MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 BENTAKAN MAMI


__ADS_3

Selesai mandi Winda langsung merayap ke atas tempat tidur, Ar menahannya untuk sholat. Winda sangat kesal jika selesai berhubungan harus mandi wajib, terus sholat.


Air sangat dingin, Winda tidak suka mandi, tapi tidak bisa menahan diri untuk disentuh.


"Bentar."


"Sholat dulu sayang, baru nanti pakai selimut." Ar tersenyum melihat istrinya yang bergerak menggunakan mukenah.


Kebahagiaan sederhana mereka bisa sholat berjamaah, selesai sholat mereka berdoa. Saat Ar berbalik badan Winda sudah tidur duduk.


Suara Ar tertawa kecil, langsung menggendong istrinya untuk tidur di atas ranjang membiarkan beristirahat.


Langkah kaki Ar menuruni tangga, melihat Papi yang sudah duduk santai. Senyuman Ar terlihat menyapa.


"Di mana Winda Ar?"


"Masih tidur Papi, selesai sholat lanjut tidur lagi."


Bima menggelengkan kepalanya, Ar menceritakan jika Winda memang biasa tidur pagi, malamnya begadang.


"Reva, tolong buatkan Ar minum."


"Tidak Papi, Ar pagi jarang minum susu, teh, biasanya hanya air putih, sebelum sholat tadi sudah banyak minum." Ar meminta maaf kepada Reva, meletakan air mineral.


"Ar kamu terlihat masih canggung sekali, jika kamu tidak nyaman jangan memaksa tinggal serumah, kita tidak bermasalah selama kalian tinggal di komplek sini."


"Tidak Mami, Ar hanya merasa belum terbiasa saja menjadi perhatian. Maaf Ar tidak ...."


"Permisi tuan muda, ini minuman hangat semoga suka."


"Tidak terima kasih, tolong jangan layani saya soalnya ada istri yang lebih pantas. Aku tidak minum yang seperti ini." Ar menghela nafasnya.


Suara pukulan meja terdengar, Ar langsung terdiam Bima menatap Reva yang keterlaluan pagi-pagi sudah memukul meja.


"Winda! Winda!" teriak Reva menggema, Bima menarik tangan istrinya untuk berhenti.


"Saya permisi tuan nyonya."


"Diam di situ."


Winda membuka pintu, menghentakkan kakinya menuruni tangga. Melihat Maminya marah, Ar juga binggung.


"Ada apa Mami? masih pagi sudah marah-marah." Winda menatap minuman.

__ADS_1


"Minuman apa ini? Ar tidak minum. Dia hanya minum air mineral." Winda menatap sinis.


"Makanya punya suami bangun pagi, urus suami kamu, apa ingin menunggu wanita lain yang mengurusnya?" Nada bicara Reva tinggi.


Winda baru saja ingin menjawab, Ar menahannya untuk diam tidak menjawab ucapan Maminya, jika tidak hanya akan terjadi keributan.


"Kamu saya pecat, keluar baik-baik atau saja penjarakan."


"Apa salah saya nyonya? saya hanya melayani."


Suara tamparan kuat terdengar, Reva melayangkan pukulan membuat Bima langsung berdiri.


Reva sudah lama mengawasi, sejak ganti asisten baru CCTV Reva aktif semua, dia sudah melihat perlakuan asisten baru yang berwajah pas-pasan menggoda menantu pertamanya menggunakan baju seksi.


Bahkan Wildan juga yang sempat marah, selalu menyapa Erik, Reva sudah mengawasi semuanya bahkan pernah mencuri.


"Sudah selalu aku katakan, jika kalian baik, aku jauh lebih baik, tapi jika berani macam-macam kalian cari mati masuk keluarga ini. Keluar!" Tatapan Reva tajam, sikapnya yang keras kembali terlihat.


"Abi baik-baik saja." Winda memeluk suaminya.


"Mami tahu tadi malam Ar berlari ketakutan sambil merinding melihat dia menggunakan baju seksi, subuh ini menumpahkan air karena disentuh ditangan. Maaf ya Ar kamu pasti tidak nyaman sekali." Mami tersenyum mengusap lengan menantunya.


"Reva, bisa kamu kurangi sifat kasar kamu?"


Winda juga memeluk Ar erat, ternyata sudah tertidur sambil berdiri. Reva kesal sekali melihatnya.


