
Pintu ruangan Ar terbuka, Winda belum melihat keberadaan Ar langsung membuat pintu ruangan lain yang ternyata ada tempat istirahat.
Winda melihat Ar yang sedang berdiri di depan kaca, memakai baju kemejanya baru memakai dasi.
"Kenapa pintu tidak dikunci?"
"Tidak ada yang berani masuk, karena di depan ruangan ada yang jaga." Ar merapikan rambutnya.
"Aku membeli sarapan di bawah, ayo kita makan dulu." Winda langsung melangkah keluar kamar, duduk di sofa menyiapkan makanan.
Ar langsung keluar, duduk di depan Winda mengambil makanan yang sudah disiapkan. Keduanya diam, tidak ada yang mengeluarkan suara, Ar juga makan sambil bekerja.
Winda tidak menyukai suasana canggung, dirinya diabaikan. Ingin memulai bicara, tapi gengsi melihat wajah Ar yang sangat dingin, juga tidak bersahabat.
"Winda pulang duluan." Tatapan Winda tajam, langsung melangkah pergi karena kesal melihat Ar yang diam saja.
Pintu terkunci otomatis, Ar berjalan mendekati Winda langsung memeluknya dari belakang. Mata Winda terpejam merasakan pelukan erat juga hangat hembusan nafas.
"Maafkan aku yang bicara kasar, perbuatan aku kasar, nada tinggi, membentak dan memarahi kamu. Maafkan aku Winda." Mata Ar juga terpejam, semakin mengeratkan pelukannya tidak ingin melepaskan sedikitpun.
"Aku mencintai kamu Win, saat tahu kamu di rumah orang asing rasanya aku tidak bisa menghirup nafas, karena sangat mengkhawatirkan kamu. Maafkan aku jika terlalu berlebihan." Pelukan merenggang, Ar membukakan pintu langsung melangkah mundur.
"Maaf, Winda tidak bermaksud membuat kamu marah, juga tidak berniat menyakiti hati kamu. Winda salah karena terlalu gegabah." Winda menutup pintu, melihat Ar yang tersenyum.
Sungguh Winda membenci dirinya yang tergoda dengan senyuman manis Ar, rasanya ingin sekali menciumnya.
"Win, apa yang kamu lihat?" Ar menyentuh pundak Winda membuatnya tersadar.
Winda menyentuh bibir Ar, langsung tertawa lepas melihat tingkah dirinya yang tergoda lebih dulu melihat ketampanan pria di depannya.
"Winda, kenapa kamu tertawa? Ar kebingungan melihat tingkah Winda yang terlihat aneh.
"Winda ingin mencium bibir kamu, tapi malu." Senyuman Winda terlihat, memejamkan matanya.
Ar kaget mendengarnya, bukannya mengatakan secara langsung lebih memalukan. Kejujuran Winda membuat Ar canggung juga kehabisan kata-kata.
Kedua tangan menyentuh wajah tampan, mendekati wajahnya yang terlihat memerah karena malu.
__ADS_1
"Kamu tampan, ini pertama kalinya Winda melihat wajah pria semulus ini." Winda jijik sekali mendengar kata-kata yang keluar secara spontan dari mulutnya.
Batin Winda mengutuk diri sendiri yang terus maju ingin merasakan bibir indah dihadapannya.
"Winda, kita lanjut di rumah saja." Ar tersenyum, mengusap dadanya.
Tatapan Winda tajam, sungguh hancur harga dirinya yang ditolak untuk merasakan nikmatnya.
Bibir Winda langsung monyong, berbalik badan sudah mirip Wira jika marah membelakangi, bibir monyong.
Senyuman Ar terlihat, langsung menarik Winda untuk duduk. Suara tawa Ar membuat Winda lebih ingin menggila. Entah sejak kapan dirinya sangat genit dan tidak punya harga diri.
"Hari ini aku kerja sebentar, bakal dilanjut oleh sekretaris Pribadi aku. Nanti aku temani kamu."
"Boleh, tapi cium dulu." Winda memperlihat wajah mengemaskan. Dirinya sudah tidak perduli lagi dengan harga diri, jika Ar menginginkan dirinya saat ini juga langsung diberikan, jika Ar tidak ingin Winda sendiri yang akan memaksa.
Ar tarik nafas, langsung mendekati wajah Winda mencium keningnya. Tatapan Winda tajam, mencengkram kerah kemeja Ar langsung mencium bibirnya.
