MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 MINUM-MINUMAN


__ADS_3

Penikahan akhirnya dimulai, Saka tidak memiliki keraguan sama sekali. Keduanya berjalan menaiki altar mengucap janji sehidup semati, menjadi pasangan suami istri yang saling menerima kekurangan, saling melengkapi, setia sehidup semati.


Senyuman Saka terlihat mencium bibir Ghina di depan banyak orang, anak-anak ditutup matanya dilarang mengintip.


Ravi yang menganga melihat adegan ciuman, Erik sudah nyengir bertepuk tangan sangat bahagia melihat sepasang pengantin yang akhirnya sah sebagai suami istri.


Malamnya langsung disambut pesta meriah, Windy dan Steven turut hadir melihat kemeriahan pesta pernikahan.


Vira, Winda sibuk mengambil makanan duduk diam menikmati makanannya dengan lahap, Bella sibuk melihat pengantin yang menyambut tamu, Bella bertekad dia ingin juga menikah di hotel dengan tema yang sama.


"Bella sebaiknya kamu makan, malam ini kita tidur nyenyak karena sepertinya akan turun hujan." Vira menyerahkan makanan, Bella tersenyum langsung menerima tanpa ragu.


Keempat anak makan bersama, Wildan juga duduk menjaga para wanita yang memang sudah membuat perjanjian dengan Stev tidak akan nakal.


Ravi Erik sibuk menggoda wanita bule, hanya Tian yang duduk diam, memperhatikan adik-adiknya.


Saka tersenyum lepas menyambut tamu undangan, Ghina juga tidak berhenti tersenyum bahagia akhirnya mereka sudah menjadi satu.


Pesta meriah dihadiri tamu undangan dari berbagai negara, acara juga sampai larut malam sampai akhirnya Windy dan Steven memilih untuk naik lebih dulu demi keamanan istrinya.


Saka dan Ghina sangat mengerti, tamu undangan dipenuhi oleh muda-mudi.


"Ravi, bawa mereka semua ke kamar." Tian meminta adik-adiknya kembali.


"Tian, sebaiknya kalian pindah tempat soalnya ada bau minuman beralkohol."


"Mereka langsung ke kamar saja kak Saka, sosialnya masih kecil. Nanti Tian balik lagi bersama Ravi Erik, ada Wildan yang akan menjaga adik-adik." Tian meminta Vira, Bella Billa dan Winda masuk kamar.


"Baguslah, kalian bertiga jangan sentuh minuman. Nikmati saja musiknya, ingat kalian dilarang sebelum Steven marah." Saka menepuk pundak Tian dan Ravi language melangkah pergi.


"Kak Saka terkenal playboy, juga suka gonta-ganti perempuan, masih berpikir juga untuk menikah." Ravi tersenyum suasana pesta sudah seperti ada di bar.


"Namanya juga bule luar, mereka selalu berpesta seperti ini. Kak Saka, tapi sangat toleransi sampai mencari kita." Erik langsung melangkah melihat Vero mengobrol dengan banyak orang.


"Uncle, di mana Mou?"


"Dia di kamar sudah balik lebih dulu. Kalian bertiga jangan sentuh minuman." Vero mengingatkan.


Pengantin baru juga sudah balik ke kamar, tapi hanya Ghina Saka masih bergabung dengan banyak teman-temannya.

__ADS_1


Sudah hampir subuh Saka belum juga kembali ke kamar, Ghina sudah mulai kesal menunggu.


"Kamu masih belum berubah juga Saka, jam segini masih asik dengan teman-teman."Ghina langsung melangkah keluar.


Windy menghentikan Ghina yang terlihat marah, Windy juga mencari Stev yang tidak terlihat di kamarnya.


"Ada apa kak Ghin?" Windy menatap Ghina yang emosi.


"Saka belum juga balik sampai subuh." Ghina memukul dinding.


"Astaga gila dia, pengantin baru meninggalkan kami tidur sendirian, keterlaluan." Windy menggelengkan kepalanya.


"Kamu ingin ke mana Windy?"


"Mencari Ay Stev, dia tidak ada di kamar."


Ghina dan Windy melangkah turun bersama, melihat tempat pesta mulai sepi. Setiap meja tamu juga banyak kosong.


Dari kejauhan Windy bisa melihat Stev, Saka, Vero bahkan banyak yang lainnya sedang main kartu.


