MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENGEJAR CINTA OM BULE


__ADS_3

Meninggalkan Windy di kampus bersama Vero membuat Stev jauh lebih tenang, berharap Vero sekarang berubah menjadi orang baik, seperti yang Bima katakan.


Selesai mengurus seluruh keperluan Vero, barulah Stev pergi ke kantor. Sepanjang jalan Stev mendengar laporan soal kebenaran Renata, dia cukup bersih sulit menemukan kelemahannya.


Sampai di kantor Steven melihat Renata menunggunya di depan ruangannya, Rena menatap tajam, marah juga kecewa terlihat.


"Ada apa Rena? aku sibuk tidak punya waktu."


"Stev, aku melakukan ini demi kebaikan kamu. Berhenti Stev, bisa saja kamu terbunuh karena kasus ini." Rena mengikuti Steven masuk ke dalam ruangan.


Rena menarik Steven memeluknya erat, Rena menangis meluapkan emosinya agar Stev berhenti. Tawa Steven terdengar, mendudukkan Rena di meja kerjanya.


Stev melangkah mendekati pintu, langsung menutupnya dan mengunci. Stev juga mendekati jendela menutup tirai.


Senyum Steven terlihat, menatap Rena, mengelus wajahnya. Steven menyentuh paha Rena, senyum Rena terlihat malu-malu ingin mencium Steven, tapi di tahan.


"Rena sebesar apa kamu mencintai aku?" Steven menatap Rena tajam.


"Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, aku siap meninggalkan segalanya demi bisa bersama kamu." Rena memeluk erat tubuh Steve, menikmati tangan Steven yang sudah menyobek stoking.


Steven tersenyum melihat tato Rena, ucapan Windy benar. Rena orang yang selama ini dia cari, selama 3 tahun Steven mencarinya, 3 tahun juga Rena berada di dekatnya.


"Bagaimana kamu bisa ada di sini? aku lelah mencari kamu seperti orang bodoh, banyak waktu, tenaga yang aku buang." Steven tertawa lucu.


"Aku selalu ada di hati kamu, selalu selamanya."


Steven langsung mencengkram kuat rahang Rena, menatapnya tajam. Rena memegang tangan Steven sambil tersenyum sinis.


"Apa yang kamu lakukan Steven? aku tidak suka disakiti." Rena berusaha melepaskan cengkraman Stev.


"Kamu pengecut, sembunyi di belakang. Kamu selalu meminta aku menyerah, karena kamu tahu aku bisa mengungkap siapa kamu sebenarnya." Senyuman Steven penuh kemarahan.

__ADS_1


"Apa maksud kamu Stev?" Rena turun dari atas meja.


Steven merapikan rambut Rena, ucapan kak Bima benar. Penjahat yang memiliki banyak tangan kanan, sebenarnya orang yang sangat lemah, dia memiliki banyak orang yang tersebar, karena tidak memiliki orang kepercayaan, jika statusnya mulai terbongkar, langsung memutuskan untuk membunuhnya.


Stev melihat kebenaran Rena memang selalu takut setiap ada yang tertangkap dari pengejaran Steven, demi membebaskan adiknya Stev berjanji akan menangkap bandar obat yang membuka banyak bisnis kuliner, kosmetik tapi isi gudang mereka barang terlarang.


"Akhirnya kita bertemu, kamu membuat Vero menjadi tersangka utama. Dia bebas karena seorang pria tua mengakui jika dia bukan Vero, kamu membunuhnya menjadikan Vero tersangka lagi." Steven duduk di kursi kebesarannya menatap Rena tajam.


"Dari mana kamu tahu semuanya Stev, pasti Bima membantu kamu. Dia memiliki kekuasaan, juga bisa mudah mengetahui perusahaan yang curang."


"Tidak, perusahaan yang bekerja sama dengan kosmetik glow, pemilik saham terbesar itu aku, sekarang akulah pemiliknya, aku menyingkirkan semua barang bodoh di sana. Kamu sudah kehilangan seluruh perusahaan kamu."


"Tidak mungkin, aku tidak mendapatkan laporan apapun, kamu bohong Stev, aku belum kalah. Kamu tidak bisa menahan aku tanpa bukti." Rena belum gentar, tidak menunjukkan sedikitpun rasa takut.


"Buktikan saja sendiri, apa yang terjadi?" Steven membiarkan Rena melihat semuanya.


