MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 AIR MATA SEDIH DAN BAHAGIA


__ADS_3

Suara Bima teriak kuat meminta Reva berhenti, Viana dan Jum menahan Bima sambil tertawa meminta Reva mematahkan tulang Lukas.


"Gila, tidak heran Windy menyeramkan, Maminya juga bentuknya begitu." Saka berdiri di belakang Ghina, menutupi bagian bawahannya. Melihat Lukas yang rusak masa depannya.


"Win, Mami kamu umurnya berapa?" Wilo bersembunyi di belakang Windy.


"Lebih tua sedikit dari Om Stev, mungkin 32tahun." Windy tersenyum melihat Maminya yang masih saja menakutkan.


"Reva berhenti!" Bima teriak kuat, Reva langsung membalik badannya melihat Bima, mencari sesuatu yang bisa dia gunakan.


Reva melangkah mengambil kursi besi yang tidak jauh dari keberadaannya, Bima mendorong Viana dan Jum langsung berlari kencang.


"Apa yang kalian tonton menunggu dia mati?" Bima berdiri melindungi Lukas yang sudah jatuh pingsan, matanya tajam menatap para aparat kepolisian, bagian bawah Lukas habis Reva tendang, juga menginjak-injak sampai hampir hancur.


"Sayang, berhenti di sini dia bisa mati."


"Reva datang memang ingin membunuhnya."


"Lihat anak kamu, mereka butuh kamu jangan memberikan contoh yang jelek."


"Aku akan mengajarkan kepada Winda agar melakukan hal yang sama, siapapun yang menyakiti dia harus dia lumpuhkan, aku tidak ingin ada orang yang menginjak anak-anakku."


"Va, kamu masih mengganggap aku suami tidak, jika masih hargai aku, sekali aku bilang berhenti maka berhenti."


"Semua ini terjadi karena kamu, sudah Reva katakan jangan biarkan Windy pergi, tapi kamu mengambil tindakan sendiri. Bima kamu sudah tidak menganggap aku sebagai istri lagi." Air mata Reva menetes langsung menggunakan kembali kacamatanya, tidak ingin ada yang melihatnya menangis.


"Yeee Mami menang." Winda lompat-lompat bahagia.


Vira dan Bella juga bertepuk tangan, Billa tersenyum saja mengikuti ketiga wanita yang lompat bahagia, mengatakan Mami Reva menang.


Bima mendekati Reva mengambil kursi dari tangan Reva, Bima ingin memeluk, tapi ditolak oleh Reva.


"Kamu ingin aku yang membunuhnya? Va bukan hanya kamu yang terluka melihat Windy dipukul. Aku Papinya, sejak bayi Windy bersamaku, aku juga ingin membunuhnya, kamu tidak perlu mengotori tangan kamu, aku masih hidup untuk melindungi kalian. Katakan apa yang ingin kamu ingin aku lakukan?" Bima mengusap kepala Reva lembut.


"Dia harus cacat, menderita sampai dia menyesal mengenal keluarga kita." Reva menatap Lukas.


Polisi yang ingin membawa Lukas yang tersadar dari pingsannya, tapi ragu melihat tatapan Reva, mereka takut melihat wanita gila seperti Reva yang tidak ada tempat takutnya.


"Jangan menyalakan dia Va, saat kita muda pastinya kita diberikan dua pilihan menjadi orang baik, atau sedikit jahat." Steven tersenyum dari lantai atas berjalan pelan membawa infusnya.


"Kamu hampir mati Stev karena dia."


"Belum, jika dia memang berniat membunuhku, mungkin pisau tidak dicabut, tapi ditekan ke dalam menembus jantung." Mata Steven menatap Lukas yang sudah tidak bisa berjalan lagi.

__ADS_1


"Kamu kejam Va, apa gunanya lelaki jika bagian ini terluka, atau tidak berfungsi?" Steven tertawa meminta dokter menolong Lukas.


"Kamu ingin merasakannya, aku masih memiliki tenaga." Reva melangkah mendekati Steven.


"Va, kamu membutuhkan cucu dari aku." Tawa Steven langsung besar mengambil ponsel Reva, menyerahkannya.


"Masih bisa tertawa kamu Stev?"


"Jangan terlalu mudah marah Va, nanti cepat tua, sedangkan kak Bim semakin muda. Sudah berapa tahun aku mengenal kamu, masih belum ada yang berubah, ponsel, high heels selalu menjadi korban."


"Kak Stev, Mami satu minggu sekali membeli handphone baru." Winda mendekat tersenyum melihat Stev.


"Selamat datang Winda."


"Akhirnya ada yang menyambut kedatangan Winda."


"Vira juga datang kak Steven, sepetinya kak Stev sudah sehat." Vira mendekati Steven.


"Belum Vira, lihatlah masih ada selang ditangan kak Stev." Bella meniup tangan Stev agar cepat sembuh.


