
"Reva bangun, ayo sholat dulu." Bima membangun Reva yang tidur di rumah sakit menemani Viana, Ravi juga tidur dalam pelukannya. Jum juga sudah keluar dari kamar mandi selesai mengambil wudhu.
Cepat Reva bangkit berdiri, Ravi juga sudah dalam gendongan Rama, para lelaki akan sholat di masjid. Vira juga terbangun, cepat Rama mendekat.
Ravi berjalan melihat Reva, keningnya berkerut melihat sesuatu mengotori baju Reva.
"Aunty, Kenapa bajunya ada darah? Ravi tidak suka, aunty mau melahirkan juga?" Ravi langsung berlari mendekati Bisma yang baru datang.
Bima melihat kearah Reva, mengambil jaketnya dan mengikat pinggang Reva.
"Kamu halangan! nanti pulang dari masjid aku belikan baju."
"Di mobil Ayy ada baju, beli pembalut sama pakaian dalam saja." Reva melihat bagian belakangnya yang merah semua.
"Siapa yang beli?" Bima menatap Reva membuat Rama tersenyum.
"Ya Ayy?!"
"Malu Va," Bima mengaruk kepalanya, Rama langsung tertawa karena dia pernah terkena masalah saat membeli pembalut.
"Ya sudah kalau malu, sana ke masjid." Reva menggelengkan kepalanya.
"Jadi Siapa yang beli?" Bima sudah memutar badannya, tapi langsung balik lagi.
"beli sendiri, atau bisa minta tolong Ivan. Dia selalu bisa membantu aku." Reva langsung masuk ke dalam toilet meninggalkan Bima yang masih melongo..
Setelah sholat dan mencari sarapan Bima memutuskan masuk ke dalam toko pakaian mini, Bisma dan Rama juga ditarik ikut.
"Cari apa pak?"
"Pembalut, bra, dan CD!" Bisma dengan santainya menjawab, Rama dan Bima saling pandang karena risih.
"Ukurannya?"
"Xl! pembalut pakai sayap."
Bima menatap aneh adiknya yang asik meminum susu, Rama hanya menahan tawa.
"Kamu tahu ukuran punya Reva?" Bima dengan bodohnya bertanya, Rama hanya menutup mulutnya agar tidak tertawa, Bisma mengerutkan kening.
"Bodoh! punya Jum saja tidak tahu, apalagi Reva." Kesal sekali Bisma melihat bodohnya kakaknya.
"Tadi kamu langsung jawab XL?" Bima tidak kalah kuat bicaranya.
__ADS_1
"Jadi lelaki jangan polos, ukuran bebas, kalau kebesaran yang ngelorot, kalau kekecilan ya sampai paha saja. Bisa-bisa mereka saja yang penting sudah dibelikan, jangan suka ribet."
"ohhh!" jawab Rama dan Bima bersamaan.
"Kalau pembalut Kenapa harus yang bersayap?" Bima masih belum puas juga.
"Karena burung ada di kita, mereka berarti butuh sayap. Ayo cepat bayar!" Bisma keluar dengan tawanya yang sangat kuat, bisa membodohi kakaknya moments yang tidak bisa dia lupakan.
Setelah membayar, Bima langsung balik ke rumah sakit. Reva dan Jum sudah siap untuk pulang. Karena orang tua Viana sudah datang.
Bima melihat kantongnya, sia-sia dia membeli jika Reva sudah menghubungi Mommy Vi meminta tolong membeli kebutuhannya.
Reva Jum langsung pamit, Bima berjalan di belakang Reva. Sebenarnya dia kesal, jika tahu sudah minta mami seharusnya memberi tahu, jadi tidak bikin malu.
***
Mobil Bima melaju menuju hotel, selama di perjalanan dia hanya diam. Sedangkan Reva juga diam menahan sakit perutnya.
"Mau ke mana Ayy?" Reva menatap suaminya yang juga menatapnya.
"Hotel."
"Mau apa, pesta sudah selesai." Kening Reva langsung mengkerut.
"kamu bilang mau nginep di hotel," Bima menghela nafas, sudah dicuekin, muji Ivan, lebih memilih pemberian mommy Viana. Bima merasa tidak dianggap.
"Oke!" Bima langsung putar arah menuju rumahnya, hatinya terasa kesal.
