MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENGEJAR CINTA OM BULE


__ADS_3

Suasana hening, tidak ada yang berani memulai berbicara. Windy berjalan berkeliling, membeli aksesoris unik, gelang, kalung, Steven hanya berdiri di belakang membayar semua yang Windy beli.


Windy melihat beberapa wanita cantik berbicara sambil berbisik, Windy melihat ke belakang Steven berdiri di belakangnya.


Ada beberapa wanita ingin berkenalan, Steven mengabaikan dengan sikapnya yang dingin. Windy mendekati Steven menarik tangannya untuk pergi.


"Win, maaf." Steven panas dingin untuk memulai berbicara.


"Iya Om, Windy mengerti." Windy duduk melihat wahana di atasnya.


"Kamu ingin naik."


"Takut, Windy takut ketinggian. Windy benci ketinggian, takut jatuh." Windy tersenyum, hanya menikmati indahnya malam.


"Windy, sebaiknya kita pulang, atau kita makan dulu."


"Om, pergaulan di sini sangat bebas, sama seperti Om yang bebas bermesraan dengan banyak wanita." Windy bicara sambil tertawa.


"Maaf sungguh Om tidak bermaksud menyentuh kamu."


"Ohhhh, berarti Om sedang menghayal wanita lain, jahat sekali Om, Windy menjadi pelampiasan. Windy juga punya hati dan perasaan." Wajah sedih Windy terlihat, langsung melangkah pergi, berlari ke arah mobil.


Steven coba memanggil, tapi tidak dihiraukan. Langsung mengejar Windy masuk ke dalam mobil, terlihat air mata Windy menetes.


"Mami, Om Steven jahat!" Windy menghubungi Reva, tapi belum dijawab.


"Win, Om minta maaf, niat Om tidak seburuk yang kamu pikirkan. Oke Om memang salah, tapi ya namanya juga lupa." Steven menghela nafas, wajah cantik Windy terlalu mengemaskan untuk dilihat.


Senyum Steven terlihat, menatap Windy yang duduk di bangku penumpang. Wajahnya cemberut, bibir monyong, terus memanggil Mami.


"Mami."


"Dasar anak Mami." Batin Steven.


"Jalan Om, kita lagi menunggu siapa? Om ingin lanjut pacaran silahkan. Windy juga ingin menghubungi Lukas, dia pria baik, sopan, penyayang, taat beribadah, sangat menghormati orangtuanya." Windy terus bicara panjang lebar.


Steven menjalankan mobil dengan kesal, Steven tidak menyukai Lukas, tidak nyaman dengan cara bicara Lukas, belum lagi sikapnya yang sangat perhatian.


[Hallo Lukas, Windy lapar. Tolong antarkan makanan ke apartemen Windy, terima kasih Lukas.] Senyum Windy terlihat, Steven menggenggam setir mobil kuat, wajah putihnya berubah merah, Steven sangat marah mendengar ucapan Windy.

__ADS_1


Senyum Windy terlihat, Steven bisa melihat dari kaca. Mobil langsung belok ke Restoran mewah, Windy mengomel menolak untuk turun.


Steven tidak berbicara, membiarkan Windy yang masih marah-marah ingin cepat pulang. Melihat dirinya diabaikan membuat Windy binggung, langsung keluar mengejar Steven.


Steven memesan ruangan khusus untuk makan pribadi, Windy langsung masuk melihat Steven yang duduk santai.


"Om, kenapa kita berhenti di sini?"


"Saya lapar, jika kamu tidak suka silahkan menunggu di mobil." Steven bicara dengan nada dingin.


"Windy juga tidak mau berada di sini, berduaan dengan Om mesum, nanti aku dipikirnya perempuan malam." Windy langsung membanting pintu, melangkah keluar dengan kesal.


Lama Windy menunggu di mobil, rasa kesalnya semakin menjadi-jadi langsung menghubungi temannya Wilona untuk menjemput. Windy hanya mengirimkan pesan jika pulang lebih dulu, Steven hanya membaca tidak membalas.


"Om Steven!" Windy teriak kuat, menendang mobil Steven.


Hampir setengah jam Windy menunggu barulah temannya sampai.


"Windy, apa yang kamu lakukan di sini? sudah larut malam tidak takut diculik." Wilo binggung.


"Ayo kita pergi, ada Om mesum yang mencuri ciuman pertama Windy." Windy memukul mobil Steven.


Wilona tersenyum melihat Windy, teman paling gila yang tidak ada tempat takutnya, mencintai lelaki dewasa, sudah mendapatkan ciuman pertama langsung marah.


