MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 KUMPUL KELUARGA


__ADS_3

Pesta pernikahan sudah di depan mata, undangan sudah disebarkan, keluarga terdekat sudah kumpul di hotel.


Vero sekeluarga juga sudah datang, bahkan Raja, Ratu dan putra mahkota sudah tiba membawa hadiah yang luar biasa untuk Putri Cana.


Segala prosesi adat dilakukan secara mewah, Windy dan Steven tersenyum bahagia melewati satu-persatu acara mendekati hari pernikahan mereka.


Melihat keluarga, sahabat, juga orang-orang terdekat berkumpul menjadi momen paling berharga di dalam hidup.


"Steven." Saka tersenyum mendekat bersama Ghina, Bagus dan istri juga anaknya.


"Tamu tidak diundang." Steven tertawa mendekati sahabatnya juga pernah menjadi tim setiap memecahkan masalah.


"Steven, kita tidak bisa membawa hadiah mahal, tapi semoga kehadiran kita menambah kebahagiaan kamu." Bagus tertawa.


"Aku pasti bahagia, jika kamu membawakan hadiah." Stev tertawa langsung menggendong Mei.


"Sejak kapan Steven menghitung soal barang." Saka mencubit gemas wajah Steven membuat banyak orang tertawa.


"Jijik!" Stev menjauhi Saka.


"Di mana mempelai wanita?"


"Buat apa kamu mencari dia?" Steven merangkul Windy yang tersenyum.


Semua orang langsung menuju hotel karena langsung menginap di sana selama tiga hari sampai acara selesai, hotel sudah dikosongkan sejak satu bulan sebelum pernikahan, sehingga tidak ada orang luar selain keluarga yang sudah di kumpulkan terlebih dahulu.


Sebelum besok pagi Steven mengucapkan ijab kabul, menghalalkan Windy seharian keduanya tidak diizinkan bertemu.


Berada dalam satu hotel, tapi berdiam diri di kamar masing-masing.


Senyuman Windy terlihat saat Steven melakukan panggilan video, mendengar suara suaminya membuat Windy tersenyum malu-malu karena tinggal hitungan jam dia akan berganti status.


"Kak Stev, Ravi sejak kecil bersahabat dengan kak Windy dia belum pernah tersenyum bahagia seperti itu." Ravi tidur di atas ranjang menatap Steven yang mematikan panggilannya.


"Sejak usia berapa kalian saling mengenal?"


"Saat Ravi tidak memiliki teman, kak Windy wanita baik juga dewasa sekali."


Steven tersenyum, meminta Ravi jangan terlalu dekat dengan Windy. Ravi terlalu muda untuk dijadikan saingan, tapi tetap saja pesona putra utama Prasetya menjadi rebutan.


"Kak Stev jangan takut, cinta kak Windy sudah berhenti di kak Stev sejak dia tahu rasa kagum dengan lawan jenis."


"Kamu punya pacar?"


"Pertanyaan pria jomblo, pria setampan Ravi mana mungkin tidak punya pacar. Kak Stev tidak tahu saja banyaknya wanita yang berkelahi karena Ravi."


"Tian lebih tampan dari kamu?"


"Percuma dia tampan, tapi tidak ada wanita yang menarik perhatiannya."

__ADS_1


"Kamu ada?" Steven tertawa.


Ravi tertawa menceritakan pacarnya yang mempunyai body seperti gitar spanyol, dadanya besar seperti gendang.


Stev mengerutkan keningnya mendengar cerita Ravi yang menjelaskan detail soal wanita, Steven juga playboy, tapi sangat cuek dengan wanita.


"Assalamualaikum." Erik langsung masuk bersama Tian.


"Dari mana kamu Rik?"


"Ketemu temannya kak Tian, dia punya adik namanya Cinta, Erik langsung jatuh cinta." Tawa Erik terdengar.


Steven mengerutkan keningnya, menatap Ravi yang langsung semangat membicarakan wanita, tapi berbeda dengan Tian yang diam saja.


"Menjadi Playboy boleh, tapi ingat harus tahu batasan. Seburuk-buruk wanita, dia membutuhkan kepastian, jika tidak yakin jangan melangkah terlalu dalam, karena jika sudah masuk kalian sulit mencari yang terbaik." Steven menatap Erik dan Ravi yang tersenyum.


"Kak Stev memiliki banyak pacar, apa saja yang sudah kalian lakukan?"


