
Pagi sekali mahasiswa sudah berkumpul Tian meminta keempat bocah bersembunyi. Kepala empat anak menganggukkan kepalanya, tapi tidak dengan tindakan mereka yang melangkah pergi melihat hutan yang banyak ditumbuhi bunga liar.
"Kak, hutan berbahaya. Kita tidak boleh masuk ke sana." Billa menahan tangan Vira, dan Bella.
"Winda pikir di negara luar sudah tidak ada hutan lagi, tapi ternyata mereka memiliki alam yang belum tersentuh."
Langkah kaki seseorang mendekati keempat bocah, Wildan menghela nafas melihat kenakalan mereka.
"Vira, Bella Billa, Winda kalian keterlaluan sekali." Reva mengangkat tangannya gemes ingin mencubit, tapi menghentikan langsung memeluk mereka.
Rasa khawatir lebih besar dari rasa marah, Bima juga berlutut memeluk empat anak yang sukanya membuat masalah.
"Sayang, kalian tidak boleh melakukan ini. Tindakan kalian sangat berbahaya."
"Maaf Papi, kita hanya penasaran saja."
"Penasaran kalian berbahaya, jika menginginkannya harus izin dulu kepada yang lebih tua, jadi kalian bisa diawasi." Bima mengusap kepala Vira, Winda Bella dan Billa.
"Maafkan kita Papi." Semuanya memeluk Bima.
Tian, Ravi dan Erik sudah bersiap untuk berangkat, Vira langsung memegang tangan kakaknya ingin ikut, Bella dan Billa juga memegang tangan Tian, Winda memegang tangan Erik ingin ikut.
Reva tidak memberikan izin, tidak akan membiarkan mereka masuk hutan. Reva meminta semuanya masuk mobil, tidak ada yang boleh membantah.
Bima dan Reva berbicara dengan Tim Tian, sedangkan Windy dan Vero masih terjebak di jalan, satu mobil mereka masuk jurang karena longsor.
Jalanan ditutup, sementara Bima harus mencari tempat menginap beberapa hari agar aman saat pulang.
Bastian dan timnya sudah berangkat, bibir Vira Bella dan Winda sudah monyong, menghentak kakinya kesal.
Suara hewan meraung terdengar, anak-anak langsung berlari kencang, Wildan langsung mengejar mereka karena mereka memasuki kawasan hutan.
"Berhenti kak, bahaya." Wildan langsung berlari mengikuti langkah kaki empat wanita yang menyelamatkan diri sendiri.
Tidak peduli dengan kayu, ilalang, pohon besar, suara hewan, terus berlari sampai kehabisan nafas.
Vira menghentikan langkahnya, Winda langsung terguling jatuh. Bella dan Billa saling menggenggam tangan berhenti dihadapan Vira.
"Kita di mana?" Vira melihat sekeliling mereka hutan semua.
"Astaghfirullah Al azim, kita di mana ini?" Winda langsung berdiri melihat ke atas langit tertutup pohon rimbun.
Langkah kaki Wildan juga terhenti melihat ketiga kakaknya dan adiknya baik-baik saja. Winda langsung berlari memeluk Wildan.
"Kenapa berlari ke dalam hutan?" Wildan menatap semuanya.
__ADS_1
"Tidak tahu, naluri ingin berlari ke sini." Vira terduduk.
"Winda hanya mengikuti saja."
"Bella asal lari, tidak bisa melihat apapun."
Billa, Winda Vira berdiri melihat mata Bella, tawa keempat bocah terdengar peri bahasa Bella seperti orang pintar saja.
Wildan menggelengkan kepalanya melihat empat wanita masih bisa tertawa, padahal mereka sedang dalam masalah.
"Wil, apa yang harus kita lakukan?"
"Balik arah."
Suara meraung-raung lebih besar terdengar, Vira dan Winda bergandengan langsung berlari lagi, Bella dan Billa juga berlari, terpaksa Wildan juga berlari mengejar ke lebih dalam lagi.
Vira melihat goa langsung berlari ke dalam, diikuti oleh Bella Billa Winda dan Wildan. Mereka terus berlari melewati goa, hujan lebat, angin ribut membuat lima anak berdiam diri di dalam goa.
Wildan tersenyum melihat empat wanita kuat, tidak ada yang menangis atau mengeluh lelah mereka masih bisa cengengesan melihat wajah satu sama lain menggunakan ponsel masing-masing.
