MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 BERTEMU LAGI


__ADS_3

Aktifitas Steven dan Windy sudah normal kembali, Stev sudah kembali ke kantor menjalankan tugasnya sebagai seorang pengacara sedangkan perusahaan diurus oleh Vero adiknya.


Windy juga disibukkan oleh butik yang semakin besar juga memiliki banyak cabang, meskipun keduanya sibuk tidak mengurangi waktu untuk terus bersama.


Pagi-pagi Windy sudah sibuk menyiapkan sarapan, meskipun ada maid masalah Steven dan Wildan akan menjadi urusannya.


"Win di mana dasinya?" Steven melihat sekeliling kamarnya.


"Maaf Ay, tergantung di leher Windy." Senyuman Windy terlihat, memasangkan dasi suaminya.


Steven tidak pernah membiarkan bibir manis Windy sehari saja tidak digigitnya, Steven bersyukurnya karena yang tinggal bersama mereka Wildan bukan ratu heboh Winda, sehingga kemesraan Steven dan Windy tidak terganggu.


"Sayang, ayo satu kali saja." Steven menciumi wajah Windy.


"Kerja sekarang, dasar Om bule mesum." Windy memeluk suaminya hanya memberikan kecupan dibibir.


Steven akhirnya melangkah keluar, menuju meja makan melihat Wildan yang sudah duduk manis membaca bukunya.


"Wil, ayo makan dulu." Steven mengusap kepala Wildan.


"Kapan Wildan boleh tinggal sendiri kak?"


"Saat kamu sudah berusia tujuh belas tahun." Steven tersenyum meminta Wildan makan.


"Wildan bisa lulus usia lima belas tahun, untuk apa Wildan di sini jika sudah selesai sekolah."


Steven tersenyum menatap Wildan yang protes tidak diizinkan keluar sembarang, Stev menjaga Wildan seperti menjaga anak perempuan.


"Wildan kenapa kamu tidak beradaptasi sesuai usia kamu, jangan cepat besar Wil."


"Membosankan, Wildan ingin menyelesaikan sekolah secepatnya. Ada banyak negara yang ingin Wildan datangi."


"No, kak Stev tidak memberikan izin."


"Kak Windy."


"Kak Windy tidak berani membantah, walaupun kamu laki-laki tetap kak Win khawatir. Apapun yang kamu butuhkan akan kami sediakan." Windy tersenyum menatap adik lelakinya.


Wildan langsung pamitan untuk pergi, Steven hanya tersenyum melihat Wil yang hanya menghela nafas tanpa banyak protes.


"Kak Win, jangan terlalu lelah bekerja." Wildan langsung melangkah pergi.


Steven juga langsung pamit pergi, mencium kening, kedua pipi, hidung, mata, bibir. Windy juga melakukan hal yang sama.


Setelah Steven pergi bekerja, Windy baru bersiap untuk pergi ke butik.


Beberapa hari ini Windy mulai tidak enak badan, tubuhnya sakit semua tapi tetap pergi berkerja karena tidak ingin bermanja-manja.


"Aduh kepala Windy pusing sekali." Windy mencari obat langsung meminumnya dan melangkah pergi untuk bekerja.


Di butik disibukkan dengan banyaknya orderan, pesanan pelanggan. Windy sibuk mendesain pakaian sesuai yang diinginkan pelanggannya.


Seperti biasanya, Windy akan bertemu dengan karyawannya untuk melakukan meeting, lanjut mengecek desain karyawan lain yang memang memiliki banyak sekali karyawan.


"Pagi Bu bos, apa kabar pak bos?"

__ADS_1


"Baik Jen, bagaimana dengan butik lainnya sudah kamu kontrol belum.


"Permisi Bu ada seseorang yang ingin bertemu."


"Ada perlu apa?"


"Katanya teman lama."


Windy langsung melangkah keluar ruangannya, melihat seseorang di ruang tunggu. Windy menutup mulutnya kaget melihat seseorang yang sudah lama tidak muncul.


"Lukas." Windy berjalan mendekat.


"Windy, apa kabar kamu?"


"Baik, kamu ada perlu apa?" kening Windy berkerut.


Jeni duduk di samping Windy, tidak ingin membiarkan Windy sendirian bersama Lukas.


"Pagi pak bos, dan pak pol tampan."


Steven tersenyum bersama Saka, melangkah ke dalam menatap Windy yang duduk bersama Jeni.


