MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 ROMANTIS


__ADS_3

Makan malam bersama di pinggir pantai, suasana yang seharusnya romantis berubah menjadi suasana mencengkram.


Windy dan Stev tidak bisa menelan makanan melihat Saka dan Ghina saling tatap tajam, suara dentingan sendok garpu bahkan pisau terdengar.


Perdebatan juga terdengar dari Vero yang risih melihat Lia berada di sampingnya, Stev menggaruk tengkuknya melihat dua pasangan di depannya.


"Windy sebaiknya kita jalan-jalan saja." Stev berbisik, menggenggam tangan Windy melangkah meninggalkan Saka Ghina, Vero dan Lia.


Suara teriak Ghina membuat Steven mengelus dada, Saka yang cuek saja lebih pilih mengabaikan Ghina, melangkah berkenalan dengan Lia.


Vero melangkah pergi meninggalkan Lia, tinggal Saka dan Lia yang berada di meja makan.


Windy menghela nafasnya, memeluk lengan Steven melangkah bersama di pinggir pantai saat malam hari.


"Yang, pasangan anak muda memang selalu bertengkar ya?" Windy tersenyum memainkan air pantai.


"Mungkin, karena mereka masih labil. Kamu tidak ingin bertengkar Win?" Steven berjalan di depan Windy, melangkah mundur perlahan.


Windy tersenyum, terkadang Windy juga ingin bertengkar seperti pasangan lainnya, tapi tidak ada alasan Windy dan Steven harus bertengkar.


"Kamu tidak pernah cemburu Win?"


"Tentu pernah Ay, tapi terkadang Windy berpikir bertengkar karena masa lalu hanya akan memperkeruh keadaan. Masa lalu sudah terjadi, kita hanya perlu meniti masa depan." Windy tertawa mendengar ucapannya.


Steven berhenti berjalan mengacak rambut Windy, tidak pernah terbayangkan Windy memilki pikiran dewasa.


"Kenapa panggilan berubah, mirip Mami?" Steven merangkul Windy lanjut berjalan.


"Yang ayang Stev, Windy lebay sekali, tapi tidak ingin memanggil Om."


"Baiklah terserah kamu sayang ingin memanggil apapun, asal jangan menggunakan nama binatang." Steven tertawa.


"Ay, panggilnya marmut boleh?"


"No."


"Cat."


"No."


"Dog."


"Windy sayang jangan bercanda soal panggilan."


"Iya maaf Ay."


"Sudah dimanfaatkan."Stev mengusap wajah Windy.


"Ay pernah cemburu tidak dengan Windy?" Windy berlari ke depan Steven.


Cemburu, Steven selalu merasakannya sehingga sangat takut jika rasa cemburunya membuat Windy merasa terkekang hidup bersamanya.

__ADS_1


Steven sedang mengendalikan rasa cemburu agar tidak menyakiti dirinya, juga Windy. Cemburu boleh, tapi harus pada tempatnya.


"Sama siapa Ay cemburu?"


"Vero."


Windy tertawa menatap Steven yang cemburu kepada adiknya sendiri, Windy tidak pernah menganggap Vero seorang lelaki, hanya sebatas kakak adik juga sahabatnya.


Sejak awal cinta Windy sudah berlabuh kepada Steven, jadi sulit untuk berpaling ke lain hati.


"Mustahil Windy mendua, karena sejak kecil love Om Bule."


"Win, seorang bajingan selalu menunjukkan keburukan, tidak ada yang tahu isi hatinya, tapi seseorang yang terlihat baik, belum tentu di belakang kita dia orang yang amanah." Stev tersenyum mengusap kepala Windy.


"Windy cinta Ay."


"Bergonta-ganti pasangan tidak pernah aku inginkan Win, ditinggalkan keluarga mengajarkan aku hidup kesepian, aku tidak ingin terlihat lemah, berbeda dari orang lain. Semua orang mengatakan aku playboy, suka gonta-ganti pacar, itu yang dilihat mata orang."


"Windy tahu Ay, mantan kekasih Ay meminta hubungan lebih Ay menolak, ingin serius keluarga perempuan memandang harta, tidak satu frekuensi soal pekerjaan, komunikasi yang tidak jelas, memaksa keinginan, juga sulit mengatur kebersamaan. Semua cinta Ay kandas karena satu hal, keegoisan."


"Tidak sependapat."


"Tidak ada yang mengalah."


"Banyak perdebatan."


