MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 MALAM *


__ADS_3

Steven masih berkumpul bersama banyak orang, minum dan bersantai sambil mengobrol.


Pesta sudah lama usai, tapi hotel masih saja ramai karena keluarga terus berdatangan.


Steven langsung pamit, tapi masih ditahan oleh kakeknya Windy meminta Steven mengikutinya.


"Apa kabar kamu Stev? terakhir kakek melihat kamu saat pernikahan Bima."


"Iya kek, maafkan Stev yang lama tidak menyapa."


"Waktu cepat sekali berlalu, tidak terasa cucu kecilku akhirnya menikah." Tetesan air mata terlihat di balik wajah keriput.


"Steven akan mencintai melebihi besarnya cinta kalian." Steven merangkul kakek, tersenyum melihat lelaki tua yang membesarkan seorang Reva wanita pencinta duren.


Kakek mengigat saat pertama Bima datang ke kediaman mereka, mendapatkan tamu pria tampan, sukses juga dengan niat baik membuat Ayah Reva bahagia.


Bima mengakui jika pernah menikah, juga memiliki seorang putri. Bima tidak tertarik pacaran, karena menghindari dosa.


"Kakek sangat bahagia Reva dinikahi lelaki bertanggung jawab, sopan, juga taat beribadah seperti Bima. Kakek ingin kamu mencontoh hal baik dari Papi agar keluarga kamu harmonis."


"Iya kakek, terima kasih nasehatnya."


"Jangan kamu buat cucu kesayangan Kakek bersedih, Steven awal pernikahan memang manis, tapi akan ada yang namanya jalan berbelok, berlubang begitupun dengan rumah tangga. Tidak ada rumah tangga yang sempurna, karena itu kalian harus saling menyempurnakan." Kakek menepuk punggung Steven yang tersenyum menganggukkan kepalanya.


Winda duduk santai menatap Steven, Bella dan Vira hanya menonton sambil menguyah makanan.


"Kasihan kak Stev diceramahi kakek, Winda yakin pasti tidak akan ada habisnya."


"Kakek Bella tidak cerewet, tapi jika dia bicara diulang-ulang terus, dalam satu menit tiga kali ulang, pusing kepala Bella hanya kak Tian yang sanggup menemaninya bicara." Bella menghela nafas melihat kakeknya mendekati Steven.


"Mati, kak Stev bisa berbusa mulutnya." Vira mengusap dada.


Steven tersenyum melihat ayahnya Jum mendekati, mengusap kepala Steven sambil tersenyum.


"Steven, kamu tampan sekali."


"Terima kasih Kakek."


"Dia cucu menantu saya pak."


"Iya, Steven ganteng."


"Terima kasih Kakek."


"Kamu harus bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anak kamu, cepat dapat momongan." Kakek tertawa lucu.


Steven ikut tertawa tidak mengerti yang diucapkan kakek, hanya mengiyakan apapun yang dia katakan.


"Steven?"


"Iya kakek."


"Kamu tampan sekali."


Steven menggaruk kepalanya, duduk Steven mulai tidak tenang melihat dua pria tua yang berdebat.


"Ingat pesan kakek Steven."


"Iya kek."


"Keturunan kamu pasti tampan Stev, kamu tampan sekali."


"Berapa kali kamu mengulanginya?"


"Baru pertama kali aku bertanya."


Steven melerai dua kakek yang berdebat, Tian melangkah mendekati merangkul kakeknya.

__ADS_1


"Cucu kesayangan, dia anak baik. Bastian namanya, tapi panggilan di kampung yoyo."


"Kakek, sudah waktunya kita beristirahat nanti Bunda marah." Tian tersenyum membawa dua Kakek pergi.


"Steven."


"Iya kek."


"Kamu tampan sekali."


"Terima kasih Kakek." Steven tertawa.


Suara tawa Winda dan Bella terdengar, hanya Vira yang terlihat karena dua bocah sembunyi tidak ingin diceramahi.


"Winda, Bella, Vira kemarilah."


"Ada apa kak?"


"Kalian berempat jangan tidur di kamar kak Stev lagi ya."


"Kenapa?"


"Karena ini malam pertama."


"Om Steven sudah tua, sudah banyak malam yang Om lewati." Seorang anak kecil lewat memarahi Steven.


"Diam." Vira membanting sepupunya, putri Verrel yang langsung menangis.


Vira langsung melarikan diri, dia tidak menyukai sepupunya yang selalu mendekati Wildan.


