MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 KELUARGA PELAKU


__ADS_3

Suara tamparan kuat, Joseph menyentuh wajahnya yang mendapatkan tamparan dari kakak iparnya.


"Kenapa kamu tidak pernah mengatakan jika Ranty sudah lama sembuh?" air mata Liza menetes.


"Sekarang di mana dia?"


Joseph menceritakan keadaan Ranty, dia ingin balas dendam kepada Winda. Joseph membawanya ke psikiater untuk pengobatan, keadaan Ranty membaik dia sudah terlihat normal.


Saat Joseph bekerja dia melarikan diri, membawa rekening Joseph pergi tidak tahu ke mana hanya meninggalkan pesan untuk balas dendam.


"Kita ke Indonesia sekarang, Ranty pasti membahayakan keadaan Ar, Windy juga dalam keadaan hamil." Josua berdiri dari kursi rodanya, membuat Liza dan Joseph terkejut.


"Papi bisa berdiri dan berjalan, kak Winda ternyata benar jika Papi tidak lumpuh." Jack tersenyum memeluk Papinya.


"Liza cepatlah."


Joseph melihat kakaknya tidak percaya, tersenyum langsung mempersiapkan keberangkatan mereka.


Di pesawat Mami terus menangis, perasaannya tidak enak, hatinya gelisah.


"Berhentilah menangis."


"Adik kamu brengsek, sudah diberikan kesempatan, tapi disia-siakan. Awas saja dia." Liza menghapus air matanya.


"Jaga ucapan kamu, aku ini suami kamu."


"Suami apa yang membohongi istri bertahun-tahun, jika tahu kamu bisa jalan kita bisa makan di luar, jalan-jalan bukan terkurung di rumah." Liza menatap sinis, Josua mengabaikannya.


"Papi kita pindah pesawat lagi? jauh sekali."


"Makanya minta Papi kamu membeli jet pribadi, sekalian jet tempur."


Joseph hanya tersenyum, menatap kaget melihat tingkah kakak iparnya. Josua melihat ponselnya mendapatkan kabar Ar, Winda kecelakaan.


"Mami, Ar dan Winda kecelakaan. Ranty menabrak mereka."


Mami hampir jatuh pingsan, tidak ada lagi air mata hanya kegelisahan, kekhawatiran, ketakutan yang terlihat.


Josua menggenggam tangan istrinya, mengatakan jika Ar pasti baik-baik saja, anak mereka juga.


Mereka tiba di Indonesia, langsung mengunjungi keluarga Bramasta terlebih dahulu, tidak perduli bagaimana respon mereka setidaknya ada niat baik.


"Kak sebaiknya tetap di mobil masuk perumahan ini sangat ketat." Joseph menghentikan kakaknya.


"Apa ada seorang wanita yang datang kesini mengatakan keluarga Ar, menunjukkan foto ini."

__ADS_1


"Benar pak, dia mencelakai Tuan Ar."


"Hubungi keluarga Bramasta, katakan kamu keluarga Ar, juga keluarga pelaku ingin bertemu dengan niat baik." Josua menunggu, tangan Liza meminta pergi saja.


"Aku takut Josua."


"Kita niat baik, keluarga terhormat pasti tahu cara bersikap kepada tamu."


Bima menerima kedatangan Josua, mobil langsung masuk menuju perumahan keluarga, Viana langsung berlari keluar saat tahu keluarga pelaku datang.


Jum juga sama langsung ke rumah Reva mereka berdiri di depan pintu, Bima meminta Viana Jum masuk.


Josua mengucapkan salam, berjabatan tangan dengan Bima, Rama dan Bisma langsung dipersilakan masuk.


Reva berdiri dengan tatapannya yang tajam, Jum dan Viana juga. Mami Liza berlindung di punggung suaminya.


"Wira sayang, ini ada teman kalian bermain berdua dulu." Bima menatap Josua, agar pembicaraan tidak di dengar anak-anak.


Josua berbicara dengan bahasa mereka, meminta Jack berkenalan dengan Wira.


Setelah anak-anak pergi, Reva langsung berjalan melayang tamparan kepada Josua. Liza tidak terima langsung mendorong Reva, tatapan Reva tajam mencengangkan rahang Liza.


Josua langsung menarik istrinya, memintanya untuk diam.


"Reva jaga sikap kamu, jika tidak menjauh. Aku minta maaf atas sikap lancang istriku."


Bima langsung menatap Reva, cepat duduk jika sudah melihat mata tajam suaminya.


