MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
RUMAH BARU


__ADS_3

Mata Reva terpesona melihat rumah baru mereka, kompleks yang sangat tenang. Reva tidak menyangka kompleks perumahan yang ditempatkan Rama hampir seluruh seluruhnya milik suaminya, bahkan saat naik lantai atas Reva bisa melihat rumah Jum, bisa juga melihat rumah Viana.


"Kamar Windy yang mana Mam?"


"Yang ini," Ravi dan Tian datang tanpa orangtua karena jarak yang dekat.


Windy dengan semangat melangkah mendekati kamar yang Ravi tunjuk, tapi mata Windy langsung melotot mengejar Ravi karena marah. Ravi menunjukan kamar mandi.


"Hati-hati sayang nanti jatuh." Bisma datang bersama Jum, menggendong Windy yang masih menjulurkan lidahnya kepada Ravi.


"Senengnya akhirnya kita tetangga Jum, rumah yang tidak terlalu besar sehingga tidak capek berjalan."


"Ini rumah besar woy!" teriak Bisma di dekat telinga Reva.


"Maksudnya aku tidak sebesar rumah lama!" Reva lebih nyolot menatap Bisma yang menyebalkan.


"Iya kak Va, kita bisa bertemu setiap hari."


"Asal jangan lupa suami ya sayang, sekalian ingat ya g diperut."


Jum tersenyum menggagukan kepalanya, Bima masih sibuk mengecek setiap CCTV untuk keamanan keluarga kecilnya.


"Mau dibantu tidak?" Bisma mendekati kakaknya melihat ke arah kamera.


"Aku memang tidak sepintar kamu dalam teknologi, tapi setidaknya aku tidak bodoh." Bima tersenyum mulai mengotak-atik komputernya.


"Selama ini kak Bim sukses karena Bisma mengalah, jika tidak kasihan para pembisnis lain tidak punya peluang."


"Tidak perduli sesukses apapun kita, setiap orang memiliki rezeki masing-masing. Ingatlah kata ibu, rezeki setiap orang tidak pernah tertukar."


"Siap pak bos." Bisma memberikan hormat sambil tertawa.


Jum memasak di dapur Reva untuk makan malam bersama, Reva juga ikut sibuk membantu karena asistennya besok baru pindah, di rumah utama tetap ada yang menjaga juga membersihkan setiap harinya.


Ketiga bocah sibuk dengan kegiatan masing-masing, Windy yang belajar bahasa asing, Tian yang sibuk membongkar mobilnya, berbeda dengan Ravi yang sibuk memandangi sebuah lukisan.


"Bagus tidak Ravi?" Bima mendekati Ravi yang sibuk memandangi lukisan seekor kucing.


"Bagus sekali Uncle, boleh tidak untuk Ravi saja. Jika tidak boleh, Uncle beli di mana?"


"Dari seorang anak kecil yang iseng membuat lukisan, namanya Kasih." Bima mengelus kepala Ravi, mengambil lukisan dan memberikannya kepada Ravi.


"Buat Ravi ya Uncle?"

__ADS_1


"Iya, sekarang lukisan ini milik Ravi, dijaga ya."


"Kasih, dia pasti cantik, lemah lembut, seperti namanya penuh Kasih sayang."


"Emhhh dia memang cantik, dan dia anak yang baik."


Bima tersenyum, melihat Ravi yang memeluk lukisan pemberiannya. Bima tidak tahu apa istimewanya, dia tidak sengaja bertemu gadis kecil yang duduk di pinggir jalan mencoret dinding. Bima membeli alat lukis dan memberikannya sebagai bayarannya, Kasih akan menjual lukisan pertamanya. Tapi untuk anak kecil dan seorang pemula, lukisan Kasih memang sederhana tapi terlihat hidup, jika terus di asah dia bisa menjadi pelukis hebat.


Bunyi salam terdengar, Viana dan Rama datang membawa kue cake buatan Mommynya. Bima mengambil Vira dan menggendongnya, bayi kecil gemuk dan mengemaskan.


"Hai Vira, kamu cantik sekali." Bima mengelus pelan pipi Vira, terlihat senyuman manis yang membuat Bima langsung tersenyum.


"Anak kamu manis sekali Ram?"


"Iya mirip Mommynya."


***


Semuanya makan malam bersama, sesekali Vi memperingati Reva dan Jum soal kandungan mereka, terutama Jum yang banyak maunya.


