
Steven berjalan menuju apartemennya, tiga mahasiswa masih mengikutinya dengan wajah cemberut. Steven masuk membiarkan Windy, Wilona dan Lukas masuk.
Wilo langsung melihat seisi apartemen yang penuh dengan buku, Windy juga baru menyadari jika ruang tamu Steven lebih mirip perpustakaan.
Lukas juga melihat beberapa buku, mulai membacanya. Steven masuk kamar langsung mandi, berendam sebentar merilekskan pikiran juga tubuhnya yang pusing mengurus beberapa kasus.
Windy membuka kamar Steven, menutup mulutnya kaget melihat mewahnya kamar om Bule, bukan hanya rapi, tenang juga aroma kamar yang menenangkan.
"Astaga kamar om Bule bangus banget, Windy ingin tidur di sini." Windy langsung lompat ke atas kasur king size Steven yang bukan hanya kuas, tapi sangat nyaman.
Lama Windy menghirup bau tubuh Steven, langsung memejamkan matanya. Tidur dengan tersenyum bahagia.
Setelah hampir 30 menit Steven mandi, keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk di pinggangnya. Steven kaget melihat Windy tidur nyenyak di ranjangnya.
Steven lupa mengunci pintu kamarnya, melihat wanita cantik, seksi di atas ranjang membuat Steven mengigit bibir bawahnya.
"Aiishh sial, Win aku belum pernah mengizinkan wanita masuk kamar ini, khusus untuk istri. Tidak mungkin aku menjadikan kamu istriku." Gumam Steven pelan, langsung mencari baju sebelum Windy terbangun.
Setelah rapi Steven duduk dipinggir ranjang, menatap wajah kecil imut-imut Windy. Tangan Steven merapikan rambut Windy yang menutupi wajahnya.
Steven mengakui Windy sangat cantik, untuk gadis umur hampir 19 tahun, Windy terlihat sangat manja, karena dia dibesarkan penuh cinta oleh kedua orangtuanya.
"Kamu semakin besar, semakin cantik Win. Aku tidak bisa melihat kamu sebagai seorang adik apalagi putri. Om Steven juga membenci perasaan ini yang akan merusak kepercayaan kak Bima." Tatapan mata Steven melihat ke arah lantai.
"Windy bangun, kamu ingin makan apa?" Steven menepuk pelan wajah Windy, mendekati wajahnya mencium bibir Windy.
"Win, berhentilah pura-pura tidur. Bangun sekarang kamu dilarang masuk ke kamar laki-laki." Steven menatap, Windy yang tersenyum membuka matanya.
"Om kenapa mencium Win?" Windy memonyongkan bibirnya, meletakkan tangannya di leher Steven.
__ADS_1
"Kamu juga menginginkannya, sekarang ayo bangun tadi bilangnya ingin makan." Steven menarik Windy untuk bangun.
"Om Stev, bagaimana jika Windy ingin lebih dari ciuman? Windy ingin bercinta." Windy berdiri, tangannya masih di leher Steven.
Tatapan mata Steven marah, langsung mendorong Windy sampai terlempar di ranjang. Senyum kesal ditunjukkan wajah Steven, Steven terlihat tidak percaya dengan ucapan Windy.
"Kenapa kamu berpikir bodoh Win? selama ini aku pria dewasa tidak lebih dari ciuman, tapi kamu bisa berpikir sampai ke ranjang. Aku tidak akan memaafkan siapapun yang berani menyentuh kamu, termasuk diri aku sendiri." Steven meminta Windy keluar dari apartemennya.
Windy langsung bangun, senyum Windy terlihat senang melihat kemarahan Steven. Mami selalu mengajarinya jika dekat lelaki harus mengetesnya menjaga atau menyentuh, memberikan janji untuk bertanggung jawab.
Steven langsung duduk di pinggir ranjang, melihat Windy yang sudah keluar. Steven menyalahkan dirinya sendiri yang sudah mengajari Windy lebih.
"Maafkan aku kak Bima, aku seharusnya menjaga putrimu, tapi aku tidak bisa menahan diri melihat dirinya. Maafkan aku."
Di luar Windy berpikir Wilo dan Lukas sudah pulang, ternyata masih sibuk membaca buku sambil mengemil.
