MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 TANGISAN HARU


__ADS_3

Air mata Steven menetes melihat wanita yang dicintainya menangis sesenggukan, menganggap pertemuan mereka hanyalah sebuah mimpi.


"Windy, ini bukan mimpi. Aku kembali win." Steven menyentuh wajah Windy.


Bima berjalan mendekati Steven, mata Bima berkaca-kaca menatapnya tidak percaya. Steven berjalan mendekati Bima, menangis meminta maaf karena tidak bisa kembali.


"Kak Bima." Steven menyentuh tangan Bima.


Bima langsung memeluk Steven, meneteskan air matanya. Semua orang menangis melihat Steven dan Bima yang saling memeluk.


"Stev ini kamu, ya Allah akhirnya kamu kembali." Bima mengusap wajah Steven yang sangat kurus, wajah pucat, belum lagi kaki Stev yang pincang.


"Alhamdulillah kamu pulang, maafkan kak Bim tidak bisa menemukan kamu."


"Stev yang minta maaf kak." Steven memeluk Bima.


Stev menggenggam tangan Windy yang sudah menjadi patung, hanya air matanya yang terus menetes tidak kuasa melihat Steven yang terluka.


"Bagaimana keadaan Vero?"


Vero juga menjadi patung melihat Steven, langsung berlari memeluk Steven sambil menangis histeris. Steven menepuk punggung Vero sambil meneteskan air matanya.


"Kak Stev kenapa meninggalkan Vero sendirian? Vero takut sendirian tanpa keluarga, kenapa lama sekali kak Stev pulang." Vero tidak bisa menahan kesedihannya.


Bukan hanya Bima dan Vero yang tidak bisa menahan air matanya, Bisma Rama juga meneteskan air matanya.


Rama lebih lagi merasa sedihnya sebuah perpisahan, apalagi menjelang hari pernikahan. Bagus dan Saka juga meneteskan air matanya, saling merangkul bisa melihat Steven masih hidup.


Suara tangisannya Reva tidak terbendung lagi, dia yang paling tahu bagaimana menderitanya Windy tanpa Steven.


Stev tersenyum menatap Reva yang tidak ingin mendekat, melihat Mommy dan Bunda yang juga menangis sesenggukan.


Senyuman Vira dan twins terlihat, mengusap air mata mereka. Satu hal yang sudah lama hilang sejak Steven pergi, tangisan bahagia yang lama tidak mereka rasakan.


Stev mengusap air matanya, melihat Windy memeluknya erat sampai akhirnya jatuh pingsan. Tian langsung mengendong Windy.


Windy sudah lama bertahan, menutupi luka hatinya menahan diri agar dia selalu baik-baik saja, padahal di setiap sujud Windy tidak kuasa menahan kesedihannya.


Semua tim meminta kembali ke tempat aman, karena matahari sudah mulai akan terbenam. Stev langsung melihat ke arah Can yang melangkah ingin kembali ke hutan.


"Can, terimakasih."


Cantika berbalik sambil tersenyum, Mei meneteskan air matanya saat dia ingin pulang kehilangan papanya.

__ADS_1


Mei langsung berlari ke arah Steven, menyentuh tangan Stev menciumnya.


"Papa jangan lupakan Mei ya, Mei sayang Papa." Mei menangis sesenggukan memeluk Steven.


"Nanti Papa akan berkunjung menemui Mei." Steven menghapus air mata Mei.


Tatapan mata Vero dan Can bertemu, Cantika sangat ketakutan, meminta Mou mengambil Mei agar segara pulang.


Vero langsung melangkah menggendong Mei, menatap wajah Mei yang tersenyum. Mei langsung melihat wajah Mama juga wajah Vero.


"Mama wajahnya mirip Mei, lihat hidung kita sama, alis mata." Mei menyatukan hidungnya bersama Vero.


"Lepaskan anakku Vero!" Cantika teriak kuat langsung maju mendekati Vero ingin merampas Mei.


Vero menahan tangan Cantika, tidak ingin menyerahkan Mei. Mou langsung mendekat membawa Mei ke dalam pelukannya.


"Mou cepat bawa Mei pergi."


"Citra."


"Citra sudah mati sejak kamu tidak mengakui anakku!" Can mendorong Vero.


Cantika langsung berlari, Vero langsung mengejarnya meminta Can memberikannya kesempatan.


"Papa, nama Papanya Mei siapa?" Mei berteriak dalam gendongan Mou.


"Stevero."


