MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 SELALU SALAH


__ADS_3

Suasana di hotel sangat ramai, tidak tahu siapa yang membocorkan kepada media soal peresmian hotel VIRDAN, bahkan Wildan dan Ar juga kebingungan.


Mereka tidak ingin ditayangkan di publik, apalagi ada acara syukuran untuk kehamilan Winda dan Vira, jika media sampai tahu mungkin kelahiran anak-anak juga bisa membuat heboh media.


“Bagaimana ini bisa bocor ke media? Siapa orang dalam yang sudah membocorkan?” Ravi mengacak rambutnya.


"Acara tidak bisa dimulai jika masih ada siaran, kasihan anak yatim yang disantuni. Identitas mereka bisa saja bocor dan mengungkit asal usul mereka." Erik juga kebingungan.


“Wildan, Ar, Ravi, Erik,Stev, Tian, dan Tama. Kalian di sini ramai, kenapa harus ribut soal bocorannya ke media? lakukan sesuatu agar acara tetap berjalan sedangkan media bisa dihentikan.” Bima menatap anak-anaknya untuk bertindak bukan hanya berbicara, karena waktu terus berjalan. Satu menit saja berati bagi orang yang memiliki prinsip.


Ravi langsung melotot melihat adik-adiknya, seharusnya dari tadi bertindak, tapi mereka berkumpul untuk berdebat.


Ar menolak untuk menemui media, tidak ingin jika dirinya menjadi pusat perhatian jika sampai muntah, mul, pusing dkk.


Wildan juga menolak tubuhnya masih lemas, belum bisa mencium bau tubuh oang. Wildan hanya akan memantau acara berjalan lancar saja.


Erik juga menolak menemui media, dia tidak biasa bicara di depan publik. Lebih pilih membedah manusia dari pada wajahnya menjadi sorotan.


Ravi, Tian saling pandang, mereka juga menolak karena tidak ingin terekspos jika memiliki saham di hotel, apalagi gabungnya perusahan Ravi dan Ar yang masih menjadi pembicaraan hangat.


Tama langsung mundur, dia tidak tahu ingin mengatakan apa, biasanya menangkap penjahat bukan paparazi yang mencari pemberitaan.


Stev diam saja dia seakan tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan, berpura-pura jika namanya tidak disebut.


Winda tertawa melihat kelucuan para suami, ,mereka semua pria tampan, tapi takut dengan media. Tidak ingin wajah tampan mereka diketahui oleh banyak orang.


Di lantai atas sekali, Wira masih memantau para media yang masih menunggu pihak keluarga untuk keluar, Asih dan Ning juga melihat ke arah bawah.


Wira meminta Em yang eksis di depan kaca, langung mempertanyakan Em ingin jadi artis tidak. Cepat Em menjawab iya, dia senyum-senyum melihat dirinya sendiri.


Raka melihat ramainya media, sedangkan acara akan segera dimulai, keluarga juga belum melakukan pergerakan sama sekali.


"Kak, banyak orang di sana." Elang menunjuk ke arah tempat acara.

__ADS_1


Raka pergi ke ruangan keamanan, meminta bantuan untuk menghidupkan speaker yang akan terarah ke segala penjuru hotel.


Tangan kecil Raka mensetting ulang, dia langsung tes suara. Menarik nafas.


"Pengumuman, mohon perhatiannya, kami dari pihak keluarga Prasetya dan Bramasta meminta para media untuk segera mundur. Dengan penuh rasa hormat kami meminta maaf sebesar-besarnya, karena banyak hal acara tidak bisa disiarkan kepada publik. Demi menjaga keamanan keluarga, juga para tamu dan staf yang bertugas, juga menjaga diri kalian sendiri, kami ulangi sekali lagi mohon seluruh kamera di matikan, demi menjaga privasi kami. Jika ada dari pihak kami yang membocorkan acara ini, dengan penuh rasa bersalah kami meminta maaf. Siapapun diizinkan untuk masuk, dengan syarat tidak ada media. Jika sampai privasi keluarga maupun orang-orang yang terlibat, kami akan menindaklanjuti. Atas perhatian saya ucapkan terima kasih." Raka langsung turun, melihat Daddy-nya yang tersenyum.


Pertama kalinya putranya berbicara panjang lebar, suara Aka juga bisa mengikuti suara orang yang profesional.


