MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 TIDUR


__ADS_3

Senyuman semua terlihat, Steven masih terdiam tidak percaya jika dirinya dan Windy sudah berstatus suami istri.


Windy duduk di samping Steven, saling tukar cincin. Senyuman kedua terlihat malu-malu.


Stev memasang cincin, Windy juga melakukan hal yang sama.


Windy mencium tangan Stev, langsung berpelukan. Steven meletakan tangannya di atas kepala Windy, mendoakan pernikahan mereka agar menjadi keluarga sakinah, mawadah warahmah.


Bima menundukkan kepalanya, mengusap matanya karena kehilangan satu putri tercinta yang harus mengikuti suaminya.


Bisma merangkul kakaknya yang terlihat sedih, Bisma juga sangat menyayangi Windy sampai hampir membunuh Brit karena menyakiti keponakannya.


"Windy Steven, Ayah doakan kalian selalu bahagia."


"Cepat memiliki momongan." Jum tersenyum.


"Amin." Seluruh orang teriak kuat membuat Windy dan Steven tertawa.


"Tradisi keluarga, jika ada yang menikah pihak keluarga boleh mengajukan pertanyaan, kalian harus menjawab jujur." Ravi tersenyum menyusun kursi untuk berkumpul seluruh keluarga.


Steven dan Windy menganggukkan kepalanya, suara tertawa terdengar terutama suara Ravi dan Erik.


Keheranan terlihat, menatap Winda, Vira dan Bella yang masih duduk diam.


"Kenapa kalian berempat menjadi patung?"


"Mami bilang kita tidak boleh bergerak." Winda memonyongkan bibirnya.


"Sekarang boleh." Reva tertawa melihat kemarahan putrinya.


Semuanya diam, Windy dan Steven langsung deg-degan melihat seluruh keluarga menatapnya.


"Kalian pernah ciuman bibir tidak?" Ravi menutup mulutnya.


Steven mengerutkan keningnya, menatap Windy yang menghela nafasnya.


"Pernah." Windy dan Stev menjawab bersamaan.


"Ciuman yang tidak bisa dilupakan?" Erik tertawa lucu.


"Emh, saat di tempat hantu." Stev tersenyum menatap Windy.


"Oh, jadi tidak bisa dilupakan, mencium bibir Windy tapi mengkhayal perempuan lain." Windy langsung cemberut.


"Bukan seperti itu sayang, sebenarnya aku menyadari jika itu kamu hanya saja keadaan aku tidak berani mengakuinya."


Tatapan mata Bima tajam, Bisma langsung berdiri meminta semuanya pergi. Reva juga langsung berdiri meminta Rama mengalihkan pembicaraan.


Stev tersenyum melihat Bima, melipat tangannya meminta maaf. Windy langsung mendekat memeluk Bima yang tidak rela anaknya dicium pria yang bukan muhrim.


"Kita juga dulu ciuman Bima."


"Aku tidak mengingatnya."


"Oh, aku juga ingat saat mencium, Adam, Ilham, Udin, Arif, risky, Reno, Rian, ciuman paling romantis, tapi sayang saat bersama kamu tidak pernah." Reva memanaskan situasi.


"Aku tidak perduli, paling terpenting aku pemiliknya."


"Papi, Windy sudah sah."


"Kak Bima, ada tamu sebaiknya kita menemukan mereka." Rama tersenyum mengalihkan pembicaraan.


Bima langsung melangkah pergi, semuanya bernafas lega langsung tertawa lucu.


Selesai acara ijab kabul, malamnya baru pesta. Steven menyambut tamu bersama Bima karena masih keluarga.

__ADS_1


Windy juga menyambut keluarga yang datang, karena tidak ingin terlalu lelah, selesai makan siang Windy beristirahat.


Reva, Jum, Ghina, Viana, Can berkumpul menatap Windy yang membersihkan makeup.


"Windy sudah siap belum malam pertama?" Viana menatap Windy senyum-senyum.


"Pasti gagal." Jum mengunyah buah.


"Bunda Jum, Windy sudah menyiapkan diri untuk malam ini."


"Apa yang kamu siapkan Windy?" Reva duduk menatap serius.


"Windy sudah menyiapkan baju, juga mengatur jadwal haid yang baru selesai beberapa hari yang lalu, berarti malam ini aman." Windy tersenyum mengedipkan matanya.


"Kamu genit sekali Windy?" Jum menggelengkan kepalanya.


"Boleh malam ini Mami?"


"Boleh sayang, tapi jangan banyak-banyak nanti bangun tidur tidak bisa berjalan."