Serangan Winda membuat Ar tidak berkutik, hanya memejamkan matanya merasakan ciuman mereka yang kesekian kalinya, tapi rasanya masih canggung.
Keduanya tidak menyadari, jika ada seseorang yang yang menutup pintu perlahan. Berjaga di depan pintu agar tidak ada yang masuk dan menggangu.
Serangan dadakan berbalik, posisi Winda sudah duduk di atas pangkuan Ar. Bibir Winda rasanya perih.
Tangan nakal Winda membuka baju kemeja, melepaskan dasi, membuka beberapa kancing baju meraba dada membuat Ar menahan tangan yang menyentuhnya.
"Kenapa berhenti?" Winda melihat Ar yang memegang kepalanya.
"Kepala aku pusing."
"Sepertinya hari ini kamu tidak bisa berkerja." Winda mencium leher yang terbuka, membuat jejak merah.
Tangan Ar memeluk tubuh Winda erat, pikirannya langsung liar mengangkat baju Winda.
"Winda, ayo ke kamar. Aku tidak akan mengambil kehormatan kamu, jika tidak diizinkan. Kepala aku sakit sulit mengendalikan diri." Ar mencium leher Winda yang wangi.
"Tidak mau, itu hukuman untuk kamu yang membuat Winda tergoda. Rasakan sakit kepala" Winda langsung mendorong Ar yang tergeletak di sofa.
__ADS_1
Suara Winda tertawa terdengar, Ar memejamkan matanya mengatur nafasnya untuk melupakan indahnya tubuh Winda.
"Aduh kasihan." Winda mengusap wajah Ar, mengigit bibirnya pelan.
"Winda kamu tega sekali, awas saja kamu nanti malam, aku tidak akan meminta izin dan melepaskan kamu." Ar memijit pelipisnya.
"Baiklah Winda tunggu, kita lihat saja siapa yang tersiksa malam ini. Winda pulang dulu, ada sesuatu yang harus Winda lakukan." Bekali-kali Winda mencium wajah Ar langsung berlari keluar.
Di depan pintu Winda bertemu sekretaris pribadi suaminya, Winda menitipkan suaminya untuk dijaga agar tidak ada wanita yang mendekatinya, karena dia sedang bernafsu.
Sekretaris Ar terkejut mendengar pesan istri bosnya, langsung masuk melihat penampilan Ar yang berantakan.
"Tuan, minum air dulu agar pikiran lebih jernih."
Ar tersenyum langsung meneguk air minum, istrinya memang luar biasa jahilnya.
"Tuan muda, maaf jika saya lancang. Trauma tuan seperti tidak berpengaruh dengan istri anda. Sudah hampir sepuluh tahun, tuan tidak biasa berdekatan dengan wanita, tapi bersama dia bisa sampai bernafsu."
"Cukup, kamu keluar. Sebentar lagi kita meeting." Ar menghabiskan air mineralnya, langsung duduk di kursi kerjanya.
Senyuman Ar terlihat menatap tangannya, ucapan sekretarisnya ada benarnya. Selain keluarga tidak ada orang luar yang bisa menyentuhkannya.
"Aku takut menyentuh wanita, bahkan sampai kejang-kejang mengingat kejadian Ummi, tapi kenapa bersama Winda menikmatinya. Ayo fokus kerja Ar." Senyuman manis terlihat, langsung menatap foto Winda yang ada di dalam ruangannya.
Di perjalanan Winda melakukan panggilan dengan Vira, menceritakan dirinya yang tergoda dengan pesona Ar. Membayangkan bibirnya, matanya, hidung membuat Winda ingin melihat film dewasa.
Vira sudah tertawa terpingkal-pingkal bersama dengan Bella dan Billa, Kasih yang mendengar cerita Winda juga tertawa.
Reva, Viana dan Jum juga mendengarkan cerita konyol Winda yang bisa-bisanya bercerita soal hubungan pernikahannya.
[Lanjutkan sampai ke atas ranjang Winda, Mami dulu juga membuka baju sendiri.] Reva tertawa kuat, lucu melihat tingkah putrinya.
[Mami, selalu mengajari Winda yang sesat.]
[Mbak Reva tidak boleh seperti itu, wanita harus anggun.] Jum mengajari Winda untuk bersabar.
[Anggun, akhirnya juga tetap teriak Jum. Teruskan saja Win, jika dia lama berikan saja obat kuat.] Viana tertawa, diikuti yang lainnya.
__ADS_1
Winda sangat bahagia bisa mengobrol dengan para wanita lucu di dalam keluarganya, rasanya beban dalam hidup hilang.
***