MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 TERIMAKASIH (TAMAT)


__ADS_3

Senyuman Steven terlihat menatap putranya sudah menggendong tas ranselnya, sedangkan Windy sudah melotot melihat Wira membawa pedang.


"Ingin ke mana kamu Wira?" tatapan Windy tajam, binggung melihat Steven yang tertawa melihat tingkah putranya.


"Pulang ke Indonesia, Wira ingin merayakan ulang tahun." Senyuman tampan anak kecil yang tidak pernah berhenti berbicara, jika tidak tidur maka suara Wira terus terdengar.


"Pedangnya tinggalkan sayang, kita naik pesawat tidak mungkin membawa pedang." Stev mengambil pedang putranya, tapi langsung ditarik kembali.


Wira memeluk erat pedangnya, Windy menepuk jidatnya langsung masuk ke dalam mobil. Stev akhirnya membiarkan Wira membawa pedang.


Di bandara Stev tertawa melihat putranya berlari membawa pedang, sedangkan Windy menutupi wajahnya karena menahan malu melihat tingkah putranya yang mirip preman


Di dalam pesawat Wira tidak bisa duduk tenang, dia memeluk pedangnya. Windy sangat penasaran untuk apa Wira membawa pedang panjang.


"Wira, kamu tidak malu dilihatin orang?"


"Kenapa harus malu, Wira tampan." Senyuman Wira terlihat, Windy hanya bisa menghela nafasnya.


"Memangnya untuk apa pedang itu?" melihat Wira, membuat emosi Windy terus naik.


"Memukul Aunty Winda." Senyuman jahat Wira terlihat, Steven terkejut sedangkan Windy melotot tajam ingin merampas pedang Wira.


Tatapan mata Wira lebih tajam, dia ingin membalas Winda yang tidak pernah mengalah darinya.


Kedatangan Wira disambut oleh Bima dan Reva, senyuman pasangan yang tidak menua, Wira merentangkan tangannya menyambut Kakek dan neneknya.


Senyuman Windy dan Steven terlihat, Bima langsung menggendong Wira. Pedang Wira juga dijatuhkan agar tidak melukai kakeknya.


"Nek mud Wira kangen." Ciuman Wira mendarat di pipi Reva yang langsung memeluk cucu kesayangannya.


"Wira sayang, ingin pesta ulangtahun seperti apa?" Reva menggandeng tangan cucu lelakinya.


"Tahun ini tidak ingin pesta besar nek mud, Wira hanya ingin berkumpul dengan keluarga kita. Makan malam bersama penuh canda dan tawa." Senyuman Wira terlihat, menarik pedangnya.


Bima tersenyum Steven memang hebat mendidik anak sekecil Wira yang sudah belajar arti pentingnya keluarga, Bima ingin anak cucunya hidup sederhana juga tidak lupa untuk bersedekah dengan orang lain.


Sejak kecil Wira sudah belajar untuk berbagi kepada orang lain, menjalankan sholat bahkan mengaji di bawah pengawasan Steven.


Reva selalu tertawa setiap melihat Wira, dia sangat menggemaskan juga selalu bisa membuat sakit perut, karena ulahnya yang nakal.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Wira langsung tersenyum langsung membawa pedangnya, untuk memukul Winda.


Langkah Wira terhenti, Winda berdiri sambil memegang pentungan bersama Vira, Bella, Billa.


Windy langsung berlari lagi keluar, tertawa lepas memeluk Steven menceritakan kelucuan di dalam rumah.


"Assalamualaikum Aunty." Wira tersenyum mencium tangan Winda, Vira, Bella dan Billa.


Rencana Wira ingin menyerang wanita pemarah dalam keluarga Bramasta, tapi mengurungkan niatnya setelah melihat pentungan Winda ada empat.


Senyuman licik Winda terlihat, langsung melangkah pergi membiarkan Wira bermain sendiri. Senyuman Wira terlihat langsung masuk kamar Wildan.


Uncle tertampan yang jarang pulang ke rumah, Wildan sangat sulit dia temuin, karena jadwal Wildan sangat padat.


"Aunty Win, boleh Wira bertanya sesuatu?"


"Apa." Winda menatap tajam, dia yakin pasti ada sesuatu yang Wira rencanakan.


"Dalam satu tahun ada berapa bulan yang dua puluh delapan hari?" Wira duduk tersenyum melihat Winda yang sedang menatapnya tajam


"Kamu apa jawabnya, jangan bilang kamu tidak tahu?" Winda menatap Vira, Bella dan Billa.


"Emmhh hanya ada satu February." Vira menjawab dengan bangga.


"Kebanyakan gaya kamu Wira, memangnya apa jawabnya? sebutkan juga alasannya?" Vira teriak kuat.


"Dua belas bulan, karena setiap bulan pasti lebih dari dua puluh delapan hari. Jadi jawabannya dua belas." Wildan muncul menatap Vira yang menatap lemas.


