
Tangisan Winda pecah, Ar sudah sadar meminta istrinya mendekat. Ar bukan panik melihat dirinya, tapi melihat Winda yang menangis histeris.
"Winda sini." Ar langsung ingin berdiri, melepaskan infus melihat istrinya.
"Abi." Winda melihat infus semakin lemas.
"Winda, aku baik-baik saja hanya kelelahan. Jangan menangis, hati aku sakit melihatnya." Ar memeluk erat, mengusap kepala Winda.
Melihat Winda menangis, Ar juga meneteskan air matanya. Mengusap punggung istrinya yang menangis sesenggukan.
Ravi mendekati Erik, mempertanyakan keadaan Ar yang mendadak pingsan.
"Bagaimana kondisi Ar?"
"Baik-baik saja, selain lelah dia juga sepertinya sedang dalam kondisi ngidam. Mual, pusing disebabkan bawaan." Erik tersenyum berharap dugaannya benar.
"Winda hamil?"Tian berbisik.
"Mungkin, Erik bukan dokter kandungan, soalnya dulu saat Billa hamil juga merasakan yang Ar rasakan, karena melihat medis dia sehat."
"Sama Rik aku juga, istri yang hamil aku yang muntah-muntah."
"Tian juga, makannya banyak cuti. Sekarang saja yang sudah normal. Waktu trimester pertama berat." Tian tersenyum melihat Ar yang sangat menyayangi Winda.
"Mungkin ini juga alasan, dua lebih baik." Ravi dan Erik bersalaman.
Ravi lebih parah lagi, istrinya melahirkan sesar lama libur hampir lima bulan, karena demi keamanan istrinya juga konsentrasi mengurus anaknya.
"Winda, Ar baik-baik saja. Duduk sini kak Erik obati kaki kamu."
"Tidak mau." Tangisan Winda masih terdengar.
"Obati dulu sayang, kamu sampai jatuh. Apa saja yang sakit?" Ar mengambil tisu menghapus air mata Winda.
"Maafkan Winda Abi, ini salah Winda."
"Tidak sayang, ada saatnya tubuh kita melemah, berarti sudah waktunya beristirahat. Kamu. Kamu tidak salah, aku yang kurang menjaga diri." Suara lembut masih terdengar, menenangkan Winda yang terus menangis.
Pintu kamar terbuka, Reva kaget melihat Ar diinfus. Erik juga mengobati kaki Winda yang berdarah.
"Sakit apa Rena Rik?" Reva menyentuh kening Ar, menatap cemas.
"Kelelahan, Ar mungkin terlalu berambisi."
__ADS_1
Reva langsung mengomel, melarang Ar untuk bekerja jika mengabaikan kesehatannya. Sudah selalu diperingatkan jika sehat penting, tidak ada harganya.
"Ar juga binggung mam, beberapa hari ini mual jika melihat matahari. Kepala juga mendadak pusing, susah makan, mungkin karena itu melemah." Ar meminta maaf karena lalai menjaga kesehatannya.
Bima mengusap kepala Winda, memintanya untuk tenang. Ar baik-baik saja, jadi jangan terlalu berlarut. Winda juga harus menjaga kesehatannya, bukan sekedar menjaga dirinya sendiri.
Dalam beberapa minggu ini, Bima meminta Ar untuk beristirahat total. Memulihkan kondisinya yang sampai jatuh pingsan.
"Papi lihat bibir Abi, Winda tidak bisa menciumnya lagi." Tangisan Winda terdengar, melihat bibir Ar terluka.
"Berarti kamu harus sabar untuk beberapa minggu Win, nanti sembuh."
"Bukan salah Winda, tapi cincin yang salah. Kenapa Winda yang merana? satu hari saja tidak sanggup jika tidak merasakannya."
"Jujur sekali Win?" Erik melihat bibir Ar, luka memang cukup dalam karena bengkak juga, tapi tidak terlihat karena bibir Ar seksi.
"Gunakan yang di atas saja Win." Ravi langsung tertawa, diikuti oleh yang lainnya.
Tangisan Winda semakin kuat, Ar langsung mencium bibir Winda mengatakan jika bibirnya baik-baik saja, tatapan Ravi tajam merindukan istrinya.
Tian tersenyum melihat cara Ar menenangkan gadis manja Bramasta, si bungsu yang selalu dilindungi banyak orang.