Sepanjang perjalanan hanya diam, perut Bima berbunyi karena belum sempat sarapan. Reva menatap Bima yang aneh.
"Ayy lapar, ayo beli makan. Di rumah tidak ada makanan." Reva bisa mendengar suara perut suaminya.
Bima hanya diam saja, Reva mendadak kesal melihat Bima yang tidak meresponnya. Laju mobil juga sangat cepat, wajah Bima juga terlihat dingin.
"Ayy!" Reva teriak, mobil langsung berhenti mendadak.
"Kenapa? apa lagi, tidak perlu teriak aku tidak tuli." Bima memalingkan wajahnya.
"Bima aku tidak ingin berdebat, perut akibat sakit." Reva menekan perutnya yang terasa nyeri karena haid hari pertama. Bima juga melihat ekspresi Reva.
"Ya sudah ke rumah sakit." Bima ingin memutar mobilnya tapi Reva langsung menahan lengannya.
"Bima Bramasta, ini sakit bulanan tidak butuh dokter."
__ADS_1
"Reva Pratiwi, semua penyakit butuh dokter." Bima menatap mata Reva yang terlihat kesal.
"kamu tidak mengerti soal wanita ya, Ayy pernah menikah tidak mungkin tidak mengerti." Reva bicara pelan.
"Memangnya jika aku sudah pernah menikah harus paham segalanya soal wanita, jika aku tahu untuk apa aku terlihat bodoh, masuk membeli perlengkapan wanita."
"Pulang sekarang!"
"Katanya sakit perut!"
"Aku bilang pulang!" Reva menatap tajam, Bima langsung menjalankan mobilnya.
Keduanya diam, baru satu hari menikah mereka sudah bertengkar. Bima menyalahkan dirinya sendiri, kenapa harus kesal. Reva juga kesal kepada diri sendiri, karena mut rusak jadinya harus berdebat.
"Maaf!" Bima mengalah, dia kekanakan tidak menunjukkan kedewasaan karena menahan malu dan kesal.
"Ayy, perut Reva sakit." Reva langsung menangis sambil memeluk lengan Bima, mobil masuk ke dalam rumah.
"Di mana sakitnya, kita ke rumah sakit ya sayang, jangan menangis jadinya binggung." Bima mengelus perut Reva pelan.
"gendong ke kamar, mau istirahat saja." Reva menghapus air matanya.
Bima keluar mobil, dia langsung membuka pintu Reva dan menggendongnya masuk ke dalam rumah. Bima naik ke lantai atas kamarnya, Reva melihat kamar Bima untuk pertama kalinya. Sangat rapi dan nyaman.
Cepat Bima membuka ponselnya, mencari cara untuk menghilangkan rasa sakit bulanan, Reva yang ikut melihat tertawa gemes melihat suaminya.
"Om duren sayang, kamu polos banget soal wanita."
"Aku bukan Duren!"
"Iya deh, suami keren ku. Cium!" Reva memonyongkan bibirnya, sifat nakal Reva kumat untuk menggoda suaminya.
Bima mencium kening Reva, mata Reva langsung melotot kesal. Sudah menikah saja hanya mendapatkan kening, mendengarkan protes Reva, Bima mencium pipi, bibir Reva langsung manyun.
"Ayy, aku bukan Windy. Cium pipi kanan kiri." Reva menatap kesal mencubit lengan Bima.
"Iya tahu, kamu Reva istriku!" Bima mengelus lengannya yang terasa sakit.
"Cium istri begini Ayy!" Reva mencium bibir Bima cepat, mata Bima menatapnya diam.
"Tau ahhh kesal, masa iya Reva yang mulai, yang mengajarkan. Sia-sia Om lebih dewasa dan berpengalaman."
Bima hanya tersenyum mendengar protes Reva yang mendorongnya menjauh, Reva langsung berbaring menarik selimut. Bima bukannya tidak mengerti, tapi siapa yang akan bertanggung jawab jika dia terpancing, sedangkan Reva lagi menahan sakit perutnya.
__ADS_1
Walaupun Bima seorang duda tapi bukan berarti dia berpengalaman, yang orang pikirkan tentang dirinya tidaklah benar. Bima jauh lebih polos dari seorang Rama, umurnya saja yang tua, statusnya saja yang duda tapi soal hubungan ranjang Bima mendapatkan nilai nol besar. Fakta yang hanya Bima yang tahu.
****