MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
KAKAK IPAR


__ADS_3

Di dalam keadaan bisa ditenangkan, Septi juga sudah sadar dan bisa menerima keadaan. Semua keputusan ada pada Septi, berpisah ataupun tetap bersama Ammar menerima.


Dengan air mata yang masih menetes, Septi memutuskan tetap bersama Ammar. Ivan dan Rama bernafas lega, keluarga Septi sejujurnya tidak menerima tapi nasi sudah menjadi bubur, Septi juga sekarang sudah sah menjadi istri Ammar.


"Maafkan aku ya sayang, aku bahkan membuat kamu menangis di hari bahagia kita." Ammar juga meneteskan air matanya.


Bima melihat seluruh orang tapi tidak melihat istrinya, para anak- sudah di bawa pergi bersama Chintya. Jum dan Viana juga ada di sini, hanya Reva yang tidak terlihat.


"Viana juga ingin meminta maaf dari pihak Ammar, sungguh kita tidak mengharapkan kejadian ini. Kami sungguh meminta maaf." Vi menudukan kepalanya, diikuti oleh Jum yang sesekali menangis.


"Sudahlah, kita maafkan kali ini. Tapi apa yang akan kamu lakukan Ammar soal anak tadi." Bapak Septi menatap Ammar tajam.


"Ammar tidak mau tahu pak, sungguh Ammar tidak menginginkannya. Jadi terserah dia, sampai kapanpun Ammar tidak akan menerima kehadirannya." Ammar bicara dengan tegas, Bima tidak menyetujui keputusan Ammar.


Reva yang selesai meminta Ravi membawa Erik masuk kamar, bergabung dengan yang lainnya. Reva mendengarkan semua ucapan Ammar yang sangat membenci Erik.


"Kita buat surat perjanjian, jika Erik akan menjadi anakku. Sampai kapan pun jangan harap kamu bisa menemuinya." Reva melangkah dengan tatapan marah, menatap Ammar sinis.


"Terserah kalian saja, urus masalah ini. Jika kamu ingin berpisah temui bapak Septi." Keluarga Septi memutuskan untuk pergi, membiarkan para anak muda berbicara.


"Apa maksud kamu Reva?" Septi berdiri mendekati Reva.


"Aku tahu kamu marah, terluka, luapkan saja tapi setelah kamu tenang pikirkan dengan baik, jika kalian orangtua yang kejam." Reva memeluk Septi, meneteskan air matanya, menepuk punggung Septi, yang terisak terus menangis.


"Aku tidak marah, tapi rasanya sakit karena seharusnya kami tertawa tapi langsung berubah menjadi genangan air mata."


Reva menghapus air mata Septi, mencium kening Septi. Reva sangat mengerti luka yang sedang Septi rasakan, bukan karena kehadiran Erik tapi suasana bahagia yang langsung berubah.


"Kamu bisa memulai semuanya, aku yang akan menjaga Erik, aku tidak akan menyia-nyiakannya."


"Ayy, izinkan Reva menjadi ibu untuk Erik, dia berhak bahagia dari keegoisan orang dewasa."


Bima mendekat memeluk Reva, menghapus air matanya.


"Apapun yang kamu inginkan, selama itu baik akan selalu aku dukung. Kita mampu membesarkan Erik sampai dia memiliki mimpi dan masa depan yang cerah."


"Terima kasih Ayy, selamatkan dia dari senyuman yang menyimpan luka. Reva tidak sanggup melihatnya, dia ingin tertawa tapi berat membawa lukanya yang sudah semakin menumpuk dan berat, saat dia besar nanti bisa memilih jalan yang salah karena terlalu banyak terluka."


"Iya sayang, aku bisa menjadikannya putramu. Didik dia menjadi orang yang kuat, dan selalu berada di jalan yang benar.

__ADS_1


Ammar hanya diam saja, terlalu berat untuk menerima kehadiran Erik. Apalagi dengan kebenciannya yang sangat besar.


"Aku menginginkan Erik." Semua orang menatap Septi yang menghapus air matanya.


"Tidak Septi, aku tidak setuju."


"Kamu harus setuju kak, dia anakmu juag anakku. Kita besarkan dia dengan cinta agar dia bisa menjadi anak baik."


