
Air mata Stev menetes mendekati Windy, mata Windy juga terus menatap Stev dari atas sampai bawah.
"Ay pulang Win, maafkan Ay membuat kamu menunggu lama." Steven menyentuh wajah Windy.
Tangan Windy memegang erat tangan Stev yang menyentuh wajahnya, air mata Windy tidak terbendung lagi, menggenggam meletakan di dadanya yang terasa sesak
Steven menyentuh kepala Windy, langsung memeluknya erat. Suara Windy menangis terdengar oleh seluruh orang.
Suara teriak bersamaan dengan Isak tangisan yang sama saat Windy melihat Stev terjatuh, saat dirinya ingin melompat ke bawah jembatan.
Steven mengusap punggung Windy memintanya untuk tenang, mengusap wajahnya menghapus air matanya.
"Ay."
"Iya sayang,"
"Kamu tahu aku merasa sudah gila, tidak bisa merasa lagi. Setiap hari terasa hari yang kelam, Windy tidak merasakan apapun. Windy bertanya kenapa bahagia aku direbut disaat aku mengikhlaskan setiap masalah." Windy menyentuh wajah Stev masih belum percaya apa yang dia lihat.
"Windy sudah berusaha kuat sejak tidak diinginkan oleh Bunda, sakit tergantikan oleh hadirnya Mami, kenyataan Windy bukan anaknya Papi, bukan anak Bunda, tapi anak yang terbuang sejujurnya Windy hancur, tapi Windy berusaha kuat lagi, karena ada Om bule, Mami Papi. Menerima kenyataan ibu yang melahirkan Windy sudah tiada, dikhianati sahabat Windy tidak terpuruk." Windy berlutut bersama Stev saling tatap.
"Kebahagiaan Windy, mimpi terbesar Windy bisa menikah, tidak menjadi beban Papi, tidak selalu membuat Mami khawatir. Ternyata ujian hidup Windy belum berakhir, cinta kebahagiaan Windy direnggut begitu saja tidak mendapatkan kepastian."
"Maafkan Om Windy."
"Om Stev jatuh di depan mata Windy, air berubah merah. Ay tidak muncul lagi bahkan sampai di hari pernikahan, Windy menanggung luka sendiri, mimpi bahagia Windy lenyap, tapi Windy masih berharap Ay pulang."
"Maaf Windy, maafkan Om yang tidak menemani kamu, melukai hati kamu."
"Satu rahasia besar Ay, selama tiga tahun Windy sibuk bekerja, terlihat baik-baik saja sebenarnya Windy dalam pengawasan psikologi, mental Windy jatuh, hancur, Windy tidak sanggup bahkan ingin mati saja." Windy memeluk Stev yang terduduk lemas.
"Jangan pergi Ay, jangan tinggalkan Windy. Kematian, rezeki dan jodoh memang Allah yang mengatur, Windy ikhlas Ay sudah tiada, tapi berikan Windy kepastian agar tidak terus menunggu. Tiga tahun sangat lama Ay, kasian Papi dan Mami yang terus mengkhawatirkan Windy, takut juga mereka tahu Windy dalam pengobatan, Windy tidak ingin menghancurkan hati mereka, menyakiti perasaan mereka." Windy mengeratkan pelukannya.
Mendengar pengakuan Windy, Bima langsung berlutut, dia tidak tahu jika putrinya mengalami depresi. Bima mengacak rambut tidak kuasa menahan air matanya.
Bukan hanya Bima yang hancur, Vero yang paling dekat dengan Windy juga tidak kuasa menahan air matanya, dia pikir tahu segala hal soal Windy, tetapi kenyataannya dia tidak mengetahui apapun.
Suara tangisan semua orang terdengar tidak menyangka jika Windy sampai berobat sendirian, tidak memberitahu siapapun.
Steven menghapus air mata Windy, mencium keningnya lama. Senyuman Windy terlihat, Stev yakin Windy masih berpikir ini semua mimpi, sulit bagi Windy menerima kebenaran jika Stev benar-benar ada dihadapannya.
"Mulai hari ini Ay yang akan menemani kamu berobat, kita sembuhkan luka kita bersama-sama."
"Ay akan menemani Windy, janji tidak akan menghilang." Windy memberikan jari kelingkingnya.
__ADS_1
"Janji sayang, tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi." Stev menyatukan tangannya.
Steven menatap Bima yang menangis, semuanya menangis menundukkan kepalanya. Steven meminta air minum, Jum langsung berlari ke arah dapur mengambil minum untuk Windy.
"Reva!" Jum menjatuhkan air minum.
Bima langsung berlari, melihat istrinya jatuh pingsan di ruang makan. Bima menggendong Reva menuju sofa.