Sudah satu bulan Steven mengambil alih seluruh perusahaan, membersikan semua barang bukti menumpuk pada satu orang.


Steven meminta seseorang menjaga adiknya, walaupun Steven marah, tapi tidak pernah mengabaikan Vero, menjaganya dari kejauhan. Steven tidak pernah menemui Vero sejak kecelakaan, mengejar orang yang harus bertanggung jawab.


Suara lemparan ponsel terdengar, Rena menatap tajam Steven, ternyata Steven juga berhasil membebaskan kambing hitam yang dulunya menyelamatkan Vero, kemarahan Rena semakin besar saat mengetahui semuanya sudah berubah satu bulan yang lalu, puluhan orang yang dia kerjakan bisa tidak mengetahui semuanya.


"Aku akan membalas dendam Steven, aku tidak akan hancur seorang diri. Kamu harus tahu aku bisa membunuh wanita yang sekarang bersama kamu."


"Dia tidak mudah kamu sentuh, dia wanita cerdik dan kuat." Steven tersenyum bangga jika mengingat Windy.


"Kamu tidak akan bisa menangkap aku." Rena langsung melarikan diri, membuka pintu.


Saka sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum licik, mengambil borgol langsung memborgol Rena. Tatapan mata Rena tajam melihat Tegar juga ada di samping Saka.


"Kamu pengkhianatan, padahal aku sudah memberikan kamu banyak uang" Rena meludahi Tegar.

__ADS_1


"Bayaran kamu tidak imbang, memenjarakan orangtuaku. Seandainya aku tahu wajah kamu, sudah lama kamu mati ditangan ku."


Rena langsung dibawa ke kantor polisi, suara teriakan juga memberontak terdengar. Tegar masuk ke dalam ruangan Steven, Saka mengambil kamera yang Steven pasang sebagai barang bukti di samping jendela.


Kepala Tegar tertunduk memberikan hormat kepada Stev, meneteskan air matanya. Tegar meminta maaf kepada Stev yang sudah berkhianat, Tegar juga mengakui jika tujuannya membunuh Rena, orang yang membuat Ayahnya berada dalam penjara.


"Maafkan aku Stev, sudah mencelakai Vero."


"Aku maafkan, karena dia baik-baik saja." Steven menggakat kepala Tegar memeluknya menepuk punggungnya.


"Terima kasih sudah membebaskan Ayah."


"Sama-sama sudah tugas aku membebaskan orang yang tidak bersalah, maaf juga karena membutuhkan waktu selama ini untuk membebaskannya." Steven tersenyum melihat Tegar yang menangis.


"Ehem, sebaiknya kita ke kantor polisi untuk melihat Rena hancur." Saka merangkul Stev dan Tegar.


"Terima kasih Saka kamu sudah membebaskan aku." Tegar menatap Saka.


Steven berhenti menolak untuk ikut hadir, dia ada persidangan. Seorang pemilik Restoran memenjarakan seorang pengemis, menuduhnya pencuri. Steven langsung melangkah pergi.


Saka tersenyum melihat Steven, ilmu Bima yang sukses turun kepada Steven. Memiliki banyak bisnis, tapi lebih memilih untuk menjadi pengacara yang jujur. Bersiaplah untuk orang kaya yang berurusan dengan Steven, bisa saja dengan mudah Steven membuat mereka jatuh miskin.


Seorang Steven juga bisa meminta denda yang besar, memberikan kepada korban. Steven sangat membenci orang kaya yang selalu menghamburkan uang, merendahkan orang yang lemah.


Langkah Steven terhenti, menerima panggilan dari Windy memperlihat Vero bertengkar. Banyak wanita berkumpul mengobati Vero sedangkan Windy menjadi penjaga, bukan Vero yang menjaga Windy, tapi kebalikannya.


Wajah cemberut Windy mengemaskan bagi Steven, wajah Vero juga muncul mengadu kepada Steven untuk pindah tempat kuliah, dia kesal dengan banyak perempuan.


Tawa Windy terdengar bersama Lukas dan Wilo mengejek Vero, tawa Vero juga terlihat melihat wajahnya yang sudah biru.


Steven bejalan lagi, tersenyum melihat adiknya bisa tertawa, bahagia juga melihat Windy tertawa.

__ADS_1


***


__ADS_2