MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 CITRA


__ADS_3

Matahari bersinar terang, Bisma Jum Rama dan Viana sudah datang. Mereka semua berusaha untuk tegar, kuat dan berpikir positif.


Tim juga sudah disebarkan, Bima menggenggam tangan Reva tidak akan keluar dari hutan tanpa bertemu anak-anak.


Jum berusaha untuk kuat, memeluk Bastian melangkah bersama masuk ke dalam hutan menemukan twins.


Viana membuang high heels, menggunakan sepatu. Ravi berlutut memasang sepatu Mommy, menyambut tangan Viana berjalan bersama.


"Vira pasti ketemu Mommy."


"Iya, mereka akan kembali bersama kita." Viana menggenggam tangan Ravi dan Rama melangkah masuk hutan.


Mata Windy melihat ke atas memperihatinkan langit yang cerah, melangkah terus bersama seluruh keluarga mencari keberadaan adik-adiknya.


Tian memberikan tanda setiap langkah mereka, Windy melihat sesuatu langsung mengambilnya. Menunjukkan kepada seluruh keluarga jika Vira melewati tempat ini.


"Gantungan kunci Vira."


"Benar Mommy, ini kado dari Om bule saat Vira berulang tahun. Winda Bella Billa juga memilikinya karena mengamuk minta juga." Windy tersenyum berharap hal baik.


Seluruh area jalanan tertutup, Erik melangkah melihat tempat yang tidak bisa dilewati karena banyak pohon semak berduri.


"Mereka seharusnya berhenti di sini." Erik menunjukkan tempatnya berdiri.


"Rik belakang kamu." Ravi megambil satu anting milik Billa.


"Mereka seharusnya memang melewati tempat ini."


Bima melangkah melihat jejak sepatu kecil langsung menundukkan kepalanya melihat ada goa langsung meminta Vero membersikan semak.


Vero dan Saka membuat jalan untuk melihat goa, semuanya perlahan berjalan masuk ke dalam goa.


"Goa ini sebenernya jalan satu-satunya untuk melewati pohon dan semak." Rama mengeratkan genggaman tangannya.


"Ya Allah lindungilah anak-anak kami." Jum memejamkan matanya


Setelah melewati goa, semuanya berdiri terdiam melihat suasana yang sedikit gelap, matahari juga tidak terlihat karena tertutup banyakan pohon besar.


"Ada suara gemericik air?" Bisma melangkah mencari sumber air.


"Astaghfirullah Al azim." Jum teriak kaget melihat buaya sangat besar.


"Anak-anak duduk di sini, lihatlah bekas permen Winda." Vero menunjukkan lima bekas permen.

__ADS_1


"Alhamdulillah ya Allah, mereka tetap berlima." Reva mengucapakan syukur, berpelukan dengan Jum.


Semuanya lama melihat buaya yang sedang berjemur, tidak ada tanda suara anak-anak. Jika mereka terluka karena buaya pastikan ada bercak darah atau sobekan baju.


"Lihatlah banyaknya jejak kaki di pasir." Saka melemparkan batu tidak ingin mendekat ke sungai karena ada buaya.


"Ada jejak orang dewasa, berarti ada orang lain di sini." Bagus meminta semuanya meninggalkan sungai.


Semuanya masuk lebih dalam ke hutan, Viana menunjukkan sebuah pondok kecil yang sangat terlihat ada aktivitas manusia.


Bima berlari mengetuk pintu, tapi tidak ada yang terlihat. Membuka pintu rumah kosong.


"Tidak ada orang."


"Mungkin mereka sedang pergi kak Bima, lihatlah bekas bakar ikan, ada ubi juga."


"Putriku ada di sini?" Viana menunjukkan ponsel Vira yang tertinggal.


Viana langsung masuk ke dalam rumah, Reva juga masuk mengacak isi rumah. Rama menahan tangan Viana untuk tenang.


"Lepaskan aku Rama, nanti akan aku rapikan. Kita harus tahu siapa orang yang tinggal di sini. Aku ingin bertemu putriku!" Viana teriak kuat, Rama akhirnya mundur, membiarkan Reva dan Viana membongkar seisi rumah.


Reva melihat baju anak kecil, ada juga beberapa baju anak remaja, baju wanita.


"Kak Vi di sini ada satu keluarga, suaminya hanya mempunyai dua baju, istrinya juga dua anaknya yang masih kecil seorang wanita, sedangkan yang remaja seorang pria." Reva mengeluarkan seluruh baju.