"Dari mana Win? lama sekali kamu membaca buku di sana, pasti ceritanya lebih seru. Ada si kancil dan buaya, atau kantong Doraemon." Wilo berbicara sambil masih fokus membaca.
"Lucu kamu Win, di sini penuh buku soal hukum, tidak ada cerita dongeng, cerita rakyat, apalagi cerita halu." Lukas berbicara terus sambil mencari buku yang lebih menarik.
Steven keluar kaget melihat bukunya sudah berada di lantai, Lukas sudah tiduran di paha Windy yang juga ikut membaca. Baju Windy terangkat memperlihatkan perutnya yang rata dan putih.
Kepala Lukas langsung di dorong menjauhi Windy, Steven meminta Windy duduk di sofa, menutupi perutnya.
"Lain kali jangan menggunakan baju yang kurang bahan, jangan pernah mengikuti tren di kalangan masyarakat asli." Steven menatap tajam Windy.
Windy hanya memonyongkan bibirnya, melanjutkan membaca buku. Steven melangkah ke dapur, mempersiapkan semua bahan untuk membuat makanan.
Berkali-kali Steven lewat membersihkan sisa cemilan, menyapu lantai. Steven tidak mempercayai sembarangan orang untuk mengurus rumahnya, dia melakukan banyak hal agar bisa nyaman.
__ADS_1
Lukas menutup bukunya menatap Wilo dan Windy yang masih asik membaca. Lukas duduk di depan Windy.
"Windy, ada sebuah kasus pembunuhan di dalam kapal pesiar. Seorang aktris internasional meninggal karena racun, padahal penjagaan sangat ketat, menurut kamu siapa pembunuhnya?" Lukas memberikan sebuah buku, Wilo juga mendekat membaca ulang kasusnya.
"Mungkin pengawalnya yang mendapatkan suap untuk membunuhnya, semua yang berada di dalam kamar bukan orang sembarangan. Berarti semuanya sudah direncanakan, sebelum kapal berangkat." Wilo menunjukkan argumentasi yang cukup kuat.
"Pengawalan ketat, tidak mungkin pelayan bisa memasukan racun ke dalam minuman. Bahkan sebelum kejadian sudah tertulis jelas dia belum makan dan minum." Lukas menata Wilo dan Windy yang sedang berpikir.
"Dia mungkin gila." Windy tertawa, otaknya benar-benar tidak sanggup berpikir jauh.
"Dia bunuh diri, saat masuk kapal penjagaan ketat, bahkan hanya ke toilet juga dijaga, minuman dan makanan sudah dicek, tidak ada masalah sama sekali. Dia mengkonsumsi obat pelangsing, tapi memasukkan satu racun, cepat atau lambat pasti akan di minum." Steven mengambil bekas minuman kaleng, langsung melemparkan ke dalam tempat sampah.
"Wow, orang yang hidup mewah saja bisa berpikir bunuh diri." Wilona tersenyum.
"Setiap orang punya beban hidup, tergantung cara mengatasinya. Kalian sudah kenyang silahkan pulang." Steven menunjukkan arah pintu.
"Makan juga belum Om." Wilo cemberut.
Windy langsung berdiri, Steven berpikir Windy ingin pulang, tapi ternyata salah. Windy berlari ke arah bau makanan yang sangat lezat. Wilo juga berdiri langsung mengejar Windy.
Teriak duo W terdengar, langsung duduk mengambil piring ingin mencicipi makanan Steven yang dari baunya sudah mengugah selera.
"Om Stev yang masak, ini nikmat sekali, tidak heran Windy suka masakan Om bule, secara tidak kalah dengan Restoran."
Steven duduk bersama Lukas, makan bersama menikmati masakan sederhana Steven, tapi bisa membuat lidah menari.
"Om, kasus yang baru saja Om Steven menangkan bisa saja balas dendam." Lukas menatap Steven yang masih saja mengunyah makanannya.
"Mereka tidak akan tinggal diam, perlahan akan menyewa orang untuk membunuh. Bagi orang kaya jika menolak uang mereka sama saja mencari kematian." Steven melihat Windy yang sudah menjatuhkan sendok makan.
__ADS_1
"Om tahu ini berbahaya, tapi masih diteruskan?" Windy menatap kesal.
***