Bibir Jum manyun dibilang manja yang berlebihan, walaupun Bisma selalu menuruti keinginan istrinya.


Sepulang keluarga Rama dan Viana, Bima meminta Windy juga berisi. Bima juga meminta Reva beristirahat.


Saat menemukan kasur Reva langsung tidur, Bima mencium kening istrinya, mengusap perut Reva yang sudah sedikit terlihat. Perut yang dulunya rata sekarang nampak berisi.


Di tengah malam Reva terbangun, dirasakannya perutnya lapar. Ingin membangun Bima tapi tidak tega karena Reva tahu Bima sedang banyak pekerjaan, belum lagi mengurus pindahan rumah. Akhirnya Reva keluar sendiri, melangkah perlahan menuju dapur.


Lama Reva melihat isi kulkas, mengeluarkan telur untuk membuat nasi goreng. Karena sedang sensitif dengan bawang jadinya nasi goreng tanpa bawang cukup menggunakan telur, kasih kecap selesai.


Kompor sudah hidup minyak juga sudah dipanaskan, Reva tarik nafas untuk memecahkan telur sampai sebuah tangan memeluknya dari belakang.


"Kenapa tidak membangunkan aku Va, kamu tidak tahu betapa paniknya aku melihat kamu tidak ada di samping aku."


"Lapar Ayy, Reva tidak tega melihat wajah Ayy yang terlihat capek."


Bima mematikan kompor, membalik tubuh Reva menghadapnya. Mencium pelan bibir Reva, mengelus pipinya.


"Sayang, tidak ada kata lelah demi kamu, biarkan aku terus mengikuti kamu setiap langkah kamu, jangan pernah bilang kamu menyusahkan aku, jangan pernah tidak enak meminta sesuatu. Setiap hari aku bekerja demi kebahagiaan keluarga kita, tapi aku akan meninggalkan pekerjaan demi moments bersama kalian." Bima menarik Reva dalam pelukannya


"Maaf ya Ayy, Reva tidak akan mengulanginya. Tapi jangan marah ya nanti Reva banyak maunya, jangan pernah berpikir meninggalkan Reva hanya karena rasa bosan."


"Reva sayang berhenti berjuang hanya untuk agar aku nyaman, hanya untuk membuat aku jatuh cinta. Kamu cukup mencintai aku, menjadi dirimu sendiri, biarkan aku yang berjuang untuk membuat kamu nyaman, membuat kamu beruntung memiliki aku, membuat kamu tidak akan pernah meninggalkan aku."

__ADS_1


"Kenapa Reva harus diam dan bertahan dengan tetap mencintai."


"Karena kamu terlalu banyak berkorban, aku tidak bisa membaca pikiran kamu. Sekarang izinkan aku yang banyak berkorban, sudah cukup seorang Reva mengejar cinta Bima, sekarang Bima yang akan mengejar cinta Reva."


Reva meneteskan air matanya, Bima menghapus air mata Reva. mendudukkan Reva di kursi. Bima mengambil alih memasang nasi goreng.


"Ayy jangan pakai jenis bawah, Reva mual baunya."


"Oke, aku tahu kamu mual sejak tiga hari yang lalu jika melihat bibi memegang bawang."


"Jadi Ayy memperhatikan Reva,"


"Iya sayang, jika kamu tidak ingin mengatakannya, akan Ayy cari tahu sendiri."


Tidak berapa lama Bima menyelesaikan nasi gorengnya, menyerahkan ke Reva yang langsung melahap masakan pertama Bima.


"Pelan-pelan sayang, tidak ada yang akan mencurinya."


"Enak, Ayy pintar masaknya."


"Syukurlah kamu menyukainya."


"Ayy pernah memasak untuk wanita lain tidak?"


"Emhhh..., pernah satu kali."


Reva diam menghabiskan makanannya, wajah Reva sedikit berubah.


"Siapa Ayy?"


"Viana Arsen."


Selesai makan, Reva meminum airnya yang sudah disiapkan Bima, meletakkan piring. Lalu melangkah pergi meninggalkan Bima.


"Sayang, kenapa tiba-tiba diam."


"Aku selalu menjadi nomor dua antara kamu dan Viana!" teriak Reva kencang, langsung melangkah menuju kamar.


Bima yang mendengar teriakkan Reva langsung menyembuhkan air yang baru saja dia minum.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2