Saka mengelus dada melihat Viana dan Reva mengalahkan detektif, Bagus juga binggung bagaimana bisa tahu jika yang cacat suaminya.


Semuanya hanya diam melihat Viana dan Reva mengambil beberapa benda.


Reva terduduk lemas melihat beberapa foto yang sangat mengejutkan, Viana mendekati Reva yang memijit pelipisnya tidak percaya dengan yang mereka lihat.


Reva langsung berlari teriak-teriak memanggil Vero, melayangkan tamparan membuat semua orang teriak kaget.


Air mata Reva menetes menunjukkan beberapa foto langsung menghamburkannya, Vero menyentuh pipinya merasakan pukulan Reva menanyakan keberadaan anaknya.


"Di mana anakku Vero?"


"Reva, bagaimana Vero bisa tahu? dia selalu bersama kita." Bima memeluk istrinya.


Vero langsung berlutut mengumpulkan beberapa foto, air matanya menetes tidak bisa menahannya langsung menangis sesenggukan, melihat wanitanya, juga foto hasil USG.


Saka membantu Vero mengambil beberapa foto, melihat seorang wanita cantik berfoto bersama Vero. Windy juga melihat foto seorang wanita menggunakan baju dokter, memegang bunga bersama Vero.

__ADS_1


"Apa dia wanita yang kamu tinggalkan saat mengandung kak Vero? lihat anak kecil ini." Windy membantu Vero berdiri melihat satu foto bayi kecil yang bernama Meisya Alvero.


Semuanya terdiam, Vero memeluk foto yang Reva temukan. Tidak ada yang berani bertanya, hanya Windy yang meneteskan air matanya.


"Windy mereka hidup di sini, bertahun-tahun tinggal di hutan." Vero menangis dalam pelukan Windy.


"Sebenarnya siapa ini yang hilang?" Saka menggaruk kepalanya.


"Citra, Citra kamu di mana?" Vero teriak kuat berlari mengelilingi rumah memanggil nama Citra.


"Siapa Citra?" Reva menatap Bima.


"Wanita masa lalu Vero, dia wanita yang pernah Vero usir saat hamil. Membuat hubungan Vero dan Steven semakin berantakan, penyesalan Vero sudah terlambat karena perempuan itu menghilang bersama anak yang dia kandung." Bima mengehentikan Vero untuk tenang.


Jika memang Citra ada di hutan, mereka akan bertemu bagaimanapun caranya. Vero cukup bernafas lega karena bisa bertemu kembali.


"Kak Bima mereka menderita karena Vero."


"Tenang Vero, kamu sudah berusaha memperbaiki diri."


"Can maafkan aku, maafkan aku Can yang menyakiti kamu bahkan anakku sendiri." Vero berlutut mengacak rambutnya.


Rama mendekat memeluk Vero menguatkannya, meminta Vero berjuang menebus kesalahan. Walaupun sampai mati tidak bisa memaafkan diri sendiri, sebahagia apapun mereka.


Semuanya berpencar mencari, tetapi tidak ada tanda orang yang akan kembali pulang. Bahkan hampir siang tidak ada yang datang.


Saka berjalan melihat seseorang mengintip, langsung mengejarnya. Ravi dan Tian juga langsung membantu menangkap.


"Kami hanya berniat baik paman, ingin bertemu dengan orang yang ada di rumah ini." Erik menenangkan.


"Mereka sudah kembali bersama lima anak kecil, aku bertemu mereka di perjalanan."


"Siapa memangnya wanita yang tinggal di sini?"


"Cantika, dia memiliki seorang putra angkat dan anaknya Mei yang masih berusia lima tahun, mereka tinggal di sini sejak Can hamil, tiga tahun yang lalu Can tinggal dengan pria cacat."


"Kenapa Paman ke sini?"


"Barter dengan makanan dan kebutuhan pokok lainnya, Can di sini berkebun jadinya saya membeli hasil kebunnya."


"Dari mana mereka lewat?"


"Lurus jalan setapak, perjalanan cukup jauh karena harus lewat jalan berputar, jika lewat sana penuh rawa."

__ADS_1


Semuanya langsung berlari meninggalkan pondok, melewati jalan awal yang lebih cepat, daripada harus berputar.


***


__ADS_2