"Sakit, Wilo. Dia membayangkan kekasihnya."


"OMG, nasib Lo sial banget Win." Wilo tertawa melihat Windy yang lucu.


"Sudahlah, ayo pulang. Aku capek, kesal, bete, marah besar." Windy memukul dasbor mobil.


"Win, semakin lama kamu di sini, lebih mirip singa, galak banget. Banyak makan perasaan kamu Windy." Wilo mengelus dasbor mobilnya.


Windy diam, memainkan ponselnya panggilan dari Mami langsung Windy jawab, hanya mengatakan rindu, Wilo geleng-geleng kepala, Windy perempuan galak, tapi sangat manja kepada Maminya.


"Sudahlah Win, lebih baik kamu fokus. Besok kita ada ujian."


"Wilo, otak aku tidak sampai sekolah di sini, aku tidak mengerti apapun, bahkan aku tidak tahu hobi aku apa?"


"Windy setidaknya kamu punya tujuan hidup."

__ADS_1


"Tujuan aku hanya mengejar cinta Om bule, selebihnya hanya jalani."


"Dasar perempuan gila, menghabiskan uang orangtua saja." Wilo mencubit telinga Windy.


Tawa Windy terdengar, Maminya menjadi panutan Windy, menjadi seorang desainer hebat sepertinya Maminya impian setiap orang, sama seperti Windy ingin mengikuti jejak wanita yang dia kagumi.


Windy sangat pintar mendesain, tapi salah masuk jurusan, karena asal masuk saja.


"Rasanya aku ingin berhenti kuliah, membuka bisnis sendiri."


"Windy kamu butuh modal, butuh pengetahuan, juga pengalaman, tidak bisa hanya mengikuti hobi." Wilo menatap Windy serius.


"Terserah, aku akan membicarakan ini dengan Mami, pilihan Mami pasti yang terbaik."


***


Steven masih diam, dia sengaja berhenti di Restoran juga membiarkan Windy pergi, sebenarnya perasaan Steven mengkhawatirkan Windy, tapi tidak punya pilihan, kasus yang sedang Steven pegang berpengaruh dengan para penjabat tinggi, mobilnya sudah diikuti sejak keluar dari persimpangan.


Seseorang masuk langsung duduk dihadapan Steven, tatapan Steven santai, dia sudah biasa berurusan dengan orang licik yang ingin menyogoknya.


"Steven, tinggalkan kasus ini kami akan melepaskan kamu, juga memberikan kompensasi yang tinggi."


"Kalian pikir aku bodoh, kompensasi harta aku sudah memiliki banyak harta. Kalian yang bisnis ilegal sebaiknya diam, aku bisa menghancurkan kalian." Senyum licik Steven terlihat menatap sinis langsung melangkah pergi.


"Ohhh iya, minta anak buah kalian, memasang rem mobil kembali, sebelum hitungan jam mereka masuk jeruji besi." Steven memukul meja.


Steven satu-satunya Pengacara yang tidak bisa dikendalikan oleh para pembisnis, Steven tidak bekerja untuk mengambil keuntungan. Bima selalu mengatakan, setidaknya harus menjadi satu orang baik yang menyelamatkan sedikit orang yang kurang beruntung. Steven ingin menjadi orang kecil yang bisa diandalkan oleh orang lain.


Baru saja Steven ingin melangkah keluar, senjata berada di kepalanya, senjata Steven juga ada diperut.


"Kamu memang hebat Steven, silahkan pergi."


Buuukk ... pukulan kuat menghantam wajah, Steven tersenyum melangkah pergi. Menatap sinis langsung keluar.


Kehidupan Steven yang menantang para petinggi, membuatnya tidak bisa memulai sebuah rumah tangga, dia sangat mengkhawatirkan keadaan anak istrinya jika dia menikah. Steven tidak ingin memiliki kelemahan, sampai dia bisa membuat keluarga kecilnya aman.


"Windy maafkan Om, maafkan Steven kak Bima tidak bisa menjaga amanah untuk menjaga Windy sebagai seorang putri. Sekarang dia sedang marah, aku tidak tahu cara memperbaiki hubungan kami." Steven langsung pindah mobil.


***

__ADS_1


HARI INI AUTHOR BIRTHDAY boleh tinggalkan COMENT, yang ingin memberikan kado, boleh VOTE atau HADIAHNYA 🤭🤭🎉🎂🎂🎂🎂


***


__ADS_2