MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 PEMAKAMAN


__ADS_3

Mobil sampai di sebuah pemakaman yang cukup luas, seseorang berdiri dengan penampilan yang sangat elegan, Steven cukup kaget melihat Pengacara Ghina ada di pemakaman.


"Hai kak Ghin." Windy langsung memeluk Ghina.


"Mereka akan segera tiba Win, kamu yakin akan melakukan ini?" Ghina menatap Windy.


Steven cukup kaget, Ghina dan Windy memiliki hubungan baik, Ghina guru yang pernah mengajar konseling di sekolah besok Windy saat masih SMA.


Ghina seorang pengacara yang mengejar Mikel, orang yang membunuh seluruh keluarganya, Ghina satu-satunya yang selamat.


Kehadiran Ghina bukan ingin balas dendam, tapi meminta keadilan, Ghina pernah mundur saat mengetahui Windy putri kandung Mikel, tidak ingin menyakiti gadis kecil seperti Windy, tapi saat mendapatkan kabar Windy memberikan izin Ghina mencari tahu soal Mikel, barulah Ghina bergabung dengan Steven.


"Kamu sengaja masuk ke area apartemen, bahkan mendekati Steven." Saka menarik lengan Ghina.


"Aku tidak memanfaatkan kalian, kita melawan orang yang sama, sudah aku katakan aku memiliki bukti, Stev memiliki saksi, kita bisa menjatuhkan Angela dan Mikel."


"Tidak semudah itu Ghin." Celsi muncul bersama Glen.


"Semuanya akan segera berakhir, mereka harus kembali kepada tempat yang seharusnya." Windy tersenyum membuka kemeja Stev.


"Kalian semua siap, kita semua ada di sini. Langkah kita sudah cukup jauh, mungkin dengan cara bersatu jauh lebih baik." Ghina menatap semua orang.


"Aku tidak setuju Windy terlibat, sebaiknya kita pulang sekarang Win, kamu tidak ada hubungan apapun dengan Mikel." Steven menggenggam tangan Windy.


Windy menarik Steven ke dalam mobil, meminta Stev berpaling, Windy ingin mengganti bajunya. Windy duduk diam melihat keadaan luar, menatap Ghina yang lucu, suka bercanda, mulutnya tidak memiliki rem, tapi ada saatnya Ghina menjadi sosok yang berbeda.


"Win, kita kembali sekarang."


"Om, Kak Ghin menceritakan semuanya, penemuan Om, barang bukti, kalian sudah berjuang siang dan malam, maafkan Windy yang terbawa emosi, tidak mempercayai ucapan kak Ghina. Kejadian hari ini peringatan untuk kita Om, kapan saja mereka bisa menyingkirkan Windy dan Vero yang tidak mengetahui apapun."


"Om Stev sudah berjanji kepada kak Bim untuk menjauhkan kamu dari masalah Mikel?"

__ADS_1


Windy tersenyum, dia juga sudah tahu soal bayi yang kecelakaan. Windy sudah meninggal hampir 19 tahun lalu, jika dirinya sudah meninggal lalu siapa dia yang masih hidup mengunakan identitas Windy.


Mikel percaya putrinya meninggal, tapi tidak pernah mengetahui soal Windy yang masih hidup. Windy juga penasaran kenapa kematiannya dirahasiakan.


"Sayang, pulang ya, aku tidak ingin kamu terluka, aku mencintai kamu Win, tidak perduli siapapun yang terlibat, selama aku bersama kamu." Steven menggenggam tangan Windy, memohon untuk Windy kembali.


Tangan Windy mengusap wajah Steve, mencium keningnya lama. Membawa tangan Steven untuk menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya.


"Windy ingin hidup dengan kebenaran Stev, sudah cukup Windy menutup mata dan telinga. Izinkan Windy memastikan siapa Windy."


"Win, kamu tidak ada sangkut pautnya dengan Mikel, jika kamu muncul Angela akan menyingkirkan kamu, Ibunya saja dia bunuh sayang, apalagi kita." Steven tetap tidak rela Windy ikut campur.


"Windy putrinya Bima dan Reva, Mikel tidak bisa menyentuh Papi, Angela juga tidak bisa menyentuh Windy."


Steven melepaskan tangan Windy, mengacak rambutnya langsung keluar mobil. Keputusan Windy sudah tidak bisa diubah lagi, Stev menatap tajam Ghina yang cuek saja dengan tatapan tidak suka Steven.