"Winda ayo bangun sayang, hari ini kumpul di rumah Bunda Jum karena ada acara tujuh bulanan Bella." Bima meminta Ar membangunkan Winda, meminta Ar juga bantu-bantu di sana.


"Ar, kamu jangan tersinggung dengan sikap mami kamu, dia memang seperti ini."


"Iya Papi, Ar hanya tidak nyaman ada wanita lain."


"Masih ada model laki-laki seperti kamu yang takut wanita, sekuat apapun imam tidak mungkin sanggup dengan godaan wanita."


"Jangan salah Reva, lelaki yang menjaga kehormatan wanita tidak tergoda hanya karena *****." Bima tersenyum melihat istrinya yang melangkah pergi.


Senyuman Ar terlihat, Winda berpidah memeluk Papinya, mencium Bima bermanja-manja.


"Ayo sayang, ke rumah Bunda."


"Winda tidak dibutuhkan di sana." Bibir Winda monyong mencium bibir Ar langsung melangkah untuk ganti baju.


"Maaf Papi."

__ADS_1


"Santai saja Ar, wanita di keluarga ini memang seperti itu. Papi senang melihat hubungan kamu dan Winda terlihat baik-baik saja.". Bima tahu bagaimana putrinya membenci Ar.


"Iya Pi, Ar juga sangat bersyukur. Allah menjawab doa Ar untuk membuka hati Winda, Ar pikir butuh waktu lama untuk berjuang, tapi Allah maha baik semuanya dipermudahkan. Ar sangat sangat bersyukur." Senyuman Ar melihat istrinya selesai ganti baju, senyuman terlihat mencium Maminya.


Bima tersenyum, dia juga sangat lega melihat putri kecilnya bisa bahagia. Ar lelaki pilihannya yang bisa menjaga putri nakalnya.


"Ar, terkadang Papi berpikir takut bertemu kematian, tapi pasti hari itu akan datang. Papi lega melihat Winda ada yang menjaganya." Bima mengusap dadanya merasakan sedih.


"Papi, kematian pasti datang, bahkan tidak ada yang tahu bisa saja kami yang muda ini lebih dulu, kita syukuri semua nikmat yang Allah berikan."


Bima menganggukkan kepalanya, meminta Ar untuk sarapan terlebih dahulu baru pergi membantu persiapan.


Winda tertawa memeluk Maminya, makannya minta disuap. Reva walaupun dia mengomel, tetap menuruti keinginan putrinya.


"Winda, kamu sudah siap hamil belum? Bella dua bulan lagi menjadi ibu, kalian jangan menunda keturunan." Reva memasukan makanan ke dalam mulut putrinya.


"Santai Mami, kita sedang memproses pembuatan twins." Winda tertawa, dia sangat berharap segera diberikan keturunan, memberikan kejutan untuk suaminya yang juga mengharapkan hal yang sama.


"Kenapa Ar, kamu tidak makan nasi?"


"Makan mam, cuman sekarang tidak nyaman memakan nasi, mungkin terbiasa tidak makan nasi, soal di luar negeri jarang ada nasi." Ar meminta Winda yang makan, karena lidahnya semakin aneh.


Winda dengan senang hati, pagi saja makan di piring. Reva langsung melangkah pergi ke rumah Jum, mendapatkan pesan untuk cepat datang.


Winda masih makan bersama Winda, dia masih lanjut mengemil. Asisten rumah tangga bahagia melihat Winda pulang.


"Apa kabar Winda?"


"Baik dong bibi, Abi kenalkan dia bibi yang bekerja di sini sejak Winda lahir. Tenang saja tidak akan menggoda Abi." Winda tertawa mengusap wajah suaminya.


"Bibi senang melihat kamu yang sekarang, anak baik. Ar ingin minum jus."


"Boleh bi jika tidak merepotkan."


Senyuman Ar dan Winda terlihat, suara Ravi dan Vira terdengar. Winda langsung berlari.


"Kak Wil, peluk." Winda langsung memeluk erat Wildan, senyuman Wildan terlihat mengusap punggung adik perempuannya.


"Kak Wil cium." Winda tersenyum.


Vira langsung mendorong kening Winda, memeluk suaminya. Tidak mengizinkan Winda mendekati Wildan.


***

__ADS_1


__ADS_2