Wira tertawa kuat, dia sangat senang melihat keempat aunty nya terlihat bodoh.


Winda tersenyum melihat Vira, dia juga tidak tahu jawabannya. Bella juga sama binggungnya, bukan karena bodoh, tapi soalnya terlihat jebakan.


Suara tertawa Wira tidak ingin berhenti, dia sangat puas melihat kebodohan orang dewasa, Bima sampai memeluk cucunya yang lompat-lompat bahagia.


***


Acara ulang tahun Wira yang yang ketiga tidak dirayakan besar-besaran, bukan karena kedua orangtuanya tidak mampu. Wira merasa moments terpenting kebersamaan seluruh keluarga.


Senyuman Wira terlihat, menatap kado dari keluarganya saja sangat banyak. Semua yang Wira inginkan sudah tersedia sejak dia kecil.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu ingin ulang tahun hanya keluarga inti?" Reva mengusap kepala cucunya.


"Karena Wira hanya satu-satunya, sebagai cucu utama Wira ingin semuanya mengenal baik Wira sampai nanti akan ada cucu selanjutnya. Kata kakek kemewahan bukan sumber kebahagiaan, karena bahagia sesungguhnya saat kita bersama keluarga tercinta. Wira ingin melihat nyata inilah sumber kebahagiaan Wira."


"Kamu masih kecil Wira cukup tahu bahagia, kami semua akan memberikan itu kepada kamu." Viana mencium wajah tampan Steven kecil.


"Nek mud Vi, Wira bahagia ada mommy, Daddy, kakek, nenek, Aunty, Uncle yang selalu mengelilingi Wira. Terkadang kalian tertawa, marah, menangis, kesal kepada Wira. Nanti setelah Wira besar, lalu ada adik kecil kalian akan melupakan Wira, jadi biarkan sekarang Wira berkuasa." Senyuman mengemaskan terlihat, Jum mengusap kepala Wira.


"Sebanyak apapun pengganti kamu, tidak akan pernah bisa mengantikan posisi Wira di hati kami. Kamu anak pintar, tampan, baik, meskipun sangat nakal."


Senyuman Wira terlihat menatap Daddy dan Mommynya, Wira tahu betapa spesialnya dirinya di hati seluruh keluarganya.


Di dalam doa Wira ingin selalu melalui setiap tahun bersama keluarganya, tanpa ada kekurangan.


Steven memeluk Wira yang menciumi pipinya, Wira ingin membagikan seluruh kadonya untuk panti asuhan, memberikan makanan ulang tahunnya untuk anak jalanan.


Windy meneteskan air matanya, didikan Steven kepada putra kecilnya sangat sama seperti Papinya yang dulu selalu mengajari Windy untuk terus berbagi.


Putranya sangat cerdas mirip Daddy-nya yang sangat mudah memahami sesuatu, kenakalan Wira hanyalah salah satu kelebihan dirinya yang spesial di mata Windy.


Steven memeluk pinggang Windy, mencium kening istrinya tercinta.


"Sayang terima kasih untuk buah cinta yang sudah kamu didik dengan baik. Aku menjadi lelaki paling beruntung memiliki kamu." Steven mengusap wajah Windy.


"Tidak Ay, kamu memiliki peran yang sangat besar dalam membesarkan putra kita. Terimakasih sudah menjadi imam yang baik untuk Windy dan Wira, selalu sabar menghadapi kami berdua." Windy meneteskan air matanya, memeluk Steven tanpa bisa menahan air matanya.


Semua orang yang melihat meneteskan air matanya, sangat tahu perjuangan panjang Windy dan Steven sampai akhirnya bisa bersama.


Sudah terlalu banyak air mata yang mengalir, sudah banyak pengorbanan yang terbuang, penantian yang sangat panjang sampai mereka tiba di titik yang sekarang.


"Selamat ulang tahun Wira, selamat bahagia Windy Steven." Senyuman Reva terlihat mengusap air matanya, memeluk lengan Bima yang terlihat sangat bahagia.


"Tidak ada kebahagiaan ini tanpa Papi, tidak akan sekuat ini tanpa Mami, Windy dan Ay Stev bahagia karena doa dan restu kalian. Terimakasih sudah menangis dan tertawa bersama Windy. Mami Windy sekarang bahagia, jangan khawatir lagi." Windy memeluk Stev yang memeluk Windy penuh cinta.


"Terimakasih untuk seluruh peran baik dalam perjalanan dan kebahagiaan kami." Stev tersenyum menatap seluruh keluarga yang juga tersenyum.


Windy dan Steven bahagia melihat mereka yang sekarang, lebih bahagia lagi setelah kehadiran Wira di dalam hidup mereka.


Perjalanan cinta dan kebahagiaan mereka masih panjang, tapi cerita mereka berakhir di sini.

__ADS_1


***


SAMPAI BERTEMU SEASON 3


__ADS_2