
Britania mendekati Bima, tangan Bima membuka jas bajunya, memasangkan kepada Brit memintanya pergi secara baik-baik.
Tatapan Reva tajam, tapi begitulah Bima tidak pernah membalas orang dengan kemarahan, dia lelaki paling sabar dan terbaik.
Brit memeluk Bima, menangis meminta maaf sudah meninggalkan Bima, memanfaatkannya tidak mempedulikan anak, seandainya dulu dia lebih sabar, pasti akan hidup bahagia, memiliki putra dan putri.
"Brit, aku sudah bahagia dengan istriku Reva, memiliki putra tampan, juga dua putri cantik kami. Aku bersyukur kamu khianati, karena Allah menunjukkan bahagia aku tidak bersama kamu. Masih ada waktu untuk memperbaiki diri, berubah Brit demi kebahagiaan masa tua." Bima melepaskan pelukan Brit, memeluk pinggang Reva.
"Aku akan berubah jika kamu kembali kepadaku, aku akan menerima anak kamu Bim."
Reva mengusap dada, Bima mengerutkan keningnya tidak percaya dengan ucapan Brit. Vero dan Saka tertawa kuat merasa bodoh dengan ucapan Brit.
"Astaghfirullah Al azim, rasanya Reva ingin pingsan. Ya Allah berikan hamba kesabaran, bisa keriput Reva melihat wanita satu ini." Reva berjalan lemes langsung memeluk lengan Steven melangkah masuk ke dalam rumah.
Bima menggelengkan kepalanya, hal yang mustahil bagi Bima kehilangan Reva, sama saja Bima akan kehilangan anak-anak.
Brit bersumpah akan menghancurkan kebahagiaan Windy, Brit melangkah pergi melewati Viana yang tersenyum.
Vi sebenarnya kasian melihat Brit, mereka semua bahagia hanya Brit yang tidak punya tujuan hidup, bukan salah siapapun, tapi dia sendiri yang mempersulit hidupnya.
Bima mengambil Winda yang masih di mobil, melangkah masuk ke dalam rumah yang sangat berantakan.
Semua anak-anak diminta naik ke lantai atas, setelah semuanya rapi baru boleh turun.
Wildan masih duduk di belakang mobil, menyapa Brit yang menatapnya tajam. Wajah Wildan yang mirip Bima membuat Brit langsung mengenalinya.
"Nenek, sebaiknya jauhi keluarga kami. Hidup kamu akan semakin terpuruk, juga nikmati suasana di penjara, karena sebentar lagi nenek punya rumah baru." Wildan tersenyum sinis.
Brit ingin menampar Wildan, tapi Tian menghentikan meminta Bundanya sebaiknya pergi. Brit ingin memeluk Tian, tapi langsung ditolak.
"Sayang, aku Bunda kandung kamu ikutlah dengan Bunda, Ayah kandung kamu juga orang kaya, kita bisa meminta warisan kepadanya."
"Silahkan pergi Bu, Tian bahagia bersama Bunda Jum."
Brit melangkah pergi, Tian menghela nafasnya, merangkul Wildan untuk masuk.
Ravi juga mendengar pembicaraan Wildan, menatap Brit, memasukannya dalam daftar musuh keluarga.
Penjaga dan pelayan di larikan ke rumah sakit, Steven dan Reva memunguti foto keluarga Steven.
Jum membantu menyapu pecahan kaca dari vas bunga, bingkai foto, Reva berlari keluar membuka bagasi mobil. Reva ada membeli bingkai foto yang ingin dia letakan di butik Windy, tapi sekarang lebih baik untuk foto keluarga Steven.
"Stev, sini fotonya."
__ADS_1
"Dapat dari mana?"
"Mencuri, Reva bisa sulap, apapun yang dibutuhkan langsung muncul."
"Seharusnya jangan shopping habis-habisan, menguras uang belanja saja, mendingan sulap gratisan."
"Kamu seperti ibu-ibu Stev, ada uang belanja juga." Reva tertawa mengambil satu persatu foto.
Windy juga membawa bingka yang ada di kamarnya memasangkan foto keluarga besar.
Semuanya bekerja sama mengembalikan foto pada tempatnya, Steven tersenyum merasakan kehangatan keluarga, dia memang kehilangan keluarganya, tapi diganti dengan orang-orang baik.
"Alhamdulillah selesai, bingkai foto baru." Jum tersenyum memeluk sapu.