"Bagus." Windy langsung melangkah, Can juga ternyata mencari Vero yang sedang asik minum.


"Hanya sedikit, kamu yang menghabiskannya." Vero terdengar membentak dan marah.


Tamparan langsung melayang, Can melangkah pergi ke kamar sambil menangis. Cepat Vero langsung berlari mengejar Can yang sempoyongan karena meminum alkohol.


"Windy, aku tidak minum dan bermain kartu. Aku mencari Ravi dan Erik, takutnya dia minum." Stev langsung meminta Ravi dan Erik segera naik ke lantai atas.


"Bagus tingkah kalian berdua, lupa apa yang keluarga kita ajarkan untuk menjaga diri." Windy menatap tajam.


"Kita hanya main, lagian tidak menggunakan uang hanya iseng-iseng saja." Ravi menundukkan kepalanya, langsung meminta maaf, karena mereka salah.


Steven menatap jam yang hampir subuh, Stev lupa waktu karena asik mengobrol soal pekerjaan, tidak sadar jika meninggalkan Windy tidur sendirian.


"Ravi, Erik lanjutkan mainnya. Jangan berhenti sampai siang, kamu juga sama Steven lanjutkan saja mainnya." Windy melangkah pergi menuju kamarnya.


Steven langsung melangkah mengikuti Windy, langka Win terhentikan langsung berbalik menatap tiga pria yang mengikutinya.


"Lanjutkan bermain!" Windy teriak kuat, Ravi dan Erik langsung balik lagi duduk.

__ADS_1


Steven masih melangkah mendekati Windy langsung berlari menggendongnya, meminta Windy tahan emosi, demi kandungannya.


Bagus juga beberapa teman Saka langsung bubar, Ravi Erik langsung melangkah pergi ke kamarnya.


Ghina tersenyum melihat suaminya hanya duduk diam memegang gelas, Ghina duduk mengambil gelas langsung menuangkan minuman.


Saka langsung merampas, tapi Ghina langsung meminum dengan botol membuat Saka menarik napasnya.


"Kamu ingin tahu, kenapa aku selalu menolak lamaran kamu?" Ghina tertawa, mengambil gelas kembali dan meminumnya.


"Kenapa?" Saka duduk santai menatap istrinya yang meneteskan air matanya.


"Aku benci kamu yang pemabuk, hari ini kamu janji, besok kamu ingkar. Ada tidak satu saja janji yang kamu tepati?" Tangan Ghina mengusap air matanya, terus minum agar cepat mabuk.


Saka tersenyum, selama Ghina tetap curiga percuma saja terus dijelaskan, karena tidak akan mengerti.


Saka sudah berusaha memprioritaskan Ghina, meninggalkan segalanya. Kebiasaan yang suka curiga, hanya memandang keburukan, sampai kapanpun tidak akan pernah baik.


"Malam ini kita seharusnya berduaan, mengobrol bersama dan berbagi cerita, tapi apa yang kamu lakukan? kamu memilih mabuk." Ghina memukul meja kuat.


"Aku belum mabuk Ghin, aku tidak lupa dengan malam kita, aku hanya lupa waktu untuk menjadi hari terakhir kami bersenang-senang sebagai bujangan. Setelah penikahan ini aku akan menjadi suami juga calon ayah. Kami tidak fokus soal minuman, tapi mengobrol. Makanya ada Steven dan Vero." Saka membuang botol minuman Ghina.


Apa mata Ghina tidak berhenti menetes, langsung melangkah pergi meninggalkan Saka yang masih duduk sendirian.


"Saka bodoh, kenapa kamu tidak langsung saja mengatakan maaf?" Saka mengacak-acak rambutnya langsung melangkah mengejar Ghina yang kecewa.


Di dalam lift, Ghina memeluk dirinya sendiri yang sangat khawatir jika Saka bersama wanita lain.


"Kenapa sakit sekali mencintai kamu Saka? susah untuk mengatakan maaf aku lupa waktu, semuanya akan lebih baik. Aku hanya khawatir kamu bersama wanita lain, menghacurkan penikahan kita yang belum satu hari." Ghina menutup wajahnya merasakan kesedihan, sungguh sakit hatinya melihat suaminya bicara seperti itu.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


***


UPDATE JAM 00.00 DAN 17.00---

__ADS_1


__ADS_2