"Wildan kenapa kamu tersenyum?"
"Kalian tidak takut?"
"Pertanyaan bodoh, takutlah masa enggak." Bella memukul lengan Wildan.
***
Ravi masuk ke dalam mobil, mempertanyakan keberadaan adiknya. Tian juga celingak-celinguk tidak melihat.
"Mami, di mana Vira dan twins?"
"Di mobil sayang."
"Tidak ada Mom, mobil kosong."
Bima dan Reva langsung berlari ke mobil, melihat mobil yang memang kosong. Langsung berpencar mencari keberadaan Vira dan twins.
Reva teriak kuat, melihat anak-anak menghilang, ditambah lagi Wildan juga ikut hilang.
"Mereka pasti masuk hutan, dasar anak nakal." Reva langsung menangis.
Windy dan Vero datang, melihat kekacauan mendengar kabar adik-adiknya masuk hutan, padahal di sana sedang ada badai.
Semuanya berusaha untuk tenang, selama mereka bersama pasti baik-baik saja, Bima yakin Wildan bisa menjaga mereka.
__ADS_1
"Sabar Mami, mereka pasti kembali." Windy memeluk Maminya.
Bima masuk ke dalam hutan bersama tim yang lainnya, penjaga hutan meminta semuanya kembali saat melihat harimau berada di depan mereka.
Vero pertama kali melihat hewan buas meraung-raung di depannya. Demi keamanan para tim pencari sementara pencarian dihentikan, karena hewan di dalam hutan sedang tidak bersahabat.
"Ya Allah lindungilah anak-anak kami, berikan mereka keselamatan, tidak kurang sedikitpun." Bima berdoa di dalam hatinya.
Melihat tim kembali membuat Reva langsung melangkah masuk mobil, menangis sejadi-jadinya melihat anaknya di hutan sedang dalam bahaya.
Vero naik ke perbukitan untuk menghubungi tim keamanan, meminta Saka membantu mencari keberadaan anak-anak.
Tim SAR juga turun tangan mencari keberadaan Vira dan twins, Windy juga menghubungi keluarga jika ada masalah meminta semuanya segera datang.
Viana Rama, Jum Bisma langsung melakukan penerbangan, Vero menghela nafas melihat Windy yang sangat khawatir.
"Windy mereka baik-baik saja, ayo kita kembali ke mobil."
"Windy yakin jika mereka bersama pasti baik, takutnya mereka terpisah." Windy menatap Vero yang terlihat juga sangat khawatir.
Hujan berhenti, Wildan melihat langit kembali cerah, memberikan tanda menggunakan spidol yang dia bawa dalam ranselnya. Meminta semuanya mengikuti dari belakang.
"Suara apa itu ya?" Winda mendengarkan bunyi gemericik.
"Air, berarti dekat dengan sungai." Wildan melangkah mencari sumber air.
Semuanya mengikuti langkah Wildan, tidak ada yang terlihat ketakutan, lebih terlihat kesenangan karena bisa bertualang. Mereka tahu hutan berbahaya, tapi membayangkan sisi baiknya mereka mendapatkan pengalaman baru.
"Lihat, air terjun kecil." Vira menunjuk ke arah air."
Wildan mengerutkan keningnya, memperhatikan air yang terlihat ada aktivitas manusia, tidak mungkin hewan bisa membersihkan pinggir sungai, pasti ada manusia.
"Kak lihat ada buaya? kenapa di air terjun ada buaya?" Winda kebingungan.
"Buaya air tawar, besar sekali." Billa mengaguminya.
"Dia peranak buaya rawa dan laut ukurannya sangat besar melebihi ukuran buaya biasanya." Wildan duduk bersama yang lainnya memperhatikan buaya yang berjemur.
"Sungai kecil, tapi di sana ada rawa." Winda menunjuk ke arah semak belukar.
"Sungai ini tersambung dengan sungai besar, sangat jauh dari permukiman. Ada pertemuan antara air tawar dan asin."
"Berarti sungai kecil ini aliran dari lautan dan sungai, ada kemungkinan tidak Om Steven di sini? mungkin buaya itu yang membawanya ke sini?" Winda tertawa menggaruk kepalanya.
"Bisa jadi." Wildan menatap tajam buaya.
__ADS_1
***