MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
BISNIS BARU


__ADS_3

Angkutan umum berhenti di sebuah kampung nelayan di kota yang jauh dari keramaian. Reva turun membawa kopernya menyusuri pantai yang dekat dengan penginapan sederhana.


Udara yang senyum membuat pikiran Reva tenang, dia mendapatkan alamat pantai nelayan dari kertas tempel pemberian Tante Ais.


Reva bisa membayangkan bisnis akan sangat sukses di pantai nelayan, yang dalam beberapa tahun ke depan pasti akan ramai pengunjung. Di sini memiliki kekayaan alam yang tidak ternilai harganya, hanya saja kurangnya dana dan perhatian dari pemerintah sehingga tempat ini hanya seperti pantai umum lainnya.


Kedatangan Reva sebenarnya bukan untuk berbisnis, tapi menenangkan pikirannya. Reva tahu Bima tidak salah karena ada Bisma juga di sana, tapi biarlah Reva tidak ingin ambil pusing. Jika Bima memang mencintainya tidak mungkin akan meninggalkannya.


"Permisi, saya ingin menyewa penginapan dalam beberapa hari ke depan." Reva menyapa warga yang sedang sibuk dengan acara ghibab mereka.


"Ini bukan penginapan, tapi pondok singgah sudah reyot lagi." Jawab salah satu nenek-nenek sambil tertawa diikuti yang lainnya.


"Kurang ajar kamu nenek ompong! setidaknya pondok masih kuat dari terjangan angin." Seorang wanita seksi dan sedikit gemuk datang mendekat.


"Tante Ais!"


"Reva


"Astaghfirullah Al azim Tante, banyak minum air garam sampai mirip galon." Reva tertawa dan Tante Ais memukulinya.


"Mulut kamu masih kotor Reva, apalagi otak kamu!"


Tante Ais menyambut kedatangan Reva, melihat para warga yang sudah tua juga banyak anak-anak tidak terawat hati Reva menjadi sedih. Tante Ais menceritakan jika dia sudah bercerai karena suaminya menikah janda.


"Sabar janda!" Reva tersenyum.


"Tante jadi janda karena janda!" Tante Ais menepis air matanya.


"Tan tempat ini, banyak anak-anak sama lansia. Wanita seumuran Tante juga sangat sedikit, tidak ada laki-laki dewasa."


"Lelaki sedang melaut, dan beberapa ibu-ibu pergi bekerja di tempat pembuatan ikan."


"Tante paling kaya di sini? sampai tidak bekerja.


"Tante tidak tahu mau kerja apa? binggung Va. Kehidupan mewah yang Tante dapatkan membuat Tante menjadi orang tidak berguna. Semua uang kompensasi habis untuk biaya hidup."


"Padahal Tante punya bakat, tapi tidak ingin menyalurkannya." Reva sangat tahu, Tante Ais masakannya luar biasa enak tapi dasar pemalas.


"Bakat apa? kamu juga kenapa bisa ada di sini?"


"Melarikan diri dari pertengkaran dengan om duren!"


"Kalian masih berhubungan Va, Tante pikir saat kamu mengembalikan uang karena menyerah."


"Kami sudah tunangan Tante, tapi aku mengembalikan cincin Karena salah paham."

__ADS_1


"Dasar kamu labil Va! bersenang-senang selama di sini."


Reva bertemu dengan penduduk sekitar, melihat pekerjaan mereka yang terbilang tidak memberikan keuntungan, hanya cukup makan sehari-hari.


Beberapa hari tinggal di kampung nelayan Reva memutuskan untuk melakukan pembangunan, baik rumah warga juga pariwisata di kampung nelayan. Seluruh penduduk sangat menyambut keputusan Reva yang akan membangun kembali kampung mereka.


"Tante Ais! Reva percaya ke Tante. Terimakasih dulu sangat baik ke Reva, Tante meminta taruhan karena ingin bantu Reva membayar uang sekolah."


"Tante tahu kamu tidak akan menerima jika dibantu langsung, Tante suka anak pekerja keras seperti kamu."


"Reva akan sering berkunjung dan melihat pembangunan di sini, 10tahun ke depan tempat ini akan menjadi tempat pariwisata terbaik."


"Kamu baik sekali, Tante pikir setelah sukses Reva akan sombong tapi ternyata kamu masih sama. Sederhana dan baik."


"Kebaikan Reva karena dulu Tante baik, anggap saja ini hadiah dari Reva, dan cara Allah mempertemukan kita Tante."


Reva menghubungi temannya Romi untuk datang ke kampung, kebetulan Romi berada di kota tempat Reva berada, hanya saja Reva di kampung yang jauh dari keramaian.