"Nama Mei, Meisya Alvero." Mei melambaikan tangannya.


Vero meneteskan air matanya, melangkah maju mendekati Mei. Dua harimau maju mendekati Vero, tapi Vero tidak mempedulikannya.


Semua orang berteriak memanggil Vero untuk menyingkir, Meisya menangis meminta diturunkan. Mei langsung berlari menghadang dua harimau Mamanya.


"Jangan sakiti Papa Mei."


Dua harimau mengendus Mei, air mata Can menetes meminta Mei pulang.


"Ayo Mei, dia bukan Papa kamu." Can menarik Mei.


"Wajah Mei sama Papa sama."


"Kamu anak Mama, hanya punya Mama. Mei pilih Mama atau orang yang Mei anggap mirip Mei." Can menatap Mei yang terlihat sedih.

__ADS_1


Ravi meneteskan air matanya, pilihan yang sama seperti dirinya dulu. Antara memilih Mommy atau Daddy.


"Kenapa untuk bersama orang tua harus memilih, jika kalian tanyakan kepada anak jawaban kami hanya satu ingin bersama keduanya. Ravi tahu rasanya berpisah dari seorang Ayah, dulu Ravi juga seumuran Mei, kami hanya tahu kehadiran seorang anak ke dunia ini pastinya dari dua orang yang biasanya seorang ibu dan ayah. Salah tidak jika ada sebuah pertanyaan di mana Papa? siapa Papa? sekali saja melihat Papa." Ravi menghapus air matanya.


"Saya mengerti, tetapi tugas seorang ibu melindungi anaknya, aku sudah melindungi Mei selama lima tahun."


"Sama aku juga dulu melindungi putraku tanpa lelaki yang aku cintai, jika waktu bisa aku putar kembali ingin sekali bertahan bersamanya agar tidak merasakan yang namanya perpisahan. Orang boleh menatap kita sebagai wanita hebat, kuat, tapi sebenarnya hati ini hancur setiap melihat tumbuh kembang mereka, apalagi wajah mereka menyerupai Ayahnya." Viana mengusap air matanya menangis mengusap kepala Ravi.


Vero berlutut di kaki Can, memeluk kakinya sambil menangis sesenggukan memohon maaf. Meminta Can memberikan kesempatan agar dia bisa menembus kesalahannya.


"Vero kamu tidak tahu menderitanya aku?"


"Maafkan aku Can."


"Kamu selingkuh dengan sahabat aku, tidak menerima anak yang aku kandung. Mengatakan jika aku wanita malam yang melayani banyak lelaki."


"Cantika, kamu melukai diri kamu sendiri menyiksa Vero dan Mei. Seandainya hari itu kamu tidak langsung pergi mungkin anak kalian mendapatkan keluarga yang utuh. Sahabat kamu menjebak Vero, saat itu Vero mabuk sehingga tidak menyadari ucapan. Sisilia wanita yang menghancurkan hubungan kalian, Vero sudah berusaha mencari kamu, bahkan hubungan dengan Steven rusak karena masalah kamu, Vero gila sampai hampir membunuh orang dia juga masuk penjara, sampai aku yang membebaskan." Bima akan memberikan Can bukti jika mereka sudah memiliki sinyal.


"Kamu dan Sisilia pacaran?"


"Bagaimana cara aku menjelaskan kepada kamu." Vero langsung berdiri menggendong Mei saat mendengar suara meraung.


"Kita harus keluar dari hutan." Can mendekati dua harimau meminta mereka pergi.


Seluruh orang berlari cepat meninggalkan hutan, Windy yang sudah jatuh pingsan sudah dibawa pulang oleh Tian, anak-anak juga langsung digendong.


Seluruh tim berlari, Stev digendong oleh Saka karena kakinya semakin parah. Mou melihat ke belakang tapi Can langsung menariknya.


Setelah jauh dari hutan, Can melihat ke belakang. Hutan sudah terlihat gelap, suara meraung-raung semakin terdengar.


"Mama, kita tidak bisa kembali dalam beberapa hari." Mou memeluk Can.


"Mama akan mencari tempat tinggal sementara, sampai orang gila itu meninggal perbatasan."


"Siapa yang meraung-raung mengerikan."


"Seorang wanita korban pelecehan, dia gila membawa senjata siap membunuh siapapun.".


"Hanya seorang wanita?" Saka tersenyum.


"Jangan remehkan, tidak ada orang yang berani mendekatinya pasti langsung mati.


***

__ADS_1


__ADS_2