MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 OPERASI


__ADS_3

Mobil Steven tiba di rumah sakit, Bima membukakan pintu meminta kursi roda agar Stev tidak perlu berjalan.


Reva keluar membantu Stev, Windy mendorong kursi roda menuju ruangan Stev. Bima langsung menemui dokter untuk mempersiapkan operasi.


Windy menggenggam tangan Stev, tersenyum berdoa agar kaki Stev bisa pulih seperti dulu lagi.


"Kita akan menunggu kamu di sini Stev, harus kuat semangat."


"Terima kasih Mami." Stev tersenyum.


Tangan Reva langsung memukul punggung Steven kuat, Bima dan dokter yang baru datang langsung kaget melihat pasien mendapatkan pukulan.


Bima menatap Reva yang meminta maaf, menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa bersalah.


Steven tertawa, Windy mengusap punggung Stev melihat Steven tertawa lepas.


"Punggung dipukul kenapa Ay menjadi gila?" Windy tersenyum menatap Reva yang tertawa, sedangkan Stev sudah cemberut.


Sebelum melakukan operasi Bima memimpin sholat Magrib berjamaah, Stev tetap di kursi rodanya.


Air mata Stev menetes, sudah berapa lama dia meninggalkan kewajibannya bahkan tidak ingat dirinya.


Bima berdoa meminta kesembuhan, kesehatan untuk Stev, dilancarkan operasinya, dihilangkan rasa sakitnya. Reva juga memiliki doa yang sama, meminta kesehatan seperti sediakala, ingin melihat Stev dan Windy bahagia.


Air mata Windy juga menetes, mendengar kemungkinan buruknya Stev akan kehilangan satu kakinya karena mengalami pembusukan di bagian dalam karena luka tembak.


Windy siap menerima apapun, tapi setidaknya dia berharap Stev kembali seperti dulu, lelaki kuat yang selalu Windy kejar.


Semuanya mengamini setiap doa, Bima tersenyum mencium kening istri dan putrinya. Tangan Bima menggenggam tangan Stev agar tidak mengkhawatirkan apapun.


"Kamu kuat Stev, operasi pasti lancar, kamu pasti sembuh."


"Terima kasih kak Bima, Stev siap dengan resiko apapun. Nikmat yang Allah berikan sudah lebih dari cukup, bisa bertemu kalian juga seluruh keluarga saja Stev sujud syukur." Steven memeluk Bima yang mengusap punggungnya.


"Kita tunggu Ay di luar pintu, tidak akan pernah meninggalkan Ay. Saat Ay membuka mata kami semua ada di samping Ay." Windy mengusap air matanya.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi Win, sudah terlalu banyak air mata kamu tumpah. Gadis kecil sekarang sudah besar, kamu sangat dewasa sekarang."


"Iya Ay."


"Saat pertama kita bertemu waktu kamu kecil, tapi kamu sibuk bermain selalu mengabaikan aku, tapi saat kamu mengenal Reva seumuran Winda, menyatakan cinta lebih dulu saat kita di pantai." Steven tertawa mengingat kejadian saat Windy masih kecil.


"Windy tidak ingat." Windy menutup wajahnya karena malu.


"Papi ayo kita pergi saja, sepertinya mereka berdua melupakan kita." Reva menatap sinis, Steven tertawa bersama Windy. Bima hanya tersenyum saja melihat istrinya.


Dokter datang menjemput Stev membawanya ke ruangan operasi, Bima Reva dan Windy berjalan mengikuti sampai di depan ruangan operasi.


Stev meminta sedikit waktu, meminta Windy menghubungi Winda, ada sesuatu yang ingin Steven katakan.


Windy langsung menghubungi Wildan, mempertanyakan keberadaan Winda, suara langkah kaki berlarian terdengar.


Stev tersenyum melihat Winda datang membawa bunga bersama Vira, Bella dan Billa. Wildan juga ikut.


Mereka datang bersama Ravi, Tian dan Erik. Winda langsung memeluk Stev, memberikan setangkai bunga.


"Winda, kak Stev sayang sama kamu, Vira dan Bella Billa. Kalian obat dari rasa sakit, terima kasih." Stev mengusap kepala empat gadis cantik.