***


Pagi-pagi Reva terbangun, mendengar suara keributan anak-anak dan ibu-ibu. Reva membuka pintu dan melihat di pinggir pantai seorang pemuda tampan sedang bermain bola bersama anak-anak, dan penontonnya ibu-ibu juga nenek-nenek.


Senyum manis Reva nampak, Romi sudah berada di kampung dan akan menjadi orang yang bertanggung jawab akan pembangunan di kampung nelayan.


"Kamu pantas menjadi wanita karir, sangat pintar mencari peluang bisnis."


"bagi aku yang terpenting kemakmuran warga sini, dan membuat mereka bisa menikmati peninggalan nenek moyang mereka." Reva tertawa mendengar ucapannya.


"Tua sekali cara bicara kamu Va!"


"Romi Terimakasih dan hati-hati."


"Aku tidak mau mendengarkan kabar kamu menikah dengan Nenek-nenek."


Romi tertawa melihat tingkah Reva yang sangat lucu, tapi juga bangga bisa jatuh cinta dengan wanita luar biasa baiknya seperti Reva. Walaupun di hati Reva tidak pernah ada Romi, menjadi sahabat sudah cukup membuat Romi bahagia.


"Aku balik Rom, soalnya aku harus ke LN. Ada pekerjaan dadakan."


"Hati-hati Va! aku akan memberikan yang terbaik sehingga kamu tidak menyesal membayar Arsitek hebat seperti aku."


Reva hanya tersenyum, pamit ke semua orang dan melangkah untuk pergi.


***


Sampai di apartemen, Reva mengambil koper dan bersiap untuk pergi lagi. Dia ingin menghadiri pernikahan rekan bisnisnya, dan Reva sebagai perancang busana pernikahannya.

__ADS_1


Sebelum pergi Reva menyempatkan diri menemui Windy yang baru pulang sekolah, dari sana Reva tahu jika Bima sedang sibuk bisnis di China. Hati Reva langsung kesal, jadi selama ini Bima tidak pernah mencarinya tapi sibuk kerja.


"Awas kamu Bima! memang ingin mengajak berperang." batin Reva.


Setelah pamit dengan Windy, dan berpesan kepada Windy untum memberi tahu Bisma jika dia bertemu dengan Brit. Reva masih takut Brit memaksa dengan mengambil Windy diam-diam, setelah memeluk dan mencium Win baru Reva berangkat.


Bima tiba di Indonesia, Viana sudah menunggunya di bandara, Bima tahu pasti ini masalah Reva, Bima malas membahasnya.


"Reva belum pulang mas Bram, tanggungjawab dengan keluarganya, mereka tahunya Reva sedang bisnis."


"Kenapa tidak di lacak, aku juga tidak tahu dia di mana."


"Ponselnya di apartemen, ayolah mas Bram jangan ego, Reva juga terluka. Jika Viana di posisi Reva si bule sudah babak belur."


Bima ikut berpikir, di mana Reva dia tidak biasanya menghilang dan lari dari masalahnya selama ini. Viana diam mematung melihat sosok yang sangat dia kenali dan langsung berlari memanggil Reva dan menahan tangannya.


"Kak Vi, Reva buru-buru kak, mau masuk pesawat." Reva hanya tersenyum dan berlari kecil, dia sudah terlambat karena lupa waktu bicara dengan Windy.


Bima berlari menahan Reva dan menyita paspor juga tiketnya, Reva langsung marah dan coba menangkap tangan Bima.


"Balikin!" Reva memukuli dada Bima yang mengangkat paspor ke atas.


"Mau kemana?" Bima membaca tujuan Reva dari tiket.


"Bukan urusan kamu, mendingan kamu urusin pekerjaan kamu dari pada bertengkar denganku."


Bima tetap tidak memberikan tiket, Reva semakin marah dan ngomel-ngomel membuat banyak orang yang menatap.


"Gila ne bocah berdua, gue jadi penonton ikan terbang. Drama banget, enak ya kalau pacaran ada berantemnya, salah paham, terus Baikan. Pengen pacaran juga, hubby Viana pengen pacaran." Batin Viana sambil tersenyum melihat kedua orang yang sedang rebutan paspor.


"Brengsek!" Reva menendang kopernya dan melangkah pergi meninggalkan Bima, gagal naik pesawat.


Viana hanya tertawa melihat Bima mengejar Reva yang pergi sambil marah, terpaksa Viana membawakan koper Reva.


"Aisshhh ini bocah berdua brengsek, gue di tinggalin." Teriak Viana melihat Bima dan Reva pergi menggunakan mobil Bima.


"Lepaskan!"


"Masuk!"


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


***

__ADS_1


__ADS_2