
Ponsel Bima berdering, panggilan dari Rama yang langsung dijawabnya. Rama menceritakan jika VCLO menyerang LOVER demi bisa mengalahkan perusahaan Abi Ririn.
"Kamu urusin sendiri Rama, kak Bim lagi di luar kota."
"Bantuin kak Bim! satu sisi istri, satu sisi sahabat dan di sisi lain bisa merusak citra perusahaan jika Rama hanya diam." Rama di buat pusing oleh Viana dan Reva yang ambisinya tinggi.
"Viana akan diam saja kalau kamu nasehatin, soal Reva mungkin sulit, mut Reva sedang jelek." Bima tahu Reva sedang marah dan kesal kepadanya.
Panggilan langsung terputus, Bima melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua Reva. Bima menyadari perasaannya tapi dia tidak mau ego hanya karena rasa cinta, restu orangtua jauh lebih penting.
Mobil masuk pekarangan rumah yang sangat nyaman, banyak pohon rindang. Rumah orangtua Reva cukup luas dan ada beberapa tukang kebun, di samping rumah terdapat perkebunan mini yang di tanami sayur-sayuran.
"Assalamualaikum pak," Bima menyapa seorang pria tua, menanyakan tentang keberadaan orangtua Reva.
"Silahkan masuk mas, saya ke kebun sebentar memanggil ibu, kalau bapak lagi di peternakan."
Bima tersenyum, dan menunggu ibunya Reva datang. Jantung Bima berdegup kencang, tidak pernah dia bayangkan jika akan ada hari dirinya akan serius ke wanita. Ini pertama kalinya bagi Bima untuk menemui orangtua wanita, keringat dingin dia rasakan. Perasaan Bima ingin rasanya pulang saja.
Seorang gadis remaja SMA datang, memandangi Bima dengan senyum cengengesan. Bima hanya tersenyum tipis tidak tahu harus bicara apa.
"Om mau melamar Ratna ya? tunggu 3bulan lagi Ratna lulus sekolah." Ratna adik kedua Reva tertawa nyaring dan langsung berlari ke dalam kamarnya untuk mengganti baju.
Tidak lama datang juga seorang wanita cantik dan mengemaskan, menarik telinga seorang bocah laki-laki yang menangis. Bima langsung berdiri menghentikan dua bocah yang sedang bertengkar, Bima menghapus air mata Aris yang menjadi korban buli kakaknya.
"Terimakasih ya Om, Aris ganti baju dulu."
Bima mengaruk Kepalanya, bahkan dia tidak tahu urutan adik Reva, yang datang pertama pasti di bawah Reva, yang galak tadi anak ke tiga sedangkan cowok satu-satunya adik bungsu.
Ratna keluar kamar, duduk di samping Bima yang hanya diam saja. Nana juga datang dan menatap Bima takjub, Aris juga datang duduk sangat dekat dengan Bima.
"Om Bima ganteng banget!" Nana membandingkan kulitnya dengan kulit Bima.
__ADS_1
"Kenapa kak Reva putih dan cantik, tapi Nana hitam dan Kumal." Nana tertawa melihat dirinya sendiri.
"Efek hidup di kampung, terus kerjaan hanya berantem. Coba seperti kak Reva baik dan anggun pasti cantik." Aris mengejek Nana yang sudah melemparkannya dengan bantal sofa.
"Om Bima datang sendiri? kak Reva di mana?" Ratna duduk santai sambil memakan kacang.
"Reva di kantor mungkin." Bima tidak menyangka ternyata adik Reva mengenalinya.
"Mungkin! 5tahun kak Reva mengejar cinta Om Duren tapi sampai detik ini belum menunjukkan hilal." Ratna geleng-geleng.
"Kak Ratna buta, nyatanya Om ganteng sudah di sini untuk bertemu ibu, bapak, berarti sudah ada hilal ke hubungan yang serius." Nana menimpali.
"Sok tahu! anak kecil masih ingusan." Ratna melempar kacang ke wajah Nana.
Suara salam dari luar membuat perdebatan berhenti, mereka langsung melangkah mencium tangan ibu. Bima juga mendekat dan memberikan salam.
"Kalian masuk, ibu mau bicara dengan kak Bima." Ibu mempersilahkan Bima duduk kembali.
"Maaf Bu, saya datangnya tanpa pemberitahuan." Bima memberikan buah tangan dari kota.
