo tersenyum lucu.
"Wilo, kompensasi tidak penting yang terpenting membuktikan jika pembunuhan yang dia lakukan untuk melindungi anaknya, tidak ada orang tua di dunia ini yang rela anaknya disentuh lelaki kotor, apalagi masih di bawah umur." Windy menatap tajam, mata Windy berkaca-kaca menahan kesedihannya.
Windy mengingat Bundanya yang tega meninggalnya, tidak menginginkannya lahir ke dunia ini, bahkan Windy tidak pernah tahu tentang Ayah kandungannya.
Lukas menepuk pelan pundak Windy, memahami perasaan Windy yang jauh dari kedua orangtuanya. Lukas tidak mengetahui jika Windy bukan anak orang tuanya yang sekarang.
"Kita doakan semoga pengacara yang memegang kasus ini bisa menang." Lukas tersenyum, menepuk pelan pundak Windy.
"Berat Luk, lawannya pengusaha sukses yang keluarga menuntut berat. Orang seperti mereka bermain dengan uang, bisa saja pengacara yang ditugaskan membela korban juga dibayar." Wilo menatap Windy yang mendadak sedih.
"Wilo benar, sulit sekali menjadi orang jujur yang memang bekerja membela orang yang lemah." Lukas menghela nafas panjang.
"Jika kalian pengacaranya apa yang akan kalian lakukan?" Windy melihat Wilo dan Lukas.
"Wilo mundur, karena jika kita menolak uang mereka pastinya mengancam keluarga kita, bahkan melakukan pembunuhan." Wilo langsung merinding.
"Sebaiknya kamu tidak sekolah hukum Wil." Lukas menghela nafas.
"Kalau kamu Lukas?"
"Tergantung bayaran." Lukas tertawa, Windy langsung memukuli Lukas, seluruh mata menatap ketiganya.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***