"Ay Stev." Windy langsung berjalan mendekati Steven memeluknya.


Steven berjalan ke arah kursi, menatap Lukas yang terlihat sangat santai.


"Butik ini khusus baju wanita, tidak mungkin kamu ingin membeli baju?" Steven tersenyum.


"Aku ingin bertemu Windy."


"Bukan urusan kamu, perlu aku dengan Windy."


Steven tersenyum, meminta Windy duduk di sampingnya. Memeluk pinggang Windy ingin membiarkan Lukas bicara.


"Windy aku ingin berbicara berdua, berikan aku sedikit waktu Win."


"Kamu tidak malu datang setelah mengkhianati aku, masih kurang baik keluarga kami sudah memaafkan kamu."


Lukas menundukkan kepalanya, meneteskan air matanya menggenggam tangan Windy langsung berlutut.


"Win, aku menyesal sudah menyakiti hati kamu."


Windy langsung memeluk Stev, mengabaikan Lukas yang terus berbicara. Stev meminta Jeni membawa Windy ke dalam ruangannya untuk beristirahat.


Windy melangkah pergi tanpa berbicara apapun, Lukas menatap punggung Windy yang menghilang dari pandangan.


"Seharusnya kamu datang dengan niat baik Lukas, ucapkan terima kasih karena sudah membebaskan, bukan datang menggores kembali luka lama." Steven menghela nafasnya.


Lukas tidak merespon Steven sama sekali langsung melangkah pergi, Saka langsung mengikuti Lukas.


Steven langsung melangkah masuk ruangan Windy, Stev meminta Jeni keluar langsung mendekati Windy yang memegang kepalanya.


"Kamu kenapa sayang?" Stev menyentuh kening Windy.


"Pusing, melihat Lukas semakin pusing. Tidak terlihat sedikitpun penyesalan dari raut wajahnya."

__ADS_1


"Kita manusia biasa sayang, tugas kita memberikan kesempatan kedua, tapi jika disia-siakan sudah menjadi resiko mereka." Steven mencium kening Windy.


Windy memejamkan matanya memeluk Steven, Stev langsung menggendong Windy untuk pulang dan beristirahat di rumah.


"Saka, sorry aku pulang dulu. Lain kali mungkin Windy bisa membantu kamu dan Ghina melihat gaun."


"Oke Stev santai saja."


Steven menjalankan mobilnya, Windy masih memejamkan matanya merasakan pusing.


"Ay beli makan dulu, soalnya di rumah tidak ada yang masak."


"Nanti aku masak sendiri saja sayang, kamu istirahat saja." Stev menggenggam tangan Windy yang terlihat lemas.


Steven sangat penasaran dengan pembicaraan Lukas dan Windy sebelum dirinya datang, ingin bertanya waktunya tidak tepat.


"Ay memikirkan apa?"


"Tidak memikirkan apapun Win."


"Bohong, Windy sangat mengenal Ay."


Steven tersenyum langsung mencium tangan Windy lama, wanita yang sangat memahami dirinya baik luar dan dalam.


"Sayang, kalian membicarakan apa tadi?" Stev menyatukan tangannya.


Windy langsung tertawa, mencium pipi Steven gemes melihat suaminya yang super curiga.


"Ay jangan pernah meragukan cinta Windy."


"Tidak Win, hanya ingin tahu tujuan kedatangan Lukas, sudah lama tidak melihat dia."


"Windy juga baru tadi melihatnya, sudah tiga tahun lebih. Belum sempat bicara juga, jadinya Windy tidak tahu tujuan dia apa."


"Hati-hati ya sayang, jangan menemui dia seorang diri dengan alasan apapun, jika memang perlu kita pergi sama-sama."


"Ay terlalu banyak basa-basi, bilang saja Ay tidak ingin Windy dan Lukas bertemu." Windy tertawa memeluk lengan Steven.


Steven tersenyum, mengusap kepala Windy. Sesampainya di rumah maid mengatakan ada kiriman bunga untuk Windy.


Steven dan Windy saling pandang, melihat bunga mawar yang berukuran besar terlihat gambar love membuat Steven menatap tajam.


Windy membaca kartu ucapan, Stev juga melihat tertera nama Lukas.


"Singkirkan bunganya pak, berikan kepada orang yang menginginkan." Steven menolak bunga.


Windy tersenyum melihat Steven yang mulai kesal. Bunga mawar langsung disingkirkan setelah ditendang oleh Steven yang langsung mengandeng Windy masuk.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2