Suara lelaki terdengar dari luar, ibu tersenyum melihat bapak yang datang bersama pengurus peternakan dari kantor. Bima juga berdiri memberikan salam ke bapak yang di sambung dengan senyum ramah.
"Bima kenalkan, dia pemimpin dari perusahaan pusat peternakan bapak."
Bima langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman, tapi bukan mendapatkan balasan. Bima kaget melihat karyawannya yang langsung memberikan hormat.
"Selamat siang pak Bima, maaf saya tidak tahu bapak juga datang. Seharusnya saya menyambut bapak, ini surat menyurat perjanjian untuk kerja sama dengan peternakan desa ini."
"Saya datang bukan untuk mengurus pekerjaan, kamu lanjutkan saja." Bima tersenyum, bapak dan ibu juga tersenyum, kini ibu paham mengapa Bima sangat mengerti perkebunan dan peternakan, ternyata dia pemilik dari peternakan terbesar.
Selesai bicara soal pekerjaan, Bima dan bapak melanjutkan tujuan kedatangan Bima. Bapak dan ibu bicara serius, sedangkan adik Reva sembunyi sambil menguping.
__ADS_1
"Kami tahu banyak tentang kamu, Reva setiap pulang hanya mengomel tidak bisa bertemu kamu. Tidak menyangka kamu akhirnya datang." Bapak tersenyum sambil menepuk pelan pundak Bima.
"Dari mana bapak dan ibu langsung tahu wajah Bima, Reva pamer foto." Bima penasaran karena keluarga Reva semuanya mengenali wajahnya.
"Reva yang bilang, kamu tinggi, setengah bule, putih, mata coklat, pendiam, dan sangat tenang. Semua ucapan Reva benar, kamu terlihat muda." Ibu tersenyum melihat penampilan Bima.
"Pak Bu, sebelumnya Bima minta maaf jika lancang. Jujur Bima menyadari perasaan ke Reva, tapi Bima tidak tertarik dengan ikatan pacaran. Usia Bima cukup tua untuk berpacaran, jadi jika diizinkan Bima ingin serius meminta restu." Bima bicara sangat tenang, tapi jantungnya sudah hampir copot dari tubuhnya.
"Terimakasih untuk keberanian dan niat baik kamu." Bapak tersenyum lembut, kagum dengan sosok pria pekerja keras dan menjaga kehormatan wanita.
"Satu hal lagi pak Bu, Bima sudah pernah menikah, dan memiliki seorang putri berusia 10tahun. Ini yang membuat Bima sangat takut dan berat, status Bima yang tidak sama dengan Reva juga usia kami yang terpaut jauh. Bima menerima penolakan jika bapak tidak berkenan, saya sangat mengerti keputusan yang terbaik untuk Bima dan Reva."
"Ibu sudah tahu, beberapa tahun yang lalu, Reva pernah pulang menangis histeris, melihat kamu dan mantap istri juga putri kamu makan bersama." Bapak tertawa mengigat tingkah konyol putrinya.
"Maaf Bu, jika Bima selalu membuat Reva menangis."
"Bima sebagai seorang bapak, hanya menginginkan imam yang baik untuk putrinya. Kami Keluarga besar menyambut kamu dengan baik, tanpa memandang status juga jabatan kamu. Pinta bapak hanya satu, bimbing Reva ke jalan yang diridhoi Allah."
"Terimakasih pak, Terimakasih Bu." Bima mencium tangan bapak dan ibu dengan rasa haru. Kini Bima yang ingin berjuang menghalalkan Reva.
"Kamu sudah bicara dengan Reva?"
"Belum pak, Reva lagi ngambek. Bima tidak tahu cara membujuknya." Bima hanya tersenyum, bapak dan ibu tertawa bersamaan.
Para adik Reva juga menahan tawa, merayu Reva hal yang paling mudah. Kasih coklat saja senyumnya langsung mengembang.
"Ya Allah, sisakan satu saja laki-laki untuk Ratna seperti Om Duren. Ganteng, kaya, keren, terus siap menemui ibu dan bapak. Kalau boleh dia humoris, pinter merayu, dan romantis, jangan seperti Om Duren kaku seperti patung, mau senyum saja mahal. Amin ya Allah."
Nana dan Aris menatap Ratna kesal, wajah tidak seberapa, bakat juga tidak ada tapi mintanya yang double ples.
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE
***