Suara tepuk tangan terdengar, Kasih memeluk putranya bangga. Semua orang berpikir untuk ke bawah menemui media, sedangkan Raka hanya mengumumkannya saja.


Setelah masalah media selesai, acara langsung bisa dimulai. Hotel resmi dibuka untuk umum yang semua fasilitasnya bisa digunakan.


Acara doa juga menyantuni anak yatim-piatu berjalan dengan lancar, hampir ribuan orang yang datang untuk mendoakan.


Wira masih duduk diam menatap Raka yang menghentikan media karena ulahnya. Tatapan Raka juga tajam, mengerutkan keningnya melihat Wira.


"Aka tahu kak Wira yang melakukannya, dasar jahil tidak bermanfaat." Raka melangkah pergi.


"Keluarga baik, hanya Wira yang tidak baik." Wira melangkah pergi, langsung lanjut mandi.


Seluruh keluarga kelelahan, tapi sangat bahagia. Mereka puas melihat acara berjalan lancar.


Seseorang datang mengucapkan terima kasih, semua keluarga tercengang alasan kedatangan para wartawan bukan karena soal peresmian hotel ataupun ingin menggangu acara syukuran.


Ada kecurangan di balik acara, seorang buronan masuk ke area hotel jika dengan kehadiran media membuatnya tidak bisa melarikan diri.


Sampai akhirnya para polisi tiba, bisa menghentikan kejahatan. Media juga menunda acara membuat buronan hanya bisa bersembunyi.


"Maaf pak, kita tidak tahu ada orang buronan di sini?" Steven kebingungan, bahkan tim keamanan juga tidak ada yang tahu.


"Memang tidak ada yang tahu pak, seluruh polisi melakukan penyamaran, seorang anak kecil yang bertemu buronan langsung menghubungi media, juga kantor polisi. Dia berpura-pura tidak tahu jika yang masuk penjahat yang membawa senjata."


"Wira." Windy langsung berlari, hanya Wira satu-satunya anak kecil di hotel sebelum acara dimulai.

__ADS_1


"Kenapa baru menemui kami sekarang pak?" Stev menatap tajam.


"Anak kecil itu melarangnya, kami hanya ingin mengucapkan terima kasih untuk kerja samanya."


"Astaghfirullah Al azim, bapak tidak tahu siapa anak kecil itu. Dia aset pak, anak semata wayang bagaimana jika terluka Pak?" Ravi menepuk jidat.


"Asal kalian tahu dia lahir bukan hanya lahir dari keringat dan air mata, tapi genangan darah ibunya." Erik menatap tajam.


"Maafkan mereka pak, kita juga mengucapkan terima kasih, karena penjahatnya cepat tertangkap." Ar tersenyum.


Windy dan Steven sudah berlari, tangisan Windy sudah terdengar takut putranya kenapa-kenapa.


Stev melihat Wira tersenyum bermain air, mengusap dada jika Wira baik-baik saja.


"Mommy kenapa menangis?" Wira menadah air mata Mommynya.


Seluruh orang berkumpul, Reva mengecek tubuh Wira tidak ingin cucunya lecet sedikitpun.


"Kenapa melakukan ini? seharusnya katakan kepada mommy Daddy kamu. Wira kamu sangat berharga." Reva mengusap air matanya.


"Iya iya Wira mengaku salah, media datang karena Wira mengatakan jika ada peresmian, hanya iseng saja Nek mud. Maafkan Wira, semuanya Wira minta maaf.


"Bukan masalah wartawan yang datang, kamu tahu tidak buronan itu berbahaya, dia menggunakan senjata." Winda juga sama khawatirnya.


"Karena tahu dia bahaya, makanya tidak ada jambakan. Wira menghubungi polisi, juga wartawan karena Wira juga takut sama dia, nyali Wira tidak sebesar itu." Bibir Wira sudah monyong langsung lanjut berenang.


"Tunggu Wira, siapa yang mengizinkan kamu mandi?" Windy menatap tajam.


"Tidak ada, ini sudah sore waktunya mandi. Kenapa Wira salah terus? memanggil polisi salah, wartawan salah, mandi salah, makan salah, tidur salah, main salah, tidak bergerak salah, bergerak juga salah, apa-apa salah, selalu salah." Wira mengomel, seluruh orang langsung bubar.


***


belum revisi 1

__ADS_1


__ADS_2