Reva mendekati Ar, membisikkan sesuatu soal tes pack yang mereka temukan. Air mata Ar langsung menetes, menutup wajahnya mengucapkan Alhamdulillah.
Melupakan rasa sakitnya langsung sujud syukur, Reva memeluk Ar yang terus menangis. Dia tidak percaya mendapatkan kepercayaan untuk menjadi Ayah.
Bima juga meneteskan air matanya, merasakan bahagianya Ar yang mendapatkan kepercayaan. Reva melangkah mendekati Bima langsung memeluknya, bahagia melihat keluarga kecil putrinya.
"Ada apa?" Winda kebingungan, melihat reaksi Ar yang aneh.
Dugaan Erik tepat, Winda memang sedang berisi. Ravi dan Tian saling pandang belum tahu apapun.
Tangan Ar menyentuh perut Winda, mengusapnya sangat lembut.
"Sayang kita periksa dia, kak Erik tolong buka infusnya."
Ar sudah tidak sabar ingin melihat hasil anaknya, harapan terbesarnya untuk tahu jika istrinya sedang berbadan dua.
"Ada apa Abi?"
"Kata mami kemungkinan kamu ...." Pintu terbuka, Ar melihat ke arah pintu diikuti oleh yang lainnya.
Viana langsung melangkah cepat melihat Ar mengusap air matanya. Wajah Vi terlihat sangat khawatir, Rama juga sama khawatirnya.
__ADS_1
"Sakit apa Rik? ya Allah bibir kamu kenapa sayang? kenapa kamu pingsan? Erik sakit apa adik kamu?"
"Sakit ngidam Mom, biasalah ikatan Ayah sama baby lebih dekat hasilnya begitu." Erik tersenyum menatap Ar yang juga tertawa saja.
"Sakit apa kak? maafkan Wil yang lepas tanggung jawab, seharusnya Wil yang akan menyelesaikan proyek." Wildan merasa bersalah melihat keadaan Ar.
"Ar tidak ingin membahas soal sakit, lebih baik ke dokter kandungan dulu. Ar ingin melihat hasilnya, kak Erik tolong dilepaskan." Ar langsung berdiri.
Ravi mengambil infus, karena Erik belum mengizinkan dilepas. Vira menatap Winda yang wajahnya sayu karena banyak menangis.
Pelukan hangat dari Vira menenangkan sahabatnya, meminta Winda sabar dan tidak boleh sedih.
"Jangan menangis, Vira juga sedih kalau Winda sedih."
"Benar tidak soal hasil tes pack?" Winda menghapus air matanya.
Vira menunjukkan hasil USG anaknya, Winda langsung memeluk erat, memberikan selamat untuk Vira yang akan menjadi ibu.
Tangan Winda mengusap perut Vira, menyentuh perutnya berharap dia juga hamil seperti Vira.
Wildan memeluk Winda, memeluk Vira juga menyakinkan keduanya untuk selalu bahagia, Winda juga apapun hasilnya harus tetap happy.
Semuanya berjalan ke arah ruangan dokter Nisa, senyuman dokter cantik menyambut Winda melarangnya untuk tes pack langsung USG saja.
Ar menggenggam tangan Winda, satu tangannya masih diinfus menenangkan istrinya.
Vira, Viana dan Reva langsung teriak bahagia melihat ke arah alat pendeteksi. Vira langsung memeluk Wildan, Viana dan Reva juga berpelukan melihat jika Winda juga hamil.
Winda menutup matanya, tangisannya pecah bersamaan dengan Ar yang juga langsung menciuminya sangat bahagia melihat hasilnya.
Dokter Nisa meneteskan air matanya, suara keluarga yang di luar juga berteriak bahagia.
Winda dan Ar berpelukan, langsung menghubungi ummi yang ada di luar negeri mengatakan Winda hamil.
Teriakan bahagia juga terdengar dari seberang,, semuanya tersenyum bahagia mendoakan Winda sehat bersama bayinya.
"Tidak ada yang ingin tahu berapa usianya?" Dokter Nana tersenyum melihat keluarga yang tertawa sambil menangis.
"Berapa bulan dok?"
"Masuk sepuluh minggu, janin sehat ibunya juga sehat. Dokter bahagia melihat pasangan yang saling mengatakan cinta.
Di luar kamar juga Bisma sekeluarga menyambut bahagia, langsung saling berpelukan.
__ADS_1
Winda juga memeluk Vira, Bella, Billa, Binar juga Kasih. Mereka bersyukur untuk semua cinta yang datang.
***