
Di dalam mobil terasa sangat dingin, ditambah lagi Bima dan Reva yang sama-sama diam. Tatapan mata Bima juga tajam, Reva hanya menelan ludah tapi tidak mau mengalah karena Bima lebih pilih kerja daripada mencarinya.
"Dari mana kamu selama ini?" Bima memulai percakapan.
"Bukan urusan kamu!"
"Bicara baik-baik Reva, saya tidak ingin bertengkar." Nada saja ditekan dalam.
"Terserah!"
"Kenapa kamu marah, menuduh tanpa sebab. Tidak sopan sama orang lebih tua."
"Ya sorry! aku liburan bareng Romi ke kampung nelayan." Reva tersenyum sengaja memancing amarah Bima, jika Reva cemburuan bagaimana dengan Bima yang sangat posesif.
Mobil Bima langsung berhenti, Reva hampir terdorong karena berhenti mendadak syukurnya dia menggunakan sabuk pengaman.
"Kamu bilang apa? sama siapa?
"Liburan! sama Romi." Reva melotot melawan tatapan Bima yang sudah nampak marah.
"Sabar Bima sabar, marah tidak akan menyelesaikan masalah." Batin Bima menenangkan dirinya sendiri.
Mobil kembali berjalan, kini Bima tidak bersuara lagi. Kekesalan sudah di ubun-ubun, memarahi Reva juga tidak ada gunanya. Diamlah yang akan menjadi penenang mereka. Bima percaya cinta Reva hanya untuknya, tidak mungkin Reva berpaling hanya karena salah paham.
Sebesar apapun Bima coba menguatkan dirinya, tetap saja rasa kesal dan cemburu menggerogoti dirinya. Banyak pertanyaan di kelapa Bima, apa yang Reva lakukan pergi bersama laki-laki. Tangan Bima kuat menggenggam setir mobil.
Sesekali Reva meliriknya Bima ada perasaan kasihan, juga tidak tega melihat Bima yang diam. Reva juga rindu bicara dan manja, tapi untuk bicara duluan sangat gengsi.
Mobil berhenti di depan apartemen, Reva langsung turun. Tanpa bicara apapun Bima langsung melajukan mobilnya, memukul setir mobilnya dan meminta bantuan seseorang untuk mengetahui apa yang Reva lakukan ke kampung nelayan, meminta selidiki juga sosok Romi. Bima tahu Reva ke kampung nelayan tapi hanya sekedar tahu tidak mencari lebih lanjut karena Reva juga membutuhkan waktu menyendiri. Jika tahu Reva bersama pria lain, Bima tidak akan mungkin pergi ke China.
***
Karena rasa marahnya tidak kunjung reda, Bima mendapatkan laporan soal kegiatan Reva dan Romi, langsung menuju ke kampung nelayan untuk mengecek langsung.
Sampai di sana Bima melihat banyaknya pembangunan rumah warga, kedatangan Bima disambut oleh Tante Ais yang sudah bisa menduga kedatangan Bima pasti karena perginya Reva.
Bima mendekati Romi yang hanya tersenyum menatapnya, Romi tahu sosok Bima walaupun belum pernah ketemu.
"Kenapa Om, curiga saya dan Reva ada hubungan. Tenang saja menjadi sahabat sudah cukup."
"Sejak kapan kalian berteman?"
"Sejak sekolah, aku, Reva, Septi, Rama, Ivan dan Satya."
"Jadi kalian juga satu geng, tapi kamu tidak pernah muncul."
"Karena aku kuliah di luar negeri, dan baru tahun ini kembali."
__ADS_1
Romi menatap sosok Bima, sangat tampan juga cara bicaranya yang lembut dan tenang pasti banyak wanita yang mengejar cinta Om Bima. Romi hanya bisa melepaskan Reva untuk bahagia bersama laki-laki hebat seperti Bima.
"Baiklah aku hari ini langsung kembali, bisa rahasiakan kedatanganku dari Reva. Dan juga kalau membutuhkan bantuan hubungi aku."
"Seriusan Om boleh!"
"Ya! kecuali menyerahkan Reva."
Romi tertawa, ternyata Reva cukup penting untuk Bima, sehingga tidak ternilai harganya.
"Om seorang pengusaha, bisa menjadi investor tetap dalam pembangunan ini selain Reva, membahas pembangunan dengan Reva tidak nyambung. Tapi sepertinya Om bisa nyambung, Romi butuh teman untuk bertukar pikiran."
"Oke!" Bima tersenyum dan bersalaman dengan Romi.