"Jelaskan yang ingin kamu lakukan Ghina, rencana yabg sudah kita susun, kamu ubah secara sepihak."


"Kamu harus tahu satu hal Ghina, tindakan kamu berbahaya, bisa saja ada korban jiwa." Saka menatap tajam Ghina.


"Kamu seorang polisi, tapi pengecut."


Saka tersenyum menatap Steven yang menghela nafasnya. Bagus juga tidak begitu setuju melibatkan Windy, hadirnya Vero juga berbahaya.


Semuanya berkumpul, menunggu Mikel dan Angela datang. Windy menatap Steven yang hanya diam, tidak memberikan suara, Saka juga tidak banyak berkomentar, membiarkan Ghina, Celsi dan Windy bertindak sesuai yang mereka inginkan.


Vero menepuk pundak Steven, meminta kakaknya mengikutinya. Steven menatap Bagus untuk menjaga Windy, Stev menjauh bersama Vero.


Steven menatap Vero aneh, melihat Ghina dan Celsi sibuk berbicara, Windy melirik ke arah Steven.


"Salah satu dari mereka pengikut Angela?" Steven menatap Vero.

__ADS_1


"Bukan, salah satu dari mereka putri Mikel." Vero menundukkan kepalanya, menatap Steven yang sangat kaget.


Vero pernah melihat putri Mikel beberapa tahun yang lalu, dia menggunakan tato mawar merah di punggungnya, Vero tidak tahu pasti wajah aslinya.


Mikel memiliki seorang putri dari istri pertama, tapi keluarga Mikel tidak menyetujui hubungan keduanya, anak mereka tidak diakui keluarga, Mikel menjalin hubungan dengan Britania, tanpa sepengetahuan Mikel Brit sudah menemui keluarga Mikel, melakukan tes DNA soal kehamilannya, anaknya sudah didaftarkan sebagai ahli waris Mikel, seluruh harta kekayaan Mikel sudah jatuh ke tangan bayi yang belum dilahirkan.


Susah payah Mikel mencari keberadaan bayinya, tapi saat menemukannya sudah meninggal dunia, Mikel mengambil bayinya dan memakamkan jenazah Putrinya, terus menjaganya sampai 20 tahun, barulah warisan kembali padanya.


"Kak Bima bahkan pernah menghancurkan bisnis keluarga Mikel, membuat keluarganya jatuh, selama bertahun-tahun berusaha bangkit, dan bertahan." Vero menceritakan yang dia ketahui soal Mikel.


"Bagaimana cara kita mengetahui putri Mikel?"


"Masalahnya Kak, dia jahat atau tidak. Putri yang terbuang, Ibunya meninggal, tidak pernah dianggap ada." Vero mencoba untuk berpikir, Steven juga kebinggungan.


Saka datang mendekat, melihat wajah Stev dan Vero langsung meminta penjelasan, dia juga ingin tahu semuanya karena pertemuan hari ini cukup berbahaya, atau sangat berbahaya.


Steven mengulangi pembicaraan dengan Vero, Saka menatap Celsi dan Ghina, hanya untuk mengetahui soal tato bukan hal yang sulit, selama belum di area body masih bisa di cek.


Saka melangkah mendekati Celsi dan Ghina, Steven Vero langsung mengikuti Saka yang tidak ada takutnya, langsung menggakat baju Ghina, melihat punggungnya. Ghina langsung menonjok Saka yang melepas tali bra.


Pukulan Ghina tidak berpengaruh, Saka menarik Celsi langsung mengangkat bajunya. Windy langsung mengeratkan bajunya.


Celsi menatap tajam, langsung membuka bajunya memperlihatkan punggungnya yang terbuka. Steven menggelengkan kepalanya melihat tingkah Saka yang bodoh.


"Dasar laki-laki mesum tidak punya otak." Ghina menendang kaki Saka, suara Saka meringis merasakan tulang keringnya sakit.


Ghina dan Celsi tidak ada yang menggunakan tato, berarti dugaan Vero salah. Perasaan Steven langsung tidak enak, ada rasa gelisah.


Puluhan mobil elit sudah datang, mengawal kedatangan Mikel dan Angela. Banyak orang yang berpengaruh turut hadir untuk mendoakan anak Mikel yang seharusnya merayakan ulang tahun yang kesembilan belas.


***

__ADS_1


__ADS_2