MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
PERTAMA KALINYA


__ADS_3

Satu minggu sudah pernikahan Reva dan Bima, aktivitas keduanya sudah kembali. Bima sudah mulai bekerja, tapi Reva masih asik di rumah. Malam pertama tertunda sangat lama, Bima juga setiap hari pulang larut, karena dia sedang mengawasi pembukaan cabang baru.


"Mami" suara teriakan Windy membuyarkan lamunan Reva.


Cepat Reva melangkah merentangkan tangannya, pelukan hangat keduanya rasakan. Reva mengendong Windy sambil memutarnya, Reva sangat bahagia akhirat bisa menjadi ibu Windy sesungguhnya.


Bima masuk dan melihat Reva dan Windy yang sedang berpelukan.


"Sepertinya ada yang mulai dilupakan?"


Melihat Bima, Reva langsung mendekat mencium tangannya. Windy langsung memeluk Bima.


"jemput Windy tidak memberi tahu, aku juga mau ikut." Reva langsung manyun.


"Takut! nanti kamu tidak mau ikut pulang," Bima mengejek Reva, jika ke rumah ibunya sering menangis tidak mau ke kota lagi.


"Ayy tidak kerja?" Reva mendekati Bima yang sedang duduk di sofa, Windy sudah berlari ke dalam kamarnya.


"Pembangunan hampir selesai, cukup mengawasi dari jauh." Bima menepuk sofa meminta Reva duduk di dekatnya.


"Aku buatkan minum dulu,"


"Minta tolong bibi saja." Bima memanggil asistennya meminta tolong dibuatkan minuman.


Reva duduk di samping Bima, suara teriakan Windy membuyarkan pandangan keduanya. Cepat Reva berlari menuju kamar Windy, dari dalam Windy berdiri kaget melihat seekor burung besar berada di kamarnya.


"Windy tidak mau tidur di sini!" teriak Windy marah, karena kamarnya penuh kotoran.


Reva membuka jendela, burung langsung keluar. Selama Windy tidak pulang kamarnya tidak dicek dan mungkin saat jendela terbuka burung masuk tapi tidak tahu cara keluar karena jendela sudah tertutup.


Hanya selimut Windy yang kotor, Reva langsung mengambilnya menyerahkan kepada maid. Reva memanggil Windy untuk duduk di sampingnya.


"Tidak mau Mami, kotor." Windy masih manyun dan kesal.


"Ayo sini!"


Windy akhirnya menurut dan duduk di pinggir ranjangnya dengan tatapan geli, Bima hanya diam menatap dari pintu.


"Kamu menyalahkan siapa?" Reva bicara pelan, karena tidak suka mendengar Windy berteriak kuat terhadap maid yang jauh lebih tua.


"salahnya embak, dia tidak membersihkan kamar Windy."


"kamar ini tanggung jawab kamu, bukan embak. Seharusnya saat tahu mau pergi semua jendela ditutup, embak juga tidak tahu jika burung sudah masuk."


"Iya mami, Windy lupa."

__ADS_1


"Sekarang saatnya Windy dewasa dan mandiri, embak hanya membantu bukan berati dia harus mengerjakan segalanya. Tugasnya hanya membantu meringankan pekerjaan kita."


"Iya, Windy minta maaf ya mbak, Windy akan menjaga kamar Windy."


Air mata Windy menetes, dia langsung memeluk Reva. Seakan takut Reva pergi, dengan lembut Reva mengelus rambut putrinya.


"Maaf ya Mami, Windy tidak sopan teriak seperti tadi. Mami jangan marah." Windy sangat menginginkan rasanya ditegur saat melakukan salah, dari kecil tidak ada yang mendengarkannya. Semua kebutuhan tinggal perintah, tidak ada yang menolak, semuanya hanya menjawab iya.


"Sayang, saat Mami seusia kamu mungkin jauh lebih muda dari kamu pernah berada di masa yang sangat sulit. Rumah kakek dijual pamannya sehingga sekeluarga diusir, kita menumpang di rumah orang."


Reva langsung menangis, tidak sanggup dia mengatakan kesedihannya jika mengingat hari itu.


"Mami!" Windy memeluk Reva.


"Kamu mau tahu kami tidur di mana?" Maid yang berada di kamar juga meneteskan air matanya.


"Di dapur ya mam, atau gudang."