"Peluk, menggenggam tangan, ciuman, sudah sampai situ saja."


"Kak Stev hidup di negara luar, bukannya pergaulannya bebas?" Tian menatap Stev.


"Kamu benar Tian, banyak wanita yang memberikan tubuhnya, tapi aku tidak yakin dia pantas tidak menjadi istriku. Menikah cukup satu kali, aku tidak ingin ada perceraian."


Ravi dan Erik langsung duduk diam, membayangkan ucapan Steven. Jika salah memilih wanita kemungkinan besar adanya perceraian.


"Ravi pacaran sesuai undang-undang."


"Erik juga, sesuai tuntunan hak dan kewajiban pacaran."


"Ravi, kamu penerus keluarga Prasetya jaga diri jangan mengecewakan, jaga nama baik keluarga kamu. Kamu juga Erik, ingat Papa kamu seorang aparat jangan sembarang."


"Siap kak Stev, kita akan menjadi Playboy yang menaati aturan, menjaga diri sendiri juga keluarga."


Bastian tertawa melihat kekonyolan Ravi, Erik yang memberikan hormat kepada Steven.


"Kamu jangan tertawa Tian, bagaimanapun status kamu juga bukan orang sembarangan."


"Dengarkan itu Tian." Ravi merampas ponsel Tian yang layar handphonenya foto twins B.


"Kak Tian Bella jatuh di kamar mandi." Erik memperlihatkan rekaman yang ditunjukkan di grup keluarga.


Tanpa banyak bicara Tian langsung berlari keluar, Ravi dan Erik langsung mengejarnya. Steven juga langsung melangkah keluar mengejar tiga pria yang masuk ke kamar Bella.


Stev melihat di dalam kamar sudah ramai orang, Bella menangis sesenggukan dalam pelukan Tian yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.


"Bisa tidak sehari saja kalian berempat tidak membuat masalah, kita sedang ada pesta untuk kakak kalian, tapi adiknya bukan mendukung, menyemangati, tapi sibuk sendiri, bermainnya kelewatan sampai ada yang terluka." Reva menatap tajam tiga remaja yang berdiri dipojokan.


Billa sudah menangis sesenggukan, Winda meremas kedua tangannya melihat Bella yang kakinya sudah dibalut kain putih, kepalanya juga sudah obati.

__ADS_1


"Apa ini namanya sahabat? kepala Bella bisa pecah, besok ada pesta Bella tidak bisa ikut karena terluka." Viana menatap tajam.


Steven langsung mendekati Winda, menggenggam tangannya yang panas dingin karena ketakutan.


"Winda."


Suara tangisan Winda langsung pecah, menyembunyikan wajahnya di dada Stev yang mengusap punggungnya untuk tenang.


Semuanya langsung diam, menatap Winda khawatir jika Winda menangis berarti dia sedang ketakutan.


Reva meminta Stev membawa Winda keluar, meminta Billa dan Vira juga kembali ke kamar Windy.


"Winda jangan menangis, kepala Bella belum belah." Vira menggenggam tangan Winda yang berada dalam gendongan Stev.


Suara Steven tertawa terdengar, Vira langsung memukuli tubuh Stev, Winda langsung turun tertawa memeluk Steven.


"Sudah membocorkan kepala orang, masih sempat ketawa juga ini anak nakal." Reva menghela nafasnya.


"Namanya juga mereka sedang mencari jati diri Reva, biarkan saja karena Bella juga memang nakal." Jum tersenyum.


"Sekali saja kamu marahin Winda sama Vira Jum."


"Tidak tega kak Vi, mereka terlalu mengemaskan."


"Tapi setiap hari memarahi Bella." Bel langsung berlari bercanda dengan Vira dan Winda.


"Katanya tidak bisa pesta, sekarang dia sudah bisa berlari." Reva menggelengkan kepalanya.


Steven berdiri menatap tiga anak yang sudah kembali tertawa, mereka mudah bertengkar, mudah juga berbaikan.


Windy tersenyum menatap Steven dari kejauhan, alasan pertama Windy jatuh cinta karena ada kelembutan terhadap anak-anak di hati Stev.


***


MAAFKAN JIKA TULISAN TIDAK RAPI KARENA BELUM SEMPAT REVISI, BULAN INI ADA TIGA NOVEL ON GOING.


SUAMI MASIH ABG S3


MENGEJAR CINTA OM DUREN S2


SUAMIKU BOS KEJAM KU APK KUNING


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2