Tian menyerahkan minuman untuk Windy, Stev membantu Windy minum agar cepat sadar. Khawatir juga melihat Reva yang sudah pingsan.
"Kak, sadar kak." Wildan memeluk Windy.
"Wildan, kenapa kamu menangis?"
"Kak, kak Stev sudah pulang. Kakak harus sadar, juga harus sembuh." Wildan mengusap matanya, melihat kakaknya linglung, Maminya juga pingsan.
Windy menatap Steven yang tersenyum, mengusap wajahnya.
"Windy sadar ini Ay, kamu harus ingat dan percaya Ay pulang."
"Ini bukan mimpi Ay?"
"Bukan sayang ini nyata, Ay pulang. Kamu harus sadar, Mami Reva jatuh pingsan mengetahui kamu sakit."
"Mami, maafkan Windy. Jangan tinggalkan Windy Mami, siapa yang akan menemani Windy? Om Stev pergi, Mami harus bangun." Windy menangis menggoyang tubuh Reva.
Bima menatap Windy yang masih terguncang, Windy terlihat berbeda, dia panik, sangat ketakutan.
Ghina langsung berlari, meminta Windy meminum obat. Tangan Windy gemetaran, sampai akhirnya menelan obat.
"Windy, sadar kamu jangan seperti ini. Mami kamu pasti sedih sekali."
"Windy baik-baik saja." Windy memeluk Ghina.
Perlahan Windy mulai tenang, nafasnya juga beraturan. Bima masih terduduk tidak percaya melihat putrinya hilang kendali.
"Windy, Mami kamu pingsan karena mengetahui kamu sakit, butuh perawatan khusus." Ghina mengusap kepala Windy.
"Om Stev pulang Ghina."
"Iya dia memang pulang, maka itu kamu kontrol diri." Ghina memberikan Windy minum.
Air mata Bima menetes, menggenggam erat tangan istrinya menatap putrinya. Windy melihat ke arah Bima menyentuh wajah Papinya mengusap air mata.
__ADS_1
"Papi jangan menangis, Windy baik-baik saja."
"Kita ke dokter ya sayang, maafkan Papi yang tidak mengetahui apapun."
"Windy sehat Papi, mungkin karena kurang sehat sedikit jadinya Windy tidak konsentrasi." Windy mengusap air matanya.
Bima langsung memeluk Windy, tangisan Windy terdengar. Meminta maaf karena selalu menjadi beban. Stev juga berjalan mendekati Windy mengusap kepalanya, Reva juga tersadar melihat windy menangis dalam pelukan Bima.
"Kamu bukan beban Win, kami mencintai kamu tidak ingin kamu menanggung sakitnya sendiri."
"Maafkan Windy Papi, sulit sekali hati Windy menerima kenyataan."
"Tidak apa sayang, saat itu kamu masih muda. Tidak ada yang perlu kita salahkan. Windy nanti periksa ke dokter, Stev juga periksa ke dokter, kakinya juga harus di operasi."
"Papi, Om belum pulang." Windy kembali menangis.
"Lihat mata Papi, dengarkan baik-baik Windy. Saat Wildan, Winda, Vira dan twins B menghilang mereka menemukan Steven dalam keadaan terluka di pondok bersama Can, juga anak-anaknya. Kamu ingin tahu siapa Can, dia wanita yang Vero pernah ceritakan, wanita yang dia usir saat hamil."
"Om Stev menikah."
"Tidak sayang, Stev tidak menyadari apapun yang terjadi, saat kesadarannya kembali dia melihat Winda, bahkan Stev lupa kecelakaan yang menimpanya."
"Om Stev hilang ingatan?"
"Sebagian, sekarang Steven, Vira, twins B, twins E sudah kembali ke mansion bersama Can dan kedua anaknya." Bima mengusap kepala Windy.
"Di mana Om Stev, Windy ingin bertemu?"
"Ada di belakang kamu."
Windy melihat ke belakang, menatap Stev yang terluka, tubuhnya kurus, matanya sayu, hal yang membuat Windy sedih melihat kaki Stev.
"Ay." Windy memeluk Steven.
"Windy." Steven memeluk erat tubuh Windy.
Windy mencium kening, kedua pipi, hidung, mata, dagu sampai bibir Steven. Reva langsung duduk menatap tajam, Bima juga kaget melihat Windy mencium Stev di depan banyak orang.
"Windy." Bukan hanya Bima Reva yang teriak, tapi seluruh orang tua, menatap tajam sambil menutup mata para bocah.
"Maaf Windy khilaf." Windy menggaruk kepalanya.
***
__ADS_1