MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
SUAMIKU TERCINTA


__ADS_3

Sudah pukul sembilan pagi Reva baru bangun, perutnya terasa lapar. Tubuhnya juga sangat pegal sekali, sebelum turun ke bawah Reva memutuskan untuk mandi dan berendam air hangat agar sakit badannya menghilang.


Selesai mandi Reva menatap tubuhnya di depan kaca, ada gigitan kecil di atas dadanya. Reva ingin tertawa mengigat hubungan semalam, seakan mimpi indah bisa memiliki lelaki yang dia kejar hampir 6tahun. Perjuangkan panjang sampai akhirnya menjadi nyonya Bima Bramasta.


"Semoga cepat isinya, sehingga menambah kebagian juga keharmonisan rumah tangga kita, sudah cukup banyaknya ujian yang harus kami hadapi untuk bersatu." Reva mengelus perutnya yang sudah berbunyi karena lapar.


Sambil turun, Reva menghidupkan ponselnya yang di nonaktifkan oleh Bima. Sudah banyak panggilan dari Viana, dari Jum bahkan dari suamiku tercinta. Reva tertawa geli melihat nama yang dia sendiri tidak tahu kapan berubahnya. Dari Om Duren menjadi suamiku tercinta.


Saat tiba di ruang makan, hidangan sudah tersedia. Tanpa banyak bicara Reva langsung menyantapnya. Panggilan dari suamiku tercinta, Reva langsung tersedak karena Lela yang membacanya. Senyum menggoda terlihat, yang lainnya juga ikut tertawa.


"Lela, Ayy Bima yang menulisnya. Jangan menggoda, nanti kamu kena karma."


"Maaf nyonya, Lela tidak sengaja melihat langsung terbaca."


Reva meletakan jarinya di bibir meminta yang lainnya langsung diam. Reva menggakat telepon Bima yang lama diabaikan panggilannya.


[Assalamualaikum, Kamu sudah bangun, sudah makan belum.]


[Ini lagi makan Ayy, sekarang Ayy di mana?]


"[Di kantor, sebentar lagi ada rapat. Kamu kalau mau pergi bilang ya. Jangan langsung pergi.]


[Siap suamiku tercinta.]


Selesai mematikan panggilan, Reva lanjut makan dan kembali ke kamar. Dia hari ini tidak berniat pergi ke manapun, tubuhnya lelah butuh istirahat ekstra.


***


Di kediaman Prasetya, Jum sedang menggendong Vira yang baru selesai menyusu. Viana berkali-kali menghubungi Reva memintanya untuk ke kantor atau ke rumahnya, sejak panggilan tadi malam handphone Reva mati total.


"Reva lagi apa ya Jum?"


"emhh, mungkin dia lelah."


"Jangan bilang arti dari ucapan Bima tadi malam mengikuti naluri lelaki, mereka sedang membuat Bima junior."


"Memangnya kak Bima senior ya kak Vi."


"Tau ahh Jum,"


Jum bercerita Bima punya rencana untuk berbulan ma madu ke villa yang berada di puncak. Anak-anak juga akan iku bersama asisten masing-masing.


"Tega banget kalian, aku sehat juga belum masa iya bakal ditinggalkan. Ravi pasti ngamuk bakal minta ikut ."


"Biarkan kak, ada Jum juga di sana?"


"Kamu mau jadi babysister atau mau bulan madu."


"Bulan madu tapi ada yang jaga kak, sekalian liburan."


Viana menghela nafas, dia juga baru saja mendapatkan kabar kalau Reva sudah mengirim orang kepercayaan yang mengontrol perusahaan, Vi juga mengerti Reva butuh banyak waktu bersama Bima setelah lama mereka baru bisa dipersatukan.

__ADS_1


Bima juga sangat berbeda jika sudah jatuh cinta, pastikan Reva tidak akan pernah puas hanya memandangi melihat Reva yang agresif.


"Jum kira-kira malam pertama, siapa yang memulai ya?"


"Kak Bima lah kak Vi, tidak mungkin Reva."


"Bisa jadi Reva, Bima sangat sensitif disentuh sembarangan. Reva yang agresif."


"tapi mungkin belum sah kak Bim nya tidak suka disentuh, kalau sudah menikah pasti tidak ada batasan secara kak Bim seorang yang berpengalaman."


