
Steven, Windy dan Vero sudah melangkah keluar dari Bandara, langsung menuju mobil kembali ke Mansion. Stev meminta Vero dan Windy pulang berdua dia ada urusan di kantor.
Windy melambaikan tangannya, meminta Steven berhati-hati, dia langsung pulang bersama Vero.
Di perjalanan, Windy menolak untuk pulang, tapi pergi ke suatu tempat. Vero ingin mengabari Steven, tapi Windy melarangnya.
"Nanti kak Stev marah Win kita pergi tanpa izin?" Vero mengerutkan keningnya.
"Tenang saja, hanya pergi sebentar untuk mengecek keadaan butik." Windy tersenyum melihat Vero yang diwajibkan menuruti perintahnya.
Akhirnya Vero menurut, daripada dia kesulitan mengikuti Windy suatu hari nanti.
Mobil berhenti di sebuah butik yang cukup besar, Windy keluar diikuti oleh Vero, melangkah masuk melihat beberapa orang sedang sibuk merapikan pakaian.
"Butik baru, belum launching?" Vero melangkah masuk melihat manusia jadi-jadian tersenyum lebar, melambaikan tangannya, Vero sembunyi di belakang Windy.
"Hai Win, lama sekali baru kembali?" Jeni memeluk Windy.
"Baik kak Jen, bagaimana kabar butik?" Windy tersenyum.
"Butik kabarnya sesuai mut kak Jen, seharusnya kamu tanya dulu kak Jen baik tidak?" Jeni gemes mencubit pipi Windy.
"Iya maaf, Windy sudah tahu kabar kak Jen baik."
"Win, siapa si tampan ini?"
"Dia Vero, sahabat Windy. Jangan digodain, dia bisa saja membanting." Windy tertawa melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Hai ganteng aku Jeni."
"Kamu mirip Jin." Vero langsung berlari mengejar Windy.
Tawa Windy terdengar mendengar teriakkan Vero, membuka sebuah pintu, melihat ruangan terbarunya untuk mendesain beberapa baju, suara teriakan seseorang juga terdengar Windy sudah kenal suara sahabatnya Wilona yang tidak kalah cempreng dari dirinya.
Vero melihat sekeliling ruangan, terlihat sangat nyaman dan mewah, Windy membeli sebuah bangunan untuk membuka butik, Vero tersenyum jiwa bisnis Papi dan Mami nya Windy ternyata turun juga kepada Windy, Vero pikir Windy hanya tahu makan.
"Bagus Win, kamu memang anak pengusaha, bisa mudah membuka bisnis." Vero bertepuk tangan melihat Windy yang duduk di kursi.
__ADS_1
"Windy yang paling terlambat membuka usaha, sejak kecil kami sudah diajarkan untuk mencari hobi dan mengincar beberapa bisnis yang terkenal."
"Hebat, enak anak orang kaya."
Windy tersenyum bukan karena dirinya anak orang kaya, bisnis yang baru saja Windy bangun hasil dari tabungannya sendiri. Bima setiap bulan memberikan uang yang bisa Windy pergunakan untuk membeli kebutuhan, tapi Maminya selalu memenuhi semuanya, sehingga Windy tidak perlu mengeluarkan uang, sejak kecil Windy menabung, tidak mengeluarkan untuk sesuatu yang tidak begitu penting.
Reva juga mengajari Windy hidup sederhana, mementingkan kemakmuran karyawan, tidak hidup berfoya-foya.
"Keluarga yang hebat Win, selain harmonis juga sangat disiplin."
"Kamu ingin tahu Vero, Tian sekarang sudah memiliki saham di beberapa perusahaan besar. Ravi juga membuka bisnis makanan yang di olah oleh anak jalanan, Erik juga bisa bermain saham memiliki keuntungan yang cukup besar disumbangkan kepada anak yatim, hanya Windy yang gagal, membuka Restoran, tapi Windy sendiri yang makan." Windy tertawa bersama Vero.
"Vero juga menyadari, walaupun mereka nakal, tapi terlihat memiliki wibawa. Apalagi adik kamu Wildan, dia sulit ditebak, misterius."
Windy tersenyum menggagukan kepalanya, pintu terbuka Wilo langsung masuk setelah dipersilahkan. Wilo meminta Windy bergabung di ruang rapat, untuk membahas soal launching.