"Kamar mandi yang sudah tidak terpakai, karena tidak muat, Mami bersama adik-adik Mami tidur di dalam bak. Pengalaman yang tidak pernah Mami lupakan, sejarah hidup Mami. Setiap ingin membeli sesuatu, selalu Mami memperingati diri sendiri untuk tidak serakah dan berfoya-foya sebanyak apa harta."


Tangisan Windy kuat, dia memeluk Reva sangat kencang. Kedua asisten pribadi Windy juga menangis sesenggukan.


"Kenapa kalian juga menangis? ini hanyalah masalalu. Jika aku mulai tidak sopan kalian boleh menegur, anggap aku kakak atau adik kalian."


"Kuncinya hanya satu, jangan melihat di atas tapi lihatlah yang di bawah. Jika hari ini embak ini bekerja dengan kita mungkin nasibnya akan berubah setelah 10tahun bisa berada di atas kita."


"Nyonya bisa aja, mana berani kita bermimpi."


"Semuanya berawal dari mimpi Lara, banyak orang yang ingin menjadi diri kamu, bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri, sedangkan mereka hanya bisa diam."


"Windy juga, jangan pernah meremehkan orang lain, hormati orang yang lebih tua, jika membutuhkan sesuatu bilang tolong."


"Siap Mami."


"Ya sudah Lara tolong bantu Windy membersikan kamarnya." Reva langsung berdiri ingin keluar, sedangkan Bima sudah berada di kamarnya tidak sanggup mendengarkan cerita Reva.


***


Makan malam selesai, Reva menemani Windy sebentar setelahnya langsung masuk ke kamar melihat Bima yang duduk bersandar di ranjang. Di tangan Bima juga ada tablet yang masih penuh dengan perkejaan.


"Ayy tolong," Reva ingin membersihkan wajahnya, tapi kapas melayang mendekati Bima.


Langsung Bima mematikan tabletnya, berjalan mendekati Reva yang masih sibuk di meja rias.


"Va,"

__ADS_1


"Iya Ayy," Reva langsung mendekati Bima yang sudah kembali berbaring di ranjang.


"Kamu sudah selesai bulanannya?" Bima menatap Reva, padahal dia tahu jika mereka sudah sholat berjamaah.


"Emhhh, kita mau mulai malam pertama?" mendengar ucapan Reva, Bima langsung tersenyum menarik pinggang Reva duduk berdempetan.


"kamu sudah siap?"


"Iya, tapi sakit tidak Ayy."


"Belum tahu! harus dicoba dulu." Bima merasakan geli terhadap ucapnya.


Reva masuk dalam pelukan Bima, bau wangi rambut Reva tercium membuat buku Bima merinding. Mungkin ini yang namanya nafsu mulai terpancing.


"Va, terimakasih karena sudah mencintai Windy,"


"Iya dong! Windy anak Reva."


Sebenarnya Bima sedang kebinggungan untuk memulai, dia benar-benar tidak tahu cara berhubungan. Untuk bicara minta izin juga mulutnya terasa pahit, tapi Bima juga ingin melakukan kewajiban.


Reva merasa aneh dengan tatapan Bima, tangannya juga dingin. Keringat juga mulai mengalir.


"Ayy, kamu grogi ya. Ini bukan pertama kalinya bagi Ayy melakukan hubungan suami-istri." Reva menggelengkan kepalanya, pria cool bisa grogi juga sampai keringat dingin.


"Va aku izin ya, kamu bersedia menyerahkan diri kamu kepada aku." Bima menatap mata Reva, sejujurnya Reva ingin tertawa guling-guling tapi kasihan nanti Bima malu, jika mau langsung saja, cium peluk remas tapi kenapa banyak basa-basi."


"Iya Ayy, Reva bersedia." Dalam hati ingin sekali Reva menendang Bima keluar kamar, bahasanya mirip pria tidak berpengalaman.


"Maaf jika tidak bisa memberikan kepuasan." Bima memalingkan wajahnya, menarik nafas. Reva sudah mengerutkan keningnya, pikiran Reva langsung ngelantur, kemungkinan punya Bima kecil sehingga dia tidak bisa puas, tapi cepat Reva menepisnya.


"Va!"


"Emhhh!" Reva mulai kesal, Bima ngomong sekali lagi langsung auto tendang.


"Ini pertama kalinya bagi aku Va,"


"maksudnya Ayy!" Reva langsung melotot dan menatap serius.


***


EPS SELANJUTNYA VISUAL


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT DULU


SEKALIAN KASIH HADIAH.

__ADS_1


__ADS_2