"Sudah Bella, jika sakit harus tidur. Benar tidak Billa?"


"Kak Stev masih sakit, lihatlah wajahnya pucat, bibirnya kering, matanya sayu, darahnya masih mengalir di selang." Billa memperhatikan keadaan Steven.


"Ucapkan selamat datang kepada Putri Bella, seharunya kita menggunakan gaun, disambut dengan kereta kuda yang terbuat dari emas." Bella langsung tersenyum.


Stev langsung berlutut, tidak sanggup lagi berdiri. Melihat empat gadis cantik yang semuanya pintar.


"Selamat datang Putri Winda Bramasta di kingdom Cana, Selamat datang juga untuk Putri Vira Prasetya di kerajaan Cana." Steven memberikan hormat dengan menundukkan kepalanya.


"Kurang lengkap seharusnya Vira Clori Prasetya."


"Maafkan hamba putri, selamat datang juga untuk Putri Bella dan Billa Bramasta di kingdom Cana." Steven mengacak rambut keempat gadis kecil.


Bima membantu Steven berdiri, meminta kursi roda agar Stev bisa duduk. Athala langsung berlari mencari kursi roda, membantu Stev duduk.


"Saka awasi Lukas, Raja Hanz saya juga meminta sesuatu agar Lukas dikembalikan kepada keluarganya, pasti kedua orangtuanya sedang khawatir, mereka sebenarnya orang baik, mohon kabulkan permintaan saya, jangan merusak masa depan Lukas."


"Reva tidak setuju, dia berbahaya Steven."


"Aku setuju dengan Stev, saat masih muda dia masih tidak bisa membedakan antara bahagia sesaat dan selamanya." Bisma tersenyum melihat Steven yang sekarang pikirannya sudah jauh lebih dewasa.


Suara teriakan dari luar terdengar, Ravi, Erik dan Bastian mendekati Windy langsung memeluknya, mereka tertidur sampai tertinggal di mobil.

__ADS_1


"Kalian terlambat tadi ada adegan seru." Vira menatap empat orang yang berpelukan.


"Kak Windy baik-baik saja?" Tian menatap wajah kakaknya.


"Iya, kak Win baik."


"Tian bukan adik kak Windy, lalu siapa Tian?"


"Kamu putranya Ayah Bisma dan Bunda Jum, adiknya kak Windy."


"Kenapa tidak memberikan kabar? kita pasti datang menyelamatkan kak Win." Ravi melihat dengan tatapan marah.


"Kak Win baik Ravi, maafkan sudah membuat kalian semua khawatir. Kak Windy hanya ingin menangis, boleh minta peluk." Windy menangis menyembunyikan wajahnya, Tian, Ravi dan Erik memeluk melindungi Windy.


"Beberapa bulan ini kak Win gelisah, antara bahagia, bersedih, khawatir, takut sedang bercampur aduk. Kak Win bahagia melihat keluarga kandung kak Windy akhirnya terbongkar, bahagia juga melihat cinta keluarga untuk Windy, tapi sedih juga melihat Wilo terluka, Om Steven juga terluka, Lukas sahabat Windy berkhianat. Hati kak Windy sakit." Windy memeluk erat tiga adik lelakinya.


Wildan mendekati Windy, menggenggam erat tangan Windy. Senyuman Windy terlihat melepaskan pelukan berlutut melihat adik lelakinya.


"Kamu ingin mengatakan apa Wil? bisa kamu menghibur kak Windy." Windy mencium kedua pipi Wildan.


"Kak, ada banyak hal yang akan terjadi yang tidak bisa kita hentikan. Hal sedih bukan sesuatu yang membuat kak Win kehilangan, tapi pelajaran agar kak Win semakin dewasa. Jangan pernah ragukan cinta keluarga, jangan menangis, sudah terlalu banyak air mata. Air mata Mami, Papi, Ayah kak Win, Kakak, juga adik-adik kak Win, jadi jangan menangis lagi, sudah banyak yang menggantikan air mata kak Win." Wildan memeluk erat Windy, mengusap punggungnya.


"Adik lelakiku yang terbaik."


"Vira tidak menangis, Bella Billa juga, Winda kamu menangis tidak?"


"Menangis, karena Mami menangis."


"Yaaa, bagaimana caranya agar kita juga menangis." Vira cemberut.


Winda menginjak kaki Vira kuat, menendang sampai jatuh, Bella Billa juga ditarik rambutnya sampai terguling. Semua kaget melihat Winda, suara tangisan Billa terdengar kuat, mengusap kepalanya, Bella matanya juga berkaca-kaca, Vira sudah merangkak mencari Daddy-nya langsung menangis kuat.


"Winda apa yang kamu lakukan sayang?" Tian mengendong Billa, tangisan Bella langsung kuat.


"Mereka ingin menangis, Winda hanya membantunya." Winda langsung menangis berlari menemui Papinya.


***


...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA...


...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...


***

__ADS_1


__ADS_2