"Tanya Reva saja,"


"Kak Vi, memangnya penting ya kita harus mengetahuinya."


Viana dan Jum akhirnya tertawa, pembicaraan mereka tidak jelas. Benar kata orang jika salah satu personil tidak hadir pasti dia yang menjadi korban yang dibicarakan.


"Kapan rencana pergi Jum?"


"Belum tahu, katanya Bisma kak Bim yang mengatur. Dia juga belum bicara dengan Reva."


"Ya sudah kalian happen ya, pulangnya saat sudah gendut."


"Gendut karena banyak makan kak Vi."


"Jum Jum, gendut karena ada anak diperut kamu. Kalau mau gendut karena makan tidak perlu jauh-jauh."


"Oh iya iya, amin semoga saja, Jum sangat beruntung berharap kak."


***


Tidur Reva terganggu karena sebuah tangan yang menggenggamnya, menciumnya, juga merasakan ciuman di dahinya.


Mata Reva terbuka dan bernafas lega karena yang menciumnya suaminya, pikiran Reva sudah jelek masa iya ada hantu siang hari.


"Ayy pulang cepat?"


"Iya, mau makan siang di rumah."


"Yakin karena tidak ingin makan siang."


"Iya, memangnya tidak boleh?"


"Bukan karena kangen, makan di ruang makan, bukan tiduran sambil menciumi Reva."


"Sekalian kangen." Bima tersenyum, mencium pipi Reva.


Dalam diam Reva menghela nafas, dia sangat senang melihat Bima yang lebih sering jujur soal perasaan yang sedang dia rasakan. Salutnya Reva Bima sosok pria yang pintar mengendalikan diri, memilih menunggu dari pada memaksa.


"Jadi sekarang mau makan yang mana lebih dulu."


"Nanti, aku hanya ingin peluk kamu."

__ADS_1


"Yakin masih siap menunggu, kepalanya tidak pusing."


"Sayang, kamu juga sanggup menunggu aku sampai 6tahun. Dan aku sanggup menunggu seumur hidupku."


Senyum Reva terukir, diciumnya bibir Bima yang dari dulu dia inginkan. Dicium juga hidung mancung, kedua matanya. Senyum Bima terukir, dia sangat bahagia saat ini.


"Satu ronde ya, kalau kamu sering mancing aku tidak bisa menahan."


"Tadi katanya seumur hidup!"


"Ibarat kucing, di depannya ada ikan. Tidak mungkin kuat."


"OHH, jadi kalau di luar rumah ada cewek seksi dan montok langsung embat, lumayan untuk kepuasan."


"Sayang, jangankan melirik luar rumah, jika yang di dalam rumah membuat kita tidak betah di luar."


"Ayy, nanti kalau Reva gemuk, tidak cantik lagi. Apa Ayy akan berpaling."


"Va, harta bisa habis, kecantikan bisa pudar karena di makan usia. Tapi kesetiaan tidak akan pernah ada habisnya karena, aku sudah mengunci hati sejak lama, hanya aku buka untuk kamu, dan kamu yang telah menyimpan kuncinya. Jangan pernah ragukan kesetiaan aku."


"Baiklah, karena sudah menjadi pria baik, Reva kasih satu ronde, setelan langsung mandi, sholat kita makan siang bersama."


"Aku tagih untuk nanti malam, kita bicara soal bulan madu saja."


"Bulan madu!"


"Iya, bulan madu bareng Bisma Jum. Sekalian mengajak anak-anak liburan."


"Nanti saja Ayy, setelah Vira tiga bulan. Kasihan kak Vi tidak ikut."


"Kalau sudah tiga bulan bukan bulan madu lagi,"


"Ya sudah liburan saja."


"Jadi tiga bulan lagi, sia-sia aku membeli villa pribadi, ujungnya kita pergi masih lama."


"Bulan madu bisa di dalam kamar ini, biarkan menjadi saksi bisu cinta kita." Reva mencium pipi Bima gemes.


"Oke, karena ingin membuat saksi cinta, kita lanjut satu ronde sisanya nanti malam. Siapa tahu 3bulan ke depan jadi."


Reva hanya bisa nyegir, dia terkena masalah karena ucapannya sendiri.


***


SEMENTARA HANYA UP SATU BAB YA


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2