Steven mengendong memberikan kepada Verrel, langsung melangkah ke lantai atas untuk beristirahat.


"Sudah ingin tidur Stev?" Reva masuk lift bersama Steven.


"Menurut Lo." Steven tersenyum.


"Reva, aku sangat mencintai Windy. Dulu kamu sangat tidak menyukai pergaulan aku, tapi aku berjanji akan setia sampai mati."


"Ya, jika Lo menyakiti anak gue, hancur hidup Lo Stev." Reva langsung melangkah keluar lift.


Steven tersenyum, panggilan Lo gue yang Reva dan Stev gunakan saat mereka sedang kuliah, sikap jutek, pemarah selalu Reva tunjukkan agar tidak ada perempuan yang mencintai Steven sampai mereka melakukan perjanjian jomblo.


Steven berlari menuju kamar pengantin, mengetuk pintu sampai Windy terlihat membukakan pintu."


"Belum tidur."


"Belum, masih mengeringkan rambut."


Steven mencium pipi Windy, memintanya menunggu sebentar karena dia ingin mandi.


"Sayang, hari ini ... tidak jadi." Steven langsung masuk kamar mandi.


Windy tertawa, Steven tidak percaya diri membahas malam pertamanya. Windy lanjut mengeringkan rambutnya setelahnya menunggu Stev di atas ranjang.


Senyuman Windy terlihat menatap punggung Steven yang hanya menggunakan handuk, tatapan mata keduanya bertemu.


"Ada apa?"


"Tidak, Windy deg-degan."


Steven mendekati Windy mencium keningnya, tangan Windy menyentuh air yang masih mengalir di dada Stev langsung menarik Steven ke dalam pelukannya.


"Kamu sudah siap Win?" Steven menakup wajah istrinya mendekati bibir tipis yang sangat menggoda.


Merasakan bibir Windy yang manis, tapi tidak merasakan balasan Steven berhenti meminta Windy tidur.


"Ay, Windy sudah siap."

__ADS_1


"Lalu kenapa bibirnya tidak membalas?"


"Soalnya ingin menjawab dulu." Windy tertawa melihat wajah Steven.


Windy merasakan tangan Stev mengangkat baju seksinya, menyentuh dadanya menciumi leher Windy.


Aroma wangi tercium membuat gairah semakin memuncak, Windy memeluk tubuh Steven menjambak rambutnya yang masih basah.


Hampir tiga puluh menit pemanasan, Steven melempar baju Windy melihat tubuh indah istrinya.


Handuk yang melilit di pinggang Stev sudah disingkirkan, Windy memejamkan matanya tidak siap melihat lelaki tampan di atas tubuhnya.


"Sayang, sudah yakin siap."


"Tunggu Ay, Windy takut."


"Pertama bagi aku Win, jadi kita belajar bersama-sama ikuti naluri saja, jika sakit bilang ya sayang." Steven membacakan doa ditelinga Windy.


Tangan Windy menutup mulutnya, satu tangannya mencengkram lengan kekar Stev. Suara Windy terdengar karena sentuhan yang membuat tubuhnya yang tidak terkontrol.


"Aku masuk ya, kamu tahan sebentar." Steven menekan, Windy teriak meminta Stev berhenti.


"AW sakit." Windy meringis.


"Kita lanjut besok saja, malam ini cukup sampai di sini."


"Sekarang, Windy ingin sekarang, tapi pelan-pelan." Windy menutup wajahnya malu.


Steven mencium kening Windy, menganggukkan kepalanya.


Steven mendorong kembali, Windy menutup mulutnya mencengkram kuat lengan Steven menancapkan kukunya.


Air mata Windy ikut mengalir, merasakan sakit teramat sakit bagian bawahnya.


Pintu kamar diketuk, konsentrasi Steven langsung buyar, Windy juga kaget.


"Siapa Ay?"


"Biarkan saja sayang, nanggung." Steven melanjutkan aktivitasnya.


Suara ketukan, gedoran, tidak menghentikan malam pertama pengantin baru yang saling mereguk kenikmatan.


"Kak Windy, kak Steven numpang tidur." Winda teriak kuat.


"Vira juga, ingin tidur di atas bunga mawar."


"Sebentar saja, besok kita pulang." Bella memukul, menendang pintu, tapi tidak mendapatkan jawaban sama sekali.


"Gagal lagi tidur di bunga mawar." Winda berjalan menunduk kembali ke kamarnya.


***




STEVEN ALVARO




WINDY BRAMASTA


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2