"Dia hanyalah sebuah kesalahan sayang, aku membenci kehadirannya."


"Dia tidak bersalah, jika bisa memilih dia juga tidak ingin dilahirkan dari rahim wanita yang tidak menginginkannya." Nada Septi meninggi.


"Terserah dia lahir dari mana, yang pasti aku tidak akan menerimanya."


"Jika kamu menolak, kita berpisah saja aku akan membesarkan seorang diri."


"Septi! kamu anggap mainan perasaan aku. Kamu tidak mengerti betapa terpukulnya aku."


"Pernah tidak kamu mengerti terpukulnya hari Erik, bahkan Reva dan Bima sanggup membesarkan Windy, Bisma juga sanggup membesarkan Tian, Jum menerima kehadiran Tian bahkan bukan darah daging mereka, kenapa kita tidak bisa menerima Erik?"


"Andaikan kehadirannya tidak dengan cara pemaksaan, aku pasti menerimanya. Tapi dia hadir membawa air mata, kesedihan."


"Mar, aku paham kamu tidak bisa menerima kenyataan, tapi anak ini tidak salah. Jika wanita tadi yang datang baru kamu boleh menyingkirkannya tapi ini anak kecil yang masih haus Kasih sayang." Bisma bicara pelan, sambil merangkul Ammar.


"Tapi aku harus bagaimana, melihat wajahnya...."


"Seperti melihat dirimu." Bisma menahan tawanya, Ammar menghapus air matanya.


"Kita seorang ayah, harus menjadi pelindung demi istri dan anak. Sejak aku mengenal Jum yang penuh cinta terhadap Tian bisa mengubah hidup yang dulunya brengsek ingin menjadi lelaki baik."


"Kamu wajar...."


"Tian putranya Britania, wanita yang paling aku benci karena menghancurkan hidup kakaku, tapi saat melihat dia akan di jual aku marah dan berusaha melindunginya."


Ammar menghela nafas, meminta Bisma menjauhinya. Ammar terduduk sambil meremas rambutnya, Septi mendekati ikut berjongkok sambil memohon.


"Aku sangat mencintai kamu Sep, tapi aku tidak ingin jika suatu hari dia akan semakin terluka karena kelalaian kita."


"tidak akan pernah, aku janji akan menjaga dia membesarkan menjadi sehebat dirimu."

__ADS_1


"Kamu yakin, tidak akan menyesali keputusan kamu."


"Sangat yakin, Reva juga sanggup kak Jum juga. Septi pasti bisa, akan aku tinggalkan pekerjaan demi menjaganya."


"Sayang, dia sudah besar tidak perlu kamu gendong."


"Iya ya, jadi dia bisa menemani aku pergi ke manapun saat kamu bertugas, sekarang aku memiliki teman."


"Maafkan aku ya,"


"Bukan salah kamu, kita terima Erik menjadi bagian keluarga kita."


"Tapi aku tidak ingin dipanggil ayah."


"Ya sudah panggil kakak ipar saja, aneh sekali." Septi langsung berdiri membuat semua orang tertawa dengan pertengkaran soal panggilan.


"Kakak ipar, Erik ikut Keluarga Bramasta atau ikut kalian." Reva tersenyum sambil memeluk pinggang Bima.


"Dia akan ikut aku." Ammar bicara pelan, dan langsung membayangkan kekejamannya melempar Erik dengan gelas kaca.


"Reva, dia terluka tidak aku melemparkan gelas tadi."


"Dia bilang baik-baik saja sambil tersenyum, tapi karena tidak begitu terang aku tidak melihat jelas. Mataku tidak sanggup memandangi Erik, tawanya menyayat hati."


"Sekarang Erik di mana?" Septi merasakan khawatir, Reva sangat mengenali orang hanya sekali pandang.


"Mungkin sekarang dia sedang tertawa bersama Ravi, Tian dan Windy. Hati Ravi sangat baik sampai turun membawakan mainan untuk Erik, bahkan mereka mengikat janji persahabatan."


"Seperti kita." Septi kembali menangis, Reva mendekat dan memeluk Septi lembut.


Viana juga tersenyum menatap Rama, Vi dan Rama berhasil menanamkan kebaikan di hati Ravi yang pernah menjadi anak broken home.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2