"Kak Stev, jika sakit genggam erat bola kecil ini. Ayah pernah mengatakan rasa sakit muncul karena rasa takut, jangan pernah takut karena kita ada di sini, berikan rasa sakitnya di bola kecil ini." Billa memeluk Stev, tangan Stev mengusap rambut Billa.


Stev melihat Vira yang saling dorong bersama Bella, Vira melepaskan gelangnya, mengambil gelang Bella menyatukan menjadi satu memasang di satu tangan Stev.


"Vira Bella pinjamkan, gelang ini tidak mahal, tapi tanda persahabatan kami. Vira, Winda Bella Billa dan Wildan selalu bersama kak Stev." Vira memeluk Stev, Bella juga memeluk sambil tersenyum.


Steven menutup matanya, menahan air matanya terharu melihat anak kecil manja bisa sweet.


Stev melambaikan tangannya masuk ke dalam ruangan, semuanya tersenyum menyemangati. Winda tertunduk meneteskan air matanya melihat pintu perlahan tertutup.


"Winda kenapa menangis sayang?" Bima menggendong Winda.


"Papi, Winda baca di beberapa artikel. Kemungkinan besar kak Stev akan kehilangan satu kakinya, jika keadaan buruk harus diamputasi agar tidak membusuk menjalar ke tubuh lainnya." Winda mengusap air matanya.

__ADS_1


"Kamu benar sayang."


"Berarti kak Stev selamanya di kursi roda, tidak bisa menggendong Winda lagi." Tangisan Winda menyayat hati Bima, memeluk putrinya erat.


Vira juga meneteskan air matanya, langsung duduk memejamkan matanya berdoa agar Stev keluar dalam keadaan baik-baik saja.


Semuanya duduk menunggu, Vero datang bersama Can ikut menunggu. Rama Viana juga datang membawakan makanan, Bisma Jum juga datang tersenyum melihat Windy yang terlihat santai.


Satu persatu datang, juga pergi. Tidak ada yang tidur dalam keadaan tegang menunggu sampai selesai.


Suasana juga hening tidak ada yang mengatakan apapun, hanya diam terus berdoa dalam hati.


Rama menggendong putrinya Vira yang sudah tidur, pulang lebih dulu bersama Can dan Mei, Winda dan Wildan Vero masih menunggu kakaknya berharap yang terbaik.


Bisma juga pulang bersama keluarganya, Bima meminta Ravi, Erik Tian juga pulang. Saka juga datang membawakan Windy cemilan kesukaannya.


Reva memeluk Bima, Windy duduk bersebelahan dengan Saka yang biasanya berisik kali ini diam seribu bahasa.


Vero sudah mondar mandir melipat kedua tangannya, Vero tersenyum menatap Windy yang sibuk makan menghilangkan ketegangannya.


Mulut Windy penuh coklat, Saka menahan tawa melihat Vero menatap sinis memberikan Windy tisu, meyakinkan Stev akan baik-baik saja apapun hasilnya.


Vero berlutut, Windy langsung menyembur wajah Vero, suara Reva tertawa bersama Bima melihat tingkah Vero dan Windy.


Wajah Vero coklat semua, suara Windy dan Saka terpingkal-pingkal tertawa melupakan sedikit ketegangan.


"Akhirnya kamu tertawa, Windy gadis yang ceria, periang jangan bersedih Windy. Bahagianya kamu akan menjadi bahagianya kak Stev. Kita jangan bersedih, harus tertawa agar kak Steven juga tidak sedih dengan apa yang terjadi." Vero tersenyum duduk di samping Windy.


Kepala Windy mengangguk, dia tidak akan bersedih lagi. Windy akan bahagia bersama lelakinya.


Di dalam ruangan operasi, tangan Stev menggenggam bola kecil, gelang putih juga melingkar ditangannya yang kurus, bunga mawar diletakan di samping Stev.


Wajahnya pucat, matanya tertutup selama berjam-jam karena obat bius, kehilangan banyak darah karena luka kakinya di buka dan dibersihkan bagian dalamnya.


Dokter berusaha melihat kerusakan tulang, pembengkakan. Jika tidak memungkinkan kaki Stev akan dipotong sampai dengkulnya.

__ADS_1


***


__ADS_2