"Kenapa?"


"Windy lelaki jika tahu enak tidak akan berhenti, apalagi ini pertama kali." Viana duduk menatap Windy serius.


"Ghina permisi keluar saja."


"Can juga."


Reva tertawa mendekati Windy mengingatkannya soal malam pertama yang lumayan sakit.


"Malam ini satu kali saja, cukup membuat lubang." Reva tersenyum.


"Bagaimana jika Om Stev minta lagi?"


"Iya tambah lagi."


"Jum benarkan."


"Iya benar, Mami dulu juga lebih dari satu kali "


"Sama saja, Rama gayanya saja ABG tahu enak minta lagi."


"Jangan tanya Bunda, bangun tidur rasanya bagian bawah sobek." Jum menatap kesal.


"Tapi enak tidak." Windy tersenyum.


Reva, Viana dan Jum memberikan jempol.


Suara tawa kembali terdengar, Reva meminta Windy mengikuti Stev saja. Steven bukan ABG seperti Rama, pria polos seperti Bima, Stev playboy seperti Bisma yang tahu nikmatnya wanita.


"Windy tidak sabar lagi."


Tawa Viana dan Reva terdengar, Rama, Bima dan Bisma sudah ada di depan pintu meminta semuanya beristirahat membiarkan Windy sendirian.


"Sayang Mami keluar dulu, Papi kamu minta susu."


"Aku tidak minum susu Reva."


"Mommy juga keluar, Daddy juga menginginkan susu."


"Istirahat Windy, Bunda keluar."


"Ayah juga suka susu Bunda?"


"Ayah bukan suka lagi, minuman setiap detik."

__ADS_1


Suara tawa terdengar, Windy melambaikan tangannya melihat ketiga wanita keluar.


Windy melangkah untuk mandi, suara ketukan pintu terdengar. Windy langsung membuka pintu tersenyum mempersilahkan Steven masuk.


"Sudah mandi belum?"


"Belum ay."


"Ya sudah mandi dulu, biar segar."


Windy tersenyum langsung melangkah ke kamar mandi, mandi sebentar melihat Steven yang duduk di ranjang.


"Ada apa Ay?"


"Tidak ada, hanya ingin beristirahat berdua." Stev menepuk tempat tidur meminta Windy mendekat.


Windy langsung duduk mendekat, memeluk Stev yang mengusap wajahnya.


"Ya Allah Steven Windy, Mami sudah katakan pisah kamar dulu." Reva menatap tajam.


"Reva, ketuk pintu dulu." Stev menghela nafasnya.


Reva langsung keluar, terdengar suara teriak Reva memanggil Bima mengatakan Steven di kamar Windy.


Suara Windy tertawa sangat besar, Steven langsung bangkit berlari membuka pintu.


"Silahkan masuk Mami."


"Menantu durhaka." Reva melangkah masuk.


Seluruh keluarga keluar dari kamar mendengar suara cempreng Reva, Bima hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Mami kenapa teriak?"


"Olahraga mulut, nanti malam Mami ingin bernyanyi. Cek cek cek ...." Reva menatap sinis Steven.


"Reva bisa tidak suara kamu dikecilkan sedikit." Steven duduk di sofa menatap Reva yang mengambil alat make-up.


"Kamu juga jaga diri Stev, jangan terlalu mesum. Windy dan kamu dari ukuran badan juga beda, jangan sampai nanti Windy tidak bisa jalan."


"Mami." Windy menutup wajahnya.


"Memangnya Mami salah, kamu mau berjalan ke pelaminan dengan keadaan mengangkang." Reva langsung melangkah keluar.


"Tidak ada juga yang ingin malam pertama sekarang Reva." Stev menepuk jidat.


Suara Windy tertawa terdengar, Maminya memang beda dari yang lain.


Steven langsung kembali ke atas ranjang, memutuskan untuk tidur. Windy juga sama masuk ke dalam pelukan Stev, memejamkan matanya untuk beristirahat.


Winda, Vira, Bella dan Billa membuka pintu, melihat Steven dan Windy tidur berpelukan.


"Biasanya kamar pengantin ada bunga mawar, tapi ini tidak ada?" Winda menatap sekelilingnya.


"Mungkin bukan yang ini kamarnya." Vira melihat ke arah jendela.


Billa langsung naik ke atas ranjang, tidur di samping Steven, Bella juga tidur di samping Windy.


"Ayo tidur saja, nanti malam kita akan bernyanyi." Vira naik rajang, tidur sempit-sempitan


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2