Senyum Windy terlihat, langsung melangkah keluar ruangannya, menuju ruang rapat. Vero mengikuti Windy seperti seorang bodyguard.
Windy memperkenalkan dirinya sebagai pemilik, juga orang yang akan memimpin. Seluruh karyawan di minta untuk berkenalan, setelah berkenalan, Wilo mengenalkan posisi masing-masing.
Rapat cukup lama, Vero memilih untuk keluar mencari makan. Vero melihat Lukas yang celingak-celinguk membawa makanan, Vero teriak meminta Lukas masuk, membantu membawakan makanan.
"Ver, seharusnya kamu menunggu yang lainnya baru makan." Lukas mengambil makanan Vero.
"Windy kejam Kas, keluar dari bandara aku belum makan, mengikuti dia melihat butik sampai menunggu rapat belum dikasih makan." Vero mengambil kembali makannya.
Lukas duduk di depan Vero, mempertanyakan kenapa Windy pulang, Vero hanya menjawab seadanya mereka hanya mengunjungi keluarga.
"Om Stev ada hubungan apa dengan Windy?" Lukas bisa membaca tatapan Windy yang mengagumi Steven.
"Kamu mencintai Windy Kas, jika benar aku sarankan untuk mundur Alon-alon." Vero tersenyum melihat wajah Lukas yang mencoba mengelak.
"Tidak, aku hanya mengganggap sahabat. Windy tidak mungkin mencintai aku, kami terlalu jauh berbeda."
"Kesalahan terbesar seorang lelaki, belum berjuang sudah menjatuhkan dirinya sendiri. Sudah tahu kalian tidak imbang, seharusnya kamu berniat, berjuang untuk menjadi orang yang pantas." Vero menghabiskan makanannya.
"Om Stev dan Windy ada hubungan apa Vero?" Lukas bernada tinggi.
__ADS_1
"Om Stev pacarnya Windy Lukas, memangnya ada apa?" Windy melangkah mendekati Lukas dan Vero.
"Seriusan Win?" Lukas tidak percaya.
"Ayo bantu Windy membawa makanan ke dalam." Windy mengambil kantong makanan, langsung melangkah masuk kembali ke ruang rapat.
Lukas membawa makanan, Vero masih saja duduk diam menghabiskan makanannya. Windy membagikan seluruh makanan, duduk makan bersama dengan tim-nya.
Lukas mendekati Wilo, menepuk bahu Wilo untuk menatapnya.
"Om Stev dan Windy pacaran." Lukas membisik Wilo.
"Apa?" teriak Wilo kuat, membuat banyak orang yang kaget, Windy sampai menumpahkan makanannya.
"Wilo, kira-kira kalau teriak, ini ruangan yang memantulkan suara, suara kamu mental di sini, sampai kaget." Windy membersihkan bajunya.
"Maaf Bu bos, maaf semuanya silahkan duduk kembali." Wilo mendekati Windy memberikan tisu untuk membersihkan baju Windy yang tertumpah makanan.
"Win, maaf."
"Iya tidak masalah, kalian makan duluan aku ke toilet dulu." Windy langsung melangkah keluar, di depan Windy melihat Vero bersama seorang anak kecil.
Windy mengamati Vero yang memilih beberapa baju yang sudah di gantung, membungkusnya untuk anak kecil dan memberikannya, lalu anak tersebut pergi.
Mata Windy menatap tajam, Vero mengeluarkan dompetnya, menghitung uang untuk membayar, Windy tersenyum melihat Vero.
"Kamu menjual baju sebelum launching Vero?" Windy menatap tajam.
"Sorry Win, anak tadi ingin membelikan kado ulang tahun, membelikan baju untuk Ibunya, aku yang bayar." Vero menyerahkan uangnya kepada Windy.
Windy mengambil uang Vero, menghitungnya tapi masih kurang. Vero mengerutkan keningnya melihat Windy mengembalikan uang, menganggapnya Vero memiliki hutang.
"Vero jangan lupa membayar hutang." Windy melangkah pergi.
"Hutang, Windy gila penghitungan banget, tidak ingin memberikan diskon." Vero teriak binggung, Stev pasti marah jika tahu Vero berhutang.
Windy tersenyum mendengar teriakkan Vero, mengatakan jangan memberitahu Steven, nanti uang jajan dia dipotong.
__ADS_1
***