Sebelum pulang Bima melihat pembangunan, beberapa tempat Bima dan Romi kunjungi. Mendengar banyak penjelasan dari Bima soal bisnis membuat Romi banyak belajar hal baru, wawasan Bima sangat luas penjelasannya sangat detail.
"Om sejak usia berapa Om berbisnis?"
"Usia 15tahun, bisnis pertama soal peternakan."
"Om dari kalangan atas atau bawah, mengapa bisa menjadi pendamping Rama."
"Kalangan atas, tapi aku tidak suka bisnis keluarga, lebih enak merintis dari bawah lebih terasa perjuangannya. Sakitnya gagal senangnya sukses. Soal Ramaa karena sebuah janji."
"Om sangat luar biasa, Romi kagum. Mohon bimbingannya Om, Romi juga sedang berkelana mencari jati diri dan mempraktekkan kemampuan Romi.
"Hubungi Om jika membutuhkan bantuan, tapi hilang rasa cinta untuk Reva." Bima tersenyum.
Bima tersenyum, dia bisa melihat ketulusan di mata Romi. Tapi rasa cemburunya terlalu besar, Bima juga tidak mengerti dengan dirinya yang sekarang. Posesif dan sangat mudah cemburu.
Setelah menyelesaikan semuanya, Bima menyapa penduduk untuk pamit pulang. Bima mendekati Tante Ais, Bima tahu Tante Ais yang membuat taruhan.
"Terimakasih untuk taruhannya."
"Jaga Reva! dan boleh saya meminta sesuatu."
"Menghancurkan bisnis mantan kamu, dan sang pelakorr."
"Iya Bima, Tante ingin dia tahu kesuksesannya tidak lepas dari istrinya."
"Karma berlaku! mereka akan hancur pada waktunya. Hilangkan dendam buktikan, Tante bisa menjadi wanita kuat dan pantas untuk diperjuangkan dan menjadi ratu."
"Kamu benar, Tante hanya perlu berjuang untuk kebahagiaan Tante sendiri."
Bima tersenyum dan langsung pergi meninggalkan kampung nelayan.
***
__ADS_1
Bisma datang ke rumah mewah Bima, mencari kartu keluarga. Tapi tidak bisa menemukannya.
"Cari apa?"
"Cari identitas! Bisma mau melamar tapi tidak punya kartu keluarga nanti dipikiran calon mertua Bisma buronan."
Bima duduk dan mengeluarkan beberapa berkas penting soal Bisma yang dia sembunyikan, Bisma mendekat dan tersenyum jika dia ternyata masih dianggap kelurga Bramasta.
"Bisma! jalankan perusahaan keluarga."
"Bisnis keluarga kita masih ada, bukannya sudah dipegang oleh orang lain."
"Aku hanya melepaskan untuk di jalanan di luar nama kita, dan kamulah penerusnya." Bima menyerahkan perusahaan kepada Bisma.
"Aku sibuk dan punya bisnis juga, tidak punya banyak waktu."
"Serahkan pada Tian saat besar nanti."
Bisma hanya tersenyum, dia juga menceritakan niatnya menikah Jum dan segera menemui keluarga Jum. Bima menyetujui keinginan Bisma yang ingin cepat mendahului dirinya menikahi Jum.
"Terimakasih kak," Bisma langsung pergi, ada rasa bahagia dihatinya karena bisa merasakan sosok kakaknya kembali, berbagi cerita dengan Bima seperti saat mereka kecil.
Bisma melihat Jum yang sedang bermain dengan Windy langsung memeluknya.
"Mas lepaskan, malu ada Windy." Jum memukuli Bisma.
"maaf sayang, ayo kita ke desa bertemu orang tua kamu."
"Kenapa harus buru-buru? masalah kak Vi baru selesai, sekarang masih masalah Reva."
"jangan mengurusi kehidupan mereka, kita hanya perlu mengurusi hidup kita. Mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri.
"Tunggu Reva baikan dengan kak Bima, Jum baru setuju untuk menemui bapak dan ibu."
"Astaga Jum penting sekali Reva untuk kamu, baiklah ikuti cara mas, soal gampang mengurusi Reva."
"Mami memang penting uncle!" Windy langsung cemberut.
Bisma menggendong Windy dan menciumnya, Bisma sangat menyayangi Windy. Tidak rela Bima melihat bibir mungilnya cemberut.
"Iya sayang, maafkan uncle ya. Mommy kamu menang penting."
"Mami Uncle!"
"Ralat sayang, Mami." Bisma memeluk Windy yang sudah tersenyum.
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA.
***