"Vero kamu kenapa?" Viana menatap Vero yang wajahnya cemberut.
"Mobil Vero bagaimana nasibnya, semuanya sudah penyok."
"Mobil banyak, gunakan yang lain." Reva melempar Vero dengan kotak.
"Masalahnya Vero ingin balapan, mobil itu sudah disetting, membeli body juga mahal, belum menunggu datangnya. Britania kenapa tidak pilih mobil lain saja."
"Salah kamu Vero, seharusnya mobilnya kamu jangan di situ." Jum melangkah pergi mengembalikan sapu.
Steven juga langsung melangkah menaiki tangga, membuka kamarnya melihat anak-anak lompat di atas ranjangnya.
Stev yakin mengunci kamar, tapi kenapa Winda bisa memiliki kunci kamar, hal yang membuat kaget bukan soal kamar Steven yang luas, tapi foto di dinding.
Bima masuk melihat foto, Steven memeluk Windy, mencium keningnya. Reva melihat Bima yang tidak berkedip.
"Ay hanya cium kening sebaiknya kita keluar." Reva melihat Steven yang sudah melarikan diri.
Di lantai bawah ternyata Winda sudah turun mengaduk ikan hias yang sudah hampir mati semua bersama Bella dan Vira.
"Sudah Winda katakan rumah ini banyak tempat main, selain luas kita tidak harus hanya di ruangan bermain."
"Iya, Vira suka di sini, banyak mobil akuarium besar, kamar luas."
"Kita ke taman belakang, di sana juga ada tempat main." Winda melangkah meninggalkan akuarium, Vira Bella Billa mengikutinya.
Steven menatap ikan hiasnya yang menyedihkan, langsung mengikuti langkah anak-anak yang sudah berlarian mengelilingi pohon, bermain kejar-kejaran sambil tertawa bahagia.
"Jika aku memiliki anak pasti sebahagia ini." Steve masuk ke dapur membuka kulkas mengambil empat es krim membawa ke taman belakangan.
__ADS_1
"Winda, Vira, Bella Billa es krim." Stev tersenyum, empat anak menoleh langsung berlari mengambil satu-satu.
Windy sudah berdiri di belakang Steven, menepuk pundaknya meminta Steven masuk ke dalam karena Papinya ingin berbicara.
"Yang Stev, kenapa juga foto ada di kamar sebesar itu, nanti Papi marah."
"Iya maaf, mana tahu kalau ada yang melihat juga." Steven tersenyum melihat seluruh keluarga sudah di ruang tamu.
Vero menerima penawaran Bisma soal mobil, karena Bisma memiliki bisnis mobil mewah, Vero bebas memilih yang paling bagus, tim Bisma yang akan langsung memodifikasi.
Suara teriak Vero terdengar mengucapkan terima kasih, memeluk Bisma yang langsung bersiap untuk pergi.
Steven tersenyum duduk di samping Bima, Reva menahan tawa melotot melihat Steven yang tegang.
"Kak Wildan, kak Ravi, kak Tian, kak Erik tolong Winda. Vira kecebur di kolam, Bella Billa ingin menolong tapi kecebur juga, jadinya Winda tidak ingin menolong, langsung lari mencari pertolongan terus ...." Winda belum menyelesaikan ucapan, semua orang sudah berlari ke arah belakang.
Viana Rama panik, putrinya tidak bisa berenang. Jum lebih panik lagi kedua anaknya jatuh bersamaan.
Semuanya sudah pergi, Steven mengusap dada setidaknya dia sedikit lega tidak disidang. Stev menatap Winda yang cemberut.
"Winda, bukannya kolam tidak ada air?"
"Memang tidak ada, Winda ingin mengatakan minta hidupkan air kita ingin berenang." Winda menggaruk kepalanya.
Steven menepuk jidat bersama Winda yang tertawa, Stev langsung menggendong Winda menghidupkan kran air kolam, membawakan pelampung juga.
Stev tertawa melihat para ibu bapak yang melotot, menatap ketiga bocah yang sedang asik bermain perosotan di dalam kolam.
Winda melemparkan pelampung, ikut turun bermain air yang sudah hidup.
"Ya Allah jantung Jum hampir copot."
"Sama, Viana juga lemes kaki."
"Winda!" semua orang teriak menatap Winda yang sudah basah.
Steven asik tertawa melihat keluarga lucu, pasti jika memiliki banyak anak akan sangat menyenangkan melihat keributan.
***
...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA...
...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...
__ADS_1
***