Windy dan Steven tertawa, Stev tidak menyangka gadis kecil mengetahui banyak hal tentang dirinya, bahkan soal masalah percintaan Steven yang selalu kandas.


"Tidak juga, buktinya Wildan dia sudah dewasa diusia muda, bahkan sejak kecil. Kami diajarkan oleh kedua orang tua untuk dewasa agar bisa saling menjaga."


"Aku percaya, lalu bagaimana dengan Winda yang super manja?"


"Winda sebenarnya sangat dewasa, tapi memang tidak pernah menunjukkannya. Ay Winda anaknya peka, bisa membaca mimik wajah, jika dia tidak suka dengan seseorang, bersiaplah untuk dia singkirkan. Winda sengaja membuat masalah."


Steven tersenyum Windy, Wildan dan Winda yang istimewa. Suara teriakan Ghina bertengkar dengan Saka terdengar, Windy dan Steven duduk dipinggir pantai, membiarkan keduanya kejar-kejaran.


"Saka bajingan." Windy bergumam pelan.


"Sayang, Saka tidak seburuk yang kita ketahui. Memang aku tidak bisa menjamin dia orang baik, tapi aku percaya Saka orang yang jujur."


"Selalu membela Saka."


"Bukan membela hanya berprasangka baik."


"Apa bedanya? jadi Ay menyalahkan Windy?" Windy langsung berdiri marah.


Steven juga berdiri, menangkup wajah Windy. Memeluknya lembut, membelai pelan rambut Windy. Meminta maaf dengan nada lembut, mengakui kesalahan yang tidak dilakukan.


"Aku sayang kamu Win, jangan marah."


"Windy tidak marah, hanya ingin melihat Ay marah." Windy memeluk erat Stev.

__ADS_1


"Ayo kita pulang, besok kita mulai membahas pernikahan. Pasti akan banyak perdebatan." Stev mencium hidung Windy.


Windy langsung naik ke punggung Steven minta digendong, Steven meneriaki Saka untuk berhenti bertengkar, nanti kalah menyeramkan dengan makhluk tidak kasat mata.


Saka langsung lari kencang meninggalkan Ghina yang menangis ketakutan. Steven dan Windy tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Saka yang balik lagi mengendong Ghina.


Steven berjalan pelan bersama Saka mengendong dua wanita, Windy sudah tertidur, Ghina juga sudah diam dalam gendongan.


"Stev, kamu harus berhati-hati. Brit tidak akan tinggal diam kalah dan hancur."


"Iya, aku juga memikirkan hal yang sama."


"Pernikahan memang yang paling dinantikan, tapi kamu juga paham banyaknya halangan menuju hari bahagia."


"Saka, aku membutuhkan bantuan kamu terutama menjaga keselamatan Windy dan Vero."


"Stev, kamu mempercayai Vero. Aku tahu dia adik kamu, satu-satunya keluarga kamu, tapi aku melihat Vero menatap Windy berbeda."


"Hati-hati boleh Saka, tapi tidak untuk merusak hubungan persaudaraan. Aku percaya kepada Vero, sangat percaya. Jika ingin melihat aku hancur, Vero, Bagus dan kamu Saka harus mengkhianati aku."


"Cukup Mommy yang mengkhianati Daddy, aku tidak akan memaafkan diri sendiri jika berkhianat. Stev sejujurnya aku tidak sanggup pulang ke rumah melihat Ayah yang berpura-pura terlihat baik."


"Paman Sam sangat kuat, aku tidak percaya jika kamu putranya. Dunia sempit sekali."


"Aku lebih tidak percaya, mana mulutnya Windy bocor lagi, aku diceramahi selama 2 jam."


Steven tertawa, Windy melakukanya demi kebaikan Saka dan Ghina.


"Kenapa kamu pacaran dengan Ghina? kasihan."


"Stev sejak kapan aku kasihan dengan orang. Aku tidak perduli dengan sekitar."


"Cinta?"


"Dia mengusik hidupku, sikap Ghina yang keras membuat hidup lebih menantang. Dia marah, tapi tidak menghina. Dia kecewa, tapi diam saja. Aku menyukai wanita kuat, tapi tidak berisik seperti Windy."


"Windy limited edition Saka." Stev tersenyum terus berjalan.


"Ngomong-ngomong berat juga, seperti sedang membawa dosa." Saka tertawa, langsung teriak kesakitan merasakan Ghina mencubit perutnya.


Steven hanya bisa menggelengkan kepalanya.


***


...minal aidin wal faizin selamat hari raya idul adha....


***


...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA...


...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...

__ADS_1


***


__ADS_2