Viana dan Jum juga duduk, Liza sudah menangis menahan dirinya.


"Aku kakak Ranty, sebelumnya Ranty dan Winda ada masalah yang terlalu panjang untuk diceritakan, dia menyimpan dendam kepada Winda, meskipun kami berhubungan baik dengan Ar."


"Kenapa kamu tidak mengawasi dia?"


"Sudah, dia mengalami koma dan dalam perawatan mental. Keadaannya membaik, tapi kita lengah sampai kehilangan."


Josua meminta maaf yang sebesar-besarnya, mereka tidak memiliki niat buruk sama sekali, mereka juga merasakan kesedihan musibah yang menimpa Ar.


Tangisan Mami semakin kuat, langsung melangkah keluar mendengar kabar putranya koma. Hatinya hancur sekali saat tahu cucu-cucu kecilnya juga lahir prematur.


"Mami, kenapa?" Jack memeluk Maminya.


Joseph melangkah keluar, ponselnya langsung jatuh. Air matanya langsung menetes, menutup wajahnya.


"Kak, Ranty bunuh diri di rumah sakit." Tubuh Joseph bergetar, menahan kesedihannya.

__ADS_1


Bima membenarkan jika Ranty bunuh diri, tangan Josua langsung gemetar, berusaha menyembunyikannya. Bima menggenggam tangan Josua memintanya untuk kuat.


"Ayo kita ke rumah sakit."


"Mami tidak ingin, kita sujud syukur dia mati." Reva menatap tajam Josua.


"Reva, sekali lagi kamu bicara tidak sopan, tahu akibatnya." Bima meminta Reva bersiap menjenguk anak-anak.


Beberapa mobil melaju menuju rumah sakit, Bima memberikan sopir untuk Josua yang sedang berduka, tidak ada seorang kakak yang tidak sedih melihat adiknya meninggal.


Josua dan Joseph langsung ke kamar jenazah, teriakan Joseph terdengar melihat keadaan adiknya yang mengenaskan.


Josua menutup wajah adiknya, langsung melangkah keluar tanpa air mata, melihat adiknya sama seperti kehilangan orang tuanya.


Tangisan Joseph terdengar, Bima menepuk pundak Joseph. Viana lebih kasihan melihat Josua yang sepertinya memiliki trauma besar, terlihat sekali dari gerak tubuhnya.


Rama langsung mendekati Josua, memberikan minum, memintanya untuk duduk.


"Menangis cara mengobati luka trauma, lebih sabar lagi kita turut berdukacita."


"Maafkan adikku." Josua menangis sesenggukan melihat adiknya.


Mami Liza memeluk suaminya agar tenang, Reva langsung menggendong Jack langsung membawanya pergi.


"Papi mami, kak Ar tolong mami." Jack menatap Reva, senyuman Reva terlihat membawa Jack melihat baby twins.


"Siapa nama kamu ganteng?" Jum mengelus wajah.


"Jackson Arlando, kakak Jack Armand Prasetya, Winda Bramasta, Jack sayang mereka. Selama ini Papi lumpuh, lalu kak Winda berbisik. Jack Papi kamu tidak lumpuh, dia berlari kencang, karena sakit perut."


Jum dan Viana tertawa, Reva memang paling konyol, juga selalu bisa membuat banyak orang tertawa, Winda sangat spesial.


Suara tangisan bayi terdengar, Reva melihat cucunya menangis. Seandainya ada Ar pasti sudah ada yang mengendong nya.


Jenazah Ranty akan dibawa pulang, Joseph dan Josua pulang lebih dulu sedangkan Liza dan Jack tetap tinggal.


"Jack, kamu jaga Mami ya sayang. Nanti Papi datang lagi, kalian jenguk keadaan kak Ar.


"Liza aku pergi dulu, kamu jaga Jack hubungi aku jika ada sesuatu."


"Aku butuh black card."


Josua memberikan kartunya baru memeluk suaminya, memintanya berhati-hati dan cepat menjemputnya.


Bima memberikan bantuan dengan meminjamkan jet pribadi Steven, sudah atas izin Stev.

__ADS_1


"Berhati-hatilah Josua, makamkan adik kamu secara layak. Cepatlah kembali lagi, Ar pasti bahagia jika bangun seluruh keluarganya kumpul."


"Terima kasih Bima, dulu dan sekarang kamu masih orang yang sama menolong, meskipun kami menyakiti kamu." Josua melangkah pergi.


__ADS_2